
Sementara di luar ruangan, Alana yang bosan dan mengantuk. Menuju toilet, dia mencuci muka dan merapikan rambutnya lalu buang air kecil. Dari dalam bilik mendengar percakapan cleaning service.
‘Kasihan ya Nona Patricia jadi korban pem3-k0-s-4-an. Sekarang badannya sakit dan kamu tahu tidak?’
Mereka berdua bergunjing, karena Patricia yang angkuh itu mendadak masuk rumah sakit, ditangani oleh Spesialis Obgyn, Spesialis Jiwa sekaligus terapis. Bahkan ada yang sengaja menguping ketika membersihkan ruangan.
‘Iya, cantik sih tapi sombong. Mungkin laki-laki itu salah satu orang yang pernah di tolaknya’
Sahut yang lain.
Alana panas hati mendengar semua, sejahat apapun Patricia, dia tetaplah perempuan sama seperti dirinya. Hingga Alana keluar dari bilik, membuka pintu cukup kuat. Mereka berdua tersentak, saking kagetnya menumpahkan air dalam ember.
‘Nyo-Nyonya J-Jansen. Maaf ka-kami t-tidak.’
“Lakukan tugas kalian dengan baik. Tolong hargai keponakanku. Anggap saja peduli sebagai sesama wanita. Katakan juga pada semuanya, kalau sampai aku mendengar gosip seperti ini lagi, maka siapapun harus siap kehilangan pekerjaan. Paham? Kali ini aku maafkan.” Tegas Alana, mencuci tangan kemudian keluar dari toilet.
Dia juga bertanya ke bagian informasi, di mana ruangan Patricia.
Alana berjalan menuju ruang VVIP tempat keponakan suaminya terbaring tidak berdaya.
Tiba ujung lorong, Alana bergeming, tampak sosok pria bertubuh tinggi sedang mengamati kamar rawat Patricia. Mulanya Alana memasang curiga dan siap melepaskan tinju, tapi setelah diamati, dia adalah Pandu. Sopir pribadi Lewis.
Tepat sekali kan, Pandu yang mengendarai mobil James pagi ini?
Alana semakin mendekat hingga mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Pandu.
“Nona Patricia maafkan aku. Aku … bukan keinginanku melakukan itu. Maaf Nona Patricia.” Pandu menunduk menghapus air mata.
Seandainya dia tidak silau gemerlap akan duniawi, pasti tidak menerima tawaran hina Debby . Malam panasnya menodai keponakan majikan tak akan pernah terjadi.
“Ehem … untuk apa kamu di sini?” tanya Alana tegas seperti biasa, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi antara Pandu, Patricia serta Debby. “Kamu mengintip keponakan suamiku?” selidik Alana, dia ingin tahu bagaimana perasaan Pandu.
__ADS_1
Secara menyeluruh, sopir ini adalah lelaki yang bertanggung jawab. Alana juga tahu bahwa Pandu tinggal berdua bersama adik perempuannya yang sakit.
“Maaf Nyonya. Saya permisi ke mobil.” Pandu memberi hormat kemudian berlalu dari hadapan Alana.
Istri James Jansen ini membuka pintu dan tanpa meminta izin masuk ke dalam. Hati Alana sakit sekali, Patricia yang selalu berisik dengan suara cemprengnya, hanya menangis terus menerus. Lingkaran hitam pun menghiasi wajah cantiknya.
Perempuan itu tidak tidur, dia selalu ketakutan. Saat ini didampingi terapis ternama, guna menyembuhkan trauma mendalam.
Debby melirik tajam dengan ekor mata, lantas melepas pelukannya dari Patricia. Berjalan mantap menghampiri Alana.
“Bagaimana ke…” pertanyaan Alana belum sempat terucap. Debby lebih dulu menarik tangannya, membawa keluar dan menghempas Alana di ujung lorong sepi.
“Untuk apa kau datang? Mau menertawai putriku? Puas kau Alana. Sekarang pergi! Jangan pernah kembali lagi, Patricia tidak membutuhkan belas kasihan dan perhatian dari wanita murahan sepertimu.” Debby mendorong tubuh kakak iparnya cukup kuat.
“Aku kasihan kepadanya. Meskipun dia keponakan James, tapi aku tetap menyayangi Patricia. Sebaiknya hal ini adik ipar jadikan pengalaman dan pelajaran, hentikan semua kegilaanmu untuk merebut apa yang seharusnya milik Lewis.” Balas Alana tidak kalah tajam dan menyayat hati Debby.
“Apa kau bilang? Milik Lewis? Dengar ya Alana. Aku itu Tantenya. Aku adik James, darah Jansen juga mengalir di tubuhku. Sudah jelas aku memiliki hak untuk menguasai JSN dan seluruh aset. Kau jangan ikut campur Alana!” Debby menatap tajam serta ingin menyingkirkan Alana secepatnya, tapi dia tidak bisa.
Posisi Alana di rumah dan perusahaan sangat kuat, tidak ada yang sanggup mengusir presiden direktur sekaligus Nyonya Jansen.
Untuk menghilangkan pusing, Alana ke kantin rumah sakit. Lagi-lagi di sana bertemu Pandu, tengah menyesap secangkir kopi dan membakar sebatang rokok.
Alana duduk di depan sopirnya. Dia berusaha bicara dari hati ke hati. Terlihat sekali jika Pandu memiliki rasa bersalah sangat besar.
“Kau tidak perlu menghindar Pandu, aku tahu apa yang terjadi antara kau dan keponakanku. Umm … aku tidak menyalahkan. Kamu di bawah pengaruh alkohol dan obat. Aku tahu perangaimu seperti apa.” Kata Alana mencoba menjembatani masalah yang terjadi.
Mendadak Pandu bersimpuh di kaki Alana, tersedu-sedu. “Maafkan saya. Saya bingung Nyonya. Di satu sisi membutuhkan uang sangat besar, tapi saya terpaksa melakukannya. Semula menjebak Tuan Lewis, tapi beliau tidak mudah terpengaruh, hingga keadaan terbalik. Saya tidak sanggup menelan alkohol. Nyonya Debby mengancam akan menjebloskan ke penjara atas kejadian ini. Tolong saya Nyonya. Apapun akan saya lakukan, saya tidak masalah masuk bui, selama kehidupan adik saya terjamin, setidaknya sampai sembuh.” Tutur Pandu, air matanya bercucuran membasahi lantai kantin.
“Apa kau mencintai Patricia?” tanya Alana.
“Tidak, seorang rendahan seperti saya tidak layak mencintai Nona.” Pandu masih menunduk.
__ADS_1
“Aku akan menjamin kesehatan adikmu. Kau tidak perlu takut. Tapi, selesaikan masalah ini. Aku juga akan membantumu bebas dari tuduhan, ini sepenuhnya bukan salahmu Pandu. Bangunlah, jadi lelaki yang tegar!” perintah Alana menepuk bahu sopir.
“T-terima kasih Nyonya. Saya berhutang kepada Anda.” Pandu berdiri, dia kembali duduk di depan Bosnya.
“Pergi! Jangan di sini. Aku tidak mau melihat wajah pengkhianat!” usir Lewis, karena geram atas tindakan Pandu yang mencoba menjebaknya.
“Dimengerti Tuan.” Pandu segera menghilang dari hadapan dua Bosnya.
“Ck, aku cemburu Alana. Seharusnya kamu tetap diam di depan ruangan. Aku mencari mu. Kenapa ada di sini? Kamu lapar? Apa anakku sudah tumbuh?” tanya Lewis tanpa memelankan suara.
“Sssst, jaga ucapanmu Lewis. Aku tidak hamil.”
“Belum”
“Tidak”
“Belum Alana, kau pasti mengandung anakku.” Ucap Lewis penuh penekanan.
Lelah berdebat dengan manusia kulkas dan keras kepala seperti Lewis, Alana pun tidak menjawab. Dia mengalihkan ke topik lain. “Bagaimana Tuan James? Kalian baikan?” betapa penasarannya Alana.
“Hu’um yah. Aku memaafkan semua kesalahan masa lalu Daddy. Mulai sekarang aku akan disampingnya Alana. Terima kasih.” Lewis mengacak rambut panjang berwarna coklat itu.
Lima belas menit yang lalu niat Lewis menyampaikan bahwa wanita yang dicintai adalah Alana terpaksa tertunda, karena James merasa dadanya sakit juga sesak. Semua kalimat yang berada di ujung bibir pun tertelan kembali.
Menunggu saat yang tepat.
“Aku janji Alana. Cinta kita harus diperjuangkan. Termasuk membujuk James melepaskanmu.” Kata hati Lewis.
TBC
***
__ADS_1
Ditunggu dukungannya
terima kasih 🙏