
Alana menatap jam tangan, sudah lebih dari 30 menit Pandu berdiam diri. Padahal tujuannya bertemu Alana sudah tercapai.
“Pandu. Apa yang kamu inginkan? Ada perlu apa? Jangan buang-buang waktuku. Aku bukan lagi Bosmu.” Kesal Alana karena jadwal rapatnya terpaksa mundur.
“Nyonya … mohon bantu saya untuk menikahi Nona Patricia. Saya tidak mau bayi dalam kandungannya digugurkan, saya bersumpah akan bekerja keras demi Nona Patricia dan anak kami.” Tukas Pandu menundukkan kepalanya.
Alana bukanlah wanita dermawan yang bermurah hati. Apalagi berurusan dengan keluarga Jansen. Membuat luka di hati semakin lebar.
“Apa yang bisa kamu tawarkan untukku? Aku ingin imbalan yang lebih dari sekedar uang, Pandu.” Alana berdiri, memandang keluar kaca transparan yang menyajikan pemandangan gedung menjulang tinggi.
Menghela napas sembari meremas jemari lentik tangannya.
“Aku ingin kamu membantu mencari bukti kejahatan Tante Debby. Aku yakin Patricia mengetahui kelicikan Ibunya. Dekati dan sayangi dia, sampai membongkar rencana busuk ibunya kepadamu.” Hanya ini yang bisa Alana lakukan sebagai ucapan terima kasih untuk kemurahan hati Tuan James.
“Aku tidak akan turun tangan sendirian lagi, semoga Pandu bisa membantu.” Batin Alana.
“Aku pasti berusaha membujuk Patricia menerima kamu Pandu. Sekarang perangainya jauh lebih baik, aku harap kamu menepati janji.” Alana menoleh dan menatap tajam kepada Pandu.
__ADS_1
“Baik Nyonya. Saya tulus menyayangi Nona Patricia. Dan … tidak akan melupakan jasa Nyonya Alana.” Pandu sangat beruntung disaat semua orang menyingkirkannya, masih ada Alana yang begitu baik meskipun membayar sangat mahal.
Hari semakin siang. Alana lebih sibuk karena menyesuaikan diri dengan perusahaan peninggalan Tuan Pattinson. Dia melakukan semua dari nol, bahkan tidak sungkan mendiskusikan masalah bisnis dengan dosennya.
Benar-benar membuang jauh semua yang diterima di rumah keluarga Jansen.
“Alana, kamu jangan kelelahan. Ingat, kondisimu. Baru keluar dari rumah sakit.” Alvaro menjadi alarm hidup. Tak jenuh mengingatkan sahabatnya.
Alana yang tenggelam bersama setumpuk pekerjaan hanya tersenyum kecut mendengar perhatian Alvaro. “Aku sengaja, kalau sibuk pasti bisa melupakan Lewis.” Lirihnya dalam hati.
“Ck, Alana. Sayangi dirimu. Jangan terlalu larut dalam semua tender ini. Kamu harus bahagia, mungkin liburan. Aku bisa bantu kalau kamu mau, pacarku bisa ikut menemani.” Alvaro menawarkan bantuan agar temanya ini rileks sejenak.
Tok … tok
“Ya silakan masuk.” Sahut Alvaro.
Pintu terbuka sangat lebar, dua orang petugas keamanan membawa pot berisi bunga mawar merah, ukurannya pun cukup besar. Perlu hati-hati membawanya agar tidak jatuh dan pecah.
__ADS_1
‘Permisi Bu Alana, kami menerima kiriman bunga ini dari Presdir JSN. Ini kartu ucapannya.’
Petugas itu menyimpan pot bunga di ujung ruangan, sesuai perintah dari jari telunjuk Alvaro. Kemudian menyimpan kartu ucapan di atas meja.
“Kalian boleh pergi.” Perintah Alana sembari melirik pot bunga mawar merah itu.
“Ck Alana, Tuan Jansen sangat mencintaimu tidakkah menjadi pertimbangan? Jangan dengarkan apapun yang dibicarakan orang-orang. Tapi semua keputusanmu, aku selalu mendukung.” Alvaro keluar dari ruangan pimpinan utama.
Sengaja memberi ruang dan waktu untuk Alana.
Di dalam ruang Presiden Direktur, kartu ucapan yang tergeletak di atas meja itu dibuang ke dalam tempat sampah, tanpa dibuka lebih dulu. Rasanya Alana tidak akan sanggup membacanya. Menyingkirkan segala sesuatu tentang masa lalu adalah hal terbaik saat ini.
“Maafkan aku Lew, dan terima kasih atas bunganya.” Lirih Alana, keluar dari ruangan.
TBC
***
__ADS_1
Jempolnya untuk Alana kakak 🤗🙏