
Ruangan itu bergetar dan suara-suara erangan aneh mulai terdengar di segala arah. Aku menolehkan kepalaku ke belakang. Di belakang ku terlihat banyak peti mati yang berserakan. Tidak lama kemudian, aku benar-benar dikejutkan saat melihat mayat-mayat di dalam peti mati itu bangkit, Bau busuk tercium pesat setiap kali mereka bergerak.
Sekitar dua puluh mayat hidup tersebut keluar dari peti mati mereka. Daging-daging mereka yang sudah busuk berjatuhan ke tanah meninggalkan beberapa lubang di lantai ruangan ini. Mata putih mereka mengarah pada diriku seakan-akan mereka melihatku seperti makanan.
Kulit mereka yang dipenuhi belatung membuat ku sedikit jijik dan sedikit takut, ini benar-benar di luar nalar ku. Aku segera mengeluarkan dagger ku dan memegangnya erat, bersiap menyerang jila salah satu mayat hidup itu menerjang kearah ku.
"Roh kegelapan, sebenarnya mereka itu makhluk apa?! Aku tidak mengetahui kekuatan yang dapat menghidupkan orang lain itu ada. Walau mereka tampak bukan seperti orang." Kata ku.
"Ini adalah salah satu kekuatan kegelapan. Mereka dapat menghidupkan orang-orang yang sudah mati, namun tidak dapat mengembalikan jiwa mereka. Kemampuan ini tidak terlalu sempurna. Berhati-hatilah walau mereka hanya mayat, mereka lumayan kuat." Jawab Roh kegelapan dengan serius.
"Kekuatan Kegelapan? Jadi apakah makam kuno ini milik seseorang berkekuatan kegelapan?" Aku bertanya dengan penasaran.
"Kemungkinan besar iya. Sepertinya ini bukan hanya makam, tetapi ini nampaknya juga merupakan tempatnya menyimpan harta. Karena tidak mungkin sebuah makam memiliki penjaga seperti ini." Ucap Roh kegelapan.
Aku kembali mengalihkan perhatian ku pada mayat hidup yang mendekati diriku, beberapa dari mereka berjalan perlahan. Namun ada salah satu dari mereka yang berlari sangat cepat kearah ku. Aku menghindari serangan mayat hidup itu dan membelakangi nya, dengan secepat kilat aku menusuk mayat hidup itu tepat di jantungnya.
"Baiklah, sembilan belas mayat hidup lagi untuk dibasmi." Aku berkata.
Aku pun tanpa menunggu lama melempar Shadow Spike kearah salah satu dari mereka, Shadow Spike itu menembus salah satu kepala mayat hidup itu dan terus menembus ke mayat hidup yang berada dibelakang nya juga. Aku lalu mengayunkan dagger ku target selanjutnya. Percikan listrik hitam membuat tubuh mayat hidup itu bergetar dan jatuh ketanah.
Mayat hidup yang lainnya berkerumun untuk merobek-robek tubuhku dan memakannya. Tetapi dengan cepat ku menggunakan Shadow Spike ke tanah, membuat duri-duri besar muncul di tanah dan menembus kaki beserta tubuh mereka.
__ADS_1
Kurang dari 5 menit, para mayat hidup tersebut kuhabisi satu per satu. Dan sekarang hanya tersisa satu mayat hidup di ruangan itu, mayat-mayat memenuhi lantai dan darah hitam pekat membasahinya. Aku berjalan menuju mayat hidup yang terakhir tersebut, mengayunkan dagger milikku dan langsung menebas ke arah lehernya.
Aku menghela nafas menatap mayat-mayat yang berada di tanah. Mereka sangat sulit dihadapi, lebih dari yang kukira. Lalu aku melihat pintu batu besar di depanku. Di pintu tersebut terlihat rantai-rantai besar yang menguncinya.
Aku mengangkat dagger milikku dan menghancurkan semua rantai-rantai tersebut. Butuh usaha yang cukup keras untuk menghancurkannya, karena rantai itu lebih keras daripada yang kuharapkan, dan pada akhirnya semua rantai tersebut telah terpisah satu sama lain. Pintu batu besar itu terbuka dan memperlihatkan lorong gelap yang luas. Aku berjalan masuk kedalam menuju lorong gelap tersebut.
Di dalam lorong tersebut terdapat bermacam-macam pola aneh terukir dengan indah di dinding dan lantai. Aku terus berjalan sampai berada di ujung lorong, dan sebuah tangga mengarah ke atas terlihat. Aku pun langsung menaiki tangga tersebut.
Di Lantai atas semua hampir mirip dengan Lantai sebelumnya. Dinding dan lantainya dipenuhi oleh pola dan simbol kuno. Aku berjalan dengan hati-hati mencoba tidak mengaktifkan jebakan apapun yang mungkin di pasang di lantai ini.
Kelelawar berterbangan dengan bebas disini, lumut-lumut dengan lebat tumbuh menyelimuti seluruh dinding. Tempat ini benar-benar menyeramkan, banyak tulang belulang yang berceceran di tanah.
Tidak lama kemudian terlihat sebuah ruangan besar terlihat didepan ku. Ruangan itu memiliki sebuah air mancur yang telah rusak di tengah ruangan. Tanaman-tanaman merambat hampir menutupi seluruh ruangan tersebut, banyak patung-patung besar yang berada di setiap sudut ruangan tersebut.
Sebuah peti mati yang terbuat dari besi yang di Ukir dengan indah dan tampak elegan berdiri diujung ruangan ini. Pola garis yang indah dengan warna emas menghiasi peti mati tersebut.
Aku berjalan menghampiri peti mati tersebut, bersiap-siap untuk segala hal yang akan terjadi. Peti itu terlihat penting jadi pasti akan ada jebakan di dalam ruangan ini, pikirku.
Namun tanpa hambatan atau kesulitan sedikit pun Aku sampai dihadapan peti mati tersebut. Ruangan itu masih sunyi hanya nafas ku yang dapat terdengar. Simbol bulan sabit tertanam di peti mati tersebut membuatnya tampak indah.
"Ini terasa janggal, semuanya terlalu terlihat baik-baik saja." gumamku.
__ADS_1
"Kau benar, tetaplah siaga." jawab roh kegelapan.
Aku membuka peti mati tersebut dengan hati-hati, setelah peti itu terbuka sebuah tengkorak manusia yang memaki mahkota terlihat. Mahkota itu terbuat dari emas yang di hiasi dengan permata-permata hitam.
Tengkorak itu memegang sebuah pecahan permata hitam di tangannya yang di letakan di dadanya. Mataku beralih melihat dagger ku yang bergetar dengan hebat di tangan ku.
"Apa ini? Apa yang telah terjadi Roh kegelapan?!" Aku bertanya dengan kaget dan heran.
"Entahlah, tetapi sepertinya dagger itu bereaksi karena pecahan permata yang dipegang oleh tengkorak tersebut."
Aku mendekatkan dagger ku ke pecahan permata tersebut, dan dengan anehnya permata tersebut berkilau menyala dengan terang menyilaukan kedua mata ku. Permata tersebut terangkat melayang di udara terlepas dari genggaman sang tengkorak.
Permata itu lalu melayang menuju dagger milik. Dan layaknya air, permata itu mencair menyatu dengan dagger milikku, dagger itu kemudian menyala dengan cahaya hitam pekat. Percikan-percikan listrik muncul dari dagger tersebut dengan hebatnya.
Aku menganyunkan Dagger tersebut mengarah kepada sebuah dinding, petir keluar memancar dengan kuat keluar dari dagger tersebut menghantam tembok tersebut. Padahal dagger itu sangat jauh dari tembok. Ini sangat luar biasa.
Ini seperti sebuah tongkat sihir, dan petir tadi adalah sihirnya. Sekarang Aku bisa menyerang dari jarak jauh. Datang kesini benar-benar keputusan yang baik, senyum lebar menghiasi wajah ku.
Disaat aku sedang mencoba bereksperimen dengan kemampuan baru milik dagger ku, tanah berguncang dan tembok-tembok bergetar dengan hebat, tengkorak yang berada di dalam peti mati berubah menjadi debu dan yang tersisa hanyalah mahkotanya.
Aku segera mengambil mahkota tersebut dan segera pergi dari makam kuno yang sedang berguncang dengan hebat itu. Tetapi sebuah pedang batu besar menghadang Pintu keluar dari ruangan tersebut. Aku melihat arah pedang itu berasal, patung yang sebelumnya berdiri diam saja sekarang menatap diriku dengan mata kosongnya.
__ADS_1
Patung-patung lain pun turun dari tempat mereka sebelumnya dan berjalan mendekati diriku. Setiap langkah mereka membuat tanah bergetar dan menjadi retak. Tangan besar mereka memegang senjata yang akan digunakan untuk menyerangku.
"Sudah ku duga, pasti akan ada sebuah jebakan disini." Ucapku.