True King

True King
chapter 5


__ADS_3

Sebuah sosok berdiri di dekat sungai, rambutnya yang putih berkibar di tiup angin malam yang dingin, matanya yang biru berkilau di bawah sinar bulan, menatap kearah langit malam.


Di tanganya sebilah pisau ia genggam, mengarah tepat ke dadanya. Air matanya mengalir, menetes ke tanah yang kering. Tubuhnya bergetar ringan, merasakan dinginnya malam.


Sosok tersebut adalah Azzure.


"Sudah saatnya untuk mengakhiri semua penderitaan ini" Ucap Azzure yang sudah lelah dengan cobaan yang selalu di berikan padanya.


Bibirnya bergerak, mengucapkan kata terakhirnya.


"Aku minta maaf Ibu, aku tidak bisa melindungi dirimu, aku tidak tahu kenapa akan ada seseorang yang menyerang kita seperti ini atau apa tujuan mereka. Tapi aku sudah tidak kuat menghadapi dunia ini, aku sudah kehilangan Ayah dan sekarang aku harus kehilangan mu. Aku bukan orang yang kuat, aku hanya seorang pecundang!"


"Aku ingin bertemu dengan kalian berdua lagi, bersatu sebagai sebuah keluarga..."


Azzure memenjamkan matanya, menarik nafas yang dalam dan menusuk dirinya dengan pisau yang ia pegang. Matanya terbuka lebar, darah mengalir keluar dari dadanya dengan cepat.


Bulan bersinar dengan terang menyinari semua yang telah terjadi. Tubuh Azzure terjatuh ke tanah, terkulai dengan lemas bagaikan kertas. Matanya tertutup rapat, nafas terakhir ia hembuskan.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu, semua menjadi hening, waktu terasa berhenti. Dunia dan langit terdiam. Bulan yang terang berubah menjadi merah, bintang-bintang bersembunyi dibalik awan-awan.


Kabut gelap muncul dari sinar bulan yang merah darah, kabut tersebut mengitari tubuh azzure yang berada di tanah. Lalu kabut itu terbang menuju rumah Azzure yang berantakan, dan kabut gelap itu menelan tubuh Ibu Azzure dan menghapus segala kekacauan yang tejadi. Semua menjadi tampak seperti normal.


Kabut itu lalu kembali ke tubuh Azzure dan membuka lebar mulut Azzure lalu memasuki dirinya kedalam tubuh Azzure.


Secara perlahan semua luka Azzure menghilang, pisau yang berada didadanya menguap menjadi asap yang hilang terbawa angin. Lalu semua kembali normal, bulan kembali menyinari sinar putihnya yang mempesona, dan bintang-bintang berkilau dengan indah.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Aku membuka mataku, cahaya lampu menyilaukan penglihatan ku. Aku mengusap kedua mata ku, bibir ku sangat terasa kering.


"Azzure, kau sudah bangun? Apakah kau merasa lebih baik?" Aku menolehkan pandanganku menuju pintu yang berada disamping tempat aku terbaring, disana Glenn berjalan mendekati diriku wajahnya menunjukan ekspresi yang khawatir.


Aku tak tahu harus merespon apa, aku hanya diam dan mencoba memproses apa yang telah terjadi, seperti ada sebuah kepingan yang menghilang dari ingatanku.


"Sepertinya kau masih lelah, beristirahatlah dengan baik. Aku menemukan dirimu terbaring di dekat sungai. Kupikir terjadi sesuatu dengan mu, jadi aku membawamu kerumah sakit. Tapi sepertinya dirimu sama sekali tak terluka. Aneh, setahuku kemarin kau di pukuli habis habisan." Lanjut Glenn.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak mengingat apapun yang terjadi kemarin." Azzure menjawab dengan ragu.


"Semakin aku mencoba mengingat, sakit di kepala ku makin menjadi, pikiran ku seperti dihalang oleh sesuatu." Lanjut Azzure.


"Iya, dokter berkata kau hanya kelelahan sebaiknya kau kembali beristirahat. Aku akan pergi sebentar." Ucap Glenn.


Aku menatap punggung Glenn yang pergi menjauh, Aku memenjam kan mataku berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepada diriku.


Bayang-bayang kejadian malam itu terulang kembali di pikiran ku, aku mengingatnya.


Di malam aku menemukan Ibuku terbunuh dan terbaring di genangan darahnya sendiri, dan di malam aku sudah muak dengan segala hal dan memutuskan membunuh diriku sendiri.


"Kenapa aku masih hidup? Apakah para dewa ingin aku terus melanjutkan penderitaan ku? Apakah mereka tidak puas dengan mempermainkan hidup ku?" Kata Azzure dalam hati.


"Tuan, sebaiknya anda menenangkan pikiran anda."


Sebuah suara terdengar di ruang rumah sakit yang hanya ada diriku sendiri.

__ADS_1


Aku melihat sekeliling ku dan tidak menemukan seorang pun.


"Jangan panik, aku berbicara di dalam pikiran mu, Tuan." Suara laki-laki yang berat Itu terdengar kembali, nadanya datar seperti mesin yang berbicara.


__ADS_2