True King

True King
chapter 50


__ADS_3

"Isi pikiran anda nampaknya sedang buruk, apakah ada yang terjadi?"


"Kau bisa tau ya, lagi-lagi aku hampir mati. Aku pergi ke dungeon dengan niat mencari pengalaman dan mencari lawan yang cocok, nyatanya aku ditinggalkan tanpa alasan oleh rekan rekan ku dari Guild. Orang-orang lemah yang tidak bisa berpikir jernih, hanya itu yang bisa ku deskripsikan dari mereka." Azzure menjawab dengan wajah yang nampak sangat menahan emosi.


"Aku sebenarnya ingin membunuh mereka secepat mungkin.... Tapi itu bisa membawa masalah bagi orang-orang yang ku kenal. Jika kulaporkan ke Guild, akan percuma. Aku tidak punya bukti apapun." Lanjut nya.


"Anda harus memberi mereka pelajaran, tapi untuk sekarang tidak ada yang bisa anda lakukan. Untuk saat ini lebih baik anda istirahat." Drex berbicara di pikiran Azzure.


Keesokkan hari nya Azzure terbangun, pada dini hari gelap yang sedikit diterangi sinar matahari. Azzure melihat Vai di depan pintu sedang memegang suatu kertas.


"Apa itu Vai?"


"Eh kakak sudah bangun, aku menemukan ini tertempel di pintu depan. Ini surat dari...... Guild?" Vai memberikan surat tersebut kepada Azzure.


Azzure mengambil suratnya, Ia mengambil isi surat tersebut dan membacanya.


[Petualang Azzure, anda telah dikeluarkan dari Guild Kota Naslan. Anda dikeluarkan atas perilaku anda yang sangat tidak manusiawi kepada rekan rekan anda dalam misi penjelajahan dungeon kemarin. Ketua tim anda memberi laporan bahwa anda melakukan kekerasan terhadap tim, mengatur tim sesuka hati, menggunakan tim anda sebagai umpan, serta meninggalkan tim didalam tempat yang sangat berbahaya. Anda tidak akan diterima lagi di seluruh Guild yang ada di kota ini. Ini adalah peringatan, jika anda terjerat dalam sebuah kasus, anda akan langsung diberikan hukuman berat.]


—Guildmaster Kota Naslan


Energi Azzure meluap-luap akibat emosi dan rasa terkejut bercampur heran. Sebuah api hitam yang nampak seperti milik Roku mulai muncul di tangannya dan mulai membakar separuh surat itu menjadi serpihan abu tipis.


"K-kak?...." Vai terkejut melihat energi gelap Azzure yang memancar diseluruh tubuhnya.


"Apa yang terjadi....?" Vai bertanya pelan.


"Biarkan aku sendiri untuk sementara." Azzure berjalan ke luar rumah, mengambil pedang dan memakai jubah hitam yang dia miliki.


Vai terdiam sejenak dan membaca sisa bakaran surat tersebut, Ia membaca kata "dikeluarkan", Ia terdiam. "Apa...? Apa yang terjadi....?"


Azzure berjalan kearah hutan, sambil mengeluarkan Daggernya, Ia menebas pohon pohon dengan sangat kuat, pohon pohon itu tumbang dalam sekali tebasan.

__ADS_1


"Brengsek..."


"Akan ku bunuh, satu per satu.... Tanpa ampun...."


"Pengkhianatan terbusuk."


Azzure menancapkan Daggernya ke tanah dengan lapisan energi yang sangar kuat, membuat getaran yang luar biasa disekitarnya, semua pohon miring dan ada banyak yang tumbang.


"Tuan, anda menyebabkan kerusakan besar. Dinginkan kepala anda dan kontrol lah emosi anda, anda mulai tak terkendali." Drex berkata singkat.


"Aku akan menjadi yang terkuat. Kenapa ada saja pengganggu yang sangat brengsek seperti ini....." Azzure berkata pelan.


"Akan kucapai tujuanku, apapun halangannya. Siapapun yang menghalangi tujuanku, akan ku bunuh. Meski itu dewa sekalipun...."


"Aku ingin melampiaskan segala emosi ini..... Kepada orang orang itu, tidak akan kulupakan kejadian ini."


"Rasanya aku ingin membunuh ratusan nyawa sekarang..." Azzure menggenggam Daggernya dengan sangat keras.


"Dimana tempat itu... Aku akan melakukan itu. Membunuh.... Aku hanya ingin membunuh orang saat ini."


"Disetiap tempat pasti ada pekerjaan itu, tuan. Biasanya markas mereka ada di pinggir kota, tempat sempit, atau tempat yang gelap."


Azzure mengeluarkan sayapnya dan langsung terbang mencari markas Bounty Hunter di pinggir Kota Naslan. Ia pergi ke tempat-tempat yang sepi dan cocok dijadikan markas persembunyian sambil memendam hasrat membunuhnya saat ini.


Vai keluar rumah, Ia merasakan getaran yang dihasilkan Azzure tadi. Ia melihat keluar, dari luar terlihat jejak kaki ke arah hutan, dan pohon pohon yang bertumbangan.


"Kakak....." Vai mulai takut dengan apa yang akan terjadi. Ia kembali ke dalam rumah, Ia tidak berani ikut campur dengan masalah yang dialami Azzure. Ia hanya bisa berharap semoga tidak ada hal buruk yang menimpa Azzure.


Dari kejauhan Azzure melihat sebuah bangunan besar di tengah padang rumput yang luas.


Ia menghampiri bangunan itu, disana terlihat sebuah poster yang bertulis "Raven's Eye", dengan gambar burung elang dengan kepala tertusuk di atas poster tersebut.

__ADS_1


"Kuharap ini tempatnya..."


Didepan tempat itu ada seorang laki-laki tinggi memakai mantel hitam. Azzure melewatinya dan berjalan masuk ke bangunan itu.


Saat melewati orang tersebut beberapa langkah, orang itu memegang bahu Azzure sambil menodongkan pisau ke lehernya dengan sangat cepat dan tak bersuara.


Ia berbisik, "Aura kehidupan mu cukup kuat, kapasitas energimu juga besar... Apa urusanmu ditempat ini?"


"Aku hanya ingin tau tempat apa ini."


"Ini adalah markas Pembunuh terbesar di kota ini. Apa kau ingin mengacau tempat ini?"


Azzure menggunakan Midnight Stepsnya dan menodong balik pria tersebut dengan kedua Dagger di tangannya. "Kau punya hak apa menodong orang lain di tempat ini?" Azzure berkata pelan dengan nada yang marah.


"Hasrat membunuhmu cukup kuat, dan penuh amarah." Pria itu menyimpan pisaunya. "Aku paham maksudmu, turunkan senjatamu, ikuti aku."


Azzure memasukkan Daggernya kembali. Lalu pria itu berbicara dengan nada santai, "Kau ingin bergabung bukan? kalau tidak pun akan kubunuh kau disini, karena tempat ini bukan sembarang tempat biasa. Ikut aku." Pria itu berjalan ke dalam diikuti oleh Azzure.


"Bukan tempat biasa? Tapi tempat ini bisa kulihat dari kejauhan" Ucap Azzure pelan.


"Tempat ini telah dipasang penghalang yang cukup kuat, orang biasa yang lemah tidak akan bisa melihat tempat ini. Aku terkejut kau bisa melihat ini, aura kekuatanmu juga kuat, aku kira kau ingin mengacau disini." Jawab pria itu.


"Aku sedang berada pada titik dimana aku tidak bisa menahan emosi ku ini lagi. Aku hanya bisa memikirkan tentang membunuh saat ini." Lanjut Azzure


"Kau orang yang tepat."


Mereka berjalan ke dalam tempat gelap itu, dari luar memang tampak sepi seperti bangunan tak berpenghuni. Pada akhirnya Mereka sampai di sebuah ruangan, pria tadi membuka pintu ruangan, dan berbisik. "Jangan bertindak gegabah." Lalu Ia mendorong Azzure masuk.


Didalam sana terdapat seorang perempuan dengan pakaian yang sangat tertutup, sangat mirip dengan seorang Pembunuh handal.


Wanita itu menatap Azzure dengan tajam. "Ingin mendaftar? Ini tempat para Bounty Hunter, dengan kata lain pembunuh bayaran. Tugas kami disini adalah membunuh target yang diberikan, meski targetnya adalah orang kuat, kami harus membunuhnya... Dengan kata lain, disini mempunyai prinsip. MEMBUNUH, atau, DIBUNUH."

__ADS_1


__ADS_2