True King

True King
chapter 32


__ADS_3

Azzure tertidur lelap diatas tempat tidurnya. Ia bertemu dengan Drex di mimpinya. Sosoknya masih samar-samar, seluruh tubuhnya diselimuti aura berwarna hitam. Meski begitu, Ia sudah mulai terlihat berwujud manusia.


“Sosokmu memang masih samar-samar, tapi aku sekarang yakin kalau kau adalah manusia.” Azzure berkata sambil tersenyum tipis.


“Aku masih belum berani menampakkan sosokku sekarang ini tuan, masih belum saatnya……..” Jawab Drex.


“Jadi…? Kau datang ke mimpi ku pasti dengan suatu alasan bukan?” Tanya Azzure.


“Benar, tuan. Saya punya kabar yang penting. Saya merasakan hawa pembunuh seseorang yang sangat tinggi terhadap anda. Saya masih belum tau pasti darimana asal nya, tetapi saya benar-benar meminta anda untuk waspada terhadap apapun.” Jawab Drex dengan serius.


“Karena keadaanku sedang lemah seperti ini, jadi ada orang yang mengincarku ya? Kurang ajar.”


“Apapun yang terjadi, anda garus tetap waspada, jangan lengah sedikitpun.” Lanjut Drex


“Baiklah. Terima kasih atas peringatannya.”


“…......................” Suara samar-samar terdengar disebelah diriku. Membuat tidurku terganggu, dan akhirnya aku terbangun dari tidurku.


Aku membuka mataku perlahan, pandanganku mulai terlihat jelas. Aku membangunkan diriku dari tempatku tidur, disebelahku terlihat Kepala Sekolah dan Walikelas ku yang sedang terdiam menatap kearah ku sambil memasang wajah terkejut.


“Syukurlah nak! Akhirnya kau sudah sadar. Bapak benar-benar khawatir……. Bapak juga mau minta maaf karena tidak ada disini saat kau siuman, Gadis cantik ini yang meminta untuk menjagamu sendiri.” Kepala Sekolah memeluk Azzure dengan erat.


“A-aku sudah tau soal itu. Bapak tidak perlu meminta maaf.” Jawab Azzure.


“Kau terlalu memaksakan diri nak, itu tidak baik. Nyawa mu bisa saja terancam.” Ucap Walikelas Azzure mencoba untuk tetap tenang.


“Kalau aku tidak sedikit memaksakan diri… mana mungkin aku bisa menang, kan?” Azzure tersenyum sedikit.


“Hmmmh, dasar bodoh. Apa nya yang sedikit? Kau tidak mungkin sampai sekarat kalau hanya memaksa sedikit.” Walikelas nya tersenyum.


“Hmmmm…. Omong-omong bagaimana dengan penyerahan hadiah pemenangnya?” Tanya Azzure.


“Mereka menunggumu keluar dari Rumah Sakit untuk mengambil hadiah itu sendiri.” Jawab Kepala Sekolah.


“Jadi, kapan aku boleh keluar dari Rumah Sakit?” Lanjut Azzure.


“Dengan kondisimu yang sekarang, seharusnya kamu belum bisa pulang, luka mu masih belum pulih sepenuhnya.” Jawab Zef.


“Menurutku dia tidak apa apa….. Dia bukan laki-laki selemah itu…..” Ucap Celestine pelan.


“Celestine benar. Dalam kondisi sekarang pun, tubuhku tidak berhenti beregenerasi. Aku bahkan sudah bisa berdiri, lihatlah.” Azzure bangun dari tempat tidurnya, melangkahkan kaki nya keluar dari tempat tidurnya, memperlihatkan mereka semua.


“Eh?! Nak, jangan berdiri dulu, tubuhmu masih belum pulih sepenuhnya.”


“Aku tidak apa apa, sungguh.” Azzure berkata sambil menggerakkan sedikit kedua tangannya.


“Lihat, kan?....... akan ku panggilkan dokter untuk melihat kondisimu…” Celestine meninggalkan kamar Azzure.


Tidak lama kemudian Celestine kembali bersama seorang dokter. Pertama kali Ia terkejut melihat Azzure sudah berdiri. Dokter menanyakan beberapa pertanyaan kepada Azzure, lalu melihat luka-luka di tubuhnya.


“T-ti-tidak mungkin….. luka nya sudah mau sembuh! Padahal terakhir kali ku lihat luka nya sangat parah. Apakah diantara kalian ada yang menggunakan sihir penyembuhan tingkat tinggi kepada anak muda ini?” Tanya dokter kepada yang lainnya.


“Terakhir kali kuingat anakku menggunakan sihir penyembuhan pada nya, tetapi entah kenapa aku merasa kalau sihir penyembuhan itu bukan sihir biasa.” Jawab Zef.


“Apakah itu benar gadis muda? Kalau boleh tau, elemen apa yang kau gunakan untuk menyembuhkan dia?” Lanjut Dokter.

__ADS_1


“B-benar, itu aku…. Aku menggunakan elemen Air ku, memangnya… kenapa?” Jawab Celestine pelan.


“Eh? Hmmm, aku mengerti sekarang. Ini yang dikatakan Drex di mimpiku sebelumnya.” Azzure berkata dalam hati.


“Hmm…. Sesuai teori sihir, elemen air bisa melakukan penyembuhan, tetapi penyembuhan tingkat tinggi seingat saya hanya bisa dilakukan oleh pengguna elemen cahaya.”


“Tapi langsung ke intinya saja, dengan kondisi seperti ini, kamu sudah boleh pulang. Tetapi saya minta untuk menjaga pola makan dan istirahatlah yang cukup. Mengerti?” Dokter berkata kepada Azzure.


“Baiklah Dokter. Terima kasih banyak.” Jawab Azzure.


Dokter pun meninggalkan ruangan Azzure, meninggalkan mereka semua yang merasa lega Azzure sudah bisa pulang.


Matahari mulai turun dari atas langit, sore akan segera datang. Azzure sudah selesai mengemas barang-barangnya dan bergegas pulang. Mereka semua meninggalkan Rumah Sakit dan mengantar Azzure pulang.


Zef dan Celestine yang akan mengantar Azzure pulang, karena mereka mempunyai kendaraan pribadi. Mereka dan Kepala Sekolah serta Walikelas Azzure berpisah di depan Rumah Sakit. “Oh, saya hampir lupa. Ini alamat rumah Azzure. Maaf jadi merepotkan kalian mengantar dia.” Walikelas Azzure memberikan selembar kertas yang bertuliskan alamat rumah Azzure.


“Terima kasih, saya akan mengantarnya sampai rumahnya, kalian tidak perlu khawatir.” Saut Zef.


Sebuah mobil mewah menanti di tempat parkir, mobil itu Menarik perhatian banyak orang.


Azzure hanya bisa berjalan sambil menghindari perhatian orang-orang, menganggap seolah tidak ada apapun yang terjadi.


“Lihat pria muda itu, dia sangat tampan.”


“Iya benar. Kira-kira sapa perempuan cantik disamping nya ya? Jangan-jangan itu kekasihnya, mereka terlihat serasi.”


“Iya benar, benar-benar sebuah pasangan yang cocok. Aku jadi iri.”


Suara bincangan orang-orang mengiringi langkah kaki Azzure ke dalam mobil. Zef hanya bisa menanggapi itu dengan senyuman.


Wajah Celestine memerah, langkah nya mulai tidak terkontrol. “Kau baik-baik saja? Wajah mu sangat merah, langkah kaki mu juga tidak normal.” Tanya Azzure di sebelah Celestine


Mereka masuk ke dalam mobil, yang dikendarai oleh Zef sendiri. Mereka berangkat meninggalkan kerumunan orang-orang.


Azzure mencoba untuk tetap tenang di dalam mobil, meski Ia sebenarnya sangat menikmati perjalanan dengan kendaraan mewah tersebut.


“Mungkin aku terlambat bertanya, tapi Rumah Sakit yang ku tempati barusan itu terletak dimana, Paman? Aku merasa asing dengan jalan yang kita lalui ini.” Tanya Azzure.


“Rumah Sakit yang kau tempati selama ini terletak di tengah kota, yang merupakan Rumah Sakit terbagus di Kota Dyslan. Mungkin perjalanan ini akan sangat memakan waktu, jadi lebih baik kau tidur selama perjalanan. Tubuhmu juga masih butuh istirahat.” Zef mejawab dengan senyuman.


“R-rumah Sakit ter…bagus? Aku jadi merasa tidak enak kepada kalian, kalian membawaku ke Rumah Sakit terbagus di kota, bahkan sampai merawatku. Aku berhutang budi pada kalian, terima kasih banyak.” Azzure tersenyum merasa sedikit tidak enak.


“Jangan pikirkan itu, sekarang kau istirahat lah, akan kubangunkan saat kita sudah sampai.”


Dengan begitu perjalanan berlanjut, Azzure dan Celestine tertidur dengan pulasnya melewati perjalanan panjang yang memakan waktu kurang lebih tiga jam.


Tiga jam berlalu, hari mulai sore. Zef membangunkan Azzure karena sudah mau sampai di rumahnya.


“Terima kasih banyak Paman, maaf merepotkan.” Azzure sedikit menundukan kepala.


“Tidak masalah, tetapi rumah mu pasti mulai kotor karena sudah beberapa hari kau bersihkan. Jika kamu mengijinkan, dengan senang hati aku akan membantu mu membersihkan rumah mu, nak.”


“Tidak perlu, Paman. Aku bisa melakukannya sendiri.” Azzure menjawab dengan senyuman.


“Kau harus banyak istirahat, jika kau masih sakit kabari kami. Lalu… istirahat yang cukup, kau harus cepat sehat.” Kata Celestine pelan.

__ADS_1


“Iya iya, aku mengerti. Terima kasih.”


Di depan rumah Azzure mereka berpisah. Azzure mengucapkan terima kasih banyak atas semua bantuan mereka, lalu Zef dan Celestine juga pulang ke rumah.


“Aku rindu rumah ini, padahal belum sampai satu minggu sejak aku tidak ada dirumah.” Azzure berkata dalam hati.


Azzure perlahan memasuki rumahnya, debu dan kotoran memenuhi lantai. Telapak kaki nya bisa merasakan seberapa banyak debu yang ada pada lantai.


Azzure bergegas membersihkan rumah, menyapu, mengepel, lalu merapikan barang bawaannya. Sungguh hari yang melelahkan. Baru tiba di rumah, Ia harus membersihkan seluruh bagian rumahnya. Kondisi tubuh nya yang masih kurang sehat membuat Azzure mudah lelah. Ia mandi telebih dahulu, makan malam lalu Ia lekas tidur.


Keesokan hari nya Ia bangun sedikit siang. Ia mandi, sarapan, lalu sedikit berolah raga untuk menguatkan kembali otot otot tubuhnya setelah lama tidak latihan.


Hari ini Azzure pergi ke sekolahnya untuk mengambil hadiah juara turnamen antar sekolah. Sebenarnya hadiah tersebut ingin diberikan saat turnamen, secara meriah. Mengingat kondisi Azzure yang kurang stabil, pihak sekolah memutuskan untuk memberikan secara langsung kepada Azzure.


Azzure berniat menggunakan Midnight Steps ke sekolahnya, tetapi berhubung dia sudah jarang latihan, jadi Ia memutuskan untuk berangkat dengan berjalan.


Azzure sampai di sekolah. Tempat itu sangat sepi, karena hari ini hari libur. Azzure memasuki gerbang sekolah, lalu melangkah menuju kantor Kepala Sekolah. Disana Ia disambut hangat oleh Kepala Sekolah dan Walikelas nya. Sebuah piala berkilau emas dan sebuah dokumen berisi piagam dan uang tunai dengan jumlah yang banyak diserahkan oleh Kepala Sekolah kepada Azzure.


Salah satu hadiah yang diterima Azzure adalah elixir yang dapat memurnikan jiwa dan raga seseorang, dan satu hadiah misterius yang tidak diberitahu.


Hadiah misterius itu adalah sebuah telur sebesar telapak tangan orang dewasa berwarna biru gelap dengan garis garis keemasan yang indah.


“Selamat atas kemanangan mu, nak. Kau telah mengharumkan nama baik sekolah ini. Sekolah ini benar-benar senang menerima murid hebat sepertimu.”


“Ini lah hasil dari semua pengorbanan mu. Selamat ya.” Ucap Walikelas.


“Terima kasih untuk segalanya, lalu terima kasih juga karena telah mengizinkan saya mengikuti turnamen ini, Pak Kepala Sekolah.”


“Justru kami dari pihak sekolah yang harus berterima kasih, kamu telah membanggakan seluruh sekolah ini.” Jawab Kepala Sekolah sambil tersenyum.


“Baiklah, kau itu masih belum sehat. Pulanglah dan istirahat. Jika ada sesuatu, jangan ragu untuk mengabari kami ya.” Kata Walikelas.


“Baik bu, kalau begitu saya pamit. Sekali lagi terima kasih, pak, bu.” Azzure berjalan keluar sekolah menuju rumahnya, sambil membawa piala yang bersinar Ia merasa bangga pada dirinya.


“Aku harus memberitahu bos tentang kemenanganku ini, dengan begini aku tidak sia-sia ijin tak masuk kerja.


Azzure berjalan sampai rumahnya, di rumah Ia langsung meletakkan piala dan Hadiah yang Ia dapatkan di ruang roh kegelapan, lalu bergegas berangkat ke Cafe.


Di siang hari Kota Dyslan tidak terlalu ramai dibandingkan malam hari, beberapa toko terlihat sepi bahkan ada yang tidak mmiliki pengunjung di siang hari.


Dari kejauhan Azzure melihat Cafe nya, tidak ramai dan tidak sepi. Masih ada beberapa pengunjung yang datang di siang hari.


“Selamat datang, silahkan du-….. Eh? Azzure?! kau datang rupanya! Pertama-tama selamat atas kemenanganmu. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau terluka sangat parah di pertandingan final hari itu. Para pengunjung dan pelanggan setia kita juga merindukanmu. Hari ini kau akan bekerja kan?” Glenn menyambut Azzure dengan Senyuman dan semangat. Beberapa pengunjung juga menyambut Azzure dengan gembira.


“Iya, iya. Aku akan bekerja hari ini, maaf karena aku tidak masuk kerja beberapa kali.”


Mendengar keramaian tersebut bos Azzure keluar dari kantornya, Ia terkejut melihat Azzure datang. Ia pikir Azzure masih sakit.


“Selamat datang kembali nak, hari ini kau datang membawa gelar juara, benar begitu? Selamat atas kemenanganmu. Semoga kau dalam keadaan sehat selalu. Beberapa waktu lalu aku dengar kau terluka parah, tapi syukurlah kau sudah sangat sehat hari ini.” Bos nya tersenyum.


“Terima kasih Bos. Maaf karena membuat mu khawatir. Hari ini aku akan kembali bekerja .”


“Bagus kalau begitu.”


Sepanjang hari Azzure lewati dengan rasa bangga sebagai pemenang, Ia bekerja dari pagi hingga Cafe tutup dengan penuh semangat. Sungguh hari yang melelahkan.

__ADS_1


“Kerja bagus, kalian berdua. Café akan segera tutup. Kalian sudah boleh pulang.”


“Baik, bos. Terima kasih.” Balas Glenn dan Azzure.


__ADS_2