
Pagi hari tiba, matahari menyambut hari final turnamen antar sekolah dengan sinarnya yang terik.
Di pagi hari yang luar biasa ini, Azzure bangun dan berlatih sebentar untuk meningkatkan fokus nanti. Azzure berangkat ke tempat pertandingan, disana Ia sudah disambut oleh seluruh warga sekolahnya. Kepala Sekolah memanggil nama Azzure, memegang pundaknya sambil berkata, “Semangat nak. Menangkan ronde final ini dan jadilah sang juara!”.
Kata-kata Kepala Sekolah tadi dilanjutkan oleh walikelas Azzure. “Berjuanglah sekuat tenaga. Apapun hasilnya nanti, kau harus mensyukuri nya. Kami memang tidak bisa melakukan apapun untuk membantu, tapi kami akan mendukungmu dari kursi penonton.” Kata nya.
“Pasti, aku akan berjuang sekuat mungkin. Terima kasih sudah mau mendukungku. Aku benar-benar berterima kasih untuk itu.” Jawab Azzure.
Kedatangan Azzure itu juga segera disambut oleh Zef dan Celestine. Pertama Zef memperkenalkan dirinya, “Perkenalkan, nama saya Zef. Saya adalah Kepala Sekolah dari sekolah Angelic Mage, sekaligus Ayah angkat dari anak ini, Celestine. Saya datang kesini bersama para murid untuk medukung Azzure. Saya berhutang budi pada nya atas kebaikannya hari itu.” Ucap nya dengan sangat sopan.
“O-Oh terima kasih banyak telah datang. Saya adalah Kepala Sekolahnya, dan ini adalah walikelasnya, salam kenal.” Balas Kepala Sekolah Azzure.
Para murid yang berasal dari sekolah yang sama dengan Azzure memandang Celestine dengan wajah terpukau. Melihat dirinya itu, hanya satu kata yang bisa diucapkan, “Cantik”.
Mereka heran, seorang Azzure yang sangat terlihat tidak peduli itu bisa mengenal sosok seperti dirinya, terutama dia adalah bangsawan.
“Azzure…. Berjuanglah, menangkan pertandingan ini. Jangan lengah sedikitpun, itu bisa sangat membahayakan nyawamu….. Jadi, kamu harus berhati-hati….. ” Ucap Celestine sambil memperlihatkan wajah malu.
“Tentu, aku akan berjuang. Dukung aku ya.” Ucap Azzure sambil tersenyum dan mengelus kepala Celestine.
“Nak,” Zef memanggil Azzure.
“Ya paman?” Jawab Azzure
“P-P-PAMAN?! Apa aku tidak salah dengar?! Dia memanggil bangsawan itu dengan sebutan Paman?! Sedekat apa dia dengan orang itu??” Ucap Kepala Sekolah Azzure terkejut dalam hati. Sang walikelas pun terdiam melihat Azzure memanggil Zef dengan sebutan Paman. Beberapa murid dari sekolah Angelic Mage pun terkejut mendengarnya. Belum ada satupun murid yang berani memanggil Zef dengan sebutan Paman.
“Berjuanglah, nak. Celestine terus membicarakanmu semalam, dia sangat mendukungmu untuk menang. Begitu pula dengan Paman, Paman berharap kamu bisa memenagkan ini. Berjuanglah! Seluruh murid Angelic Mage akan mendukung dirimu.” Ucap Zef sambil menepuk pundak Azzure dengan memasang wajah penuh berharap.
“Tentu, Paman. Aku akan berusaha untuk memanangkan ini. Hmmmm maksudku, Aku akan menang!” Jawab Azzure penuh rasa percaya diri. Ia bersyukur telah mempunyai orang yang mendukung dirinya.
“Bagus. Apapun yang terjadi, jangan lengah. Baiklah, silahkan pergi ke ruangan pribadi mu. Bersiaplah semaksimal mungkin dan ambillah gelar Juara itu!” Kata Zef.
Azzure pun berjalan menuju ruangannya. Di dekat pintu masuk, Ia berpapasan dengan Razel, orang yang akan menjadi lawannya kali ini. Aura berbahaya memancar dengan pekat, wajahnya yang tenang membuat nya semakin terlihat kuat.
__ADS_1
“Ini tidak akan mudah.” Kata-kata itu terlintas di pikiran Azzure. Lalu Ia melanjutkan langkahnya ke ruangan pribadinya.
Sesampainya di ruangan pribadi, Ia masuk dan mengunci kamar tersebut. Ia perlahan mengeluarkan daggernya dengan perlahan, mencoba berlatih melakukan beberapa gerakan serangan dengan menggunakan daggernya itu.
Beberapa waktu setelah latihannya, Azzure mencoba melihat arena pertandingan. Ia dengar, tempat itu sedikit dirubah demi pertandigan final kali ini.
Ia berjalan ke arah arena, matanya disambut oleh arena yang sangat luas. Nampaknya ukuran dari arena tersebut diperbesar. Kursi penonton di letakkan agak jauh dari arena demi keselamatan penonton pada final ini.
“Semakin megah saja tempat ini. Ini akan membuatku tambah bebas untuk bergerak, tapi mungkin ini juga akan menguntungkan Razel. Kali ini aku akan sangat serius.” Ucap Azzure dalam hati.
Sebentar lagi pertandingan akan dimulai, para penonton memasuki arena, sedangkan para peserta bersiap sebelum pertarungan dimulai.
Di sisi lain arena, terlihat Razel yang berdiri dengan tenang dan wajah datar, dia nampak sudah sangat siap melawan Azzure.
“PARA HADIRIN SEKALIAN, PERTAMA-TAMA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH TELAH DATANG KE TEMPAT INI. DI HARI YANG INDAH INI AKAN DIADAKAN RONDE FINAL PERTANDINGAN ANTAR SEKOLAH YANG DIADAKAN SETIAP 10 TAHUN SEKALI! MARI KITA SAMBUT HARI INI DENGAN TEPUK TANGAN YANG MERIAH! DAN MARI BERSAMA KITA DUKUNG KEDUA PESERTA YANG AKAN BERTARUNG HARI INI!!”
Suara sang wasit bergema di seluruh bagian arena.
“MARI KITA SAMBUT PARA PESERTA KITA. RAZEL DAN AZZURE!”
''Razel? Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama itu sama sekali.''
''Kudengar dia adalah murid baru Sekolah Silius, Dia terlihat sangat kuat.''
''Ahh! Dia begitu tampan! Aku penasaran darimana asalnya!''
Para penonton berbisik-bisik membicarakan Razel dengan semangat.
Razel memasuki arena lebih dulu dari Azzure, suara sorakan penonton terdengar jelas di dalam arena tersebut menyemangati sosok Razel.
Sedangkan Azzure, Ia baru saja melangkahkan salah satu kakinya ke dalam arena tetapi sorakan penonton sudah mengiringi langkahnya itu. Sorakan para penonton pun lebih keras dibandingkan sorakan penonton saat Razel memasuki arena tadi.
Sorakan yang mengiringi langkah Azzure itu tidak lain berasal dari sekolahnya sendiri dan dari sekolah Angelic Mage, dan sedikit pendukung dari sekolah luar.
__ADS_1
Razel terkejut saat menyadari seluruh murid dari sekolah Angelic Mage mendukung Azzure. Razel sedikit mengerutkan alis dan bibirnya.
“BAIKLAH, TANPA MENUNGGU LAMA, PERTANDINGAN FINAL....... DIMULAI!!!” Seru sang wasit.
Tanpa menunggu, Razel langsung menjulurkan tiga tali cahaya untuk mengikat Azzure dan melesat dengan cepat ke arah Azzure dengan dua tombak cahaya di kedua tangannya. Tetapi, bahkan sebelum berhasil menyentuh tubuh Azzure, satu di antara nya berhasil dihindari. Sedangkan dua yang lainnya berhasil ditangkap Azzure dan langsung di putus kan dengan tangan kosong.
Azzure sedikit terkejut melihat Razel yang menggunakan elemen cahaya. Dia tidak menyangka hal tersebut. Namun dia sudah melawan pengguna cahaya sebelumnya, yaitu Oriel. Melawan Razel mungkin akan menjadi semudah mengambil permen dari anak kecil.
Sebelum Razel semakin mendekat, Azzure juga mengeluarkan dua Shadow Spike dan menggenggamnya di kedua tangan nya. Saat sudah cukup dekat, Razel tidak langsung menyerang Azzure. Ia malah bergerak dengan bantuan elemen cahayanya dan berpindah ke belakang Azzure dalam waktu kurang dari satu detik.
Meski begitu, Azzure tetap tenang dan menghindari serangannya itu. Mengetahui serangannya tertangkis, Razel kembali berpindah dan kembali menyerang Azzure. Tanpa lelah Razel terus menyerang Azzure dengan kecepatan yang diluar nalar. Tetapi Azzure juga tetap menghindari semua serangan Razel dan menangkis bebrapa serangannya itu.
“Serang saja terus. Dengan begitu kau akan kelelahan dan aku bisa menang dengan mudah.” Ucap Azzure dalam hati.
Serangan Razel terus berlanjut. Lalu terdengar suara Razel yang tenang di telinga Azzure. “Lumayan.” Kata nya. Azzure menanggapi ucapannya itu dengan wajah datar dan tetap tenang.
Tidak lama setelah itu, Azzure menyadari satu hal. Serangannya Razel semakin bertambah kuat dan semakin akurat, juga bertambah cepat. “Sial, seberapa banyak stamina nya itu?” Kata Azzure dalam hati.
Dengan begini, Azzure terpaksa menangkis semua serangannya yang cepat itu. Jangankan melawan balik, Azzure bahkan tidak diberi sedikitpun celah untuk menghindar
Jika ini diteruskan bukan Razel yang akan kelelahan melainkan Azzure, Namun dengan Cepat Razel terus-menerus menyerang Azzure secara bertubi-tubi.
Karena merasa dirinya mulai tidak aman, Azzure mengubah tanah disekitarnya menjadi Shadow Spike dengan tujuan agar Razel membuat jarak dengan dirinya.
“Jurus pengendalian Roh, pedang Roh!” Kata-kata itu terdengar dari mulut Razel setelah Ia menjauh dari Azzure. Sebuah senjata berupa pedang yang dilapisi cahaya berwarna Hijau perlahan keluar dari tangannya.
“Jurus pengendalian Roh, langkah angin!” Lagi-lagi sebuah rapalan sihir keluar dari mulut Razel. Setelah merapal itu, Razel terlihat melayang di udara, bahkan terlihat seolah menyatu dengan udara.
Tanpa basa-basi, Razel langsung bergerak dengan kecepatan cahaya nya ke arah Azzure dari udara sambil memegang sebilah Pedang Roh.
Razel mencoba menebas tangan kanan Azzure, namun Azzure berhasil menahan serangan tersebut dengan kedua Shadow Spikenya. Namun tidak berguna. Shadow Spike milik Azzure dengan mudah terbelah oleh Pedang Roh milik Razel dan berhasil membuat luka lebar di tangan Azzure.
''Sial! Apa-Apaan itu?! Apakah dia memiliki lebih dari satu kekuatan seperti celestine. Ini akan lebih sulit dari yang kuduga.''
__ADS_1
Darah Azzure bercucuran. “Tenang, tuan. Saya akan mencoba menanamkan kemampuan beregenerasi ke dalam tubuh anda. Tetapi ini akan memakan beberapa waktu, jadi untuk sementara lebih baik anda tidak banyak bergerak dan usahakan untuk memperkecil jumlah darah yang keluar dari tangan anda.” Ucap Roh kegelapan.