
Aku berjalan kearah makhluk besar yang tertidur di atas harta-harta tersebut, mengendap-endap secara perlahan berusaha sebisa mungkin agar tidak membuat suara.
Makhluk itu memiliki tanduk melengkung di kepalanya, sayap dan bulunya berwarna merah dan memancarkan aura yang berbahaya dan mengancam. Cakar besarnya membuatku sedikit takut, cakar itu bisa membunuh ku dalam hitungan detik.
Ekornya terlihat sangat indah dengan warna jingga beserta campuran merah yang bersatu dengan sempurna, terlihat sangat elegan. Makhluk itu memiliki bekas luka yang banyak di seluruh tubuhnya bahkan ada luka yang terlihat masih baru.
"Jadi ini adalah Avithor. Sepertinya dia dalam keadaan terluka." Gumamku pelan.
Aku berjalan perlahan kearah makhluk itu. Kilauan emas-emas itu menyilaukan mataku. Aku ingin mengambil emas-emas itu dan menaruhnya didalam ruang Roh kegelapan.
"Roh kegelapan, kita akan menjadi orang kaya!" Ucapku bersemangat.
"Berhati-hatilah Tuan, Sebaiknya kita mengambil emas-emas itu secara cepat lalu segera membunuh sang Avithor yang sedang dalam keadaan lemah." Roh kegelapan menjawab.
"Baiklah, aku akan mengambilnya secepat mungkin."
Aku segera mengambil emas-emas itu yang berupa barang-barang yang berbeda tetapi terbuat dari emas. Aku mengambil nya secara perlahan, karena aku tidak ingin membangunkan sang Avithor yang sedang tertidur.
Kabut kegelapan yang membentuk sebuah portal muncul di sampingku, aku segera memasukan semua emas-emas itu. Beberapa menit berlalu, dan aku berhasil mengambil lalu menyimpan semua emas itu di dalam ruang Roh kegelapan.
__ADS_1
Sekarang hanya tersisa sang Avithor yang tertidur. Aku menyiapkan diriku dengan baik.
Aku mengangkat pedang ku dan mengayunkannya kearah leher mahluk buas itu, namun hanya percikan yang terjadi. Pedang kecilku tidak mampu menembus kulitnya yang keras.
Dan dalam hitungan detik sang Avithor membuka lebar matanya dan menatapku dengan ekspresi marah. Makhluk buas itu mengaum dengan keras menggetarkan tanah dan tembok goa.
Aku melompat mundur ke belakang mencoba menjauhkan diriku dari makhluk buas itu. Sang Avithor bangun dan membuka lebar sayap merah darahnya, mengeluarkan aura berbahaya yang sangat pekat.
Sang Avithor yang memiliki badan sebesar 2 mobil ditumpuk itu mengangkat cakar besarnya dan melancarkannya kearah ku, Aku melompat kesamping menghindarinya. Cakar besar itu menghatam tanah, dan membuat goa ini bergetar dengan keras.
"Itu sangat berbahaya. Jika itu sampai mengenaiku, tamat sudah riwayat ku." Aku menghela nafas lega.
Aku dengan cepat bangun karena makhluk buas itu terlihat sedang bersiap melanjutkan serangan berikutnya kepadaku. Cakar besarnya menghatam tanah tempat aku berada sebelumnya. Aku lari memutari mahluk buas itu mencoba mencari celah dimana aku bisa menyerang.
"Sial, bagaimana aku kan menembus kulitnya dengan pedang kecil seperti ini?!" Keluh ku.
"Tidak semua bagian kulitnya keras. Kau harus menyerang pahanya tuan. Disana adalah bagian lunaknya berada." Roh kegelapan berkata dengan serius.
"Pahanya? baiklah aku akan menyeranya dengan sekuat tenaga." Jawabku.
__ADS_1
Aku menganyunkan pedang kecilku kearah pahanya dengab sekuat tenaga. Dan dengan mudahnya pedang itu menembus daging sang Avithor. Sang Avithor mengaung keras karena serangan itu. Dia memutar-mutar badannya mencoba menjauhkanku dari pahanya yang ku tebas.
Aku melompat menjauh berusaha menghindari tubuhnya yang besar, makhluk buas itu menghatamkan tangan besarnya ke arahku. Aku segera berlari menjauh dari serangannya yang kuat. Tanah bergetar dengan hebat, dan tembok-tembok goa berguncang seakan-akan bisa runtuh kapan saja.
Aku kembali menyerang kedua paha belakang mahluk itu, melukainya dengan sangat parah. Darahnya mengalir deras keluar dari kaki sang makhluk buas yang mengaung penuh rasa sakit.
Makhluk buas itu mengamuk dan melancarkan serangan secara membabi buta ke segala arah. Serangan itu menghancurkan tanah dan tembok-tembok goa ini. Reruntuhan batu-batu jatuh kearah ku dan aku dengan cepat menghindari semua reruntuhan tersebut.
"Aku harus segera menghabisinya, Roh kegelapan bantu lah aku!" Ucapku.
"Baik tuan. Seranglah kedua matanya menggunakan Shadow Spike. Serangan ke arah mata pasti akan dengan cepat melemahkannya dan membuatnya tidak bisa melihat. Itu pasti akan sangat bekerja."
Aku segera mengeluarkan Shadow Spike, kabut gelap menyelimuti diriku dan segera membentuk Spike ditangan ku. Aku mencoba mengarahkan kearah matanya namun dengan Avithor yang sedang mengamuk, hal itu sangat sulit untuk di lakukan.
Aku segera lari berputar mengelilingi makhluk buas itu mencoba mencari tempat yang cocok untuk melempar Shadow Spike milik ku. Aku menghindari puing-puing yang berjatuhan dan juga menghindar dari serangan makhluk buas yang membabi buta itu.
Akhirnya kesempatan pun datang, mata sang Avithor berada di hadapan ku. Dengan cepat aku melemparnya. Namun lemparan itu meleset dan mengenai Hidung mahluk buas itu dan menembus dagingnya dengan kuat.
"Sial! Aku meleset!" Aku berteriak dengan kesal.
__ADS_1
Aku kembali berlari karena sang Avithor yang mengaung kesakitan menyerang ku lagi. Dia mengangkat kedua tangannya berusah menghatam diriku ke tanah.