Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 49 Tiada Sebelum Diketahui


__ADS_3

Alana terbaring di atas brankar, roda-roda berjalan cepat pada lantai putih rumah sakit menuju ruang operasi. Beruntunglah ada orang baik yang menolongnya, seorang dokter tak sengaja melintas di jalan, lalu membawa Alana ke rumah sakit.


Betapa terkejutnya dia karena melihat darah mengalir dari pangkal paha, sudah di tebak wanita yang tergeletak di aspal ini sedang hamil.


Dua dokter mulai masuk ruangan, spesialis anastesi serta kandungan memakai baju hijau, serta masker. Peralatan berwana silver mulai disimpan di atas meja. Perawat pun siap membantu dokter melakukan tugasnya.


Kedua mata coklat Alana sedikit terbuka, tetesan air mata mengalir melewati pelipis, jatuh membasahi bantal. Setelah itu Alana menutup mata, karena dokter telah menyuntik obat bius melalui saluran infus.


“Rileks, Anda adalah wanita kuat.” Bisik seseorang tepat di telinga Alana.


**


Sementara di tempat lain, tepatnya sebuah klub malam. Lewis Jansen mabuk berat, dia menghabiskan banyak minuman beralkohol, tentu saja ditemani Adinda –calon istrinya.


Lewis yang marah dan kecewa berat menghubungi tunangannya itu untuk mengobrol bersama, tapi karena terlalu larut dalam kepedihan hati, Lewis meneguk minumannya untuk melupakan masalah ini.


“Kenapa? Menjadi rumit.” Tutur Lewis.


Adinda setia menemani dan mendengarkan keluh kesah calon suaminya. Wanita ini masih tetap berpikir bahwa Lewis terpukul atas meninggalnya Tuan Besar Jansen. Ya benar tapi ada sesuatu yang lebih melukai hati daripada itu.


“Aku pasti bisa menghapus luka di hatimu Lewis. Kamu harus belajar mencintaiku.” Kata Adinda tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Lewis mengangguk, telinganya mendengar tapi hatinya tidak. Hanya Alana, Alana dan Alana.


“Kau tahu, aku menyayanginya, sangat. Usahaku menjaganya sia-sia, gagal.” Lewis memijat pelipisnya yang begitu pusing.


Bahkan dia merasa tidak nyaman di bagian perut, seperti sebuah benda tajam tengah menyayat kulit dan menarik paksa sampai terlepas.


“Argh … sakit.” Kata Lewis memegangi perutnya.


“Lews kamu kenapa? Kita ke rumah sakit sekarang. Ini karena kamu terlalu banyak minum alkohol, kamu ini.” Adinda menggerutu, memapah pria patah hati menuju mobil, segera pergi ke rumah sakit terdekat. Wajah Lewis pun memprihatinkan, pucat seperti kehilangan sel darah merah.


“Aku baik-baik saja. Tapi hatiku yang sakit. Haha lucu kan? Wanita yang aku cintai mempermainkan hubungan kami, dia memang tidak berniat serius. Aku tidak tahu harus apa?” racau Lewis tetap kesakitan di perut.


Seketika Adinda menginjak pedal rem secara mendadak, tertawa garing dan air matanya menetes.

__ADS_1


“Jadi kamu seperti ini karena ulah kekasihmu, iya? Kamu bilang saling mencintai, bahkan aku melihat kalian berdua berciuman, tapi cinta memang mudah berkhianat Lewis. Dan aku … aku akan menjadi obat untukmu.” Kata-kata Adinda ini tidak didengar oleh Lewis yang sudah pingsan.


**


Mobil biru Lewis Jansen tiba di rumah sakit, tubuh pria jangkung ini pun sudah berada di IGD. Dokter hanya melakukan prosedur pemeriksaan, tidak ada luka di perutnya, bahkan Lewis sangat sehat, sama sekali bukan orang yang memiliki penyakit.


Adinda menatap sedih calon suaminya, “Pasti kamu sangat mencintai wanita itu ya? beruntung sekali dia. Aku juga berharap kamu bisa memberikan seluruh hatimu untuk aku.”


Setelah satu jam, Lewis terbangun dari tidurnya, efek alkohol perlahan mulai menghilang. Dia turun dari ranjang tanpa memedulikan Adinda yang tidur dalam keadaan membungkuk.


“Terima kasih Nona Nugraha, lain waktu aku akan membalas kebaikanmu.” Lewis pergi meninggalkan tunangannya di IGD. Pria ini merasa bersalah kepada Alana, tidak mendengar penjelasan terlebih dahulu.


Kedua kaki Lewis seolah berat pergi dari rumah sakit. Di area parkir, mata birunya menangkap Alvaro yang berlari cepat memasuki gedung. Bahkan membawa tas di tangan.


“Mungkin keluarganya sakit.” Gumam Lewis.


Diserang penasaran, Lewis mengikuti Alvaro ke ruang perawatan VVIP. Lantas menyempatkan diri bertanya pada bagian informasi.


“Siapa di dalam kamar nomor dua? Sakit apa orang itu?” tanya Lewis Jansen. Sebagai Bos, tentu harus tahu masalah apa yang tengah dialami oleh pegawainya?


“A-Alana? Maksudmu Ibu tiriku? Katakan ada apa!” Lewis menajamkan telinga. Tadi sewaktu dia keluar rumah, kekasihnya itu masih baik-baik saja tapi sekarang Alana terbaring di rumah sakit. Lewis semakin bertanya-tanya.


‘Nyonya Besar kecelakaan dan keguguran. Kami turut berduka Tuan.’


DEG


Lewis tidak mengerti, tubuhnya membeku dan mengeras.


“Berduka? Keguguran? Maksudnya Alana hamil? Hamil …” Lewis membatin, sontak berlari memasuki ruangan VVIP. Jika dia yang menyentuh Alana pertama kali, lalu mereka melakukannya lagi dan lagi maka dapat dipastikan Alana mengandung anaknya.


“Bayiku.” Lirih Lewis.


BRUK


Pintu terbuka kasar dan lebar. Hadiah tinju langsung mendarat tepat di pipi Lewis Jansen.

__ADS_1


BUGH


“Jauhi Alana, dasar pria br3ngsek. Pergi kau dari sini. Alana tidak membutuhkanmu.” Alvaro murka, tidak peduli lagi pada keadaan. Bosnya memang pantas menerima semua ini, karena berani menyakiti sahabatnya.


“Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, Tuan Lewis … Anda adalah lelaki bodoh pertama yang pernah aku temui. Sekarang pergi! Alana hanya akan menjadi semakin sakit jika kalian terus bersama.” Alvaro berteriak.


Mencengkram kerah kemeja Lewis, mendorongnya hingga menempel pada dinding.


“Kau yang harus menjauh dari Alana. Dia kekasihku, kami akan menikah.” Jawaban Lewis ini menambah luka batin Alana.


“Tidak.” Jawab Alana menitikkan air mata. Rasanya sakit sekali, terbangun di ruang operasi lalu dokter mengatakan bahwa dia keguguran. Usia kandungannya lima minggu. Pendarahan cukup hebat melenyapkan nyawa calon bayinya, tidak tertolong lagi.


BRUK


Lewis mendorong Alvaro keluar dari kamar rawat inap, mengunci pintu agar leluasa bicara berdua dengan kekasihnya ini.


“Anak kita Alana. B-bagaimana keadaannya? Kamu baik-baik saja kan? Semua yang dikatakan perawat itu bohong.” Lewis menyibak selimut, memandangi perut rata di balik baju pasien. Menyentuhnya seakan calon bayi mereka masih berusaha tumbuh di dalam rahim Alana.


“Dia sudah tidak ada, semua ini karena kamu. Mungkin kehadirannya memang tidak seharusnya. Dia akan lahir dari ayah dan ibu yang memiliki hubungan terlarang. Dia … dia akan menjadi anakku dan James, bukan kamu.” Tangis Alana pecah.


Lewis memeluk kekasih hatinya ini. Dia tidak menyangka harus kehilangan untuk kesekian kali. Darah dagingnya, bayinya, penerusnya sudah tiada sebelum Lewis tahu kehadirannya.


Alana memukuli punggung kekar putra sambungnya, melampiaskan semua amarah dan emosi dalam dada. “Kamu jahat Lewis, meninggalkan aku tanpa mendengar penjelasan lebih dulu.”


“Maaf sayang. Maafkan aku Alana.” Suara Lewis bergetar, menangis. Dia melepaskan pelukan dari wanitanya dan melirik ke atas meja. Hasil USG tersimpan, lantas mengambil selembar foto hitam putih.


Dipandangi penuh luka, sesuatu berbentuk bulat, ukurannya sangat kecil.


Lewis melekatkan foto itu ke dada, memeluk buah cintanya bersama Alana. “Aku menyayangimu, anakku.” Lirih Lewis.


TBC


***


Jempolnya ditunggu kaka 🙏

__ADS_1


__ADS_2