
Azzure pulang ke rumah, sambil menunggu matahari memancarkan sinarnya di langit biru.
"Sekitar empat jam untuk matahari sudah benar-benar terbit. Aku akan coba kembali nanti."
"Kerja sama... Tim... Aku tidak terbiasa melakukan hal semacam itu, ini akan menjadi yang pertama kali nya." Ucap Azzure dalam hati.
Setibanya Ia di rumah, Ia masuk kedalam rumah nya dan meletakkan daging yang Ia beli ke meja. Setelah itu Azzure pergi belakang rumah nya. Dia bangunan kecil itu terasa sebuah energi yang sedang bereaksi.
Azzure membuka pintu tempat itu, dari depan pintu terlihat seorang perempuan yang sedang fokus mengontrol energi nya untuk membuat kan kakak nya sebuah senjata.
"Fuhh... Selesai."
Sebuah Pedang Panjang Dengan bilah yang tajam muncul di hadapan Vai, Pedang tajam tersebut memiliki pola garis yang begitu indah dan elegan. Permata biru berkilau menempel di gagang pedang, Mengaliri setiap ayunan pedang itu dengan energi yang kuat.
Vai meneteskan keringat dan wajahnya di hiasi dengan senyuman puas, Ini adalah karya terbaiknya menggunakan bahan yang berkualitas tinggi. Tentu saja Vai Sangat bahagia.
"...eh, Kakak? Susah berapa lama Kakak disini?"
"Aku baru saja sampai... Jadi, itu pedang nya?"
"I-iya, aku tidak tau apakah itu sudah sempurna atau belum... Tapi aku sudah menggunakan bahan terbaik. Cobalah!" Vai mengangkat pedang yang bagi nya berat itu, lalu menyerahkannya kepada Azzure.
"Dan ini sarung pedangnya. Aku menggunakan sisa besi tadi Serta kayu yang kuat dan tahan lama." Vai menyerahkannya kepada Azzure
Azzure mengambil pedang serta sarungnya dan mencoba mengayunkannya. "Cukup ringan... Ukuran nya juga pas. Aku akan mencobanya di luar." Azzure lalu memasukkan pedang tersebut kedalam sarungnya.
Azzure pergi keluar mencari objek untuk diserang. Ia berjalan ke arah sebuah pohon disebelah rumahnya, pohon tersebut nampak sudah tua. Namun dahan nya masih berdiri kokoh dan daun-daunnya masih bertumbuhan.
Azzure dengan perlahan mengangkat Pedang tersebut dengan Satu tangan, Dengan cepat dia menebas pohon itu secara horizontal. Angin berhembus dengan kencang, mendorong dedaunan pohon itu menjauh.
Pohon itu Tumbang dengan mudahnya, terbelah menjadi dua bahkan beberapa daun yang jatuh juga ikut terbelah. Pedang yang menakutkan.
"Bahkan aku hanya perlu memperkuat pedang ini dengan sedikit energi, tetapi efeknya sudah sejauh ini. Batu sihir dan besi nya memang benar-benar bagus." Azzure perlahan memasukkan pedang tersebut kedalam sarungnya.
"Terima kasih banyak Vai, ini benar benar membantu."
"Hihi... Sama sama. Lalu, bagaimana dengan kelompok Kakak?" Balas Vai.
"Pengurus Guild tadi bilang, ada beberapa orang yang ingin memasuki sebuah dungeon. Tapi mereka belum ada di Guild karena masih terlalu pagi... Aku diminta untuk datang lagi nanti. Oh iya, aku membeli daging di Kota, mungkin Crysan akan menyukai daging, dia kan naga. Aku meletakkan daging itu di meja."
"Oh, baiklah. Nanti akan ku berikan padanya saat dia sudah bangun."
"Maaf ya, aku malah merepotkan mu."
"Itu bukan masalah, aku tidak bisa membantu banyak. Selagi aku bisa, aku akan membantu dengan sepenuh hati."
Mereka kembali kedalam rumah. Azzure beristirahat, sementara Vai memasakkan beberapa makanan.
"Jam berapa Kakak akan berangkat lagi ke Guild?" Tanya Vai sambil memasak.
"Hmmm... Sekitar 3 jam lagi mungkin."
".... Kira kira berapa lama Dungeon itu akan selesai di telusuri? Kapan Kakak akan pulang?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Mungkin paling lama aku tidak kembali dalam satu hari. Mungkin disana ada sesuatu yang diluar dugaan. Kita masih belum tau apa saja yang akan ada di dalam tempat itu."
"Yang penting... Kakak tidak boleh lengah sedikitpun. Kakak harus siaga setiap saat. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk. Lalu dalam keadaan apapun, Kakak harus bertindak dengan tenang dan jangan gegabah."
"Iya iya."
Setelah selesai memasak, mereka menyantap nya bersama. Di pagi yang gelap dan suasana yang sunyi membuat daerah disekitar rumah mereka sedikit menyeramkan. Namun, itu adalah tempat terbaik mereka untuk tinggal dan, berkumpul bersama.
Waktu berlalu sekitar tiga jam, matahari sudah benar benar terbit. Langit dan seluruh Kota sudah di selimuti oleh sinar nya.
Azzure bersiap untuk berangkat. Ia meletakkan sarung pedang mikiknya di punggungnya yang ditutupi oleh jubah hitam.
"Aku berangkat dulu ya, Vai. tolong jaga rumah dan si kecil itu ya. Aku akan kembali secepat mungkin."
"Mmm... Hati hati dijalan, pulang lah dengan selamat ya.." Vai melambaikan tangan kepada Azzure.
Azzure pergi menggunakan Midnight Steps nya ke Guild dan langsung berjalan ke tempat pengambilan misi dungeon.
Benar saja. Saat pagi, tempat itu sangat ramai dengan para petualang. Azzure berjalan ke salah satu kumpulan orang yang sedang berbincang.
"Permisi, saya petualang tingkat C, bolehkah saya ikut dengan kelompok kalian untuk menelusuri dungeon bersama?"
"Tentu saja! Kami masih kekurangan orang. Sebelum itu kami perlu mengetahui nama mu dan kemampuan umum milik mu."
"Nama ku Azzure. Kemampuan... Aku bisa menyerang jarak jauh, tapi aku juga bisa agresif dengan seragan jarak dekat."
"Sempurna. Kemungkinan kamu yang akan ada di depan, kami sisa nya akan menyerang dari jarak menengah dan jarak jauh. Baiklah, kita hanya tinggal menunggu beberapa orang lagi. Tapi cepat atau lambat kita akan berangkat. Sampai saat nya tiba, jangan terlau jauh dari Guild. Agar kami bisa mengabari mu."
Azzure berjalan meninggalkan kumpulan orang tersebut. "Orang-orang tersebut memang terlihat baik, namun dari penampilannya... tidak meyakinkan. Aku ragu mereka itu orang orang kuat." Azzure berbicara dalam hati.
Azzure menunggu kelompok nya siap untuk memulai menelusuri dungeon. Azzure berdiri di depan Guild, bersandar pada sebuah dinding.
"Persiapanku sudah lengkap, yang daritadi ku lakukan hanyalah diam menunggu orang-orang itu, lama sekali."
"Hei, kawan. Ayo kita berangkat. Jumlah nya mungkin sudah cukup." Orang-orang tadi tiba-tiba datang membawa anggota yang lebih banyak.
"Dia memanggilku Kawan? Menjijikan." Ucapnya dalam hati.
"Baiklah, dimana tempatnya?" Tanya Azzure.
"Tempatnya tidak terlalu jauh dari Kota. Kita akan berjalan kesana."
Mereka berjalan ke dungeon tersebut yang ada di luar Kota. Dalam beberapa waktu, mereka sampai di sebuah kaki gunung.
"Menurut informasi yang Guild berikan, tempat ini merupakan tempat pertambangan yang sudah lama tidak dikunjungi karena monster yang menyerang penambang akhir akhir ini." Ucap salah satu orang yang memegang peta, sepertinya Ia pemimpinnya.
"Sepertinya itu tempatnya. Ayo pergi." Lanjut nya.
Mereka berjalan memasuki pertambangan tersebut. Tempat itu sangat gelap, meski ada beberapa lampu yang menyala. Hawa di dalam tempat itu memang sangat menusuk.
Tempat yang gelap, sunyi, ditambah lagi bekas penyerangan monster. Fakta itu membuat beberapa orang terlihat sedikit ketakutan.
"Meski tidak bertatapan langsung saja sudah bisa kurasakan, beberapa orang ada yang ketakutan. Mereka ini.... Jangan jangan mereka masih peringkat D?! Sial, aku harusnya lebih memperhatikan."
__ADS_1
Di depan mereka adalah jalan lurus yang kosong. Mereka terus berjalan, meski tempat itu gelap dan mencurigakan.
Di ujung jalan terdapat sebuah tangga yang terbuat dari tanah ke bawah. Di tengah anak tangga tersebut ada beberapa yang sudah hancur. Semakin mereka berjalan turun, jalannya semakin rusak dan aura tempat itu membuat mereka semakin merinding, kecuali Azzure.
"Para pemula ini sepertinya terlalu cepat seratus tahun untuk turun ke sebuah dungeon. Pemikiran yang dangkal, dengan nyali dan kemampuan yang seperti itu mereka pikir sudah cukup??" Azzure berkata dalam hati sambil Melanjutkan langkah kaki nya.
Di depan mereka sudah tidak ada lagi anak tangga. Yang tersisa hanyalah tanah yang terlihat bekas longsoran.
"Didepan ada longsoran, tapi tidak terlalu tinggi. Mau lompat atau kita cari tempat lain?" Azzure bertanya dari depan.
"Kita akan turun." Ucap si pemimpin yakin
Dengan begitu Azzure langsung melompat tanpa pikir panjang. Di bawah sana aura nya semakin mencekam, orang orang dibelakang Azzure menyusul turun.
"Kenapa malah semakin gelap? Udara nya juga mulai pengap. Lalu, aura nya semakin mencekam. Apakah disini aman..?" Ucap salah satu orang.
"Yang namanya Dungeon itu tidak pernah aman. Semua orang yang masuk ke dungeon sudah harus kuat mental dan fisik. Kita harus siap dalam keadaan apapun." Jawab Azzure sambil memendam rasa kesal dalam dirinya.
"Sudah dipastikan ini adalah sekumpulan pemula yang tidak punya persiapan apapun untuk penelusuran dungeon." Azzure berbicara dalam hati.
Semakin dalam, tempat itu semakin membuat merinding. Bau aneh tercium, suara suara aneh mulai terdengar, membuat mereka semakin merasa tidak nyaman.
"Bersiaplah, aku merasakan hawa kehidupan di depan sana." Ucap Azzure
Kelompok itu seketika siap. Meski masih diselimuti rasa takut, mereka tetap tenang.
"Apa diantara kalian ada pengguna elemen api?" Azzure bertanya kepada kelompoknya.
"Aku pengguna elemen api." Ucap si pemimpin.
"Baiklah..., meski ini beresiko, buatlah api sebesar telapak tangan, lalu lemparkan ke depan. Kita harus tau apa yang ada didepan sana."
Pemimpin mereka langsung menciptakan sebuah api, lalu Ia melemparkannya dengan kuat ke arah depan.
Api tersebut menerangi jalan di depan mereka sekejap, dan api tersebut perlahan mengecil, lalu berhenti di ujung jalan. Di ujung jalan itu terdapat sebuah lubang besar, nampak seperti gerbang menuju suatu ruangan.
Azzure berjalan dengan santai ke ujung jalan memimpin jalan para anggota kelompoknya.
"Aura kehidupan nya semakin kuat, lalu jumlah ini.... Lumayan banyak."
Mereka mulai melangkah masuk ke ruangan gelap itu. Dari sana tidak terlihat jalan lagi, nampaknya ruangan ini cukup luas.
Azzure mengeluarkan pedang yang dimilikinya dan Ia genggam di tangan kanan.
"Aura ini, seperti ada sebuah makhluk kuat... Yang baru saja bangkit. Aura yang sangat mengerikan Dan sangat menusuk."
Seketika dari tempat awal mereka masuk, dinding ruangan tersebut muncul sebuah api biru yang mulai menerangi seluruh ruangan secara perlahan.
Satu per satu api biru tersebut muncul di dinding dinding ruangan tempat mereka berdiri. Api-api tersebut terus bermunculan sampai ujung ruangan.
Di tengah tempat tersebut terdapat sebuah makhluk yang terbangun dari istirahatnya.
"Ti-tidak m-mungkin..."
__ADS_1