
Sebelum kembali ke kediaman Jansen. Alana memohon agar putra sambungnya mengantar ke rumah sakit lain. Alana merindukan Tuan Pattinson.
Pukul sembilan malam keduanya tiba di rumah sakit milik JSN Group. Alana segera menuju ruang ICU, masih tersisa waktu 15 menit lagi, untuk bertukar kabar dengan Ayah tercinta.
Tidak ada yang berani menolak keinginan Presiden Direktur ini. Alana pun mulai menatap wajah Ayahnya yang masih pucat di atas brankar, dengan tubuh dipenuhi alat penunjang kehidupan.
“Papa, aku kangen. Kapan Papa bangun? Sekarang Patt Group mulai bangkit. Alana janji menangkap siapa dalang yang membuat perusahaan kita bangkrut. Tapi Papa harus bangun untuk melihat sendiri pelakunya. Bangun Pah.” Tetesan Kristal bening membasahi pipi Alana.
Dari balik kaca, wanita itu menyampaikan semuanya, sesuatu yang memberi suntikan semangat agar Tuan Pattinson segera membuka mata.
Lewis menundukkan kepala, dia menyesal telah begitu membenci Alana. Selalu menganggap ibu sambungnya ini ingin mengeruk seluruh harta James.
Tapi semakin lama mengenal Alana, Lewis merasa wanita itu mirip sekali dengan mendiang Nyonya Jansen. Lembut, penyayang.
“Aku berharap Tuan Pattinson cepat sembuh. Lalu kabar adik-adikmu bagaimana Alana?” tanya Lewis, dia tidak bisa melihat kekasih hati bersedih.
“Mereka sehat, tinggal di asrama sangat aman dan baik, karena aku tidak bisa setiap waktu merawatnya. Meskipun sudah besar, tetap saja Lew, usia mereka sangat rawan dalam pergaulan.” Tatapan Alana lurus, mengingat kedua wajah adiknya.
“Apa kamu merindukan mereka? Kita bisa mengunjunginya, besok atau dua hari lagi mungkin, terserah. Kamu tentukan saja jadwalnya.” Tukas Lewis, kini mulai berani menatap Alana.
“Terima kasih Lew, tapi aku tidak bisa bertemu sembarangan, selain libur semester.” Jawab Alana mengulas sedikit senyuman di bibir.
“Kamu pekerja keras Alana! Maaf aku telah salah menilai. Aku terlalu dibutakan oleh dendam dan rasa marah. Semua membuatku tersiksa.” Lewis memejamkan mata.
Mendengar pernyataan itu, sontak saja Alana menoleh dan menepuk pelan punggung putra sambungnya.
“Kalau begitu, kamu harus memaafkan Tuan James, Ayahmu Lew, satu-satunya keluargamu.” Alana ingin hubungan antara Ayah dan anak itu membaik, tapi keduanya bagai air dan minyak, terlalu sulit disatukan.
“Ck, aku keluar dulu.” Lewis marah, dia memilih pergi daripada mendengar nasihat Alana untuk masalah yang satu itu.
Usai puas menjenguk Tuan Pattinson, Alana segera keluar dari bangsal ICU. Tidak enak hati, karena Lewis terlalu lama menunggu.
“Sudah selesai? Kita pergi dari sini.” Lewis menggenggam tangan Alana, keduanya berjalan menuju area parkir.
Lewis membawa Alana dalam mobilnya, mereka berhenti di pinggir jalan yang gelap, sepi dan senyap. Menyalurkan rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi.
Lewis Jansen, mendekatkan diri dengan Alana, menghirup aroma parfum yang selalu membuatnya kehilangan akal.
__ADS_1
“Alana, bagaimana perasaanmu mengetahui kebenarannya? Senang atau kecewa? Jujur saja aku senang kamu tidak hamil.” tanya Lewis sembari memainkan rambut panjang tebal milik ibu sambungnya.
“Aku? Jujur saja Lew. Aku senang. Karena … maaf. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa ku buka sekarang. Mungkin Tuan James yang dapat memberitahu semuanya.” Lanjut Alana dalam hati.
Harus melawan getirnya menjalani takdir hidup yang berliku, sekali lagi tidak mudah. Di usianya yang belum genap 25 tahun dipaksa menjadi sosok penyelamat bagi keluarga.
“Karena apa? Sebaiknya kamu jujur! Katakan semua. Alana, aku mencintaimu, aku menginginkanmu. Aku tahu ini salah tapi perasaan itu tidak bisa aku cegah.” Adu Lewis, dia menarik napas dengan rakus. Dadanya terlalu sesak.
Jatuh cinta terlalu dalam kepada orang yang salah, sangat menyesatkan. Apa Lewis menyesal? Tidak. Mengenal Alana, setidaknya menjadikan Lewis tahu betapa berat menjalin hubungan.
“Aku belum bisa bilang. Sebaiknya kita pulang Lew. Aku akan menyampaikan hasil pemeriksaan ini kepada Tuan James. Dan mengungkap pelakunya, karena ini termasuk kejahatan dengan memalsukan catatan medis seseorang.” Tukas Alana begitu tegas sembari melirik amplop putih berlogo rumah sakit swasta.
Pria bermata biru berdecak kesal, lagi dan lagi wanita yang dicintainya ini menyebut nama lelaki lain saat mereka bersama. Api cemburu kembali membakar seorang Lewis Jansen.
Tanpa banyak kata, Lewis menarik tubuh Alana hingga berada di atasnya. Memegang erat pinggul wanita itu, hingga meringis kesakitan.
“Jangan sebut namanya di depanku Alana. Tidak … tidak boleh.” segera menyambar bibir tebal Alana tiada ampun, menyesapnya begitu dalam dan l1-4-r.
Percikan dalam diri mulai membakar keduanya yang mudah terlarut dalam suasana.
Lewis melepasa tautannya, berlomba-lomba mengisi pasokan udara. Wajah keduanya saling menempel satu sama lain.
“J-jangan Lew. I-ini tidak benar. Kita salah.” Secara sadar Alana mengatakannya. Dia pun sama panasnya dengan Lewis, tetapi akal sehat masih hinggap di kepala Alana.
“Kamu menolak, Alana? Sebegitu puas kah terhadap James? Dia lebih baik dariku?” tanya Lewis beruntun, kesal luar biasa. Hingga pria itu tidak lagi bisa mengendalikan dirinya.
Namun satu panggilan telepon menggagalkan rencana Lewis.
Liam, asisten pribadi sekaligus orang terpercaya Lewis, tak henti menghubungi Bosnya.
“Asisten yang tidak tahu kondisi.” Terpaksa menerima telepon itu sembari memasang celananya dengan benar.
“Tuan … Tuan, Anda di mana? Gawat Tuan.”
Napas Liam terdengar berat dan terengah-engah, seperti atlet lari saja.
“Sebaiknya tenangkan dirimu, katakan dengan baik, ada apa? Kalau tidak penting aku tutup teleponnya. Kau menggangguku Liam.” Geram Lewis memaki ponselnya sendiri.
__ADS_1
Alana pun sama menerima belasan pesan dan puluhan panggilan suara.
“Ada apa dengan Liam dan Alvaro? Mereka … apa terjadi sesuatu dengan perusahaan atau Tuan James?” Alana bertanya dalam hati, seketika dirinya pun panik mengingat kesehatan suami tuanya.
“Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Tuan James.” Pikir Alana, menekan nomor kontak Alvaro. Sayangnya tidak tersambung, selalu saja panggilan dialihkan.
Sementara Lewis masih sibuk memarahi asistennya yang tak kunjung menyampaikan tujuannya.
“Liam ada apa? Masalah besar? JSN atau perusahaanku? Jawab b0d-0h! Kalau tidak, ku potong gajimu 99%.” Teriak Lewis memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
“Lew, sebaiknya kita cepat pulang. Feeling ku merasa ada sesuatu yang tidak benar. Cepatlah, jangan menunda lagi.” Alana mengguncang tubuh pria tampan di sisinya ini.
Lewis mengangguk, segera melajukan kendaraan roda empat dengan sangat cepat, menyalip satu persatu mobil atau motor yang menghalangi.
Tidak menunggu lama, akhirnya tiba di kediaman Jansen. Pengawal yang biasanya berjejer rapi kini tinggal sedikit.
Alana berlari masuk ke dalam rumah megah itu, sepi. Tidak ada seorang pun, termasuk Patricia yang biasanya selalu diam di ruang keluarga, tidak ada.
“Tuan James?” Alana melangkahkan kaki menuju kamar utama, jantungnya berdetak cepat.
TBC
***
boleh ya minta kebaikan hati kaka
bantu like, subscribe
kalau suka dengan ceritanya boleh banget gift dan vote
kalau kurang berkenan dilarang julid dan menjatuhkan
karena aku disini hanya menghibur.
penulis juga manusia ya kakak terkadang mental bisa down dan tidak mood untuk update.
tapi semoga kakak semua yang membaca novel ini baik hati ya
__ADS_1
semoga sehat selalu ♥️♥️♥️🙏😇