Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 10 Bertemu


__ADS_3

"Sha, siang nanti kita akan meeting dengan pihak Mega Architecture untuk membahas design Savior Hotel yang akan kita bangun di Lombok, jangan lupa! Oke!" ujar Aglian saat muncul dari balik pintu membuat Ayesha mendongak lalu tersenyum seraya mengangguk. Sebisa mungkin ia memasang senyum sumringah agar ayahnya tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Oke, Pi. Sehabis makan siang kan!" ujar Ayesha yang diangguki Aglian. Setelah itu, Aglian kembali lagi ke ruangannya.


Ayesha lalu meminta Defri mempersiapkan segala dokumen tentang gambaran tata ruang lokasi yang akan dibangun hotel di atasnya. Seperti biasa Angkasa Grup bekerja sama dengan Mega Architecture untuk membangun gedung-gedung bertingkat serta perumahan elit dan resort sebab mereka memiliki arsitek-arsitek yang handal dan kompeten dalam merancang sebuah bangunan beserta membuat rancangan anggaran agar tidak terjadi kebocoran dalam menentukan budget.


Jam makan siang telah usai. Kini Ayesha didampingi Defri tengah bersiap menuju ke ruangan meeting. Menurut Defri, pihak Mega Architecture telah tiba sejam beberapa menit yang lalu. Ayesha pun bergegas menuju ruang meeting. Ia tak mau dinilai pemimpin yang tidak layak karena datang terlambat.


Ayesha melirik jarum jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 10 menit sebelum meeting dimulai.


Defri segera membukakan pintu setibanya di depan pintu ruang meeting. Hawa dingin menguar saat pintu terbuka membuat empat pasang mata yang berada di dalam sana menoleh seketika ke arah kedatangan Ayesha. Ayesha melangkahkan kakinya dengan anggun tapi tegas. Tidak ada kesan gadis manja walaupun usianya masih begitu muda. Ayesha berusaha mengulas senyum seramah mungkin pada tamu sang ayah sebab pemilik Mega Architecture sebenarnya teman ayahnya sendiri. Namun, senyum itu seketika surut saat sepasang bola mata dirinya bersirobok dengan sepasang netra hitam pekat milik seorang lelaki yang sedang duduk di samping teman ayahnya.


'Di-dia? Mengapa dia ada di sini?' batinnya bertanya-tanya dengan jantung berdegup kencang. Pasokan oksigen seakan menipis membuat dadanya terasa sesak dan berkeringat dingin. Padahal suhu ruangan itu begitu dingin, namun tetap saja ia berkeringat.


Ayesha lantas segera memalingkan wajahnya agar tidak saling bersitatap dengan lelaki itu lagi.


"Sha, kemari!" panggil Aglian yang sudah berdiri. Ia menghela putrinya agar mendekat. "Kamu masih ingat kan dengan Om Sanusi?" tanya Aglian yang diangguki Ayesha dengan senyum yang terlihat dipaksakan. "Nah, Om Sanusi inilah pemilik Mega Architecture. Nah, beliau kemari dengan salah satu arsitek andalannya. Dialah yang akan membantu kamu merancang bangunan Savior Hotel," ujar Aglian panjang lebar.


"Halo Yesha! Apa kabar? Wah, keponakan Om makin cantik aja!" ujar Sanusi seraya tersenyum lebar.


Ayesha mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Halo juga, Om. Alhamdulillah, Om, kabar Yesha baik. Kabar Om gimana? Lama ya Yesha nggak lihat Om," tukas Ayesha beramah tamah.


"Ya gimana bisa ketemu, Sha, kamu aja kuliah di London sana. Tapi perjuangan kamu emang nggak sia-sia, buktinya usia 21 tahun kamu udah mampu meraih gelar magister dan memimpin Angkasa Grup. Om kagum sama kamu. Sementara di luar banyak gadis seusia kamu sibuk haha hihi, kongkow sana kongkow sini, kamu malah mendedikasikan diri kamu untuk membantu papi kamu ini. Andai Om ada anak cowok, pasti udah Om jodohin sama kamu," ujar Sanusi seraya terkekeh membuat Aglian tergelak sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


"Om bisa saja. Aku nggak sehebat itu, Om. Masih kalah jauh dari papi, masih harus banyak belajar. Gelar tanpa bukti nyata, nggak ada guna. Jadi aku ingin mendedikasikan apa yang aku pelajari selama ini, dengan bantuan papi tentunya. Papi itu teladan aku banget kok, Om," ujar Ayesha berusaha untuk santai. Walaupun sebenarnya sulit apalagi saat sesekali mata ia dan laki-laki yang masih tampak bergeming sambil berdiri di samping Sanusi itu bertemu, membuat jantungnya seakan ditabuh genderang perang.


"Hahaha ... kau memang beruntung, Lian, memiliki putri seperti Ayesha. Aku serius, seandainya aku punya anak lelaki, pasti udah aku jodohin sama putri kesayangan kamu ini," tukas Sanusi dengan binar kekaguman yang terpancar sempurna. Ia memang benar-benar mengagumi sosok putri sahabatnya itu. Ia pun memiliki dua orang putri yang usianya satu di atas Ayesha dan satu lagi di bawah Ayesha, tapi keduanya hanya sibuk bersenang-senang dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak pernah sekalipun berpikir ingin membantu ayahnya di perusahaan. Padahal mereka berdua lah harapan Sanusi untuk melanjutkan bisnisnya di masa depan. Tapi tampaknya, mereka tak berminat sama sekali.

__ADS_1


"Aku memang beruntung memiliki putri sepertinya. Ayesha adalah putri kebanggaanku," tukas Aglian bangga.


"Oh ya, Om jadi lupa, seperti kata papi kamu, Om kesini dengan arsitek andalan Om yang akan Om tugaskan membantu kamu. Perkenalkan, namanya Ghiffary Ramadhan. Ayo Ghif, kenalan dulu sama si cantik jenius ini;" tukas Sanusi seraya sedikit menggeser tubuhnya agar Ghiffary bisa berkenalan dengan Ayesha.


"Ghiffary Ramadhan. Semoga kita bisa saling bekerja sama," ucap Ghiffary ramah.


"Ayesha," sahut Ayesha datar seraya menyambut jabatan tangan Ghiffary. Kemudian secepat kilat, Ayesha menarik kembali tangannya.


"Oh iya, Sha, Ghiffary ini juga lulusan University of Cambridge lho. Dia juga baru wisuda. Mungkin kalian saat di London pernah bertemu? Kalian kan satu kampus walau lain jurusan dan program," tukas Sanusi sambil melirik keduanya secara bergantian.


"Tidak," seru mereka berdua tanpa sadar bersamaan.


Membuat mata Aglian dan Sanusi saling bertatapan, merasa aneh dengan sikap kedua orang itu.


Lalu Aglian mempersilahkan keduanya untuk duduk kembali.


"Ekhem, Om, kata Om tadi kan dia baru aja wisuda, tapi kenapa Om kasiin projek ini kepada dia yang pastinya belum berpengalaman," tanya Ayesha dengan alis saking bertaut.


Sanusi yang diberikan pertanyaan seperti itu lantas terkekeh. Tak dapat dipungkiri, kecerdasan Aglian memang menurun pada putrinya. Ia juga begitu kritis.


"Om takkan mungkin jadiin dia arsitek andalan kalo kerjaannya nggak bagus apalagi belum terbukti. Ini projek ratusan milyar lho, malah udah main triliun. Om takkan membuat keputusan yang bisa merugikan perusahaan Om. Sebelum Om menarik dia ke Mega Architecture, Om justru dapat rekomendasi dia dari teman Om di London. Ternyata selama ini, selain kuliah, dia itu jadi freelancer Architects di sana. Namanya udah banyak dikenal di beberapa perusahaan arsitektur. Karena itu Om langsung cari informasi tentang dia dan setelah tahu dia bentar lagi wisuda, Om langsung gaet dia untuk kerja dengan Om setelah wisuda. Jadi kamu nggak perlu khawatir tentang kemampuannya. Om yakin, kamu pasti akan puas dengan hasil kinerjanya," pungkas Sanusi membuat Ayesha bungkam.


Dalam hati, Ayesha tak henti-hentinya mengomel, 'kenapa harus dia sih? Astaga, bagaimana aku harus sering ketemu dengan dia, sedangkan lihat mukanya aja males.'


"Sha, Papi tinggal dulu ya! Kamu silahkan bahas tentang projects Savior Hotel dengan Ghiffary. Papi ada urusan sama Om Sanusi," ujar Aglian seraya berdiri.


"Lho, kok Papi sama Om pergi sih? Bukannya kita bahas bersama?" protes Ayesha dengan dahi yang berkerut.


Sanusi terkekeh, "kalian bahas aja berdua. Om sama papi kamu mau melemaskan otot tangan dulu," ujar Sanusi membuat Ayesha bingung.

__ADS_1


"Papi mau main golf dulu sama Om kamu ini. Mentang-mentang papi udah lama nggak nge-golf, dia bilang kemampuan papi pasti udah hilang. Pali mau buktiin, papi masih hebat dan mampu kalahkan si mantan atlet golf itu," sahut Aglian pongah membuat Ayesha cemberut.


"Ckk ... malah mentingin main golf, papi nggak asik ih!" Ayesha menyahuti seraya merajuk.


Aglian terkekeh, "dah princess! Papi pergi dulu ya! Ghiffary, Om titip putri Om ya! Semoga meetingnya lancar!" ujar Aglian seraya beranjak keluar dari ruangan meeting diikuti Sanusi dan Robi.


Setelah Aglian keluar, Ayesha pun bergegas membuka laptop miliknya kemudian menyalakannya.


"Nona, mau minum apa?" tanya Defri.


"Saya teh chamomile aja," ujar Ayesha yang tak mau memalingkan wajahnya dari depan layar laptop.


"Kalau tuan?" tawar Defri pada Ghiffary.


"Saya kopi hitam saja," tukas Ghiffary.


Kemudian, Defri pun segera berlalu meninggalkan kedua orang itu.


"Kamu apa kabar?" tanya Ghiffary memecah keheningan sebab sejak beberapa menit yang lalu Ayesha hanya bungkam.


Tapi Ayesha bungkam. Jelas sekali tak ada minta untuk menjawabnya.


"Apa kamu sakit?" tanya Ghiffary lagi saat Ayesha tak meresponnya sama sekali. Bukan tanpa alasan ia bertanya itu, sebab saat menjabat tangan Ayesha tadi, tangannya terasa begitu dingin.


Wajah Ayesha sedikit mendongak menatap wajah teduh Ghiffary.


"Apa pedulimu?" sinis Ayesha dengan wajah datar membuat Ghiffary tertegun karena ekspresinya sangat jauh berbeda dari saat baru masuk ke dalam ruangan itu.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2