
Dalam tidurnya, Azzure bermimpi dimana Ia sedang bertarung melawan Hezo. Ia bisa merasakan tubuhnya bergerak sendiri, gerakannya tidak bisa dikontrol oleh dirinya sendiri. Ia merasakan semua rasa sakit dari serangan Hezo. Bahkan disaat pertarungan terakhir Ia ditusuk, Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia terbangun dari tidurnya dengan jantung yang berdetak cepat, keringat menetes dari kepalanya.
"A-Apa apaan tadi itu?" Azzure memegang perutnya yang tertusuk, tetapi tidak ada luka yang tertinggal di perutnya.
"Mungkinkah ini ingatan ku sebelum berpindah ke pulau ini?......" Seluruh isi otaknya berputar, Azzure tidak bisa mengerti sama sekali apa yang terjadi.
"Kalau b-begitu, bagaimana bisa aku di pulau..... Sejauh ini dari Kota Dyslan?" Ucapnya dalam hati.
"Aku harus... Segera kembali...., tapi... kemungkinan aku masih diincar oleh para penjahat itu disana. Apa yang harus kulakukan..? Kepala ku... Sakit."
Pada dini hari tersebut Azzure terbangun dan sulit untuk kembali tidur. Di dalam otaknya selalu terngiang ngiang dengan mimpi yang baru saja Ia lihat. Meski mimpi, tapi entah kenapa Ia sangat percaya kalau itu benar-benar terjadi.
"Untuk sementara aku harus bisa bertahan hidup... Di pulau ini. Apapun yang terjadi, aku harus hidup... Aku akan kembali ke tanah kelahiran ku..... Ya, tujuan utamaku masih belum tercapai. Aku tidak boleh mati sampai waktu dimana pembalasan dendam ku akan datang."
Sambil mengosongkan pikirannya, Azzure mencoba untuk kembali tidur. Ia berniat untuk mengambil misi di Guild besok, tujuan utama nya bukan lah untuk uang, tapi untuk berlatih.
Di pagi yang masih sangat awal, Azzure bangun, Ia mandi dan memasak sedikit makanan untuk sarapan. Setelah makan Ia segera pergi berangkat.
Saat berjalan ke arah pintu, Vai terbangun. Ia bertanya, "Kakak mau kemana..... Ini masih pagi..."
"Aku ingin mencoba mengambil misi di Guild, mungkin aku akan pulang terlambat, tapi jagan khawatir. Tolong jaga rumah ya. Aku berangkat." Azzure mengenakan sebuah mantel hitam dan bergegas pergi.
"Baiklah... Selamat jalan kak~ hati-hati ya."
Azzure menggunakan Midnight Steps nya ke depan Guild.
Ia berjalan di dalam Guild yang masih sepi, menuju Mission Board. Ia melihat-lihat misi tingkat D yang tersedia.
Azzure melihat kertas yang bertuliskan *Menjaga Karavan Merchant Keluar Kota*, lalu Ia berpikir untuk mengambil misi tersebut.
__ADS_1
"Hmm, karena aku belum terlalu kenal dengan daerah sekitar sini, aku akan mengambil yang mudah dulu." Ucapnya dalam hati sambil mengambil kertas tersebut dan menyerahkannya kepada pengurus Guild.
"Baiklah, kamu boleh mengambil misi ini, semoga berhasil. Dan satu lagi, jika misi sudah selesai, serahkan kertas ini pada mereka untuk di tanda tangani sebagai bukti misi telah selesai." Jelas nya.
"Baiklah." Azzure meninggalkan Guild.
Ia bergegas berjalan ke tempat yang sudah di tentukan. Disana Ia melihat 2 Karavan yang lumayan besar.
"Permisi, saya Petualang dari Guild yang akan menjaga perjalanan kalian keluar kota." Azzure mencoba untuk menjaga sikap nya.
"Oh, terima kasih nak. Kami dengar jalan yang akan kami lewati sering terserang oleh monster dan bandit. Dengan ini kami bosa tenang. Tolong bantuannya ya."
"Baiklah, saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Baiklah, kita akan berangkat sebentar lagi, bersiaplah." Lanjut nya.
Azzure masuk ke dalam Karavan yang berada di paling depan, mengeluarkan satu Shadow Spike nya untuk berjaga-jaga.
Sejauh ini masih tidak ada gangguan. Tapi Azzure naik ke atas Karavan untuk mengawasi sekitarnya.
Belum lama setelah Ia naik, Ia melihat jauh di depannya terdapat sekumpulan serigala yang terlihat ingin menyerang. Dengan cepat Azzure menggenggam Shadow Spike di tangan kanannya, lalu Ia menggunakan Midnight Steps lalu dengan cepat menebas kepala seluruh Serigala yang menghalangi jalannya, setelah itu Ia kembali ke Karavan.
"H-hei nak, bukankah kau terlalu kuat untuk sebatas peringkat D?" Pria yang mengendarai kendaraan tersebut tersenyum heran.
"Haha, aku tidak sekuat itu." Azzure menjawab.
Mereka melanjutkan perjalanan, dan sisa perjalanannya sangat aman, tidak ada gsngguan lagi. Mereka sampai di tujuan, Azzure membantu menurunkan barang-barang bawaan Karavan tersebut.
"Terima kasih banyak nak. Kami bisa sampai disini dengan aman berkatmu."
__ADS_1
"Tidak masalah, lalu tolong tanda tangani ini, Guild membutuhkan nya sebagai bukti." Azzure berkata sambil menyerahkan selembar kertas yang Ia ambil dari Mossion Board.
Setelah itu Azzure berkata, "Baiklah, saya permisi." Ia langsung menghilang menggunakan Midnight Steps nya ke Guild.
Azzure menyerahkan kertas tersebut ke pengurus Guild, lalu Ia diberikan bayaran sesuai dengan misi yang Ia ambil.
"Sebenarnya ini sangat mudah, hanya saja menguras waktu. Aku ingin mengambil beberapa misi lagi, tapi sepertinya cukup untuk hari ini. Lalu bayarannya..... Tidak seberapa."
Setelah itu Ia kembali ke rumah. Berjalan dengan perasaan bosan karena Ia membuang waktunya berjam-jam untuk sebuah misi yang bahkan terlalu mudah untuknya.
Seampainya di rumah Ia disambut oleh adiknya dengan senyum yang sangat menenangkan hati, Vai sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Selamat datang kembali kak~ Aku sudah menyiapkan makanan untukmu! Kakak pasti lelah, silahkan makan dulu."
"Terima kasih, kau memang tau apa yang kubutuhkan." Azzure membalas senyum Vai.
Azzure menyantap makanannya, setelah selesai Ia memberikan bayaran atas misi tadi kepada Vai. "Ini bayaran dari misi tadi, gunakan ini untuk membeli sesuatu yang kamu butuhkan. Jika ada yabg kurang katakan padaku ya." Ucap Azzure.
"Eh? T-tapi kan kakak yang melakukan misi nya, kenapa kau malah memberikan uang ini padaku? Sebaik nya kakak saja yang...... Aku lupa kakak punya banyak uang, xixixi. Kalau begitu terima kasih kak~" Jawab Vai.
"Oh ya, mungkin terlambat menanyakan ini, tapi apa yang akan kakak lakukan selanjutnya? Maksudku, kondisi kakak sudah lama pulih, apakah kakak tidak berniat untuk kembali ke tempat asal kakak? Dan apakah ingatan kakak sudah kembali?" Tanya Vai.
"Ingatanku sudah kembali. Aku mengingat semuanya. Aku masih tidak tau apa yang membawaku ke tempat ini. Tapi hal terakhir yang ku ingat adalah aku di serang oleh sekelompok penjahat tepat dirumah ku, mereka menyerangku habis-habisan. Sebenarnya aku ingin kembali ke Kota Dyslan, tapi sepertinya mereka masih memburu ku. Akan sangat berbahaya jika aku kembali sekarang. Aku terpaksa hidup disini untuk waktu yang agak lama, lalu aku akan kembali. Meski aku tidak mempunyai orang tua ataupun saudara, aku masih mempunyai sesosok teman yang baik disana yang sudah ku anggap keluarga. Aku tidak boleh membuatnya khawatir begitu lama. Aku akan kembali secepat mungkin bila situasinya sudah memungkinkan." Jelas Azzure.
"Kakak akan kembali, ya... Cepat atau lambat kita akan berpisah...." Perasaan sedih mulai muncul di hati Vai. Ia takut akan kembali kesepian saat Azzure sudah tidak bersamanya lagi.
"Iya, cepat atau lambat aku akan kembali. Aku masih harus mempunyai tujuan hidup yang harus ku selesaikan. Lalu aku juga tidak bisa meninggalkan orang yang ku sayangi khawatir akan hilangnya diriku dari tempat itu. Tapi, jika situasinya mengijinkan, mungkin aku bisa membawa mu ikut bersamaku. Jangan sedih dulu ya." Azzure menjawab.
Vai mulai sedikit tenang. Tetapi Ia bertanya, "Tujuan hidup? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri. Aku akan membalaskan dendam Ibuku. Ia dibunuh dengan sangat kejam, maka akan kubunuh semua orang yang berhubungan dengan pembunuh Ibuku. Aku tidak akan memberi ampun, karena mereka sudah membunuh Ibuku juga tanpa ampun."