
Dua minggu berlalu, Lewis Jansen memenuhi keinginan James untuk menemui teman kecilnya. Hanya bertemu tidak lebih. Sebelum berangkat, dia membuat perjanjian lebih dulu, bahwa tidak akan menikah dalam waktu dekat ini.
Pertemuan Lewis hanya menghargai rekan bisnis James, tidak lebih.
Lewis adalah pria yang minim ilmu mengenai wanita, tidak tahu apa itu kencan, tidak tahu apa itu mencuri perhatian lawan jenis.
Lewis bertindak sesuai nalurinya dan kata hati, dia memperlakukan Alana sangat baik, sebab mencintainya, menyayangi bahkan tergila-gila.
Sore ini saja Lewis masih bermalas-malasan, memeluk tubuh Alana dari belakang, menciumi punggung polos tanpa sehelai benang itu. Mereka melakukan untuk kesekian kali. Syarat lain yang diajukan Lewis, bercinta dengan Alana sebelum bertemu calon tunangannya.
“Lewis jangan seperti ini. Kamu sebaiknya mandi. Aku bantu memilih pakaian.” Kata Alana memutar tubuhnya hingga saling berhadapan. Memainkan helai demi helai rambut lelakinya.
Alana tersenyum kecut, hubungannya sudah sejauh ini tapi hubungan tidak bisa diterima banyak orang. Sakit sekali rasanya, harus menjalani cinta begini.
“Apa aku harus mengalah Lewis?” tanya Alana dalam hati. “Ayo mandi, kamu berkeringat, lengket.” Alana mencubit hidung kekasih gelapnya ini.
“Umm …malas, biar saja dia menunggu. Aku ingin bersama kekasihku. Oh Alana aku mencintaimu, sangat sayang. Jangan cemburu ya. Satu lagi, apa anakku sudah tumbuh di dalam sini? Aku ingin tahu apakah dia mirip aku atau kamu.” Lewis tertawa renyah, membayangkan rumah tangganya bersama Alana kelak diberi anugerah anak-anak lucu.
“Aku ingin segera mendaftarkan pernikahan kita. Maaf aku belum bisa bicara kepada Daddy.” Lewis membalas mengacak rambut Alana yang sudah berantakan.
Mendengar kata ‘anak-anak’, hati Alana tertusuk ribuan pedang. Jika dia mengandung benih Lewis, maka selamanya anak itu menjadi milik James. Alana menyesal telah menandatangani surat perjanjian gila itu.
Makanya Alana tidak ingin hamil sebelum dirinya lepas dari James Jansen.
“Aku juga mencintaimu Lewis. Sekarang mandi, aku bantu!” Alana menghempas selimut. Dengan tubuh polosnya dia mengulurkan tangan kepada Lewis.
Keduanya bersama-sama mandi di bawah rintikan air shower, saling membantu satu sama lain. Keramas, memijat kepala dan memijat kulit tubuh menggunakan sabun.
“Lewis,kamu jangan nakal.” Alana memukul tangan pria itu, karena menjalar ke mana-mana.
“Maaf sayang. Kamu selalu menggoda dan aku tergoda dibuatnya.” Lewis yang memang terbakar g4-1r-4h kembali menghentak tubuh Alana, menyatukan cinta terlarang mereka, menyembur jutaan pasukannya.
**
Cafe R and B
__ADS_1
Lewis berjalan santai cenderung malas. Jiwanya tertinggal di apartemen, raganya terpaksa pergi demi James Jansen.
“Tuan Muda Jansen? Silakan ikuti kami, Nona Adinda menunggu di dalam.” Kata seorang pelayan.
“Ok.”
Lewis mengikuti pelayan itu ke sebuah ruangan, dia terpaku melihat perempuan cantik, sangat anggun dan manis sama seperti Alana. Dia teman kecilnya, mungkin satu sekolah tapi Lewis lupa.
Adinda tersenyum manis, memang menyukai Lewis sejak kecil tapi sayang tak bisa menyentuh pria dingin ini. Sikapnya pun sangat arogan.
“Lewis. Apa kabar?” tanya Adinda basa-basi sebagai pembuka malam kebersamaan mereka.
“Kau siapa ya? Aku lupa namamu. Kabarku tidak baik-baik saja.” Jawab Lewis sangat jujur.
“Aku Adinda Nugraha, mungkin kamu tidak ingat.” Adinda masih terus tersenyum, dia tak menyangka jika pria di depannya akan menjadi suami, pendamping hidupnya. Adinda jamin pasti teman-teman wanita di kelasnya dulu sangat iri.
Lewis hanya manggut-manggut, tidak bertanya atau menjawab dengan suara. Dia menikmati minuman serta alunan musik romantis yang sengaja diputar.
“Selama ini kamu sibuk di mana? Aku dengar kamu punya perusahaan sendiri ya?” tanya Adinda, benar-benar membaca biodata Lewis. Sedangkan profil Adinda berakhir di tempat sampah. Melihat wajahnya saja enggan.
“Kamu di mana sayang? Wanita ini membosankan. Jadi menjenguk James?”
Rasa cemburu Lewis berkurang, bisa menguasai emosi. Dia juga tahu bahwa dirinya pria pertama bagi Alana, jadi untuk apa panas ketika melihat Alana dan Ayahnya.
“Alana? Kenapa tidak menjawab?”
“Pulangnya aku jemput. Aku pulang sebentar lagi. Aku merindukanmu Alana.”
“Sayang, kamu marah?”
Beberapa pesan Lewis tidak dibaca apalagi mendapat balasan. Alana seakan sengaja mengabaikannya, memberi waktu agar Lewis bisa mengenal lebih jauh calon istrinya.
“Kamu sibuk ya? Aku mau belajar bisnis, bisa bantu aku Lewis?” suara Adinda sangat bising di telinga Lewis Jansen. Tidak menyukai wanita rewel dan bawel, hanya Alana yang boleh berkata panjang lebar.
“Selesai? Kita sudah saling mengenal. Kau juga tahu aku pebisnis, jadi permisi. Aku sibuk.” Lewis keluar ruangan tanpa mencicipi makanan lebih dulu. Dia bosan bersama wanita seperti Adinda. Ditambah perasaanya gelisah menanti kabar dari Alana.
__ADS_1
Sementara Adinda menatap nanar calon suami sekaligus pria yang sangat dicintai. Dia harus menanti 20 tahun untuk berani bicara kepada Lewis.
“Sikapnya dingin, apa mungkin dia memiliki wanita lain? Tapi … Papa bilang Lewis masih sendiri.” Lirih Adinda sangat rapuh dan mudah terluka.
**
Di apartemen
Alana menangis sesenggukan, pedih sekali merelakan kekasih gelapnya bertemu wanita lain. Tersayat sudah hati Alana, perempuan itu akan mendapat pengakuan dunia sebagai istri Lewis, milik Lewis dan wanita Lewis.
Mungkin Alana hanya akan menjadi masa lalu dan kenangan pahit bagi Lewis. Dia terlalu berharap dari rumitnya hubungan ini, sudah tahu tak akan mungkin bersama tetapi kenapa hatinya mencintai Lewis dan takdir selalu mempertemukannya.
Bahkan Lewis menjadi malaikat penolong Alana. Mengetahui semua kebenarannya pun Alana tetap tidak bisa membenci Lewis.
“Aku terlanjur memberikan seluruh hati dan tubuhku untuknya. Alana kau memang bodoh, melukai diri sendiri.” Alana tersenyum, air mata yang jatuh tak lagi terhitung. Matanya pun membengkak.
“Lewis.” Tangis Alana semakin keras, boleh kah egois untuk kali ini? Dia tidak ingin membantu suaminya, Alana akan bekerja sewajarnya saja, biar lah pendidikan adiknya terbengkalai, asalkan jiwa dan raganya tetap bersama Lewis Jansen.
Tapi sekarang Alana bisa apa selain menyesal? Nasibnya bergantung kepada takdir, karena terlanjur memilih jalan yang berliku tajam.
Alana terlelap di atas dinginnya lantai, memeluk lutut, meratapi peliknya kisah cinta.
30 menit Alana memejamkan mata, dia tidak sadar jika kini seorang pria duduk di depannya. Lewis Jansen membelai pipi merah Alana, menghapus sisa air mata yang jatuh tanpa izin.
“Kamu menangis karena aku menemuinya, hem? Maaf Alana, tidak akan ada lagi calon istri yang lain. Hanya kamu, masa depanku.” Lewis menggendong Alana, membaringkan di atas ranjang. Mengecup kening ibu sambungnya.
“Maaf aku salah. Jangan pernah tinggalkan aku Alana. Kamu harus berjanji, selamanya bersamaku.” Impian Lewis terbilang tinggi dan tidak memedulikan keberadaan James.
TBC
***
jangan lupa dukungannya kakak 🙏😉
terima kasih banyak
__ADS_1