
Hantaman itu membuat tanah retak dan terbelah menjadi dua. Goa ini bergetar dengan sangat hebat. Aku kehilangan keseimbanganku karena getaran ini. Sang Avithor membuka mulutnya dengan lebar, memperlihatkan gigi-gigi besarnya kepadaku.
Lidahnya yang merah menjulur keluar dan asap keluar dari mulutnya yang terbuka. Dalam hitungan detik, api merah menyala menyembur dari mulutnya. Sang Avithor menyemburkan api itu ke segala arah, mencoba membakar ku menjadi abu dengan suhu yang sangat panas itu.
"Apa-Apaan Ini?!! Sejak kapan ia bisa menyemburkan api seperti itu?!!!" Aku berteriak terkejut.
Aku berlindung di belakang puing-puing besar, menunggu kesempatan untuk menyerang lagi. Api itu membakar tanaman-tanaman merambat dan segala hal yang berada disekitarnya, juga membuat gosong bebatuan dan puing-puing goa ini.
Aku menunggu selesainya semburan api sang mahluk buas itu di belakang batu besar. Sang Avithor yang mengamuk mengaung dengan keras, membuat goa ini sekali lagi bergetar. Aku keluar dari tempat persembunyian ku dengan Shadow Spike siap berada di tanganku.
Dengan cepat aku melemparnya kearah mata kiri Avithor yang sedang lengah, Shadow Spike berputar di udara dan menembus mata mahluk buas itu dengan kuat. Darahnya bercucuran membasahi wajah sang Avithor yang kemudian jatuh ke tanah kesakitan.
Sudah dua kali aku memakai Shadow Spike. Rasa lelah mulai menguasai diriku. Ditambah oleh pertarungan yang telah kulakukan dengan mahluk buas itu, Aku sudah berada diluar batas tubuhku.
Aku mengambil pedang kecil ku dan berjalan menuju sang Avithor yang jatuh ke tanah, meraung rendah penuh rasa sakit akibat seranganku. Dengan cepat aku langsung menghunuskan pedang ku kedalam mata kirinya, menembus daging-daging mahluk buas itu menuju kedalam kepalanya.
Aku menekan sekuat tenaga ku mencoba membuat sang Avithor mati dengan cepat. Darah mengalir keluar dengan deras dari matanya dan mahluk buas itu mengeluarkan raungan terakhirnya yang pelan dan akhirnya pudar.
Menarik keluar pedang kecil ku dari dalam kepala sang Avithor, aku jatuh ke tanah kelelahan. Pertarungan ini sudah jauh diluar batas ku yang lemah. Aku hanya beruntung dapat membunuh sang Avithor karena pada awalnya mahluk buas itu memang sudah terluka.
__ADS_1
Entah kenapa mataku terasa buram dan menjadi gelap, aku merasakan baju ku terasa basah dengan warna merah gelap. Aku memegang nya dengan tanganku, cairan yang merupakan darah menodai tanganku. Aku tersenyum tipis melihat itu, sepertinya aku terluka tanpa diriku sadari.
Penglihatan ku menjadi buram dan pada akhirnya semua menjadi gelap gulita. Goa yang berantakan oleh pertarungan tadi kembali menjadi hening, langit siang hari sudah lama menghilang digantikan oleh malam.
Kabut kegelapan keluar dari tubuh Azzure yang pingsan terluka parah, kabut itu menyelimuti mayat sang Avithor yang telah tewas lalu memasukinya kedalam sebuah portal yang terbuat dari kabut gelap, kabut itu melahap lenyap mayat sang Avithor.
Setelah itu kabut kegelapan yang merupakan Roh kegelapan memutari tubuh Azzure dan mulai menyelimuti tubuh Azzure yang terluka. Dengan perlahan semua lukanya menghilang dan tubuh Azzure yang tadinya terluka kembali pulih seperti keadaan normal.
Roh kegelapan kemudian masuk kembali kedalam tubuh Azzure yang tertidur pulas dibawah sinar bulan. Malam kemudian tergantikan oleh matahari yang terang. Namun Azzure masih tertidur di dalam goa itu.
Matahari berganti dengan bulan dan bulan berganti ke matahari, pada akhirnya Azzure telah bangun. Dua hari sudah berlalu sejak pertarungannya dengan Avithor yang ganas.
Azzure bangkit dari tanah tempat ia terbaring, sinar matahari membuat mata birunya berkilau dengan indah, rambut putihnya kini terlihat kusam setelah beberapa hari tidak mandi.
"Roh kegelapan, sudah berapa lama aku pingsan?" Azzure mengusap kedua matanya yang masih merasa lelah.
"Sekitar dua hari sudah berlalu sejak pertarunganmu dengan Avithor." Roh kegelapan menjawab dengan santai, suara datarnya terdengar di kepala Azzure.
"Sudah selama itu ya......." Azzure bergumam pelan, dia telah memaksakan dirinya terlalu banyak.
__ADS_1
"Aku harus kembali dengan cepat dan memberikan jantung Avithor kepada pria tua itu. Bos juga pasti mencariku karena tidak datang ke kafe!" Azzure teringat kembali.
Azzure melihat sekelilingnya mencoba mencari tubuh sang avithor yang tiba-tiba menghilang. Merasa panik, dia segera bertanya kepada Roh kegelapan.
"Roh kegelapan, apakah kau tau kemana perginya mayat sang Avithor??" Ekspresi kebingungan terlihat di wajah Azzure.
"Aku telah menyimpannya di ruang milik ku dan juga aku telah memisah kan jantungnya dari tubuh Avithor tersebut. Untuk memulihkan dirimu juga aku telah menyerap semua tubuh serigala besar yang telah kau lawan sebelumnya." Roh kegelapan berkata kepada Azzure.
"Jadi kau telah melakukan semua itu, terima kasih Roh kegelapan. Aku sangat tertolong." Azzure tersenyum lebar.
"Itu bukanlah apa-apa, tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi bagian dari tugasku untuk membantu mu." Roh kegelapan berkata.
"Baiklah, saatnya aku pergi dari tempat ini. Aku ingin kembali ke rumahku terlebih dahulu sebelum pergi menuju toko pria tua itu." Lanjut Azzure bersiap-siap untuk pergi meninggalkan goa ini.
Azzure segera pergi dari goa itu mengikuti penanda batu yang telah ia taruh agar tidak tersesat di goa yang luas ini. Menghirup kembali udara segar di luar goa, wajah Azzure memerah di bawah sinar matahari yang panas.
Setelah berjam-jam berjalan mencoba mencari arah keluar hutan, akhirnya Azzure berhasil keluar dari hutan tersebut di sambut oleh tembok besar Kota Dyslan.
Bangunan-bangunan tinggi Kota Dyslan membuat Azzure sedikit senang bisa kembali dari hutan berbahaya itu dengan selamat. Semua itu berkat Roh kegelapan, pikir Azzure.
__ADS_1
Azzure segera berjalan pulang menuju rumahnya, pakaianya yang kotor ternodai dengan darah dan tubuhnya yang bau akibat tanah dan keringat membuat Azzure merasa tidak nyaman. Dia ingin segera pulang dan mandi lalu menyelesaikan urusan nya dengan pria tua itu.