True King

True King
chapter 34


__ADS_3

_Flashback_


Dengan tubuh yang telah babak belur, wajah yang terluka parah, serta perutnya yang sudah tertusuk parah, Hezo berjalan keluar arena sambil memendam rasa benci dan dendam yang luar biasa terhadap Azzure.


“K-kurang ajar…… aku dipermalukan didepan orang banyak seperti itu, akan kuberi dia pelajaran yang setimpal!” Hezo berjalan sambil memegang perut nya yang mengeluarkan darah karena terkena tusukan Shadow Spike Azzure.


“Orang itu, wajah itu…. Akan kuingat selalu! Dia belum tau dengan siapa dia berurusan….. Akan kubuat dia merasakan rasa sakit melebihi ini!” Wajah Hezo mengkerut.


Hezo segera pergi dari tempat itu, dan muncul di sebuah tempat seperti gedung yang berada di tempat terpencil Kota Dyslan.


“Bos?! Kenapa anda terluka?! Anda baik-baik saja?!”


“SUDAH JELAS JELAS AKU TERLUKA, DAN KAU TANYA AKU BAIK BAIK SAJA?!!! DASAR BODOH! CEPAT SEMBUHKAN AKU! DAN KALIAN YANG DISANA, CARI SELURUH INFORMASI MENGENAI ANAK BERNAMA AZZURE DI KOTA INI. SEKARANG!” Hezo berteriak meluapkan amarahnya kepada anak buahnya.


Beberapa orang menghampiri Hezo dan menyembuhkan luka parah yang dialami nya. Lalu sisa orang mencari informasi mengenai Azzure sesuai perintah Hezo.


“S-saya menemukannya, T-tuan Hezo.” Salah satu orang berkata pada Hezo dengan nada ketakutan.


“KATAKAN INFORMASI ITU SEMUANYA DENGAN JELAS!”


“B-baiklah. Menurut informasi yang tertulis disini, d-dia adalah….. A-an-anak? Dia adalah anak dari laki-laki penyusup yang mencoba mencuri berkas rahasia organisasi bertahun-tahun yang lalu. Sekarang ini dia hidup sebagai yatim piatu dan hidup sendiri di rumah nya.”


“ANAK… KAU BILANG?! Akan kuhajar orang itu…. Kau sudah salah mencari perkara dengan organisasi Xavier! Sebagai salah satu petinggi Xavier, diriku bersumpah akan kulenyapkan orang itu. Dahulu kala Ayahnya yang mencari maut, sekarang anaknya juga akan kuantarkan kepada maut! Tidak lama, tidak lama lagi Ia akan kuhabisi!” Hezo berteriak geram.


“Dan pada hari ini, di tempat ini, aku menepati sumpah ku. Luka yang tergoreskan di perut ku ini akan menjadi sesuatu yang akan terus ku ingat sepanjang hidupku.” Hezo kemudian menghilangkan penghalangnya, lalu segera menghilang dari tempat itu.


“Untuk sementara waktu…… aku tidak bisa menemani anda, aku butuh waktu untuk pulih, semoga anda selalu sehat.” Sebuah suara terlintas dipikiran Azzure.


“Suara apa itu….” Azzure membuka mata nya, teriknya sinar matahari membakar matanya.


“A-silau, tunggu… dimana ini? Terakhir yang ku ingat aku diserang dan… luka ku? Tidak ada? Aku, mati?... tidak, aku masih hidup. Tapi kenapa kepalaku sesakit ini, aku juga tidak bisa mengingat kejadian apa yang membawaku sampai ke sini….”


Azzure melihat sekelilingnya, Ia mendapati bahwa dirinya masih belum mati. Saat ini Ia terkapar di sebuah hutan yang lumayan luas bertumbuhkan berbagai macam tumbuhan dan pohon yang subur.


“Pertama, aku ada dimana? Dan kenapa aku tidak mempunyai luka di sekujur tubuhku?” Azzure terus bertanya-tanya. Ia masih sangat kebingungan. Dimana, dan mengapa dia bisa berada disana.


Azzure mencoba berjalan menelusuri tempat itu. Ia berjalan dan terus berjalan, sampai akhirnya Ia mendengar suara langkah kaki. Ia mencoba untuk mengikuti jejak suara itu.


Setelah beberapa langkah, Ia berhasil keluar dari pepohohonan dan melihat seorang gadis kecil yang sedang berjalan di sebuah jalan sambil membawa sebuah kantung besar kearah sebuah rumah kecil.


Azzure ingin menanyakan sesuatu pada nya, tetapi Ia memiliki firasat yang tidak enak disekitar gadis kecil itu.


Tidak lama kemudian, gadis kecil itu dikepung oleh sekelompok bandit. “Kita mendapatkan harta karun disini…. Serahkan yang ada di tanganmu itu, atau nyawamu yang akan terancam….” Salah satu bandit berkata sambil membuat senyum jahat.


“T-tidak akan…. Ini sangat berharga…..” Gadis kecil itu ketakutan.


“Ehh…? Kau berani melawan ya…” Salah satu bandit itu mengeluarkan sebilah pisau.


“Serahkan SEKARANG!” Teriak si bandit.


“T-tidak… Siapapun… tolong…” Gadis kecil itu mengeluarkan suara kecil nya sambil menangis pelan.

__ADS_1


“Tch, baiklah… kalau itu maumu!” Bandit itu menggerakkan pisau nya ke arah perempuan kecil yang tidak berdaya itu.


“Midnight Steps.” Sebuah bayangan hitam muncul di depan bandit itu, kemudian Azzure muncul dan menahan tusukan pisau yang mengarah ke perempua kecil itu.


“Sial, ini sakit. Dan energi ku hanya sedikit, hanya karena Midnight Steps tadi tubuhku yang sedang terluka ini langsung kelelahan.” Ucap Azzure dalam hati.


“S-siapa kau? Yah, siapa peduli. Jumlah kami lebih unggul..!” Bandit itu berusaha memukul kepala Azzure dengan kepalan tangannya, namun berhasil ditahan.


Azzure menendang tubuh bandit itu, melepaskan tancapan pisau di tangannya dan bersiap untuk bertarung. Gadis kecil itu hanya terdiam melihat Azzure bertarung melawan sekumpulan bandit itu.


Beberapa bandit lain mengeluarkan pisau, dan lainnya bersiap untuk menyerang Azzure dengan kepalan tangan kosong.


Pukulan demi pukulan datang dari sekumpulan bandit itu, satu demi satu Azzure menghindari dan menahannya. Meski ada beberapa yang berhasil mengenainya. “Aku tidak punya kesempatan untuk melawan, kalau begini terus, aku yang habis….” Ucap Azzure dalam hati.


Meski Azzure mencoba melawan, Ia hanya bisa menumbangkan dua bandit yang menyerangnya itu. Karena sudah kelelahan dan tubuhnya dari awal sedang tidak sehat, kecepatan dan fokus Azzure menurun. Ia semakin banyak menerima pukulan serta tusukan dari para bandit itu.


“Hentikan…. Kau berdarah…” Gadis kecil itu hanya bisa diam tidak berdaya di belakang Azzure.


“Setelah kau, dia yang akan mati! HAHAHAHAHA NANTIKAN SAJA MASA ITU!” Teriak seorang bandit sambil menusuk kaki Azzure.


“Kau... mencari masalah ya…” Emosi Azzure tak terkendali, Ia mulai memasuki mode berserk.


“Tutup mulut busukmu itu, DAN MATI!” Azzure menarik pisaunya dan menusuk bahu bandit yang menyerangnya barusan. Azzure terus menyerang tanpa menangkis ataupun menahan serangan yang diterimanya.


“Aku harus mengontrol… sial, kekuatanku sudah menipis…”


Satu per satu bandit itu ditumbangkan, beberapa dari mereka terjatuh dan bangun lalu lekas lari menjauh dari Azzure.


“Hei, kau tidak apa-apa? Buka mata mu, tolong tetap sadar…… aku akan menyembuhkan mu, bertahanlah…. Sebentar saja…” Gadis kecil itu menangis pelan ketakutan.


“Holy Healing…”


Sebuah cahaya putih bersinar di tangan gadis kecil itu yang diletakkan di atas kepala Azzure. “B-bagaimana ini…. Lukanya masih banyak, sedangkan aku tidak mampu menyembuhkan semuanya….” Gadis kecil itu berhenti menyembuhkan Azzure, Ia menopang tubuh Azzure di bahu nya, lalu berjalan sekuat tenaga ke rumah nya yang sudah dekat itu.


Gadis kecil itu membaringkan Azzure di atas tempat tidur nya, lalu melanjutkan pemulihan luka nya.


Beberapa waktu berlalu, menit demi menit Gadis kecil itu menyembuhkan luka Azzure. “Luka nya sudah mulai pulih….. apa yang akan Ia butuhkan ya saat bangun….. O, pakaiannya sudah rusak… Aku akan pergi membeli beberapa pakaian….” Gadis kecil itu meninggalkan rumahnya sambil terengah-engah kelelahan setelah menyembuhkan luka Azzure.


“Baju seperti apa kira-kira, warna apa ya…..? Aaaaa aku bingung….” Gadis kecil aitu kebingungan membeli pakaian yang cocok untuk Azzure, dan akhirnya Ia memilih dua buah baju dan celana. Setelah itu Ia segera pulang.


“Fuuhh…… akhirnya sampai….” Gadis kecil itu menaruh pakaian Azzure di meja dan Ia tertidur kelelahan di sofa.


Di sore hari yang sudah mulai gelap, Azzure mulai membuka mata nya, Ia terbangun dan terkejut melihat dirinya berada di sebuah rumah, sedangkan Ia tadi sedang terbaring pingsan di jalan. Ia melihat ke samping nya, disana terdapat gadis kecil yang tadi dia tolong sedang tertidur di sofa.


“Kemungkinan terbesar, dia yang menyembuhkanku.” Ucap Azzzure pelan.


“Hmm….? Sudah sore….. E? tuan, kau sudah bangun? Syukurlah… kukira kau akan mati tadi…..” Gadis kecil itu mendekati Azzure dan menangis.


“E-pertama silahkan ganti pakaianmu dengan ini….. aku akan mengambilkan segelas air….” Gadis kecil itu dengan gugup menyerahkan pakaian yang baru Ia beli tadi.


“Tubuhku masih berat, tapi aku masih bisa menggerakkannya sedikit.” Ucap Azzure dalam hati.

__ADS_1


“Baju yang nyaman. Aku suka warna ini…” Azzure berkata pelan.


“Anda menyukai nya? Syukurlah…. Silakan minum ini.” Ucap si gadis kecil.


“Terima kasih.”


“Apakah anda sudah sehat? Eee…. Aku sungguh minta maaf untuk kejadian siang tadi. Aku membuat anda jadi terluka seperti ini. Aku benar-benar minta maaf, nyawamu menjadi terancam karena ku…..” Gadis kecil itu sedikit menangis sambil menundukkan kepala.


Azzure mengusap kepalanya, “Kau tidak perlu meminta maaf, justru aku yang harus berterima kasih. Terima kasih karena sudah merawatku dan membelikanku pakaian yang layak.” Kata Azzure.


“Tidak….. Aku tetap meminta maaf…. Ini semua salahku…”


“Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf. Dan tolong jangan berperilaku terlalu formal, aku merasa sedikit tidak enak.” Azzure tersenyum sedikit.


“B-baiklah, kira-kira… dengan apa aku harus memanggilmu…?” Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dan berhenti menangis.


“Apapun yang membuat mu nyaman. Asalkan jangan memanggilku dengan panggilan Tuan, itu sedikit terkesan aneh.” Azzure tersenyum.


“Mmm… kalau begitu… Kakak?”


“K-kakak? Hmmm…., itu sedikit…..”


“Tidak boleh ya.......” Gadis kecil itu terlihat sedih.


“B-baiklah, kau boleh memanggilku kakak.” Jawab Azzure.


“Benarkah? Aku selalu… menginginkan sesosok kakak…. Yang bisa menemaniku setiap saat… Aku sangat senang….. Emm, namaku Vai. Boleh aku tau siapa nama kakak?” Vai bertanya malu-malu.


“Aku Azzure. Salam kenal.”


“Nama yang keren! Aku suka nama itu. Oh iya, satu hal lagi. Maaf, untuk sementara kakak tidak bisa berpergian. Tubuh kakak masih butuh waktu untuk pulih kembali, dan luka-luka kakak sangat parah.”


“Begitu, ya….. Ah maaf, aku malah merepotkanmu untuk merawatku disini. Setelah luka ku sudah benar-benar pulih, aku akan segera pergi.” Ucap Azzure.


“Eh?..... Ku kira…. Pada akhirnya aku mempunyai seorang kakak….”


“Maaf, mungkin saja aku malah semakin menyusahkanmu disini.” Lanjut Azzure.


“Tidak! Kakak sama sekali tidak merepotkanku, aku berhutang nyawa pada kakak…. Setidaknya biarkan aku membayarnya….” Vai menundukkan kepala.


“Anak ini, dia nampaknya hidup sendiri. Dimana keluarganya? Kenapa dia hidup sendiri di rumah ini? Tapi aku salut pada nya, dia sangat pintar berperilaku dan Ia pintar menjaga rumah di umur nya yang masih kecil.” Kata Azzure dalam hati.


“Jadi…. Bolehkah aku tinggal disini kedepannya?” Ucap Azzure.


“Itu boleh! Aku akan sangat senang jika kakak mau menemaniku. Tetapi……. Apa keluarga kakak tidak cemas?” Tanya Vai.


“Jujur saja, sebenarnya aku ini berasal dari kota yang sangat jauh dari tempat ini. Tapi aku juga tidak bisa mengingat apa yang terjadi sampai aku bisa berada di tempat ini. Selain itu, ingatanku masih lemah, aku juga tidak tau mengapa hal ini terjadi.” Jawab Azzure.


“Eh? Memangnya…. Kakak berasal dari mana?”


“Aku berasal dari sebuah kota yang bernama Kota Dyslan.”

__ADS_1


“Dyslan?!” Vai terdiam.


__ADS_2