Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 40 Buket bunga mawar


__ADS_3

Ayesha baru saja keluar dari kamar mandi saat Ghiffary juga baru masuk ke dalam kamar mereka di rumah Aglian. Ia datang dengan segelas susu di tangannya yang langsung ia serahkan pada sang istri.


"Makasih kak," ucap Ayesha dengan senyum manis mengembang di bibir. Ayesha menyambut susu itu lalu segera meminumnya hingga tetes terakhir.


"Sama-sama, Sha-Yang," balas Ghiffary sambil meraih kembali gelas berisi susu itu dan meletakkannya di atas nakas.


Setelahnya Ghiffary berdiri di belakang Ayesha yang sedang hendak mengeringkan rambutnya di depan meja riasnya.


"Butuh bantuan?" tawar Ghiffary. Ayesha menggeleng dengan senyum yang tak kunjung lekang dari bibirnya.


"Nggak usah. Yesha bisa sendiri kok. Kakak habis olahraga ya?" tanya Ayesha saat melihat penampilan Ghiffary yang mengenakan celana training abu-abu dan kaus biru dongker.


"Hmmm ... ternyata tempat fitness papi lengkap banget ya! Pantesan aja badan papi tetap bugar padahal usianya udah nggak muda. Ayah aja kalah sama papi," celetuk Ghiffary.


Ayesha terkekeh, 'ayah mertuaku itu emang kalah jauh dari papi. Usianya padahal lebih tuaan papi. Tapi masih gagah papi dari ayah. Pas sama-sama muda juga ayah kalah dapetin hati mami sampai nekat mau rudapaksa mami. Untung aja gagal, kalo berhasil, kita nggak mungkin ada dan kita nggak akan mungkin bisa bersama kak,' batin Ayesha bermonolog.


"Papi ya gitu emang. Meski selalu sibuk tapi nggak pernah lupa olahraga dan yang paling utama nggak pernah lupa bahagiain istri. Makanya papi awet muda soalnya selalu merasa bahagia," ujar Ayesha sambil menyeka rambutnya dengan handuk. Kemudian Ghiffary meraih handuk tersebut dan menggantikannya untuk menggantikan mengeringkan rambut Ayesha.


"Ah, kakak tau, intinya papi nggak pernah lupa olah raga buat fisik sama olah raga untuk menyenangkan istri, iya kan! Alias olahraga ranjang, makanya papi selalu bahagia. Berarti kita pun harus sering-sering olahraga ranjang Sha-Yang biar kita bahagia dan awet muda," selorohnya membuat Ayesha menganga karena candaan berbau mesyum sang suami.


Plakkk ...


"Awww ... sakit Sha-Yang," pekik Ghiffary pura-pura kesakitan karena Ayesha yang baru saja menepuk lengannya cukup keras.


"Ck ... kak Fary kok pikirannya kesana sih! Astaga, suamiku kok mendadak mesyum sih!" ujar Ayesha sambil geleng-geleng kepala.


Ghiffary tergelak, "maklum, baru menemukan surga dunianya jadi otak kakak nggak jauh dari urusan skidipawpaw," seloroh Ghiffary yang tak bisa berhenti tergelak.


Setelah rambut Ayesha tidak terlalu basah, Ghiffary mengambil hairdryer yang sudah disiapkan Ayesha dan membantu mengeringkan rambutnya.


"Biar Yesha aja kak. Kakak mandi aja. Nanti kita turun sarapan bareng," sergah Ayesha hendak mengambil hairdryer dari tangan Ghiffary.

__ADS_1


"Nanggung Sha-Yang. Kamu tahu, nanggung itu nggak enak banget. Ibaratnya baru mau sampai *******, tiba-tiba ada yang gedor pintu, terus terpaksa berhenti, nggak enak kan!"


"Kak Fary, kok bahas kayak gituan lagi sih!" pekik Ayesha dengan mata mendelik tajam membuat Ghiffary terbahak-bahak melihatnya.


"Habisnya kamu lucu banget kalo mukanya lagi merah gitu, bikin gemes tau nggak. Cup ... "


Setelah mencuri satu ciuman di pipi Ayesha, Ghiffary pun segera lari masuk ke kamar mandi sambil tergelak kencang.


...***...


Setelah 3 hari menginap di rumah Aglian, kini giliran mereka menginap di rumah Kentaro. Tentu Kentaro merasa sangat bahagia karena anak dan menantunya mau menginap di sana.


"Kak, kan ayah ditinggal sendiri, terus siapa yang masakin?" tanya Ayesha penasaran saat mereka telah berada di kamar Ghiffary.


"Ayah masak sendiri, kenapa?"


"Serius?" tanya Ayesha sangsi.


"What? Astaga, Yesha kalah dong! Yesha nggak bisa masak sama sekali malah. Hanya bisa buat mie instan aja," aku Ayesha terkekeh sambil menggaruk tengkuknya merasa insecure dengan kemampuan dirinya sendiri.


"Ternyata seseorang yang tampak sempurna pun ada kekurangannya ya!" cibir Ghiffary membuat Ayesha mencebik.


"Ya namanya juga manusia kak, mana ada sih yang sempurna. Apalagi Yesha sedari kecil itu cuma fokus untuk belajar karena itu usia segini udah bisa lulus S2."


"Wow, istriku ternyata seorang genius! By the way, lulusan SMA mana? Soalnya pas pertama kali kakak liat kamu itu kayak nggak asing gitu. Kayak familiar, tapi kakak lupa dimana."


"Aku SMA di ... Eh, maaf kak, ada yang telepon. Aku angkat telepon dulu ya!" tukas Ayesha yang langsung beranjak dari hadapan Ghiffary untuk mengangkat panggilan.


...***...


"Pagi Def," sapa Ayesha saat berpapasan dengan sang asisten pribadi.

__ADS_1


"Pagi juga, Bu," sahut Defri sopan.


Ceklek ...


Ayesha membelalakkan matanya saat melihat buket bunga yang cukup besar berada di ruang kerjanya.


"Def," panggil Ayesha. Defri yang berdiri di belakang Ayesha pun segera maju.


"Iya, Bu."


"Itu ... buket itu dari siapa? Kenapa ada di ruangan saya?" tanya Ayesha heran.


"Saya juga kurang tau, Bu. Tadi resepsionis bilang ada kiriman bunga untuk ibu, makanya saya minta pak Joko, security di bawah untuk antar ke sini," tukas Defri.


Ayesha lantas berjalan menuju buket bunga itu. Ia melihat ada sebuah kartu ucapan di terselip di celah bunga itu. Ayesha pun segera membukanya dan membacanya.


Hai, cantik, apa kabarmu? I'm really Miss you. Bisakah kita bertemu sebentar saja? Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Aku mohon! Kalau bisa, tolong kirim pesan ke nomor yang aku pakai menghubungi mu kemarin. With all my love.


Ayesha sontak meremas kartu ucapan itu dengan emosi yang membuncah. Bagaimana tidak tahu malunya laki-laki itu yang tiba-tiba muncul kembali setelah apa yang ia lakukan padanya, benak Ayesha.


Defri yang berdiri tak jauh dari Ayesha hanya bisa mengerutkan kening, merasa penasaran dengan siapa si pengirim buket bunga itu. Ia yakin, pengirimnya adalah orang yang sangat mengenal atasannya itu sebab buket bunga itu cukup istimewa karena terdiri atas beberapa macam bunga mawar berbeda warna. Ia tahu, atasannya itu menyukai bunga dan salah satu bunga kesukaannya adalah mawar, khususnya yang berwarna merah, putih, kuning, dan merah muda. Bagi Ayesha mawar merupakan simbol keindahan dan Ayesha menyukai sesuatu yang indah.


'Tapi kenapa ekspresinya seperti itu? Apa ada yang salah? Siapa sebenarnya pengirim bunga itu? Semoga dia bukan orang yang berbahaya.'


"Def, segera buang buket bunga itu!" titah Ayesha membuat Defri kian penasaran dengan sosok pengirim bunga.


"Baik, Bu. Kalau begitu, saya permisi," ujar Defri sambil membawa keluar buket bunga mawar itu keluar dari ruangannya.


"Sialan! Kenapa dia bisa tahu nomor ponselku sekarang? Dan ... dari mana ia tahu kantorku? Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang," gumamnya dengan mengepalkan tangannya.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2