
Seorang pria yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dengan cucuran air. Setelah keramas berjalan santai menghampiri gadis belia yang nampak rapuh dan pucat.
Gadis itu tampak serius memandangi smartphone, tiba-tiba sambungan teleponnya terputus tanpa tahu siapa yang menghubungi malam hari. Keningnya mengerut karena suara panik dan merintih tertangkap jelas indra pendengaran.
“Siapa?” tanya Pandu mengulur telapak tangan meminta ponselnya.
“Aku tidak tahu, Kak. Seorang wanita, apa mungkin Bos, Kak Pandu? Sepertinya dia kesakitan.” Tutur adik Pandu yang baru saja keluar dari rumah sakit.
“Mana Kakak lihat, jangan-jangan orang iseng, Dik.” Pandu memeriksa data panggilan terakhir.
Kepala adik perempuannya menyembul dari samping memerhatikan pergerakan ibu jari Pandu. “Benar kan, tidak ada namanya.”
Pandu tetap mengamati, berusaha mengingat. Rentetan angka yang sangat tidak asing dan hatinya menyebutkan satu nama. “Patricia.”
Segenggam otot dalam rongga dada merasa tak tenang, seolah terancam sesuatu yang tidak jelas. Pandu bergegas ke kamar, menggunakan pakaian lengkap. Dirinya yakin saat ini Patricia, ibu dari anaknya sangat membutuhkannya.
“Dik, Kakak pergi dulu. Kunci pintu ya. kamu jangan begadang, langsung tidur!” pesan Pandu kepada adiknya, mengingat gadis muda itu memiliki riwayat penyakit yang sangat mengkhawatirkan.
Malam hari yang dingin ini, Pandu memecah lenggangnya jalan ibu kota. Rumahnya cukup jauh dari kediaman Jansen. Maka kaki kanan tak berhenti menginjak pedal gas, serta kaki kirinya selalu menjaga keseimbangan mengatur irama kopling agar mesin mobil tidak mati secara mendadak.
“Tunggu Patricia.” Lirih Pandu bercampur asa.
Seketika dia mencoba menelepon Tuan Muda Jansen, karena hanya pria itu yang menjadi harapan Pandu untuk menolong Patricia, seandainya terjadi sesuatu.
Namun sayang, langit berkehendak lain. Berulang kali Pandu telepon, tersambung tetapi masih sama. Tak ada jawaban dari Lewis Jansen. Entah pergi kemana Bosnya itu.
Bibir Pandu terus merapalkan doa, dia harap Patricia dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja. Mencoba mengenyahkan pikiran negatif yang terus melekat.
Akhirnya Pandu sedikit bernapas lega setelah berhasil memasuki pagar tinggi rumah Bosnya. Dia disambut kepala pelayan yang mendadak bangun mendengar kehadiran tamu.
“Apa Nona Patricia ada? Bagaimana keadaannya?” tanya Pandu berapi-api.
“Nona di kamar, usai makan malam segera istirahat.” Jawab Kepala Pelayan yang sudah sepuh ini.
__ADS_1
“Kalau Tuan Lewis, ya seperti biasa menguntit Nyonya Alana, mungkin pagi hari baru pulang.” Tambahnya, menerangkan posisi Lewis Jansen.
“Bisa antar saya ke kamar Nona Patricia?” Pandu memohon, demi apapun saat ini dia gemetaran.
Kepala pelayan menganggukkan
kepala, melangkah lebih dulu menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Sampai di atas, mengetuk lembut pintu kamar Patricia Jansen.
“Nona, apakah Anda sudah tidur? Pandu datang. Nona?” Panggil kepala pelayan.
“Buka saja!” kata Pandu karena tak mendengar jawaban apapun dari dalam kamar.
Perlahan pintu mulai terbuka, sedikit demi sedikit menampakkan isi kamar yang begitu luas, elegan, feminim dan harum bunga tentu saja. Pandu teringat malam indah sekaligus mengenaskan bersama Patricia, aroma tubuh yang membuatnya kecanduan.
Sontak kedua orang ini terbelalak, Patricia tergeletak di atas karpet, kepalanya sedikit menekuk pada dinding. Basah dan banjir di sekitarnya.
“Patricia?” Pandu segera menggendong tubuh kecil terbalut dress rumahan ini. Patricia memang hamil besar tetapi badannya kurus, tulang pipi sangat jelas menonjol. Terlalu banyak beban yang dipikirkan.
“Bertahanlah Patricia.”
**
Pandu berjalan mondar-mandir tak tenang, karena wanita itu berada di dalam ruang operasi. Menurut dokter, harus dilakukan pembedahan. Patricia dalam keadaan tidak sadarkan diri, persalinan normal sulit dilakukan. Selain itu berat badan bayi yang jauh dari kata cukup menjadi perhatian para dokter.
“Seandainya tidak terlambat.” Kata Pandu mengutarakan kepedihan hati.
Menunggu lebih dari 30 menit, perawat keluar membawa bayi dalam ranjang khusus. “Silakan ikut kami, Tuan. Bayi ini memerlukan walinya.”
Kedua manik hitam pekat Pandu berkaca-kaca, anaknya berhasil lahir dengan selamat. Walaupun tubuhnya begitu kecil dan kurus. Napasnya tersengal-sengal.
“Anakku.” Lirih Pandu, melangkah mengikuti jejak suster.
Dia menandatangani sejumlah surat persetujuan, guna memberi perawatan maksimal kepada bayi merah yang baru saja lahir.
__ADS_1
“Umm … suster, apa boleh saya memeluknya?” sebagai Ayah, keinginan terbesarnya memeluk, mencium, menjaga buah hati dari segala gangguan.
Tapi suster menolak permintaan Pandu, lantaran bayinya harus segera dipasangkan alat-alat khusus, agar tetap bertahan hidup di dunia.
Pandu meratapi keturunannya, tangis menggelegar dalam ruangan. Bayinya tidak nyaman dengan beberapa selang dan kabel yang ditempelkan ke tubuh kecil nan rapuh.
“Sayang, Ayah janji menjaga kamu dan Ibu. Kita pasti bisa hidup bahagia sayang.” Harapan Pandu tidak muluk-muluk. Anaknya, buah hatinya harus mendapat kasih sayang lengkap dari kedua orangtua.
Usai menyelesaikan beberapa kebutuhan bayi, Pandu keluar menunggu Patricia di depan ruang operasi. Dia tidak sendirian, karena Alana Pattinson lebih dulu tiba sembari menyatukan kedua tangan, mendoakan keponakannya baik-baik saja.
Sementara jarak beberapa meter, Lewis Jansen duduk seraya menyandarkan kepala. Matanya menatap langit-langit rumah sakit. Mendapatkan kabar dari kepala pelayan bahwa Patricia melahirkan, lelaki tampan bak Dewa Yunani itu meninggalkan kegiatannya mengamati Alana.
Bagaimanapun Lewis merasa bertanggung jawab atas semua ini, karena kesalahannya. Secara tidak langsung membuat Patricia hamil dan kesulitan menghadapi jahatnya kehidupannya. Hingga adik sepupunya depresi mendapat banyak hujatan masyarakat, ditinggalkan teman dekat dan terpaksa mengambil cuti satu semester, menunda kuliah.
Pandu memilih menghampiri Lewis, memberi salam dan sedikit menunduk. “Terima kasih Tuan.”
“Dia juga keluargaku. Anakmu sehat?” tanya Lewis, mengucapkan kata anak, angan-angannya terus saja berputar di masa lalu.
Kalau saja benihnya masih bertahan, pasti saat ini Alana sudah melahirkan darah dagingnya. Sebab usia kandungan Patricia tidak berbeda jauh dengan Alana.
“Anak kami mendapat perawatan di ruang NICU, Tuan. Apa Saya boleh meminta bantuan? Saya tidak memiliki cukup uang, kalau Tuan berkenan memberi pinjaman, saya berjanji akan membayarnya__”
Belum selesai Pandu bicara, Lewis Jansen memotong lebih dulu. “Kau ini bicara apa. Dia keponakanku. Jangan pikirkan biaya rumah sakit. Sekarang fokuslah menjadi ayah yang baik. Anak itu sudah kehilangan kasih sayang sejak dalam perut.”
“Aku keluar sebentar.” Lewis berdiri dan menoleh sebentar, pandangannya bertemu dengan mata coklat karamel Alana. Tanpa tersenyum, melangkah pergi. Tidak lagi mengharapkan apapun selain menunggu waktu yang menjawab semuanya.
Jika Alana memang jodohnya, maka Lewis dengan senang hati mengabdikan diri kepada wanitanya itu, belahan jiwa yang tak mungkin terganti oleh wanita manapun.
Tapi fakta jelas bicara bahwa Alana menolak kembali, lantaran masa lalu yang membentang menghalangi cinta keduanya bersatu padu membentuk kebahagiaan masa depan.
Sedangkan Alana tak menanggapi tatapan Lewis yang tanpa arti, hatinya sudah membeku. Terlalu banyak luka yang menyakiti hati.
TBC
__ADS_1
***
holaaaa maaf ya menghilang sehari karena kondisi tidak sehat 🙏