Trap My Stepmother

Trap My Stepmother
BAB 35 Selalu Memabukkan


__ADS_3

Pagi yang indah bagi Lewis tapi tidak dengan Alana. Pasalnya ketika wanita itu keluar kamar, dia disambut oleh pertengkaran, siapa lagi dalangnya kalau bukan Debby Jansen?


Adik ipar dengan usia lebih tua selalu menyebalkan dan ingin menendang kakak iparnya keluar rumah. Tapi Alana tetap bertahan demi janjinya, bahkan menahan segala rasa yang dirasakan oleh hati serta tubuh.


Masalah sekecil apapun selalu menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.


“Kau tidak bekerja dengan baik Alana. Aku peringatkan sekali lagi, jangan mengusik kehidupanku. Kita tidak lebih dari rekan kerja di kantor. Tahu?” Debby Jansen muak sebab rancangan kerjanya diselidiki oleh Alana.


“Iya adik ipar benar. Aku setuju. Lalu apa yang membuatmu marah? Sepagi ini sudah menghalangi jalanku, tidak sopan.” Alana tak gentar sedikitpun melawan adik iparnya. Tentu saja semua ini hanya di hadapan mereka yang selalu mencari masalah dengannya.


Orang terdekat lah yang mengetahui semua tentang Alana, betapa jengah menghadapi masalah keluarga Jansen.


“Berhenti pura-pura Alana, kau berani menyelidiki kerjaku di kantor? Kau yang tidak sopan. Aku itu jauh lebih senior dibanding dirimu, bocah ingusan.” Hardik Debby, karena beberapa rencananya terpaksa harus ditunda atau mungkin gagal.


Alana tertawa hambar, sejujurnya dia malas harus berurusan dengan adik iparnya, tapi mau bagaimana lagi. Bagian dari perjalanan hidup yang perlu dituntaskan.


“Lalu? Bukankah wajar aku memeriksa semua kegiatan bawahanku? Satu lagi Nyonya Debby, sebaiknya kita bahas di kantor, bukan di rumah. Jadi mengertilah, ucapanmu sangat tidak sesuai dengan tingkah laku.” Alana tersenyum sinis, kemudian menubruk bahu Debby hingga limbung.


“Maaf Nyonya, aku senagaja karena Anda menghalangi jalan.” Istri James Jansen itu segera menarik napas, mengipas dirinya sendiri.


“Huh masih pagi sudah gerah. Rumah ini lama-lama menjadi panas.” Gerutu Alana sembari berjalan menuju garasi mobil.


Bibirnya yang cemberut berganti senyum setelah melihat sosok pria tampan berdiri, menyandar di badan mobil.


“Kamu lama.” Lewis merajuk, sangat tidak pantas di usia ke 28 tahunnya. Bahkan pria ini tidak sungkan memagut liar bibir kenyal milik ibu sambung.


“Lew, lepaskan. Ini di rumah. Kamu jangan gila. Sebaiknya kita berangkat sekarang!” Alana mendorong dada bidang pria itu hingga Lewis sedikit mundur ke belakang.


“Kamu maunya di mana Alana? Aku masih belum puas. Mengertilah Alana, aku itu pria dewasa, selalu dekat denganmu membuatku lupa diri.” Lewis mengendus harum tubuh ibu tirinya.


Tapi Alana lagi-lagi menolak dan bergegas memasuki mobil, duduk cantik di dalamnya. Dia yakin jika tetap seperti ini, Lewis akan mengulangi kegiatan panasnya.

__ADS_1


“Masuklah bukankah kita ada meeting. Aku tidak mau kehilangan projects besar karena ulahmu.” Ketus Alana menutup keras pintu mobil.


Perjalanan yang dilalui cukup singkat sebab jalanan sangat lancar. Lewis setia mengekor Alana hingga memasuki kantor, dia tidak peduli terhadap banyak pasang mata yang menatapnya.


Memberikan cibiran menyedihkan, kalau mereka tidak suka, bisa meninggalkan perusahaan sekarang juga tanpa pesangon apapun.


“Kamu ini, sebaiknya pergi Lew. Banyak produk yang harus diluncurkan iklannya dalam waktu singkat. Jangan seperti ini.” Alana pasrah dan kesal secara bersamaan sebab Lewis mengunci ruangan Presiden Direktur.


“Pekerjaan bisa aku lakukan nanti Alana, sekarang keinginanku hanya satu. Bersamamu, sebentar saja Alana tidak lebih dari 30 menit.” Tukas Lewis, menyudutkan ibu sambungnya hingga menyentuh dinding.


Menciumi tengkuk Alana secara kasar dan terus bergerak membuka kancing serta resleting di rok span Alana. Kemudian mendorong dan menelungkupkan tubuh kekasih hatinya ke meja kerja, membentuk sudut 90 derajat.


Dengan cepat kembali melakukan penyatuan.


**


Di sisi lain, kediaman Jansen. Debby kembali di buat pusing dan mengelus dada akan tingkah putri sematawayangnya. Patricia tak henti menangis, menjerit bahkan melempar semua benda yang tertata rapi di atas meja.


“Alana jahat Mom, aku memergoki mereka berdua. Menjijikan.” Histeris Patricia melempar guling ke arah Debby.


“Berani sekali mereka, hubungannya semakin terang-terangan. Tidak bisa ku percaya Lewis nekat dan  mempertaruhkan namanya. Tapi baguslah kalau dia berulah dan nama baiknya rusak, itu mempermudah aku untuk merebut miliknya.” Debby Jansen tertawa dalam hati.


Lantas memeluk tubuh Patricia, patah jadi dua perasaan gadis itu. “Mom aku sedih, apa yang harus aku lakukan? Tadi malam aku mencoba menggoda Kak Lewis tapi yang terjadi sama sekali tidak tertarik. Apa aku jelek Mom?” Patricia mendongak, air matanya semakin turun tak terkira.


“Ck, kamu menggoda Lewis? Yang benar saja sayang, itu cara lama dan kuno. Sekalian saja gunakan hal ekstrem. Lewis itu berbeda dari James, hanya mengandalkan tubuh saja tidak mungkin bisa. Mom akan mengaturnya untukmu. Asalkan kamu bersedia mematuhi semua perintah Mom.” Debby pun mencium kening putrinya dan segera bergegas ke kantor.


Dia tidak mau kehilangan momen, rapat penting bersama kolega bisnis yang telah lama menjalin hubungan kerjasama.


“Mom berangkat dulu. Sebaiknya kamu juga kuliah, sekarang jangan pedulikan Lewis, ada saatnya kamu memiliki dia seutuhnya, sweet heart.” Pesan Debby yang sangat menyayangi putrinya.


Wanita setengah abad itu pun melaju sangat cepat, sebab kurang dari 10 menit lagi jam masuk kantor.

__ADS_1


“Ini semua gara-gara Alana, fokusku terbagi menjadi tiga. Dasar penjilat.” Debby memukul setir berulang kali dan mengeluarkan caci maki dari bibirnya.


**


Di kantor


Pasangan yang tengah di mabuk asmara itu masih sibuk dengan kegiatannya. Bahkan kini berganti posisi, Lewis menggendong Alana layaknya koala. Memacu cepat pergerakan hingga air hangat memenuhi bagian dalam tubuh.


Setelah pelepasan, napas keduanya tersendat-sendat, berebut pasokan oksigen.


“Aku bantu kamu merapikan baju Alana.” Tukas Lewis, menyambar rok yang tergeletak di tengah rak buku.


“Terima kasih, tapi aku mau mandi, badanku lengket semua karena kamu.” Memukul dan mencubit pinggang Lewis yang telah merusak penampilannya pagi ini.


“Aku bantu Alana.” Pria ini terus saja mengikuti Alana, sekalipun memasuki kamar mandi yang luasnya cukup kecil.


Alana siap lebih dulu, tapi dia terkejut karena ketukan di pintu mengganggunya. Seketika itu Alana mengunci pintu kamar mandi dan mengabaikan Lewis yang sedang mandi.


Alana takut perusahaan ini kembali bising dengan desas desus hubungannya bersama Lewis, pasti akan memengaruhi kinerjanya karena harus meredam semua kabar miring.


Pintu terbuka


Rupanya Alvaro membawa banyak sekali map yang perlu ditandatangani serta diperiksa oleh Alana. “Maaf Bu Presdir, ini laporan terkait pengembangan produk baru.” Tutur Alvaro memberi penjelasan setiap laporannya.


Mata asisten pribadi itu menyipit, telinganya pun sangat tajam, mendengar suara ketukan pintu di dalam toilet.


TBC


***


Like dan komentarnya ditunggu ya

__ADS_1


terima kasih 🙏😉


__ADS_2