
Aku bersiap siaga untuk menghindari serangan yang akan di lancarkan patung-patung besar yang tiba-tiba hidup itu. Tidak lama kemudian, salah satu patung menggunakan sebuah pedang batu besar nya dan menghantam tanah yang ada di sampingku, serangannya membuat retakan besar di lantai ruangan.
Aku segera menjauh dari tempat itu, namun serangan lain segera di lakukan para patung tersebut. Mereka melemparkan batu-batu besar kearah ku. Aku menggunakan Midnight Steps untuk pergi ke belakang salah satu patung yang memegang sebuah pedang besar. Dengan cepat aku menggunakan Shadow Spike kearah kedua kakinya itu.
Shadow Spike dengan kekuatan penghancur nya yang luar biasa berhasil menghancurkan kedua kaki patung itu dan membuat dirinya jatuh tak berdaya dan menghantam tanah. Ketiga patung lain yang melihat hal itu segera melangkah dengan cepat kearah ku, mereka terlihat jelas sangat marah melihat temannya dilukai seperti itu.
Mereka menyerangku dengan bertubi-tubi dan membabi buta. Mereka memukul lantai dan dinding ruang dengan tangannya dan juga senjata yang mereka pegang. Aku menghindari semua serangan mereka dan melancarkan serangan kembali menggunakan kekuatan dagger yang baru saja kudapatkan itu. Aku mengarahkan nya ke salah satu patung yang berbadan besar.
Aliran listrik berwarna gelap memancar keluar dari ujung dagger ku dan menyebar dengan cepat dari kaki ke kepala patung itu. Patung itu mulai retak dan akhirnya hancur menjadi serpihan-serpihan kerikil kecil ditanah. Aku sedikit terkejut melihat seberapa kuatnya senjata ini.
Kedua patung yang tersisa dengan marah melancarkan serangan kuat secara bersamaan kepada ku. Kedua pedang besar mereka menghantam tanah dengan kuat, membuatku terlempar jauh. Tanah bergetar dan mulai meretak dengan luas dan lebar. Aku berusaha berdiri dan bersiap untuk menghindar saat melihat mereka berlari kearah ku dengan cepat.
Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Lantai tempat mereka berdiri runtuh, dan membuatku dan patung-patung itu jatuh ke lantai bawah. Lantai itu runtuh karena tidak sanggup menahan getaran yang dihasilkan oleh serangan dan langkah kaki patung-patung besar itu.
Aku mengeluarkan dagger milikku, dan dengan cepat menancapkannya ke dinding, agar diriku tidak jatuh ketanah dan tertindih reruntuhan batu-batu. Para patung itu hancur di bawah batu-batu yang berjatuhan seperti hujan, yang juga membuat seluruh makam bergetar dengan hebat.
Aku segera menggunakan Midnight Steps dan pergi dari makam yang akan segera runtuh itu. Di luar, matahari masih bersinar dengan terang menyilaukan mataku. Aku jatuh ketanah kehabisan energi setelah menggunakan Midnight Steps terlalu sering, dan perjalanan ku menjelajahi makam tersebut juga lumayan menguras tenaga.
Pergi ke makam itu adalah pilihan yang bagus karena dengan pergi kesana, karena senjata dagger milikku ini mendapatkan peningkatan menjadi lebih kuat, dan juga aku mendapatkan beberapa barang yang mungkin saja bisa di jual dengan harga tinggi.
Aku pun segera pergi dari makam kuno itu dan mencoba mencari jalan pulang. Aku berjalan keluar hutan yang amat luas ini. Berjalan di hutan yang luas ini seperti berjalan didalam sebuah labirin yang rumit. Sangat sulit untuk mencari arah, dan rasa itu kurasakan saat berjalan di hutan yang terlihat tanpa akhir itu. Suara para burung-burung yang berkicau menemani perjalanan pulang ku.
__ADS_1
Aku mengeluarkan jam saku yang kudapatkan di makam kuno itu, di salah satu peti mati kayu. Jam saku itu masih memiliki aura aneh yang membuatku merasa sedikit pusing. Aura itu begitu tipis namun terasa begitu kuat, seperti sebuah pusaran yang mengisap ruang dan membuat waktu terasa melamban.
Jam saku ini terasa penting dan bahkan Roh kegelapan sepertinya mengenal tanda pada benda ini, sebuah bulan sabit yang diukir dengan indah dan teliti. Jam saku itu terbuat dari bahan-bahan yang tidak ku kenal. Jarum jam nya pun sama sekali tidak bergerak. Benda ini tampak sudah rusak.
Aku memasukkan jam saku itu kembali kedalam ruang Roh kegelapan dan melanjutkan perjalanan ku pulang. Matahari sudah mulai terbenam, berjam-jam sudah kulalui mencoba mencari arah jalan pulang.
"Aku sangat membenci hutan, entah kutukan apa yang menimpaku. Aku selalu saja tersesat. Mana banyak nyamuk menyebalkan disini." Aku berkeluh dengan keadaan ku saat ini.
"Aku bisa merasakan aura orang-orang di depanmu, teruslah berjalan lurus. Kau akan segera sampai dalam beberapa menit." Roh kegelapan menenangkan diriku.
Hutan menjadi gelap, matahari sudah sepenuhnya tenggelam, dan bulan mulai menampakkan dirinya. Suasana terasa begitu suram dan menyeramkan. Azzure tidak suka dengan perasaan ini. Dia selalu takut pada mahluk yang disebut dengan hantu. Walau dia tidak percaya akan hal mistis seperti itu, dia masih merasa merinding mendengar suara-suara aneh di hutan ini.
Entah ini hanya perasaan Azzure, atau memang benar dia merasa seperti diawasi. Azzure merasa seperti seseorang atau sesuatu menatapnya dengan niat yang buruk. Azzure memandang sekitarnya dengan mata nya yang bisa melihat dalam gelap. Namun sayang, dia tidak melihat siapapun disekitarnya.
Sebuah mata besar menatap Azzure tanpa berkedip, bulunya berjatuhan dengan pelan ke tanah. Mahluk itu membuka lebar sayapnya dan terbang pergi meninggalkan Azzure yang diam terpaku karena takut dan terkejut.
"Sialan, ternyata itu hanya burung hantu. Aku hampir mati kaget karena ketakutan diriku sendiri." Azzure berkata dengan kesal.
Namun tidak lama kemudian sebuah lolongan terdengar dengan keras diseluruh penjuru hutan. Bayangan-bayangan hitam besar berlarian di antara pepohonan dan mengelilingi Azzure yang kebingungan dalam keadaan waspada.
Azzure mengeluarkan dagger miliknya dan bersiap menyerang apapun yang muncul di hadapannya. Bayangan-bayangan yang berlarian di sekitar Azzure itu berhenti. Badan besarnya muncul dihadapan Azzure. Kuku panjang dan mata merah nya menatap Azzure yang terkejut dengan mata tajam. Dalam sekejap makhluk itu mencakar Azzure. Azzure yang tidak sempat menghindar menerima luka di bagian lengannya.
__ADS_1
Azzure mendesah kesakitan dan segera melompat menjauh dari tempat itu. Ternyata mahluk itu merupakan sebuah Lycan, dan sepertinya mereka masih mengincar Azzure.
Azzure segera menggunakan kemampuan dagger nya untuk membunuh sang Lycan, namun dengan cepat serangan itu dapat dihindari.
"Sepertinya Lycan yang ini adalah sang Alpha. Dia lebih kuat dan lebih lincah dari Lycan biasa lainnya. Berhati-hatilah." Suara Roh kegelapan terdengar serius.
"Alpha? Jadi dia pemimpin para serigala sialan itu. Akan ku balaskan penderitaan yang kurasakan karena harus lari dari mereka." Ucap Azzure.
Azzure dengan serius memegang erat daggernya dan menerjang menuju sang Lycan Alpha tersebut. Tidak mengharapkan Azzure untuk maju begitu cepat, sang Lycan Alpha terpaksa menangkis serangan milik Azzure dengan kedua cakarnya.
Mereka saling menyerang dan menghindar dengan sebanding. Suara gesekkan besi dan cakar terdengar dengan jelas di hutan yang sunyi. Azzure segera mengelurkan Shadow Spike miliknya dan melemparkan kearah kepala sang Lycan Alpha, namun sang Lycan Alpha berhasil menghindari serangan itu dan hanya berhasil menggores pipinya dan mengeluarkan sedikit darah.
Azzure pun terus menyerang sang Lycan Alpha tanpa henti, tidak memberikan makhluk itu istirahat sama sekali, sang Lycan Alpha hanya mampu menangkis dan menghindar dari serangan Azzure yang tanpa henti. Tetapi disaat sang Lycan menemukan celah, ia segera menyerang Azzure dan melukai perutnya dengan cakar nya yang tajam.
Azzure segera mundur dan mengambil nafas perlahan-lahan, dia ceroboh telah membiarkan sang serigala itu waktu untuk menyerang dirinya. Azzure dengan darah yang menetes ditubuhnya berdiri menunggu sang Lycan Alpha itu menyerang, dan dengan cepat sang Lycan Alpha melancarkan sebuah serangan.
Tanpa sang Lycan sadari, tanah di depan Azzure telah digantikan Oleh Shadow Spike yang muncul dari tanah dan menusuk-nusuk kaki sang Lycan sampai terluka parah, sang Lycan segera mundur dan berlari pergi karena luka nya yang parah itu.
Melihat punggung sang Lycan yang berlari menjauh, Azzure dengan lincah menggunakan kemampuan dagger miliknya dan menyetrum sang Lycan. Kemampuan daggernya itu membuat sang Lycan berhenti bergerak dan meledak bagaikan balon. Darah dan dagingnya menyiprat ke tanah dan tubuh Azzure.
"Rasakan itu! Dasar mahluk terkutuk!" Azzure berteriak dengan kesal.
__ADS_1
Azzure berdiri dengan terengah-engah, darah masih keluar dari luka nya itu. Bajunya telah kotor oleh darah dan tanah hasil pertarungan tadi. Dengan sangat lemas Azzure terjatuh ke tanah dan menutup kedua matanya.