True King

True King
chapter 20


__ADS_3

Pagi hari di suatu hutan yang amat lebat dan luas, Azzure terbangun dengan kondisi normal. Tidak ada sedikit pun luka yang tersisa di tubuhnya.


Azzure yang baru terbangun setelah pingsan semalam, membuka matanya secara perlahan. Matahari bersinar menyilaukan mata biru nya yang indah.


“Selamat pagi, tuan. Anda pingsan kemarin malam setelah pertarungan anda dengan Lycan kemarin. Saya juga sudah menyembuhkan seluruh luka anda, anda jangan khawatir.” Ucap Roh kegelapan dengan santai.


"…jadi begitu….. terima kasih ya.” Ucap Azzure yang masih terbaring di tengah hutan.


“Hmmm….. dua hari lagi aku harus pergi ke sekolah menyebalkan itu…. Ah malas rasanya.….” Lanjut Azzure dengan nada lemas.


“Tuan tidak perlu memikirkan tentang sekolah hari ini, lebih baik anda segera pulang dan istirahat di rumah dan memulihkan energimu. Lalu lakukan latihan rutin mu.” Ucap Roh kegelapan.


“Iyaa, iyaa…. Aku mengerti….” Azzure bangun dari tanah dan bergegas pulang.


Azzure sudah benar-benar kehabisan energi untuk berjalan. Dia terlihat sangat lelah. Awalnya Azzure ingin menggunakan Midnight Steps nya untuk kembali ke rumah, tapi energi nya sudah benar-benar habis. Terpaksa Azzhure harus berjalan melewati hutan lebat yang menyerupai labirin pohon itu.


Sesampainya di rumah, Azzure langsung mandi dan makan. Dia makan sangat banyak setelah 1 hari tidak makan apapun. Setelah makan, Azzure beristirahat sebentar sebelum menjalankan latihan rutinnya.


"…melelahkan sekali…” Keluh Azzure sambil menjalani latihannya. “Tapi, aku akan berusaha untuk bekerja hari ini.” Ucap Azzure yang terlihat sangat kelelahan.


Siang berganti sore. Matahari mulai bersembunyi dibalik awan. matahari memancarkan sinarnya yang menyelimuti Kota Dyslan dengan warna jingga terang. Dibawah langit sore yang indah tersebut, Azzure berjalan menuju kafe tempat ia bekerja dengan wajah datar, berusaha menghindari perhatian orang-orang disekitarnya.


Di tengah jalan, Azzure melihat Klein dan kawanannya yang sedang berkumpul di pinggir jalan. Azzure memandang mereka dengan tatapan jijik.


“Hei lihat! Itu si payah!” Teriak Klein sambil menunjuk ke arah Azzure. Mereka pun berjalan mendekati Azzure.


Azzure yang melihat hal itu berkata dalam hati, “Cih, berani sekali dia menyebut namaku dengan mulut nya yang kotor itu. Menjijikan.” Ucap Azzure sambil kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


Klein menarik bahu Azzure sambil berusaha menyerang Azzure dengan tangannya. Dengan cepat Azzure menghindari serangannya. Dengan cepat Klein melancarkan serangan nya yang kedua. Namun Azzure tetap berhasil menangkis serangannya.


“Berhentilah menggangu diriku, Klein. Apa kau ingin mati?” Ucap Azzure dengan pelan sambil mengarahkan tatapan membunuhnya kepada Klein.


“HAHAHA…SEKARANG KAU MERASA KUAT YA BOCAH?!” Jawab Klein dengan nada tinggi sambil melancarkan serangannya selanjutnya kepada Azzure.

__ADS_1


“Hah! Dasar bodoh, kau terlalu lambat dasar gendut.” Saut Azzure sambil menghindari serangan Klein, lalu dengan cepat melancarkan tendangannya dengan keras kearah perut Klein yang gemuk. Tendangannya berhasil membuat Klein terpental dan kesakitan.


Kawanan Klein yang melihat itu langsung mengerumuni Azzure dengan tatapan merendahkan sambil bersiap menyerang Azzure. Belum sempat menyerang, suara Klein terdengar. “Sudahlah. Biarkan si pengecut itu bebas kali ini….” Kata Klein sambil menahan sakit.


''tapi lihat saja dua hari lagi…TIDAK ADA AMPUN UNTUKMU SIALAN!” Teriak Klein sambil berdiri dan menjauh dari Azzure bersama dengan kawanannya.


“Membuang-buang waktu ku saja.” Azzure kembali melanjutkan perjalanannya.


“Kenapa tidak menghajarnya saja, tuan? kamu yang sekarang bisa melumpuhkannya hanya dengan beberapa serangan.” Ucap roh kegelapan setelah Klein pergi.


“Awalnya aku mau, tapi tidak usah. Karena itu bisa menarik perhatian orang-orang. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian.” Jawab Azzure dengan santai sambil melanjutkan perjalanannya ke kafe.


Sesampainya di kafe, Azzure membuka pintu kafe dan terkejut melihat kursi-kursi yang dipenuhi pelanggan. Disana Azzure juga melihat Glenn yang tampak kewalahan melayani para pelanggan. Dengan cepat Azzure mengambil dan memakai seragam kerja nya dan membantu Glenn.


“Azzure?! Kemana saja kau? Bos mencemaskan mu tau! Lebih baik kau segera menemuinya.” Ucap Glenn sambil melayani pelanggan.


“Nanti saja lah! Pertama kita urus dulu para pelanggan kita ini!” Saut Azzure yang sedang bergegas membantu Glenn.


Sore berganti malam, Azzure melewati waktu nya tersebut dengan bekerja di kafenya. Kafe tersebut pun tutup di malam yang indah dan tenang. Azzure beristirahat dan bergegas menemui bos nya untuk menjelaskan ketidak hadirannya kemarin.


Azzure tersenyum dan berkata, “Saya tidak apa-apa bos. Maaf telah membuat anda cemas. Kemarin saya ada urusan pribadi yang agak mendadak. Jadi saya selesaikan terlebih dahulu. Sekali lagi maaf karena saya tidak masuk kemarin bos.” Ucap Azzure sambil sedikit menundukkan kepalanya kepada bos.


Setelah itu, Azzure pergi ke rumah untuk istirahat dan tidur.


Esok hari nya Kafe di tutup karena bos nya memiliki urusan. Jadi Azzure hanya di rumah dan berlatih seharian. Meski sangat melelahkan, Azzure tetap menjalani latihannya dengan semangat. Hal itu Ia lakukan demi pembalasan dendam nya.


Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore pun berganti malam. Azzure beristirahat dan segera pergi mandi. Dan bersiap untuk tidur. Namun, teringat kalau besok Ia harus pergi sekolah. “hufft….besok hari masuk sekolah, menyebalkan sekali. aku juga harus mengganti kerusakan yang telah kuperbuat akibat perkelahianku waktu itu.” Keluh Azzure.


“Tenang saja. Karena sekarang kau mempunyai banyak harta rampasan yang masih kusimpan dalam ruang ku. Kita bisa membayar kerusakan itu dengan harta-harta mu ini.” Ucap Roh kegelapan dengan tenang.


“haha,Aku lupa, sekarang kan aku sudah mempunyai semua itu.” Ucap Azzure dengan lega, dan Ia pun bergegas tidur.


Keesokkan harinya, di pagi yang cerah, Azzure bangun dan pergi ke sekolah yang sangat dia benci itu.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah dia berjalan ke kelasnya dengan santai dan menghindari kerumunan. Bel berbunyi, pelajaran dimulai. Semua murid masuk ke kelas masing-masing dan para wali kelas masuk ke kelas mereka masing-masing.


Wali kelas Azzure memanggil Azzure dan meminta bayarannya di depan kelas. Guru itu menatap Azzure dengan tatapan kesal dan berniat mempermalukannya di depan kelas. Dia mengira kalau Azzure tidak akan sanggup membayar kerusakan waktu itu. Dengan santai Azzure berjalan ke depan kelas sambil mengeluarkan sebuah kantung.


“Ini Cukup?” Ucap Azzure dengan santai sambil menyerahkan kantung tersebut kepada guru nya itu.


Dengan tatapan merendahkan guru itu mengambil kantung tersebut. “Cuma ini? Mana cukup?” Ucap sang guru yang padahal belum sama sekali membuka kantung tersebut.


Azzure mengambil kantung itu dari tangan guru nya dan menuangkan isi kantong itu di meja guru. Berbagai perhiasan emas keluar dari kantung itu dan jatuh ke meja sang guru. Cincin, kalung, dan berbagai bentuk lainnya yang terbuat dari emas itu membuat sang guru dan seluruh isi kelas terkejut.


“Masih belum cukup?” Tanya Azzure dengan nada sombong.


Sang guru hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata melihat emas-emas itu. Klein langsung berkata dengan lantang, “Dia pasti mencuri emas itu! Tidak mungkin orang miskin seperti dirinya mempunyai emas bahkan jika itu seukuran debu.”


“Diam, Kau tidak mempunyai bukti apapun.” Ucap sang guru lalu menyuruh Azzure kembali ke tempat duduknya.


“Memang Aneh dirinya bisa mempunyai emas yang begitu banyak." Ucap guru dalam hatinya


Sekolah pun berlanjut. Azzure berusaha sebaik mungkin untuk tidak menarik perhatian orang. Bahkan dia terlihat belum mengucapkan sepatah kata pun, dia juga makan siang seorang diri.


Sekolah selesai, Azzure bergegas pulang untuk berlatih. Namun di depan gerbang sekolah ada orang yang menghalangi jalannya. Siapa lagi kalau bukan Klein. Azzure yang sudah menduga hal ini segera menjauhi Klein. Tapi bawahan-bawahan Klein datang menghalangi.


“Kenapa? Belum puas ku hajar kemarin ya? Mau lagi?” Tanya Azzure dengan kesal.


''Jangan sombong dulu kau sialan!” Ucap Klein sambil menyerang Azzure bersama dengan bawahan-bawahannya.


“Gerakkan masih lambat seperti ini mau mengalahkanku?'' Azzure berkata sambil menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh mereka.


Azzure menatap mereka dengan santai dan tersenyum tipis, namun tatapan itu membawa rasa takut dihati Klein. Layak sebuah binatang buas sedang menatap dirinya dan bersiap menyantapnya.


“Ingin membuatku terluka? Bahkan jika kau berlatih selama Ribuan tahun, melukai diriku hanyalah mimpi.”


Lalu Azzure pergi menjauh dari tempat perkelahian itu, dan menggunakan Midnight Steps untuk pulang langsung kerumah.

__ADS_1


“Manusia itu membuang waktu dan tenaga ku saja, menyebalkan.” Ucap Azzure sambil memasuki rumahnya. Sore berganti malam, Azzure bergegas tidur dan bersiap untuk hari esok.


__ADS_2