
Tiga hari pasca melahirkan, Patricia selalu menolak menyusui atau bahkan sekedar melihat bayinya. Dia masih tetap menunggu keputusan dokter. Tak tahan lagi segera meninggalkan Jakarta.
Patricia yang selalu dikelilingi ego, terus memantapkan hati jika dia hanya bertugas mengandung dan melahirkan anak Pandu, bukan berarti menerima kehadirannya. Merawat bayi memerlukan effort luar biasa, merasa tidak sanggup melakukan itu diusia muda.
“Hidupku masih panjang, cita-citaku banyak. Aku percaya Pandu bisa membesarkannya.” Batin Patricia meringis nyeri. Berat juga meninggalkan bayi itu dalam keadaan berjuang di NICU. Nalurinya sebagai seorang ibu selalu menggerogoti jiwa.
Bahkan dua hari ini, ayah dari putra kecilnya tidak menampakkan batang hidung sama sekali. Pandu entah menghilang ke mana, tak ada kabar. Sepertinya, nomor telepon Patricia diblokir.
Tidak mungkin kan lelaki itu meninggalkan bayi merah di rumah sakit tanpa kejelasan wali?
‘Permisi, waktunya pemeriksaan pagi Nyonya.’
Perawat mengeluarkan alat tensi dan lembaran kertas berisi beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Patricia, guna memvalidasi bahwa pasien telah benar-benar pulih.
“Suster? Apa sudah ada keputusan dari dokter? Apa katanya? Saya boleh pulang sekarang, iya kan?” Patricia begitu terburu-buru bertanya. Pegal tidur beralaskan ranjang rumah sakit, meskipun empuk dan nyaman tetap saja berbeda.
‘Sabar Nyonya, justru itu saya kemari. Menjelaskan hasil pemeriksaan dokter dan keputusan setelah kemarin sore.’
Perawat merapikan peralatan tensi dan beberapa kertas. Lalu memberikan sesuatu di dalam amplop, berisi pengecekan lab satu hari yang lalu.
Pelan-pelan Patricia membuka amplop, hasilnya sangat bagus karena ia diizinkan pulang. Tercatat sesuatu di sana, perihal pengingat makan teratur dan bergizi demi nutrisi yang lancar untuk buah hati.
Usai membaca surat itu Patricia bersiap seorang diri, dia menghubungi Alana. Tapi nihil, mantan kekasih Lewis Jansen tampaknya sibuk melakukan serangkaian bisnis di Patt Group.
Salahnya memang tak membuat janji dengan Alana, biasanya selalu datang sepulang kerja tepatnya sore hari.
Bermodalkan ponsel memesan jasa taksi online dan bantuan petugas servis membawa barang-barang, Patricia keluar dari pintu rumah sakit. Dirinya memasuki mobil sejuta umat, membuka kaca lebar-lebar, menatap pengunjung yang berlalu lalang.
“Maafkan aku. Aku harap kamu tumbuh dewasa dan mengerti. Maaf, aku bukan ibu yang baik. Jangan pernah mencariku, hidup lah bahagia bersama Pandu dan istrinya kelak.” Walaupun mengatakannya hanya di dalam hati, tubuh Patricia gemetar dan tak kuasa bersedih.
__ADS_1
Keputusannya sudah bulat tidak bisa diganggu gugat. “Jalan Pak, ke alamat yang di aplikasi ya.”
Semula ingin menjenguk Debby di lapas, tapi semakin lama dirinya tertahan di Jakarta, maka peluang Pandu menahannya bertambah kuat.
Tiket ke Singapore telah di beli satu hari yang lalu. Malam ini juga Patricia terbang ke negeri tetangga. Memulai hidup baru yang telah rusak, membuang kenangan pahit delapan bulan yang lalu.
Patricia bisa bernapas lega setelah menginjakkan kaki di kediaman Jansen. Disambut kepala pelayan yang kebingungan menatap Nona-nya, pulang sendiri tanpa kehadiran Pandu apalagi bayi yang baru saja dilahirkan.
“Nona?” bibir Kepala Pelayan sungguh gatal ingin bertanya tapi khawatir menyinggung Nona-nya.
“Aku sudah sehat, tolong bantu bawa tas ke kamar ya. Tolong buatkan jus apel.” Perintah Patricia bernada santai tapi serius.
Kakinya melangkah, seraya kedua tangan memegangi railing tangga begitu kuat. Tanpa dia tahu, Kepala Pelayan diam-diam menghubungi Pandu dan Lewis, menceritakan kondisi ibu yang baru saja melahirkan.
Ia mengerti kenapa Patricia pulang tanpa membawa anak. Tapi yang membuatnya heran adalah, tanggapan Lewis dan Pandu sama, kompak memerintah menahan Patricia agar tidak keluar rumah.
Sebab Lewis mengetahui adik sepupunya telah memesan tiket, berkat jemari Liam yang begitu terampil mencari informasi.
Tuan Muda Jansen tak akan membiarkan Patricia melakukan kesalahan terbesar. Ia merasa bersalah kepada bayi mungil yang kini berada di NICU, karena perbuatannya melibatkan Pandu dalam pelik masalah keluarga.
Lalu sekarang, keponakannya harus menanggung akibat memiliki ibu muda yang belum mampu menjadi seorang ibu seutuhnya. Anggap saja sebagai bentuk penebus dosa Lewis.
Hingga sore hari Patricia sama sekali tidak curiga, ia merapikan semua barang dan merapikan kamar, sebab jadwal penerbangannya dua jam lagi. Mungkin 30 menit kemudian berangkat. Tetap setia menunggu Lewis pulang untuk berpamitan.
Di atas ranjang empuk, Patricia melihat buku pemeriksaan kehamilan dan USG 2D serta 4D. Bibirnya tersenyum teduh menatap perkembangan pertumbuhan dari waktu ke waktu. Di mulai kantung kosong, lalu berisi bulatan kecil sampai memperlihatkan wujud manusia kecil.
TES
Air matanya turun dengan lancang menangisi hal yang tidak perlu. “Eh kenapa aku menangis? Bukannya selama hamil dia selalu menyusahkan?” menunjuk deretan gambar USG.
__ADS_1
Deru mesin mobil terdengar dari arah depan rumah, tapi keningnya mengerut lantaran mendengar suara aneh. Bukan hanya satu tetapi tiga mobil, ya Patricia yakin itu.
Lantas mengintip melalui celah jendela. Seketika tersentak melihat tiga orang yang berjalan beriringan, Pandu, Lewis, Alana. Kompak memasuki kediaman Jansen.
“Harusnya cuma Kak Lewis, ke-kenapa Tante Alana dan Pandu juga ikut? Jangan-jangan mereka tahu akau mau pergi?”
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu, Patricia yang panik, bergeming di tempat. Alam bawah sadarnya berpikiran negatif. Untung saja pintu terkunci, dia masih bisa menahan semuanya.
Namun itu berlangsung sebentar, karena suara kunci terbuka manual, kendati dari dalam menggunakan digital.
“Patricia?” ucap ketiganya.
Pertama Pandu melangkah mendekati ibu dari bayinya, “Batalkan! Kamu tidak kasihan dengan anak kita? Dia berjuang di NICU, dia menunggu kamu.”
Tidak mengindahkan semua perkataan menyakitkan itu, Patricia memilih membuang muka tidak sudi menatap Pandu yang sangat memohon.
“Patricia, benar yang dikatakan Pandu. Kamu masih bisa mengejar mimpi walaupun sudah memiliki anak. Tante akan membantu kamu menjaganya.” Tambah Alana berusaha menyakinkan, bahwa mahkluk kecil itu bukanlah penghalang.
Mendengar kalimat Alana, Lewis Jansen otomatis melihat pujaan hatinya. Merasa tertohok akan masa lalu, dahulu Alana juga ketakutan memiliki anak darinya tetapi status sebagai istri James.
“Apa Alana yang dulu tidak sedewasa sekarang?” tanya Lewis dalam hati masih terus memerhatikan Alana.
“Tante mohon Patricia. Berpikirlah dengan jernih, terima lah Pandu, dia tulus menyayangi kamu.” Suara Alana terdengar sebagai bentuk menghakimi memaksa bukan solusi terbaik di dengar Patricia.
“Tapi kamu Pandu, calon istrinya gemana Tante? Aku tidak mau lagi menjadi duri dalam kehidupan bahagia pasangan lain.” Ucap Patricia penuh nafsu dan terpancing amarah mengingat suara wanita yang menerima telepon tiga hari yang lalu.
Pandu tersenyum, meraih kedua tangan wanita muda di depannya. “Tante Alana sudah cerita. Dia bukan calon istri, aku tidak memiliki kekasih, masih berharap Ibu dari anakku menerima lamaran. Dia adik perempuanku.”
Sontak Patricia menghempas tangan Pandu, melotot tidak percaya mendengarnya.
__ADS_1
TBC