
“Ada apa dengannya? Jawab!” teriak Lewis kehilangan akal sehat. Tidak memedulikan apapun lagi. Lewis menyingkirkan para tenaga medis yang menghalangi. Dilihatnya tubuh James sudah lemah tidak berdaya, bahkan indikator denyut jantung pun menghilang.
“DADDY.” Lewis histeris, menangis perih karena kehilangan sosok Ayahnya. Baru saja saling memaafkan, tapi James Jansen lebih dulu meninggalkannya.
Suara itu menggelegar sampai ke luar ruangan. Sontak Alana masuk, kakinya lemas tidak ada lagi tulang-tulang yang menyangga daging.
Tidak sanggup menghadapi kenyataan. Alana pingsan setelah mendengar dokter mengatakan bahwa James Jansen meninggal dunia.
Sedangkan Lewis masih tak terkendali, mengguncang tubuh sepuh yang terbaring di atas brankar. “Bangun James, kau pura-pura mati kan? Kau mau keinginanmu tercapai? Bangun James!” teriak Lewis tepat di samping Ayahnya.
Lagi-lagi harus kehilangan sosok tersayang. Setelah Angelina Jansen, sekarang James Jansen resmi menyusul mendiang Nyonya Besar Jansen.
“Kau benar-benar mencintai Mommy? Sungguh? Inikah Alasannya ingin pergi sekarang juga? Katakan kepadaku!” Lewis tidak henti meracau, semua yang ada di dalam hati dan otak dia keluarkan.
Lewis juga tidak memperhatikan Alana yang pingsan di dalam ruangan.
**
Dua minggu berlalu
Lewis masih belum rela melepaskan kepergian James, tengah malam terbangun, melihat album foto kenangan bersama Daddy-nya. Lewis menyesal baru sempat menyayangi dan memaafkan di sisa napas terakhir Ayahnya.
“Apa ini hukuman untukku? Benarkah? Dunia memang keterlaluan.” Tukas Lewis, dia memandangi ruang kerja luas ini. Banyak foto James dan Angelina terpajang di atas meja.
Lewis tertawa, seharusnya dia tahu ketika memasuki ruangan ini bahwa cinta James hanya untuk Ibunya –Angelina. Tapi Lewis sekalipun tidak pernah memercayai semua kata-kata yang keluar dari bibir pria tua itu. Sampai akhirnya James mengutarakan semua isi hati tempo lalu.
Satu per satu ditatap foto kenangan, Lewis beruntung karena Alana tidak pernah menyingkirkan foto-foto berharga dalam hidupnya ini.
Merasakan pusing yang luar biasa, Lewis menyandarkan diri di rak buku, memijat pelipisnya. Tak sengaja menekan laci rahasia di balik jajaran buku bisnis.
__ADS_1
Seketika Lewis mengernyit, lalu membuka amplop coklat itu dan membaca dengan seksama. Tidak ada satu kata pun yang di lewatkan.
“Perjanjian Pranikah.” Gumam Lewis, memegang map berisi lembaran kertas lalu stempel Patt Group serta logo perusahaan itu terpajang di depannya. Untuk lebih memahami, Lewis pun duduk di sofa.
Dia yakin kertas ini sangat bernilai dan berharga bagi James, buktinya disembunyikan di tempat rahasia.
Mata Lewis terbelalak karena James Jansen dan Alana hanya menikah secara kontrak. Di sana sangat jelas mengatur apa yang seharusnya Alana lakukan, serta imbalan apa yang diterima Alana atas pernikahan kontrak ini.
Dada Lewis sangat sakit sekali mengetahui kenyataan, pantas saja dia adalah pria pertama yang menyentuh Alana. Rupanya James hanya memperalat Alana untuk menjaganya dari ancaman Debby, yang sangat menginginkan jabatan Presdir JSN Group.
Lewis pun membuka paksa kamar utama, kosong. Ranjang Ayahnya tak ada tanda seseorang berbaring, seharusnya Alana ada di sini.
“Pergi ke mana Alana malam-malam begini?” Lewis menelisik seisi ruangan. Tangannya meraba pada dinding, sesuatu terasa di sana dan tiba-tiba terbuka. Lewis tidak menyangka Ayahnya memiliki ruangan rahasia di dalam kamar.
Pria itu semakin tersentak melihat kamar seorang wanita, dan Alana tengah berbaring di atas ranjang. “Jadi selama ini kalian pisah ranjang?” Lewis merutuki kebodohannya. Selalu menganggap bahwa Alana dan James suami istri sesungguhnya.
“Lewis? Kamu … bagaimana menemukan kamarku?” Alana tergagap, terbongkar sudah rahasia kedua yang disembunyikannya.
Lewis menunjukkan kontrak pernikahan antara Alana dan James. “Kalian menikah semua karena uang. Tapi kenapa kamu rela diperalat Alana? Kamu hanya dijadikan tameng.” Lewis tidak menerima kenyataan ini, bahkan kini status Alana adalah istri dari mendiang James Jansen, statusnya pun cerai mati.
“Kau tahu Alana, betapa aku tersiksa akan semua ini? Aku selalu berupaya melakukan apapun demi hubungan kita. Dan kamu tega membuat semuanya menjadi rumit, sekarang aku bertunangan dengan Adinda. Di mana hatimu Alana?” bentak Lewis, merasa dipermainkan oleh wanita yang sangat dicintainya.
Alana terkesan menarik ulur percintaan mereka, seolah tak ada niat serius untuk menjadi bagian dari hidup seorang Lewis Jansen.
Lewis menyerahkan semua berkas perjanjian pranikah ke tangan Alana, “Tidurlah. Maaf mengganggu.” Lewis keluar kamar, memerlukan waktu untuk berpikir jernih.
“Lew tunggu … jangan pergi, Lewis tunggu aku.” Panggil Alana berusaha mengejar pria itu tapi gejolak dari perutnya memaksa segera masuk ke dalam toilet.
Huek … hueek
__ADS_1
Alana memuntahkan makanan yang ditelannya tadi malam, kerongkongannya panas. Mulutnya pun mendadak kehilangan rasa.
“Badanku lemas.” Lirih Alana mengambil air hangat, membasuh sisa muntah dalam mulut.
Kaki jenjang melangkah mendekati jendela, menatap mobil biru kekasihnya pergi tengah malam. Alana yakin pria itu pasti marah dan kecewa, tapi Alana melakukan ini terpaksa.
Tidak bisa diam menunggu di dalam rumah, Alana menyusul kekasihnya. Menyetir seorang diri, melacak keberadaan Lewis melalui GPS.
“Aku tidak akan membiarkan kamu salah paham Lewis. Kamu boleh marah tapi jangan mengambil jalan yang salah.” Alana memutar setir, mengikuti instruksi dari map.
Ternyata Lewis mengunjungi salah satu klub malam, padahal pria itu sudah lama tidak menginjakkan kakinya untuk meneguk minuman beralkohol.
“Lewis?” panggil Alana melihat seorang pria yang sangat mirip anak tirinya itu.
Alana keluar dari mobil, menyebrang jalan, bibir tidak berhenti memanggil nama Lewis.
“Lewis tunggu. Lewis kamu harus mendengar semuanya, bukan mengambil kesimpulan sendiri.” Teriak Alana, percuma. Bisingnya jalanan malam ibu kota, dengan kendaraan bermotor menutup pendengaran orang-orang.
Terlalu fokus melihat sosok pria yang dicintai, tanpa sadar motor melaju cepat. Alana tak sempat menghindar dan tersenggol pengendara ugal-ugalan.
BRUK
Tubuhnya jatuh cukup keras membentur aspal.
TBC
***
like, komen, gift dan votenya boleh kakak, selagi hari senin 🤗🙏😁
__ADS_1