Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 47 Ketakutan Ghiffary


__ADS_3

"Nich, aku mau ke toilet dulu!" ujar Restya sambil menahan tangan Nicholas yang mencengkramnya erat agar tidak kabur kemana-mana.


"Bisa nanti di hotel tempatku menginap," jawab Nicholas datar.


"Please, Nich, aku udah kebelet! Nggak tahan lagi, perut aku mules banget," mohon Restya dengan wajah memelasnya.


"Jangan beralasan!" hardik Nicholas kesal.


"Nich, aku beneran mules! Atau kamu mau aku buang air besar di mobilmu? Oke, nggak masalah. Tapi kalau kamu kebauan, jangan protes!" hardik Restya dengan mata melotot dan gigi bergemeluk.


Dengan perasaan dongkol, Nicholas pun menurutinya. Bisa-bisa ia pingsan mencium aroma busuk dari kotoran. Membayangkannya saja membuat Nicholas bergidik ngeri.


"Cepat! Jangan berlama-lama!" tukas Nicholas dengan wajah dingin dan datarnya.


"Iya, iya, bawel!" Restya berdecak lalu ia lun segera masuk ke dalam toilet yang ada di lantai tertinggi gedung Angkasa Grup itu.


Restya pun segera masuk ke salah satu bilik sambil menggigit ujung kuku ibu jarinya. Ia benar-benar gugup dan bingung. Bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari Nicholas pikirnya. Restya membuka sedikit pintu biliknya, matanya mengintip lalu tak lama kemudian masuklah seorang office girl ke dalamnya yang sepertinya hendak mencuci tangan.


Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Ia pun keluar mengendap lalu membisikkan sesuatu pada office girl itu. Dengan mata berbinar, office girl itu mengangguk setuju.


Sudah 10 menit berlalu, tapi Restya belum juga keluar dari dalam toilet yang ada di sana. Nicholas berdecak kesal. Dilihatnya, bahkan seorang office girl yang belum lama masuk sudah keluar dari dalam toilet, namun Restya belum juga keluar. Dengan perasaan kesal, Nicholas masuk begitu saja ke dalam toilet yang sepi itu. Diketuknya satu persatu bilik itu, tak ada sautan. Diputarnya knop pintu dan ternyata tak ada siapa-siapa di dalamnya. Hingga di bilik yang paling ujung, Nicholas melakukan hal yang sama. Namun, bilik itu terkunci. Ia pikir, pasti Restya berada di dalam sana.


"Restya, buka pintunya!" teriak Nicholas tapi tak ada sahutan dari dalamnya.


"Restya, jangan main-main denganku! Cepat keluar atau aku akan mendobrak pintu ini segera!" teriak Nicholas lagi, tapi tetap saja tak ada sahutan dari dalam pun pintu masih terkunci.


Kesal karena tidak direspon sama sekali, Nicholas pun mendobrak pintu itu beberapa kali hingga benar-benar terbuka.


Rahang Nicholas seketika mengeras saat melihat di dalamnya bukanlah Restya, melainkan seorang gadis yang memakai pakaian Restya.

__ADS_1


"Sialan!" umpatnya kesal membuat office girl itu menciut dengan tubuh bergetar karena takut.


Enggan bicara dengan office girl itu, Nicholas langsung membalikkan badannya hendak menuju lift. Ia pikir, mungkin Restya telah pergi dari gedung itu dengan memakai seragam office girl.


Namun, belum sempat pintu lift terbuka, terdengar suara kegaduhan dari ruangan CEO Angkasa Grup itu. Penasaran, Nicholas pun segera berlari menuju ruangan petinggi Angkasa Grup itu.


"Mati kau jalaaang!" teriak Restya dengan wajah kalap.


Prang ...


Sebuah vas bunga pajangan di sudut ruangan dilemparkan begitu saja oleh Restya ke arah Ayesha. Defri yang melihatnya hendak menghentikannya, namun terlambat. Vas bunga itu terlempar begitu saja. Ghiffary yang reflek menoleh, segera menangkis vas bunga tersebut. Ayesha yang ikut reflek menoleh pun lantas tanpa sadar mundur ke belakang. Namun, karena kurangnya kehilangan keseimbangan, Ayesha jatuh terduduk lalu memekik kesakitan.


"Kak ... aaaakh ... " pekik Ayesha yang sudah meringis kesakitan.


"Sha-Yang ... " pekik Ghiffary shock saat melihat Ayesha jatuh terduduk. Tak lama kemudian, cairan merah mulai menggenang mengalir dari sela-sela kali Ayesha membuat Ghiffary panik seketika.


"Hahaha ... rasakan kau jalaang! Kalau aku tidak bisa mendapatkan Ghiffary kembali, maka kau pun tak boleh mendapatkannya!" ujar Restya sambil terbahak-bahak.


Nicholas yang baru saja tiba, sontak membulatkan matanya. Ia tak menyangka, istrinya ini bisa berbuat senekat itu demi seorang lelaki yang telah menyandang gelar sebagai suami orang.


Plaaaak ...


Sebuah tamparan melayang di pipi Restya.


"Kau sudah gila, Restya. Serahkan saja dia ke polisi agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya!" seru Nicholas murka.


Defri pun mengangguk. Di luar ruangan Ayesha telah dipenuhi beberapa karyawan Angkasa Grup. Aglian yang baru saja datang dari luar kota mendadak panik melihat putrinya sudah dalam gendongan Ghiffary dengan darah yang tak henti-hentinya mengalir.


"Yesha ... sayang ... kamu kenapa, nak?" seru Aglian panik.

__ADS_1


"Pa-pi ... sssshhhttt ... sa-kiiit Pi ... " desis Ayesha meringis kesakitan.


Air mata Ghiffary dan Aglian pun tumpah tak mampu dicegah. Melihat wajah Ayesha yang kian memucat tentu membuat mereka panik bukan kepalang.


"Robi, siapkan mobil dan segera hubungi pihak rumah sakit!" seru Aglian tegas. Mereka tak boleh membuang waktu sedikit pun. Bagaimana pun, keselamatan Ayesha yang utama saat ini.


"Baik tuan," sahut Robi cepat. Lalu ia segera berlarian menuju lift sambil memencet layar ponselnya.


...***...


"Sha-Yang, aku mohon bertahanlah! Demi aku, demi anak kita, demi papi dan mami. Aku mohon Sha-Yang, jangan tinggalkan aku. Aku mohon bertahanlah. Aku mohon!" lirih Ghiffary yang kini sudah di dalam mobil sambil memeluk tubuh Ayesha yang mulai terasa dingin.


"Princess, papi mohon, bertahanlah nak! Papi mohon sayang," lirih Aglian yang duduk di samping bangku kemudi. Sedangkan Robi bagian menyetir.


"Kak Fary, to-long se-la-mat-kan a-nak ki-ta!" ujar Ayesha dengan suara sangat telan nyaris berbisik. Namun, Ghiffary masih dapat mendengarnya dengan jelas. Diciuminya seluruh wajah Ayesha sambil terisak.


"Aku pasti akan menyelamatkan kalian bertiga. Aku mohon Sha-Yang, bertahanlah. Aku mohon ... aku ... aku tak ingin kehilangan lagi. Aku mohon."


Seketika Ghiffary teringat dengan almarhumah ibunya. Ibunya pun melahirkan dirinya di saat usia kandungannya masih 7 bulan karena terjadinya pendarahan akibat terjatuh. Lalu kini, semua seakan ingin terulang kembali. Namun kini bukan dirinya, melainkan istrinya. Istrinya mengalami hal serupa dengan ibunya. Rasa takut dan was-was mulai menyelimuti benak dan jiwanya. Bagaimana bila peristiwa kelam itu terulang padanya?


Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Ayesha. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah seperti seorang pembuat sial sekaligus pembunuh karena telah menjadi salah satu penyebab terjadinya peristiwa mengerikan ini.


'Ya Allah, aku mohon selamatkan istri dan anak-anakku. Aku mohon pada-Mu,' batin Ghiffary terus berdoa memohon pertolongan dan keselamatan pada istri dan anak-anaknya.


...***...


**Eh iya, yang ada aplikasi Fiz zo , subscribe Saat Suamiku Berubah ya! πŸ˜„


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°**...

__ADS_1


__ADS_2