
Alana hanya memandang sakit punggung Lewis yang menghilang di balik pintu. Tanpa meneteskan air mata, dia menggunakan pakaiannya dan duduk menyandar di sandaran ranjang. Melirik alat kontrasepsi yang tergeletak di bawah.
Malam indah yang mereka mulai harus berakhir, hanya karena Alana menolak mengandung anak dari kekasihnya.
Wanita itu memejamkan mata, menghela napas cukup panjang, teringat percakapannya dengan James kemarin malam.
Flashback
“Alana bagaimana perusahaan? Baik-baik saja kan? Ada bukti terbaru tentang Debby? Kau harus cepat menggulingkannya dari posisi Direktur Operasional, dia tidak layak mengemban jabatan itu.” Ucap James sembari terbatuk-batuk.
“Ada Tuan.” Alana menjelaskan bahwa belakangan ini, Debby rajin bertandang ke rumah salah satu petinggi badan pertanahan.
James berpikir sejenak, dia yakin adik tirinya itu memiliki rencana jahat yang akan menjatuhkannya dalam sekali serang dan unjuk gigi.
“Cari tahu untuk apa! Pergilah bersama Lewis, aku yakin dia bisa membantu.” Tukas James, tapi kemudian meralat semua kalimat. Melarang Alana dekat dengan putra tunggalnya.
“Ah maaf. Jauhi Lewis, kau tidak dekat dengannya lagi bukan? Jangan menjalin hubungan bersama putraku Alana!” lanjut James memberi peringatan, bahkan di tangannya sudah ada beberapa foto gadis cantik putri pengusaha. Salah satu diantara mereka akan menjadi istri Lewis.
Alana tersenyum getir melihat semuanya. Apa bedanya mereka yang di foto itu? Sama dengan Alana, putri pengusaha.
Namun statusnya saja yang berbeda. Alana adalah istri dari duda beranak satu, sementara mereka semua singel.
Flashback Off
Alana pulang ke rumah menggunakan taksi online, kakinya belum sempat masuk sudah dicegat oleh Debby. Wanita itu menarik kasar tangan Alana hingga tersungkur ke bebatuan putih di depan rumah.
“Apa-apaan ini adik ipar?” pekik Alana kesakitan pada bagian bokongnya.
PLAK
PLAK
“Ini semua karena kamu Alana, dasar sampah, b0d0h. Putriku rusak akibat kamu. Seharusnya kamu tidak terlahir ke dunia ini Alana!” nada Debby sangat arogan dan kasar, mendorong Alana berkali-kali. Sebagai seorang ibu jelas marah, apa yang dialami Patricia tidak sesuai keinginan.
“Apa maksudmu Nyonya Debby? Katakan dengan jelas. Otak cerdas anda sangat disayangkan bila masih menggunakan kekuatan fisik untuk menyelesaikan masalah.” Balas Alana tidak kalah kuat. Bahkan menepis tangan Debby yang bertengger di kerah bajunya.
__ADS_1
Tatapan mata Debby jelas sekali bahwa ibu satu anak ini sangat marah dan sakit hati. Tubuhnya luruh di atas rumput.
“Patricia, dia … dilecehkan oleh Pandu, sopir Lewis. Ini semua karena kamu dasar p-3l@c**. Seharusnya Patricia tidur dengan Lewis bukan Pandu. Kamu tahu? Sekarang dia di rumah sakit.” Debby semakin tak bisa mengontrol emosi.
Melepas sepatunya dan hendak memukuli Alana, namun satu tangan kekar menghalangi semua itu.
Lewis Jansen memasang badan, dia baru saja tiba di rumah, terkesiap akan keributan di taman.
Lewis marah dan kesal kepada Alana, bukan berarti tega kepada wanitanya, dia tidak terima Alana mendapat perlakuan buruk dari siapapun.
“Masih mau bernapas atau tinggal nama?” tanya Lewis, suara dinginnya begitu khas membuat kering suasana hati.
Jujur saja Debby tidak berani melawan, menjawab pertanyaan Lewis sama saja mencari mati dan menggali kuburannya sendiri.
“Lepaskan aku Lewis, aku ini Tante mu. Kau harus membela darah daripada air.” Hardik Debby melepaskan diri dari cengkeraman kuat tangan Lewis.
Wanita itu berlari dan memasuki rumah. Dia belum sempat membuat perhitungan dengan Pandu, sebab kondisi Patricia membutuhkan pertolongan.
Alana mengulas senyum, berniat berterima kasih kepada putra sambungnya. Tapi Lewis lebih dulu menghilang tanpa jejak.
**
Pagi mendung dan dingin, rumah keluarga Jansen pun sama. Alana dibuat panik oleh James yang mendadak mengerang kesakitan. Memegangi kepalanya yang begitu sakit.
“T-tuan James. Mari ke rumah sakit, saya siapkan semua perlengkapan Anda.” Alana masih menggunakan piyama membantu James duduk di atas kursi roda.
Kemudian menghubungi sopir untuk menunggu di bawah, sebab keadaan sangat urgent. Bahkan bibir James sedikit bengkok ketika bangun tidur.
“Tuan sabarlah, bertahan.” Tutur Alana, sibuk dengan semua obat, rekam medis serta selimut suami tuanya.
Alana tidak peduli lagi pada penampilan yang kacau balau, rambut berantakan, muka bantal serta bibir kering. Sekarang, paling penting adalah keselamatan Tuan James.
Sebelum menuruni tangga, Lewis bertanya kepada Alana, “Mau ke mana? Apa Daddy sakit?” cemas Lewis melihat ekspresi Alana.
Tubuh Ayahnya pun kaku di atas kursi roda. Tak sengaja Lewis melihat wajah James.
__ADS_1
Sontak saja ia berteriak, memanggil namanya. “Daddy James? Apa yang terjadi Alana?” kini James tidak bisa lagi menyembunyikan sakitnya. Dengan jelas Lewis melihat tangan kaku serta wajah yang tidak simetris.
Dia pun memutuskan mengikuti Alana ke rumah sakit. Harus tahu penyakit apa yang tengah di derita oleh Ayahnya.
Sepanjang perjalanan, James merintih kesakitan memegangi kepala, rambutnya ikut tertarik sebab rasa sakit yang tidak tertahankan.
“T-tuan ku mohon bertahan. Lewis pegang Tuan James, jangan sampai menyakiti dirinya sendiri!” perintah Alana, tidak sanggup suaminya terus mencabuti rambut putih yang tersisa beberapa helai saja di kulit kepala.
Lewis mengangguk cepat, menuruti perintah Alana. Memegangi tangan kiri James yang begitu kuat. “Tenanglah Dad, aku ada di sini.” Bisik Lewis.
Kata-kata Lewis ini mampu menjinakkan James, setidaknya mengurangi fokusnya dari rasa sakit.
“Ha-u hu-is.” Ucap James terbata dan tidak jelas karena bibinya yang miring.
“Hem ya ini aku. Aku akan menjagamu.” Untuk pertama kali sejak belasan tahun, Lewis mendekap James, begitu hangat merasakan Ayahnya.
“Sebenarnya kau ini sakit apa? Kenapa tidak memberitahu aku, hah?” tanya Lewis dalam hati, penasaran.
Tiba di rumah sakit, James segera mendapat penanganan. Pria tua itu langsung bertemu dokter khusus yang menanganinya selama ini. Spesialis Saraf, selain itu Spesialis Jantung pun turut bergabung memeriksa pemilik rumah sakit.
Sementara Lewis dan Alana setia menunggu di luar bangsal IGD, harap-harap cemas menanti kabar dokter.
“Al? Apa dia sering kesakitan begini?” Lewis menoleh kepada kekasihnya, menghilangkan ego atas kejadian semalam. Kali ini masalahnya berbeda, tentang James.
Cukup lama Alana terdiam, menelan air liur lalu menjawab dengan menganggukkan kepala. Bibirnya dibasahi oleh lidah.
“Aku mohon maafkan Tuan James, Lew. Hiduplah menjadi putra yang baik di sisinya. Patuhi keinginannya. Semenjak hubungan kita terangkat ke publik, Tuan James lebih sering sakit. Padahal sebelumya sangat jarang, mungkin satu kali seminggu.” Jawab Alana perlahan, masih menyembunyikan air mata.
“Dokter bilang, Tuan terlalu banyak beban pikiran hingga stress. Kondisi tubuhnya juga sangat rentan terhadap masalah, dia tidak bisa lagi dihujani oleh kesusahan. Perintah dokter untuk menjaga keadaan melalui suasana hati setidaknya bisa sedikit memperpanjang umur.” Lanjut Alana, mengingat jelas kalimat dokter.
“Lalu dia sakit apa?” tanya Lewis secara langsung.
Sebelum menjawab, Alana menatap dalam sorot mata biru Lewis, meneteskan air mata.
TBC
__ADS_1
***
ditunggu like dan komentarnya kaka 🙏😉