
Sesampainya dirumah, Azzure segera membersihkan sekujur tubuhnya dan mengganti pakaiannya yang kotor akan noda dan kotoran. Azzure bisa dibilang sangat menyukai kebersihan, dia selalu membuat rumahnya bersih dan rapih bahkan jarang sekali terlihat noda di rumahnya.
"Jangan lupakan latihan harianmu juga, tuan. Itu sudah menjadi tugas wajibmu." Roh kegelapan berkata dengan pelan di kepala Azzure.
"Berikanlah aku sedikit istirahat. Aku baru saja selamat dari kematian!" Protes Azzure.
Setelah berkata seperti itu Azzure menerima sengatan listrik yang kuat menyebabkan dirinya berteriak kesakitan. Wajah Azzure yang basah oleh air setelah mandi memerah kesakitan dibawah sengatan itu.
"Baiklah! baiklah! Hentikan itu!" Azzure berteriak dengan kuat, tubuhnya terguncang karena sengatan yang tiba-tiba.
Azzure dengan rasa terpaksa melakukan latihan sehari-harinya, setelah melakukan apa yang Roh kegelapan perintahkan, Azzure segera pergi menuju Kota Dyslan.
Menatap dirinya sendiri didepan cermin, Azzure menyiapkan dirinya untuk pergi ke Kota Dyslan yang selalu ramai oleh orang-orang yang berdagang dan membeli.
Gerbang Kota Dyslan terbuka lebar menyambut orang-orang yang berdatangan dan orang-orang yang pergi, penjaga gerbang Kota Dyslan berdiri dengan gagah memegang tombak dan pedang yang tajam. Aku berjalan memasuki kota itu dengan rasa semangat.
Berjalan melewati kerumunan orang-orang, aku mencoba mengingat jalur toko si pak tua berada. Tempatnya yang sepi dan terpencil membuatnya sangat mudah terlupakan. Aku memasuki gang sempit tempat toko itu berada, toko yang usang dan kumuh itu berdiri dengan aura yang misterius.
Memasuki toko itu aku kembali disambut oleh asap rokok yang tebal, memenuhi seluruh ruangan toko tersebut. Menutup hidung ku, aku berjalan menuju meja tempat pria tua itu berada.
"Aku telah datang membawa apa yang kau inginkan. Sekarang berikan Dagger itu kepada ku." Aku berkata kepada pria tua yang sedang duduk menghisap rokoknya.
Pria itu menoleh melihat diriku. Matanya sedikit terkejut, dia berdiri dan mematikan rokoknya.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar akan membunuh Avithor dengan waktu secepat ini.... Kau terlihat begitu muda namun sudah sekuat ini!" Pria itu terlihat sangat takjub.
__ADS_1
"Apakah kau sudah berada di level 3?! Tidak tidak, bahkan level 3 akan kesulitan melawan Avithor yang sudah dewasa. Kau benar-benar luar biasa!" Pria itu lanjut berbicara.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar pujian pria tua itu. Lalu aku segera mengeluarkan jantung Avithor yang berada di dalam tas yang ku pakai, karena mengeluarkan nya dari ruang roh kegelapan didepan muka pria tua itu akan berbahaya.
"Aku hanya sangat beruntung. Avithor itu sudah terluka dengan parah. Aku hanya perlu beberapa jam untuk menghabisinya." Ucapku sambil menaruh jantung Avithor di atas meja.
"Tapi itu sudah sangat hebat untuk seorang pemuda sepertimu! Hanya sedikit orang yang mampu mengalahkan Avithor seorang diri." Ucap si pria tua.
Pria tua itu kemudian membuka laci yang berada di meja dan mengeluarkan dagger berwarna hitam yang ia janjikan. Dagger itu ia pegang dan diberikannya kepada ku.
Mengambil dagger itu, aku mengamatinya perlahan-lahan. Aura yang familiar bisa kurasakan dari dagger ini. Rasanya seperti memegang Shadow Spike tetapi rasa ini lebih nyaman dan mudah untuk dipegang.
"Ini benar-benar dagger yang bagus, apakah kau yang membuat dagger ini tuan?" Aku bertanya kepadanya.
"Hahaha, tentu saja bukan. Aku tidak akan bisa membuat senjata sebagus itu. Aku menemukan dagger itu di saat sedang menjelajahi makam kuno di luar Kota Dyslan." Jawab pria tua itu.
"Makam kuno? Dimana makam itu berada?" Tanya ku sedikit tertarik.
"Aku menemukan makam kuno itu di bagian Barat di luar Kota Dyslan. Sebaiknya kau tidak pergi kesana, tempat itu sangat berbahaya." Larang pria tua itu.
"Tenang, aku hanya tertarik saja dengan makam kuno itu. Baiklah, aku harus pergi, terima kasih atas dagger ini." Aku berkata dengan senyum lebar.
"Tak perlu berterima kasih, kau sangat hebat bisa membunuh Avithor di usia mu yang masih muda. Terima kasih juga anak muda. Hati-hati di jalan!" Pria tua itu melambaikan tangannya dan kembali menyalakan rokok miliknya.
Aku melambaikan tangan ku dan pergi keluar dari toko itu, lalu memasukkan dagger yang baru saja kudapatkan ke dalam ruang roh kegelapan. Aku berjalan menuju kafe tempat ku berkerja. Pikiran ku masih berpusat pada makam kuno yang pria tua itu katakan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi ke makam itu tuan. Mungkin saja kita bisa mendapatkan senjata atau barang yang bagus." Suara Roh kegelapan terdengar di kepala Azzure.
"Apakah kau yakin? Aku saja hampir mati setelah melawan Avithor sebelumnya. Aku tidak percaya diri dengan kemampuan ku yang sekarang." Aku berkata.
"Tenang saja, jika aku menyerap mayat Avithor yang berada di ruangku, aku bisa memperkuat tubuh mu kembali dan kemungkinan besar kau akan naik ke level 2 Tingkat Awal." Roh kegelapan berkata dengan serius.
"Level 2?! Bukankah itu sangat cepat?" Aku terkejut dengan perkataan Roh kegelapan.
"Avithor adalah mahluk yang kuat dan langka. Hanya dengan menyerap tubuhnya, itu dapat memberikanku energi yang cukup untuk menaikkan dirimu ke level 2. Kau sudah cukup kuat untuk melawan siapapun di desa mu dengan kemampuan itu."
"Melawan siapapun?" Apakah dengan ini aku bisa melindungi diriku dari orang-orang yang menindas ku? Memikirkan pemikiran itu membuatku sedikit senang. Aku akhirnya bisa menghajar klein dan teman-temannya.
"Baiklah setelah kita kembali dari kafe, kita akan menyerap tubuh Avithor tersebut." Ucapku bersemangat.
"Dimengerti. Sesuai keinginan anda." Jawab Roh kegelapan.
Aku melangkah dengan cepat menuju kafe yang ramai akan pembeli. Disana Aku melihat Glenn yang sibuk menyiapkan minuman dari jendela luar kafe. Berjalan memasuki kafe itu, suara-suara orang menyambut ku dengan keras.
"Azzure? Darimana saja kau pergi?" Glenn yang melihat ku segera menghampiri, wajahnya terlihat terkejut melihat diriku.
"Aku harus menyelesaikan beberapa masalah. Tapi Semuanya baik-baik saja." Ucapku.
"Klein dan teman-temannya menindas mu lagi ya?" Glenn berkata dengan sedikit prihatin.
"Tidak-tidak, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya memiliki urusan di luar Kota." Kataku dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau segera bekerja. Sebelum itu, ada baiknya kau temui bos dulu, karena bos selalu mencari mu." Glenn tersenyum lebar dan kembali bekerja melayani para pelanggan.
Aku mempersiapkan diriku di ruang staff memakai seragam kafe dan merapihkan rambut putih ku. Hari ini adalah hari yang baik, pikirku.