
BRUK
Tubuh Lewis Jansen terjatuh, tertimpa kerasnya kenyataan. Sungguh saat ini dadanya sangat sesak, mengetahui anggota keluarga satu-satunya, Ayahnya terserang penyakit ganas.
“Kamu bercanda Alana?” tanya Lewis suara serta tangannya mendadak tremor, bahkan kertas rekam medis James terjatuh dari pegangan. Berhamburan di atas lantai dingin rumah sakit.
“Aku tidak pernah bercanda Lew. Itu hasil pemeriksaan beberapa tahun yang lalu, sebelum aku masuk ke kehidupan kalian.” Jawab Alana, sama meneteskan air mata. Terlalu berat menjalani hidup sebab orang yang disayangi menderita penyakit serius.
Lewis yang biasanya tak pernah menangis, selalu tenang dan terlihat gagah. Kali ini menangis, air matanya jatuh bercucuran.
Dia pikir James pesakitan karena usianya memang sudah tua, bukan terserang penyakit tertentu. Artinya empat tahun ke belakang, pria itu menjalani hidup yang benar-benar sepi. Bodohnya lagi Lewis tak pernah bertanya bagaimana kabar Ayahnya, selalu acuh akibat rasa benci.
Lewis tertawa sembari menyeka air mata yang turun membasahi pipi, “Kanker otak. Bagaimana bisa, satu orang pun tidak ada yang memberitahuku? Aku ini anaknya kan?” tanya Lewis kepada diri sendiri.
“Hu’um kamu memang anaknya Lew. Penyakit ini hanya aku, kepala pelayan dan kepala pengawal yang tahu. Selebihnya masih menganggap James sakit akibat usia.” Alana menanggapi ocehan Lewis, lalu menepuk bahu kekasihnya. Menyalurkan kekuatan.
“Maafkanlah Tuan James, beliau sangat ingin mendapat kasih sayang putranya. Aku rasa masih ada kesempatan bagi kalian untuk saling menyayangi, menunjukan betapa kuat ikatan antara Ayah dan anak. Kamu pasti bisa Lew.” Alana tersenyum hangat.
Turut berjongkok di depan tubuh Lewis Jansen. “Aku mencintaimu Lew, aku menyayangi Tuan James sama seperti Papa, kalian bertiga sangat berarti … walaupun banyak menorehkan luka.” Kalimat terakhir itu hanya terucap dalam hati saja, Alana mana bisa mengatakan hal menyakitkan dalam kondisi seperti ini.
Mendengar kata-kata ‘maafkan’ menjadikan Lewis berpikir apa saja yang telah pria tua itu lakukan hingga hubungan mereka renggang.
Lewis pun mengangguk pelan, sembari menatap tajam ke depan.
Tiba-tiba seorang perawat memanggil nama pewaris JSN untuk masuk ke dalam karena ada hal penting yang akan disampaikan.
‘Tun Muda Jansen. Tuan Besar ingin Anda masuk.’
__ADS_1
Lewis menoleh kepada Alana, sebagai pertanyaan apakah dia harus masuk atau tidak. Alana mengangguk cepat, mendukung Lewis bicara empat mata bersama James.
Kaki pria itu melangkah berat menuju ruang perawatan. Perlahan membuka pintu, manik birunya menangkap pemandangan menyedihkan. James Jansen di kelilingi oleh alat, serta dua orang perawat yang bertugas mengawasi secara langsung.
Wajahnya yang lesu dan lemas, pria sepuh masih bisa tersenyum menyambut putranya. “Lewis.” Panggilnya walaupun suara serak hampir menghilang.
“Ya Dad.” Kata Lewis, kepalanya bergerak memberi isyarat kepada perawat untuk tunggu di luar.
“Kau semakin dewasa. Sudah pandai merawat diri. Aku tidak menyangka putraku sangat tampan. Anak nakal ini wajahnya mirip denganku ketika muda. Kau harus percaya itu Lew.” James tertawa lemah.
Tangannya berusaha menggapai Lewis, bergerak-gerak namun terhalang infus dan beberapa suntikan obat lain yang menancap di pembuluh darahnya.
Peka akan situasi, Lewis inisiatif lebih dulu, menggenggam tangan keriput itu. “Aku ini anakmu sudah jelas mirip. Tapi aku yakin kau jauh kalah tampan James.” Mencoba bercanda dan tertawa.
Tangan James Jansen bergerak lagi, ingin membelai pipi Lewis. Rahang tegas miliknya menurun kepada Lewis, dagu, hidung, bahkan alis sama persis. Hanya bola mata diwariskan dari ibunya.
Lewis yang mendengarnya tersenyum simpul, di saat seperti ini ingin mencemooh ayahnya sendiri tapi dia urung sebab kondisi James sangat lemah.
“Semua wanitaku tidak pernah aku tiduri Lew. Jujur saja hanya tergoda, mereka semua datang karena ingin hasil jerih payah milikku. Aku, James muda yang terbuai akan harta dan tahta terbuai oleh banyaknya wanita penggoda.” Lanjut James, mengambil jeda bernapas lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Jangan banyak berpikir dan bergerak Dad, sebaiknya kau istirahat. Aku dan … Alana, maksudnya istrimu menunggu di luar ruangan.” Lewis tidak kuat mendengar segala penuturan James Jansen.
“Tidak, kau harus tahu. Bahwa aku sangat mencintai Angelina. Kau tahu Lew, setiap kali aku ingin bercinta dengan wanita lain selalu gagal, bayang wajah ibumu selalu hadir. Kenangan manis dengannya terlintas. Tapi ...” James terbatuk karena kerongkongannya kering.
“Uhuk … uhuk. Tolong bantu aku minum Lew.” Perintah James yang dilakukan oleh Lewis Jansen.
Lewis pelan-pelan membantu Ayahnya minum menggunakan pipet, dan untuk pertama kali James merasakan sentuhan lembut putranya yang sudah lama menghilang.
__ADS_1
“Terima kasih Lew.” Jujur saja pria ringkih itu tersentuh sekaligus bahagia.
Kembali berbaring, James mulai membuka mulut lagi. Matanya sedikit terpejam, mengumpulkan semua ingatan masa muda.
“Tapi aku begitu penasaran. Aku ingin mencoba hal baru, lingkungan yang membuatku lupa diri, salah memilih pergaulan. Sampai diriku tega menyakiti dan membunuh Angelina secara perlahan. Dia wanita cantik dan baik hati, selalu setia mendampingi saat aku mengalami kesulitan.” James terus mengoceh, bulir beningnya pun turun dari sudut mata.
Serupa degan Lewis, kenangan pilu dan menyakitkan turut hadir kembali. Kedua pria itu menangis tanpa suara. Saling menyesali perbuatan masing-masing.
“Angelina istriku, aku merindukanmu. Lewis … maafkan Daddy tidak bisa menjadi figur Ayah yang baik dan sempurna. Aku harap semua kesalahan masa lalu tidak terulang.” James semakin terisak pilu.
Sedangkan Lewis menurunkan pandangan, napasnya berat, akibat hidung dan tenggorokan yang dipenuhi lendir. Menangisi keadaan, walaupun tahu tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali Ratu di kediaman Jansen.
“James … Dad, kenapa menyembunyikan penyakitmu? Daddy bahkan tidak sekalipun memintaku pulang ke rumah, padahal kondisimu sangat memprihatinkan. Aku merasa seperti anak bodoh.” Imbuh Lewis, menghela napas semakin dalam.
“Aku bodoh tidak mengetahui apapun tentangmu. Daddy sakit, membutuhkan bantuan. Aku … memaafkanmu, rasa benciku percuma saja, hanya menyakiti kita berdua dan Mommy tak akan pernah bernapas lagi.” Tukas Lewis tidak menunduk lagi, melainkan menatap dalam wajah keriput Ayahnya.
James tersenyum. “Aku tidak mau menambah beban dan luka untuk putraku. Sudah cukup banyak kepedihan yang selalu aku berikan. Aku sadar diri, hanya ingin keturunanku hidup lebih baik Lew. Kalau terus membenciku, ketika aku meninggal, tidak ada kesedihan di matamu.”
“Lewis … berjanjilah untuk hidup lebih baik dan jangan ikuti jejak Ayahmu yang bejat ini, menikahlah dengan wanita baik-baik, jaga cucuku. Satu lagi jaga JSN demi Angelina.” Pesan James ini mengingatkan Lewis akan sesuatu.
“Aku memiliki wanita yang aku cintai James. Aku bertekad akan menikahinya.” Tanggapan Lewis, dia harus meminta Ayahnya melepaskan Alana.
TBC
***
Maaf ya tersendat, akunya bolak balik rumah sakit🙏
__ADS_1