True King

True King
chapter 35


__ADS_3

“Kau tau dimana Kota Dyslan, Vai?”


“Tempat ini, sekarang kakak sedang berada di Kota Naslan, yang letaknya di Pulau Hasla. Yang artinya, kakak berasal dari Pulau Posla yang letaknya sangat jauh dari sini.” Vai menjelaskan.


“Hasla?! Itu kan sangat jauh…….” Azzure terdiam.


Selain tidak bisa mengingat apapun, Azzure bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Ia bisa sampai di Kota Naslan. Ia juga sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Kota Naslan maupun Pulau Hasla.


“Kak? Kau tidak apa-apa? Wajah mu tiba-tiba memucat…..”


“Kesampingkan itu. Kakak harus makan. Aku akan menyuapimu, tubuhmu membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pulih.” Lanjut Vai.


“B-baiklah, maaf jadi merepotkan.”


“Tidak usah sungkan. Anggap saja aku ini seperti adikmu. Aku akan merawat kakak sampai pulih sepenuhnya.” Vai menjawab dengan wajah yang sangat bahagia.


Malam sudah tiba, semua aktivitas berakhir, sekarang waktunya untuk istirahat.


“Sudah malam, kakak cepatlah tidur agar cepat sembuh.” Ucap Vai.


“Iya, Aku akan tidur, kau juga cepatlah tidur.” Jawab Azzure.


Dalam beberapa detik Vai tertidur lelap, sedangkan Azzure tidak bisa tidur. Ia terus terpikirkan tentang kejadian hari itu, pikirannya masih belum tenang.


“Aku bahkan melupakan Drex. Emm, tidak. Dia biasanya selalu bicara disaat penting seperti saat itu. Jika ia tidak bersuara berarti Ia sepertinya sedang tidak baik-baik saja.”


Setelah lama kemudian akhirnya Azzure tertidur.


“....Tunggu saya sebentar lagi,.... Tuan.” Suara Drex terdengar di mimpi hitam Azzure.


“....Itu kau?....”


Azzure terbangun karena kagetnya akan suara itu. Ia semakin bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Azzure bangun dari sofa, Ia mencuci wajah nya, dan mencoba beberapa gerakan untuk mengecek keadaan tubuh nya. “Syukurlah tidak ada yang aneh pada tubuhku.” Pikir nya.


Di pagi yang masih lumayan gelap itu, Azzure berencana untuk berkeliling di daerah sekitar sana selagi Vai masih tertidur.


Azzure membuka pintu, menghirup udara dingin pagi yang menyegarkan. Jalan terlihat sepi, langit yang masih gelap sangat menenangkan pikiran.

__ADS_1


“Kalau tidak salah pertama kali pertemuan ku dengan Vai itu disana...... Dia datang dari arah sana, mungkin itu jalan menuju kota...” Azzure berjalan dengan santai menyusuri jalan yang sepi itu.


Tidak lama kemudian Ia melihat sebuah tembok besar yang mengelilingi sesuatu, Ia melihat sebuah gerbang dan masuk ke daerah itu. Tempat itu merupakan perbatasan Kota Naslan, sebuah kota besar di Pulau Hasla.


Di depan gerbang Kota, Toko-toko besi, senjata, jirah, dan beberapa peralatan besi lainnya berjejer di sepanjang jalan pintu gerbang.


Kota Naslan terkenal karena peralatan perang yang mereka buat jadi tidak aneh banyak toko senjata dan jirah.


Karena masih sangat pagi, disana masih sangat sepi. Ia berjalan terus ke dalam Kota, di tengah kota mulai terlihat bangunan² besar. Beberapa adalah toko, dan beberapa merupakan tempat tinggal orang kaya.


Mengesampingkan hal itu, pandangan Azzure tertarik kepada sebuah bangunan yang amat besar. Nampaknya itu adalah sebuah Guild tempat para petualang bekerja mencari pendapatan. Tempat tersebut terlihat ramai akan para petualang kuat.


Azzure ingin mencoba masuk ke Guild tersebut untuk melihat-lihat, tetapi melihat langit yang mulai cerah, Ia harus cepat kembali ke rumah.


“Mungkin lain kali.” Ucap nya


Azzure berjalan kembali, tetapi Ia mampir ke sebuah restoran yang terlihat cukup berkelas.


“Mungkin Vai akan senang kalau kubelikan beberapa makanan. Tapi aku tidak punya uang sama sekali. Eh? Aku masih mempunyai itu. Benar juga.”


Azzure memasuki restoran tersebut. Aroma makanan yang benar-benar tajam menyambut Azzure di pintu masuk. Ia berjalan menuju tempat memesan, lalu Ia memesan beberapa makanan. Karena Ia belum terlalu kenal dengan makanan di tempat itu, Azzure memilih beberapa yang terlihat menarik.


Azzure memberikan batangan emas kecil itu kepada kasir sambil berkata, “Apakah ini cukup?”


“Ini sudah cukup, tuan. Tetapi... Bukankah itu penyimpanan ruang? Itu kan sangat sulit dikuasai.” Ucap Pekerja yang menjaga kasir. Azzure dipandangi oleh seluruh pelanggan di restoran tersebut, karena merasa tidak nyaman, Azzure ingin lekas pergi.


“Penyimpanan ruang, ya? Bisa dibilang seperti itu, omong-omong terima kasih makanannya.” Kata Azzure lalu Ia berjalan meninggalkan restoran itu.


“Terima kasih banyak, tuan. Silahkan datang kembali.”


“Aku tidak pernah makan makanan semahal ini, bahkan dibayar dengan emas saja cukup. Sepertinya ini akan enak.” Azzure berkata dalam hati sambil berjalan.


Ia berjalan ke luar kota, Ia melihat langit semakin terang, Ia berjalan semakin cepat ke rumah.


Dari kejauhan Ia melihat Vai yang sedang terlihat panik. Azzure mendekat lalu bertanya, “Ada apa Vai?”


“Apa yang kakak lakukan?! Aku terkejut saat melihat mu tidak ada di rumah saat masih sangat pagi.” Vai berkata dengan keras sambil memeluk Azzure.


“Maaf, aku tadi ke kota sebentar untuk melihat-lihat. Aku juga membeli beberapa makanan, ayo kita makan di dalam.”

__ADS_1


“Ehh? Kakak punya uang? Aku tidak melihat kakak membawa uang kemarin.”


“Soal itu.... Akan ku jelaskan nanti, sekarang ayo kita makan.”


Mereka masuk ke dalam rumah, Azzure mengeluarkan makanan yang Ia beli tadi, dan meletakkannya ke meja satu per satu.


“Eh? Kakak? Ini kan sangat mahal. Dan ini mungkin terlalu banyak untuk kita berdua.”


“Benarkah? Kau akan menyukai ini, jadi ku belikan sedikit lebih banyak. Cepat makan sebelum dingin.”


“S-selamat makan....” Vai perlahan menyuapkan salah satu makanan, rasa yang sangat enak dapat dirasakan dalam suapan pertama itu. Ia makan sangat lahap, Azzure tersenyum dan ikut makan.


Setelah semua makanan telah dihabiskan, Vai langsung berkata kepada Azzure,“Sekarang jelaskan tentang uang mu yang sangat banyak itu.... Darimana semua itu?...”


“beberapa waktu lalu, aku membunuh sebuah monster di suatu tempat yang bertumpukkan dengan emas. Aku membunuh monster itu dan mengambil semua emasnya. Aku meletakkannya di... Penyimpanan ruang.” Jelas Azzure.


“Teknik itu?! Kakak menguasai itu?! Padahal teknik itu sangat sulit dikuasai, tidak banyak orang yang bisa menguasainya dengan maksimal.... Kalau boleh tau, berapa banyak yang kakak dapat dari membunuh monster itu?”


“Emmmm.... Sangat banyak. Aku tidak tau harus menyebutnya apa, tapi kira-kira ini sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bertahun-tahun.” Jelas Azzure.


“Bertahun-tahun?! Berarti itu sangat banyak... Kakak hebat!” Vai tersenyum dengan wajah kagum kepada Azzure.


“Sudahlah, ayo kita bereskan semua ini.” Mereka membersihkan meja, lalu mencuci piring


“Setelah ini, aku akan membawa kakak ke suatu tempat yang mungkin akan cocok untuk kakak!” Ucap Vai.


“Benarkah? Kemana?”


“Hihi... Tunggu saja nanti. Kakak cepat mandi dan kita akan berangkat.”


Azzure pergi mandi lalu bersiap-siap. “Vai, kamar mandi nya sekarang boleh digunakan. ”


“Baik~~” Vai mandi lalu menyusul Azzure yang sedang bersiap.


Mereka berdua berangkat ke tempat yang dikatakan Vai tadi. Mereka berjalan sambil bergandengan ke arah Kota Naslan. Benar-benar terlihat seperti seorang kakak beradik.


Mereka berjalan semakin dalam ke dalam Kota, dan sampai di suatu tempat.


“Ini tempatnya.”

__ADS_1


__ADS_2