True King

True King
chapter 33


__ADS_3

Celestine sedang duduk di perpustakaan Angelic Mage, menikmati sore hari dengan membaca buku dengan secangkir teh yang telah Ia siapkan.


Membaca buku sambil meminum secangkir teh, Celestine menebarkan pesona seorang wanita bangsawan yang anggun.


Celestine menutup halaman terakhir buku nya, mengambil secangkir teh dan meminumnya perlahan. “Teh dan buku di sore hari memang yang terbaik.” Celestine tersenyum.


“Kira-kira Azzure sedang apa ya…. Firasatku sedikit tidak enak, haruskah ku jenguk dia?” Celestine menggerutkan keningnya.


“K-kenapa tiba-tiba aku memikirkannya…. Tapi…. Perasaaanku memang tidak enak, aku sedikit khawatir.” Wajah Celestine mulai serius.


Azzure berdiri dari tempatnya, berjalan membawa buku yang baru saja selesai Ia baca dan meletakkan buku tersebut di sebuah lemari buku besar. Lalu Ia berjalan meletakkan cangkir dan meninggalkan perpustakaan.


Berjalan meninggalkan sekolahnya, Celestine semakin khawatir, Ia bergegas pulang dan memutuskan untuk menjenguk Azzure.


Azzure berjalan dari Cafe nya menuju rumah nya, menempuh jalan yang lumayan jauh nan sepi dibawah langit berbintang dan diterangi oleh bulan yang indah.


“Sangat sepi, di tempat seperti ini biasanya rawan terjadi kejahatan……. Dan entah kenapa aku merasa tidak nyaman…..” Ucap Azzure dalam hati.


“Kata-kata mu saat itu….. sepertinya benar. Entah kenapa aku merasa nyawaku terancam, tapi masih kurang jelas alasan perasaan yang ku rasakan ini.” Lanjut Azzure. Ia merasa sangat tidak nyaman, seolah ada yang menincar nyawanya.


“Maaf atas kelancangan saya, tapi saya benar-benar meminta anda untuk segera pulang secepatnya. Kita tidak akan tau apa yang bisa saja terjadi sekarang.” Suara Drex yang cemas mengalir di pikiran Azzure.


Sebenarnya Azzure ingin berjalan kaki ke rumah, lumayan untuk menggerakkan kaki. Tetapi karena sekarang sedang ada sesuatu yang masih janggal, Azzure jadi harus menggunakan Midnight Steps nya ke rumah.


Di rumahnya, suasananya sangat berbeda dari yang di tempat sebelumnya. Dirumahnya tidak terasa hawa pembunuhan sedikitpun, Azzure merasa sedikit lebih tenang.


Memasuki rumahnya, Azzure lekas mandi, lalu Ia menyisakan sedikit waktu untuk sedikit olahraga.


Tubuhnya yang baru saja selesai pengobatan masih sedikit lemas, sedikit olahraga saja sudah membuat Azzure cukup lelah.


“Istirahatlah, tuan. Anda sudah cukup kelelahan hari ini. Berjalan ke sekolah, bekerja, ditambah lagi olahraga. Tubuhmu masih butuh istirahat sebelum bisa melakukan aktivitas berat.”


Azzure mendengarkan permintaan Drex. Ia beristirahat, lalu Ia pergi tidur.


Azzure menutup matanya, beberapa menit sudah berlalu, namun Ia sama sekali tidak merasa sedikitpun rasa mengantuk.


“Ada yang mengganjal ku, entah kenapa pikiranku tidak tenang. Memang nya apa yang salah?” Ucap Azzure bingung sedikit kesal.


“Kosongkan pikiran anda, tuan. Saya paham anda masih penasaran dengan perasaan tadi, tapi sekarang anda harus benar-benar istirahat total.” Jelas Drex .


Meski Azzure sudah mencoba untuk tidak memikirkan apa-apa, dia sulit tidur. Tetapi setelah beberapa puluh menit kemudian, Akhirnya Ia tertidur.


Di tidur nya yang lelap, terdengar suara yang bergema. “…..Azzu……Azzure……A..n..a..kku….. Cepat bangun!”


Seketika Azzure terbangun dari tidurnya. Mendengar suara ibu nya setelah sekian lama membuat Ia terkejut, ditambah nada bicaranya yang sangat lantang, pasti ini adalah pertanda sesuatu.


Azzure terkejut dalam posisi duduk, jantungnya berdetak kencang, namun lama kelamaan normal kembali.


“Apa-apaan suara tadi? Itu suara ibu, tapi kenapa?!” Azzure berkata sambil kebingungan.


“….duk…..duk….”

__ADS_1


“?! LANGKAH KAKI? SIAPA YG BISA MASUK KE-”


“Ada seseorang!” Drex berkata dengan keras di pikiran Azzure.


“Jumlah nya terlalu banyak…..” Suara terkejut Drex terdengar di pikiran Azzure.


Langkah kaki itu langsung terdengar semakin keras dan cepat, orang itu sudah mulai menaiki tangga menuju kamar Azzure.


Azzure memalingkan pandangannya, sebuah peledak terpantul kearahnya.


BOOOM!


Suara ledakan sangat keras terdengar sampai kota, Celestine juga mendengar suara ledakan tersebut, namun Ia tidak tau kalau itu berasal dari rumah Azzure.


Penjahat yang masuk ke rumah Azzure itu meledakkan rumah Azzure dengan sebuah peledak dalam jumlah yang banyak. Asap bergumul di langit malam yang sangat sunyi.


Puing-puing rumah nya terlempar dan berterbangan, rumah yang semula berdiri teguh sekarang hanya tersisa hamparan tanah dan bebatuan.


Malam yang sunyi seketika berubah menjadi sangat ramai, orang-orang yang tinggal didekat Azzure berlari menjauh, sedangkan Azzure sendiri tertimpa reruntuhan rumahnya.


Azzure berusaha keluar dari reruntuhan tersebut, Ia menyingkirkan puing-puing rumah nya dengan menggunakan kekuatan sihir nya, dan setelah berhasil keluar dari puing-puing rumahnya, Ia disambut dengan puluhan orang dengan jubah penyihir, yang sedang merapalkan sihir ke arahnya.


Celestine yang mulai dekat dengan rumah Azzure, merasakan sekumpulan energi sihir yang amat besar dari arah rumah Azzure. Ia semakin khawatir, Ia teringat akan ledakan sebelumnya dan semakin khawatir dengan Azzure.


……..


Kilatan cahaya terlihat dari arah rumah Azzure, lalu muncul sebuah ledakan yang amat besar, beberapa elemen menyatu membentuk sebuah energi Kekuatan yang sangat besar dan mengerikan.


“Keraguan ku…. Benar…..” Celestine berkata sangat lemas, Zef mulai meningkatkan kecepatan kendaraannya. “Apa itu, penghalang?!”


“Aku…. Masih belum…. sepenuhnya sehat….. aku benar-benar tidak kuat…” Tubuh Azzure terjatuh ditanah dengan lututnya menopang tubuhnya yang terluka.


“Tenang, tuan. Stabilkan nafasmu, tetap buka matamu, saya akan membantu regenerasi sekuat tenaga.”


“Tidak… akan sem-”


Tangan kanan Azzure tiba-tiba ditusuk oleh sesorang yang datang dengan kecepatan tinggi.


Azzure mengangkat kepalanya, dan Ia mendapati bahwa orang yang menusuknya adalah Hezo, lawannya yang menguasai kekuatan racun saat di turnamen.


“K-kau…… kurang ajar…”


Aura Azzure mengamuk, Tubuhnya yang lemas menjadi kuat. Ia berdiri, namun darah masih bercucuran ditubuhnya. Ia menendang dengan keras Hezo sampai Ia terpental. “Dia masih kuat?!.....”


“Tuan, kendalikan energi mu, kau bisa kehabisan energi, kau mungkin bisa meninggal kapanpun! Sadarlah!”


Azzure mengamuk, ia mengeluarkan Shadow Spike nya dari tanah, menusuk beberapa penyusup yang tadi menyerangnya.


Lalu digenggamnya dua Shadow Spike di kedua tangannya, dengan cepat Azzure menebas para penyusup tersebut satu per satu.


“Tuan, energi mu tinggal sedikit, sadarlah!”

__ADS_1


Azzure mulai sadar, namun kaki nya kembali lemas. Tubuhnya tergeletak di tanah.


Mobil Celestine berhenti didepan reruntuhan rumah Azzure, lalu Ia dengan cepat berlari ke arah Azzure melewati penghalang yang ada, tetapi Zef tidak bisa masuk, mungkin karena energi sihirnya tidak cukup kuat. di dekat Azzure masih ada beberapa Orang yang berdiri, semuanya disingkirkan oleh Celestine.


“Azzure! Apa yang terjadi?!” Air mata Celestine mengalir, perlahan Ia mengangkat tubuh Azzure, mencoba melakukan penyembuhan.


“Ini urusan ku dan dia, KAU TIDAK ADA HAK UNTUK IKUT CAMPUR!” Hezo berteriak dari kejauhan, berlari ke arah Azzure dengan wajah marah.


“Per…gi…lah… cep-pat..” Azzure bersuara lemas di tangan Celestine.


“Tidak akan! Kau bodoh! Aku tidak akan pergi sampai kau juga bisa pergi dari sini!” Tangisan Celestine terdengar bersama dengan suara nya yang sangat sedih.


“Kau mengganggu….” Hezo dari kejauhan bersuara pelan, sambil memegang sebilah pedang yang terlihat sangat tajam.


“….Lebih baik KAU MATI!!” Hezo melesat dengan kecepatan tinggi tepat di depan Celestine sambil mengayunkan pedangnya.


“Sekali saja…… aku tidak ingin kehilangan orang….. yang ku sayangi…… persetan dengan dewa, dunia ini tidak adil…… jika saja aku lebih kuat dari ini,”


“Saya bisa meminjamkan anda kekuatan, tetapi tidak banyak. Saya akan menyisakan separuh untuk energi kehidupan saya dan energi untuk meregenerasi tubuh anda.”


“Tolong berikan aku kekuatan itu….. demi melindungi nya….. bahkan bila nyawa taruhannya aku tidak takut, dia itu… Keluargaku!”


“Kau adalah tuan ku, apapun perintah mu, akan saya patuhi. Kau adalah raja sejati, saya akan memberikan sedikit sisa energi saya. Gunakan lah dengan baik, semoga beruntung…. Tuan ku Yang Mulia.” Drex memberikan sedikit sisa energi untuk Azzure bergerak.


Seiring waktu berjalan, Hezo semakin dekat dengan keberadaan Celestine


“Lari….? Tidak, tidak akan sempat. Aku akan menahannya.” Pikir Azzure.


Azzure mengambil Shadow Spike yang jatuh disebelahnya sebelumnya, dalam 1 detik, Ia sudah siap bertahan dengan satu Shadow Spike ditangannya.


Berawal dari tebasan, Hezo tiba tiba mengarahkan ujung pedangnya, menjadi sebuah tusukan. Pedang itu menembus jantung Azzure, darah mengalir keluar dari Jantung Azzure, terciprat sedikit ke tangan Celestine. “Azzure….”


“Belum…..” Azzure menebaskan Shadow Spike nya ke arah kepala Hezo, Hezo melompat menjauh, tetapi perutnya tetap terkena serangan. Ia terpental sampai ujung penghalang.


Azzure mencabut pedang yang tertancap di tubuhnya, melemparkannya ke tanah dan disusul oleh tubuhnya yang jatuh lemas.


“Hei bertahan! Apa yang kau lakukan?! Dasar bodoh…… buka matamu, jangan tutup matamu! Hei, bertahan… kumohon….” Celestine menangis menopang tubuh Azzure.


“Aku senang kau baik-baik saja…..”


“Bodoh! Kau hampir terbunuh!”


“Kau adalah teman baikku, teman perempuan pertamaku. Seorang gadis yang kuat…..berhenti menangis….”


“Mana mungkin…. Aku bisa…..”


“Aku bersyukur, aku sangat bersyukur bisa bertemu orang baik sepertimu……. Aku menyayangimu seperti keluarga ku…. Kau juga sangat menyayangi ku, aku sangat …. Berterima kasih untuk itu……” Azzure meletakkan tangannya di pipi Celestine, mengusap air matanya dan mencoba untuk tetap tersenyum.


Celestine memegang kembli tangan Azzure, sambil menyembuhkan, Ia menangis berkata, “Bertahanlah…… kumohon……”


“Terima kasih….” Azzure menutup matanya, jantungnya berhenti berdetak.

__ADS_1


“Tidak, tidak tidak tidak! Bangun, hei bangun! Kenapa……” Celestine menangis keras memeluk tubuh Azzure yang sudah terlihat tidak bernyawa.


Kilauan cahaya menyinari tubuh Azzure dan menyelimuti seluruh tubuhnya, dan dengan menawannya tubuh Azzure berubah menjadi pecahan cahaya. Terbang terbawa udara dan tak menyisakan apapun kecuali dagger miliknya.


__ADS_2