
Tubuhnya yang lemas serta penuh dengan luka sayatan dan beberapa luka tusuk hanya bisa terbaring di tanah bersama darahnya yang mengalir keluar tubuhnya.
“………….” Suara tidak jelas dari orang-orang disekelilingnya memenuhi pikiran Azzure. Suara langkah kaki orang yang menghampirinya terdengar samar-samar, Azzure mendengar suara celestine yang memanggil-manggil namanya.
Kesadarannya pun menghilang terbawa oleh kegelapan, dengan nafasnya yang lemah dia menutup mata perlahan.
“Kerja bagus, tuanku. Anda memang kandidat Raja Kegelapan yang sangat tepat.” Suara Roh Kegelepan terdengar di pikiran Azzure yang kosong.
“Aku……. Pingsan?” Ucap Azzure dalam pikirannya.
“Ya tuan, tubuh anda bermandikan oleh darah dan dipenuhi luka. Stamina anda sudah habis sepenuhnya. Tetapi berkat perjuangan anda, anda telah meraih gelar Juara di pertandingan ini. Sekarang ini kita sedang berkomunikasi melalui dunia mimpi milik anda selama pingsan.” Jelas Roh kegelapan.
“Menang ya…. Itu cukup sebagai imbalan dari semua luka ini. Omong-omong apakah aku ini akan mati?” Tanya Azzure yang pikirannya sedang kosong.
“Tidak, tuan. Kemungkinan diri anda mati adalah nol persen. Anda hanya pingsan. Apakah anda merasa sesuatu yang aneh?”
“Oh, hanya pingsan….. tidak, aku tidak merasakan apapun. Hanya saja aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang. Kepalaku terasa melayang.” Azzure menjawab dengan datar.
“Pertarungan anda dengan Razel tadi membuat saya mengingat masa lalu. Saya juga dulu sama seperti anda, seorang biasa yang lemah.”
Azzure terdiam mendengarkan ucapannya. “Pemuda”? Ia berpikir demikian. Siapa sebenarnya Roh kegelapan itu?
“Saya selalu bermimpi untuk menjelajahi bumi dan mengamati langit yang indah. Seorang pemuda biasa yang mempunyai mimpi biasa. Sebelum menjadi diri saya yang sekarang, saya adalah seorang manusia yang lahir tanpa kedua orang tua yang menemani. Mengembara seorang diri dan ditindas oleh masyarakat. Itulah saya.” Lanjut Roh kegelapan.
“Manusia? Lalu kenapa kau bisa jadi seperti ini? Lanjutkan.”
“Lalu pada akhirnya aku menolak untuk terus menjadi makhluk lemah dan tidak berdaya. Aku mulai menempa diri ku sendiri, menguatkan kemampuan kegelapanku, hingga akhirnya aku melampaui manusia.”
“Rasa yang sangat membanggakan untuk berdiri diatas orang-orang yang telah merendahkan dirimu. Disitu saya berpikir perjalanan hidup saya sudah berakhir. Namun itu adalah sebuah awal baru dari saya.”
Azzure mendengarkan ceritanya dengan serius, dia tidak menyangka bahwa Roh kegelapan adalah seorang manusia di awal hidupnya.
“Lalu cahaya putih menyinari tubuhku, cahaya itu membawa saya ke sebuah tempat asing yang jauh dari bumi. Sebuah tempat yang indah, namun juga aneh.”
“Disitulah saya menyadari bahwa saya sudah menjadi Dewa. Sebuah tempat dimana makhluk tertinggi duduk di tahta mereka dengan kekuatan yang dapat menghancurkan planet dan memutar balikkan bintang-bintang.”
“Tentu saja saya merasa bahagia. Namun sejarah terulang kembali, saya juga ditindas dan dikucilkan para Dewa lain karena kekuatan hina dan jahat miliku, kekuatan kegelapan. Memiliki status sebagai Dewa terlemah membuat tindakan mereka semakin kejam dan keji.”
Mendengar hal itu Azzure mengepalkan kedua tangannya, alam semesta memang tidak baik. Bahkan seorang Dewa pun dihina dan dikucilkan layaknya serangga.
“Waktu yang saya habiskan di alam para Dewa memang tidak lama, namun saya mencoba menikmati seluruh momen berharga yang bisa kudapatkan. Disana banyak tempat indah dan wanita-wanita cantik. Benar-benar surga.” Roh kegelapan tertawa.
“Aku ingin tau, ada berapa banyak Dewa di tempat itu?” Tanya Azzure dengan serius.
“Saya tidak tau pasti, namun terdapat 12 Dewa utama disana. Mereka adalah pimpinan Dewa-dewa kecil yang kekuatan nya berada dibawah mereka.”
“Diantaranya terdapat Dewa Alam yang menguasai Alam di dunia, Dewa Langit yang Menguasai cuaca dan bintang-bintang, Dewa Roh yang menguasai dunia Roh dan para Roh, Dewa Api yang menguasai panas dan elemen Api, Dewi Es yang menguasai dingin dan Elemen Es, Dewa Waktu yang menguasai waktu, Dewi Akurasi yang bisa menyerang siapapun dan dimanapun serta seberapa jauh jaraknya, Dewa Listrik yang berkuasa atas Listrik dan Petir, Dewa Cahaya yang menguasai cahaya dan kemampuan penyembuhan, Dewa Ruang yang menguasai sihir Ruang, Dewi suara yang kekuatan suaranya dapat menembus ruang dan waktu.”
“Dan saya adalah yang terlemah dari kedua belas Dewa dan Dewi tersebut, oleh karena itu aku dikucilkan. Di dunia ini yang kuat dihormati, dan yang lemah akan diinjak.”
“Jadi begitu, lalu mengapa kau menjadi seperti ini? Aku juga bahkan belum pernah mengenal nama mu yang sebenarnya.”
“Nama saya yang dulu, saya memutuskan untuk menguburnya dalam dalam di otak saya. Saya tidak ingin mengingat nama itu lagi, nama itu berisi pengalaman-pengalaman hidup saya yang sangat menderita.”
__ADS_1
“Hmm….. kalau begitu apa kau tidak keberatan jika aku memberi mu nama?” Tanya Azzure.
“Apakah anda….. benar-benar ……. akan memberikan saya nama?” Roh kegelapan bertanya dengan nada terkejut.
“Dengan senang hati aku akan memberimu nama, hanya jika kau tidak keberatan dengan itu. Lagi pula memanggil mu roh kegelapan terasa begitu formal dan aneh.” Lanjut Azzure.
“……Dengan senang hati, tuan ku.” Jawab Roh kegelapan dengan nada sedikit senang.
“Hmmm….. kira-kira apa yang cocok…..”
Roh kegelapan menunggu dengan tidak sabar, sementara Azzure sedang memikirkan nama yang tepat untuknya. Tidak lama kemudian…..
“Drex? Kau suka?” tanya Azzure dengan senyum tipis nya.
“Drex…… nama yang sangat indah dan keren……. Mulai sekarang saya akan melayanimu sebagai Drex. Terima kasih banyak, tuan ku.” Ucap Roh kegelapan, suaranya terdengar seperti sangat mensyukuri nama pemberian Azzure.
“Baiklah, kalau begitu aku juga ingin kau merubah pola bicaramu, tidak usah terlalu kaku dan formal, berbicaralah biasa. Anggap aku ini adalah partner mu. Untuk kedepannya, mohon kerja sama nya, Drex.”
“Baiklah tuan, permintaan anda adalah perintah bagi saya…. Akan saya laksanakan dengan senang hati. Sekali lagi terima kasih banyak aas nama yang telah anda berikan.” Jawab Roh Kegelapan.
“Oh ya tuan, saya ingin memberi tau anda satu hal. Seiring waktu berjalan, selagi kita berjalan, tubuh anda memulih dengan sangat cepat. Sepertinya ada orang yang sedang menyebuhkan anda dengan skill penyembuh tingkat tinggi.”
“Hmm? Benarkah? Kalau begitu mimpi ini akan segera berakhir……”
Tak lama kemudian, Azzure membuka mata nya. Cahaya lampu menyinari dan meyilaukan mata Azzure. Azzure membuka mata nya perlahan, lalu Ia menatap ke arah jendela dan mendapati bahwa hari sudah malam.
Azzure memalingkan pandangannya, di atas tangannya terbaring kepala seseorang. Itu adalah Celetine. Ia memutar pandangannya, melihat sekelilingnya.
Di sofa sebelah kasur Azzure Nampak Zef yang sedang tertidur lelap. “Ini…. Rumah Sakit…?” Ucap Azzure dalam hati.
Ia menatap Celestine yang sedang tertidur di pangkuan tangannya, lalu berkata pelan “……Kenapa aku bisa ada disini….?”
Celestine yang sedang tertidur pulas tiba-tiba terbangun, Ia membuka mata nya perlahan, lalu menatap Azzure yang sudah siuman.
Seketika air mata mengalir dari mata Celestine, kedua tangannya menutup mulut nya, dia sangat terkejut dan bersyukur.
“Syukurlah kau sudah sadar…… Aku sangat mencemaskanmu…..” Celestine memeluk Azzure sambil menangis. Air mata nya tidak berhenti mengalir, suara tangisannya terdengar oleh Zef dan membangunkannya.
“Nak? Kau sudah bangun? Syukurlah…… kondisi mu sangat mencemaskan tadi. Hey anakku, dia baru siuman. Mungkin dia masih-”
“Tidak apa-apa, Paman. Aku tidak apa-apa, lagipula aku merasa kasihan padanya, dia terlihat sangat khawatir sampai-sampai dia menangis.” Kata Azzure sambil mengelus kepala Celestine.
“Kau tadi pingsan, dan kami membawamu ke ruangan mu. Awalnya kami ingin merawatmu disana, tetapi karena fasilitasnya sangat kurang, jadi Paman membawamu ke Rumah Sakit.” Jelas Zef.
“Dan satu hal lagi, kau tertidur selama 1 hari. Wajar saja jika anakku sangat mengkhawatirkanmu.” Lanjutnya.
“Aku sangat khawatir….. kenapa kau tertidur begitu lama…..” Celestine berkata sambil menahan tangis nya.
“Maaf telah membuatmu khawatir, sekarang aku sudah sehat. Terima kasih. Kau memang orang yang baik.” Azzure mengelus kepala Celestine, setelah itu Zef berkata, “Apa kau merasakan sesuatu yang aneh nak? Apa mau kupanggilkan dokter?”
“Ah, tidak perlu paman. Saya hanya masih lelah.” Jawab Azzure.
“Baiklah kalau begitu. Celestine, bawakan segelas air untulk Azzure.” Ucap Zef.
__ADS_1
“A- tidak usah repot-repot. Aku-“
“Kau harus banyak minum air, agar kebutuhan mineral dalam tubuhmu stabil. Kau harus cepat sembuh.” Saut Celestine sambil menyodorkan segelas air kepada Azzure.
“Terima kasih. Aku malah merepotkan kalian untuk menjagaku, maaf ya.” Azzure berkata sambil tersenyum tipis.
“Jangan pikirkan itu, sekarang kau harus tidur. Semoga besok kau sudah pulih, agar kau langsung bisa pulang. O ya, hadiahmu sebagai pemenang masih belum diberikan, mereka menunggu agar kamu sendiri yang mengambilnya. Kamu harus segera mengambilnya ya.” Ucap Zef.
“Baiklah, Paman.” Jawab Azzure sambil meletakkan gelas air ditangannya ke meja dan segera tidur.
“Celestine, kau juga beristirahatlah. Kau kurang istirahat.”
“Ayah duluan saja, aku belum mengantuk.” Jawab Celestine. Zef lekas tidur dan menunggu sampai fajar tiba.
Matahari mulai menampakkan wujudnya, cahaya bulan mulai memudar.
Azzure terbangun, Ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia terkadang merasakan sakit yang yang lumayan setiap beberapa waktu. Tidak heran, melihat jumlah luka di tubuhnya tidak sedikit, ini adalah hal yang wajar.
“Apa hanya mereka yang menjagaku selama ini? Kemana walikelas dan Kepala Sekolah?” Ucap Azzure dalam hati.
Azzure mencoba menggerakkan sedikit tangannya, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Setelah Ia melihat kearah tangannya, Celestine tertidur sambil memegang tangannya.
“Kenapa kamu malah tidur disini? Haha….” Azzure tertawa pelan.
Tidak lama kemudian Celestine terbangun, mata nya terbuka sedikit demi sedikit, lalu Ia mengankat kepalanya sedikit. Mata nya sudah terbuka dan menatap ke arah Azzure.
“Maaf, apa aku membangunkanmu?” Ucap Azzure.
“E-tidak, aku hanya sulit untuk tidur.” Jawab Celestine sambil menidurkan kepalanya lagi ke kasur.
“Aku juga tidak bisa tidur, tubuhku terasa sakit. Aku jadi tidak bisa tertidur lama. Kenapa kau sulit tdur?”
“Aku…. Aku tidak bisa berhenti memikirkan….. kedaanmu….” Wajah Celestine memerah, tangannya menggenggam tangan Azzure dengan kuat.
“Eh? Kenapa kau harus khawatir. Aku sudah tidak apa-apa.” Jawab Azzure, wajahnya sedikit tersipu. Wajah Celestine yang disinari cahaya matahari pagi membuat kedua pipi miliknya merona, Celestine mendekatkan dirinya ke tubuh Azzure yang hangat.
Azzure menggaruk kepalanya dengan heran, tingkah laku celestine benar-benar mirip dengan adik perempuan yang imut. Ini membuat hati dingin Azzure sedikit luluh melihat sifatnya yang begitu lucu.
Menedengar suara yang samar-samar dari mereka berdua, Zef juga ikut terbangun. “Kalian sudah bangun? Bagaimana perasaanmu nak?” Tanya Zef.
“Sudah membaik Paman. Meski masih sedikit sakit.” Jawab Azzure.
“Baiklah, aku akan mencoba menghubungi sekolahmu. Mereka belum tau kalau kau sudah siuman." Lanjut Zef.
“Kenapa tidak mereka saja yang merawatku? Aku adalah murid dari sekolahnya, semestinya mereka yang merawatku. Tapi mereka malah merepotkan kalian, aku jadi merasa sedikit tidak enak kepada kalian.” Ucap Azzure.
“Haha, mereka sama sekali tidak merepotkan kami. Justru Celestine sendiri yang meminta untuk menjagamu, jadi Paman juga akan menemaninya disini. Ini bukanlah permintaan mereka.” Jelas Zef.
Celestine menunjukkan wajah malu, “A-aku…. Hanya khawatir… padamu….” Ia berkata sambil memalingkan wajahnya yang malu.
Azzure tersenyum. Mereka sudah seperti keluarganya sendiri. “Terima kasih banyak sudah mau repot-repot menjaga ku. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri. Terima kasih banyak, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian.” Ucap nya.
“Jangan sungkan nak, kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kau boleh menganggap kami sebagai keluargamu, kau pasti kesepian setelah kehilangan kedua orang tua mu.” Jawab Zef
__ADS_1
Zef menghubungi walikelas dan Kepala Sekolah Azzure, mengabarkan mereka bahwa Azzure sudah siuman.
Azzure merasa begitu puas dan bahagia dalam hidupnya, sebuah kenangan yang akan dia ingat selamanya.