Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 51 End


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu dan baby Gishana Wulandara dan baby Gishani Wulandari telah dinyatakan sehat sepenuhnya. Bahkan berat badannya yang semula 2,3kg dan 2,1kg telah naik menjadi 4,5kg dan 4,3kg. Pipi keduanya pun mulai membulat lucu dan sudah bisa merespon orang-orang sekitarnya dengan senyuman. Dengan hati yang membuncah bahagia, Ayesha dan Ghiffary membawa pulang putri-putri mereka ke kediaman orang tua Ayesha.


Kepulangan mereka di sambut dengan kehadiran anak-anak panti asuhan yang memang sengaja diundang untuk meramaikan acara aqiqah kedua putrinya.


Acara berlangsung dengan hikmat. Anak-anak tampak sangat berbahagia hari itu. Apalagi acara itu bukan hanya diisi dengan pengajian tapi juga hiburan khusus anak-anak. Mereka diminta unjuk kemampuan, ada yang bernyanyi, bertilawah, fashion show busana muslim, dan melantunkan adzan. Mereka merupakan anak-anak panti asuhan tempat Anggi dan Luna dibesarkan. Tapi panti asuhan itu sudah pindah ke lahan yang lebih luas. Bahkan kini Angkasa Grup telah mendirikan sebuah yayasan yang khusus menaungi beberapa panti asuhan demi membantu anak-anak yang kurang beruntung. Yayasan itu bukan hanya membantu kebutuhan sandang, pangan, dan papan para anak-anak, tapi juga membantu membiayai pendidikan hingga perguruan tinggi.


"Sha-Yang, kamu cantik banget pakai jilbab kayak gini. Kirain bidadari turun dari mana. Eh, taunya istri sendiri," puji Ghiffary dengan mata berbinar sebab saat ini Ayesha mengenakan gamis panjang berwarna putih dan pashmina berwarna senada membuat Ayesha terlihat sangat cantik dan anggun.


Pipi Ayesha bersemu merah mendapat pujian dari suaminya itu.


"Ck ... gombal." Ayesha memutar bola matanya malas, namun senyum manis tersungging di sudut bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya pada Gishana. Mereka berdua saat ini sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil memangku bayi-bayi mereka sambil sesekali memperhatikan anak-anak yang tengah asik menonton badut.


"Daddy serius, mommy. Sumpah. Tapi akan lebih cantik lagi kalau mommy memakainya setiap hari sebab yang lebih berhak melihat kulit putih mulus ini cuma Daddy," ujar Ghiffary seraya mengecup punggung tangan Ayesha.


"Mommy emang niatnya kayak gitu sih, Dad. Soalnya Mommy udah bernazar kalau Baby Shana dan Shani sembuh dan tumbuh sehat, mommy mau menutup aurat."


"Serius?"


"Yes, Daddy. Ngapain juga bohong."


"Alhamdulillah. Meskipun niatnya bukan murni karena ingin, tapi setidaknya Mommy sudah memiliki niat yang baik. Insya Allah Istiqomah ya, Mom." Ghiffary tentu mendukung niat baik istrinya.


"Aamiin ... " seru Ayesha sambil tersenyum lebar.


"Kak, boleh kami gendong si kembar?" tiba-tiba Algara dan Algatra menghampiri Ayesha dan Ghiffary.


"Boleh dong, kalian kan uncle nya baby Shana dan Shani," jawab Ghiffary. Dengan senyum lebar, Algara menggendong Baby Shana dan Algatra menggendong baby Shani.


"Wah, keponakan uncle cantik banget! Kita foto dulu yuk!" seru Algara girang. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan berselfie ria dengan baby Shana. Algatra pun mengikuti apa yang dilakukan Algara.


Tak lama kemudian, Arditta dan Arletta pun ikut bergabung. Mereka berpose layaknya pasangan yang baru memiliki seorang bayi. Mereka lantas memosting foto-foto itu di akun sosial media mereka dengan berbagai caption. Terang saja, foto-foto itu mencuri perhatian banyak warganet sebab mereka tampak seperti pasangan muda bahagia. Memiliki wajah cantik dan tampan, juga memiliki anak yang cantik, lucu, dan menggemaskan.


...***...


"Hai princess mommy, mommy mau pergi kerja dulu ya! Princess mommy nggak boleh rewel, kasihan mbak Aina dan mbak Sumi kalo princess rewel," ujar Ayesha seraya mengusap kepala Gishana dan Gishani bergantian.

__ADS_1


"Yes, mommy. Mommy tenang aja princess Shana dan princess Shani nggak akan rewel kok," seru Ghiffary seraya menirukan suara anak-anak.


Ayesha yang mendengarnya pun terkekeh lalu memukul gemas pundak suaminya.


Ayesha lantas menegakkan tubuhnya menghadap suaminya. Seperti biasanya, Ayesha membantu memasangkan dasi Ghiffary kemudian disusul jasnya. Kemudian ia menepuk-nepuk pundak Ghiffary seraya merapikannya. Meskipun ia seorang CEO perusahaan besar, bukan berarti ia melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri maupun ibu. Ayesha juga menghormati pekerjaan Ghiffary sebagai seorang arsitek tanpa meremehkan apalagi merendahkan karena penghasilannya yang pastinya lebih besar. Bahkan Ghiffary tetap bertanggung jawab dengan anak dan istrinya dengan menyerahkan semua keuangannya pada sang istri dan Ayesha menghargai itu.


Di sela-sela kesibukannya, Ayesha tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus ibu dengan baik. Meskipun tidak semua pekerjaan rumah tangga bisa ia kerjakan, tapi perhatian untuk suami dan anak-anak adalah yang utama. Beruntung Ghiffary tak pernah menuntut. Ia sangat menghargai profesi sang istri. Selagi ia masih bisa mempertanggungjawabkan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri, Ghiffary tidak mempermasalahkannya. Bahkan meski hingga sekarang Ayesha tidak bisa memasak pun, Ghiffary tak pernah mengeluh. Ia justru kerap memasakkan untuk istrinya karena ia memang menyukai itu.


Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat kerja mereka. Karena kantor mereka searah, Ghiffary memilih mengantarkan istrinya ke kantor seorang diri. Karena kesibukan masing-masing, mereka pun selalu berusaha memanfaatkan setiap momen agar dapat bersama termasuk dengan mengantar jemput sang istri. Kecuali bila ia berhalangan, baru lah ia meminta sopir mengantarkan Ayesha.


"Sha-Yang," panggil Ghiffary dengan tatapannya tetap fokus ke jalanan yang cukup padat merayap. Sebab saat pagi seperti ini, bukan hanya para pekerja saja yang sibuk, tapi juga anak-anak yang hendak pergi ke sekolah.


"Iya, kak. Ada apa?" sahut Ayesha. Saat mereka hanya berdua saja, mereka memang tetap menggunakan panggilan seperti sebelum Ayesha melahirkan.


"Tadi Om Azam telepon terus ngabarin kalau Restya dipindahkan ke rumah sakit jiwa," ujar Ghiffary mengejutkan Ayesha.


"Hah? Kakak serius?"


"Hmmm ... Akhir-akhir ini sifat aneh Restya makin menjadi. Ia kerap melamun terus tertawa sendiri. Kadang dia meracau gitu. Dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata memang mentalnya terganggu."


"Sebenarnya kakak nggak kaget lagi sih sebab awal-awal Restya masuk penjara tuh, sikapnya udah rada aneh gitu. Tapi ternyata, makin ke sini, dia makin aneh. Puncaknya, kemarin dia tuh ngamuk-ngamuk, terus pas sipir penjara mau tenangin eh malah makin menjadi. Petugas medis lapas sampai harus menyuntikkan obat penenang supaya bisa membuatnya lebih tenang."


"Semoga dia bisa sembuh ya kak."


"Serius kamu doain dia Sha-Yang? Dia udah nyakitin kamu lho!" Cetus Ghiffary merasa heran pada sang istri yang justru masih mau mendoakan kesembuhan wanita yang pernah nyaris mencelakai dirinya juga calon buah hati mereka.


"Serius dong, kak. Iya sih, dia sudah membuat Yesha dan baby kita nyaris celaka, tapi Yesha nggak mau dendam kak. Memaafkan kan lebih baik daripada mendendam. Hidup lebih tenang dan damai. Siapa tahu, setelah sembuh, dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Ayesha menyampaikan apa yang ada di isi hatinya.


"Kamu baik banget sih, Sha-Yang. Beruntung kakak bisa memiliki kamu. Jadi makin cinta deh," ucap Ghiffary sambil mengulum senyum.


Ayesha terkekeh, "bau-baunya nih kayaknya ada maunya nih? Hayolooo ... "


Ghiffary tergelak lalu mengusap puncak kepala Ayesha yang sudah terbalut jilbab.


"Tau aja nih mommy," seloroh Ghiffary.

__ADS_1


"Lho lho lho, mobil kita kok belok ke jalan ini sih kak?" Seru Ayesha saat mobilnya justru berbelok arah bukan menuju kantor Ayesha.


"Udah selesai kan Sha-Yang? Kakak udah kangen nih?"


"Maksudnya?"


"Dih, pura-pura nggak tahu."


"Serius kak, Yesha nggak ngerti." Alis Ayesha sampai berkerut karena memang ia tidak mengerti.


Kemudian mobilnya berbelok ke arah sebuah hotel membuat Ayesha membelalakkan matanya.


"Ini ... " seru Ayesha yang disambut Ghiffary dengan kerlingan matanya.


"Udah lebih dari 40 hari lho, kakak udah nggak sanggup disuruh puasa lagi. Kamu tahu nggak, setiap lihat baby Shana dan Shani ngemut tuh gunung kembar kamu, rasanya pingin ikutan," ujar Ghiffary dengan tatapan laparnya ke arah puncak dada Ayesha.


"Astaga kak Fary kok tambah mesyum sih! Yesha kan mau ke kantor," sergah Ayesha.


" Tenang aja, urusan itu udah kakak sampein ke Defri. Mumpung nggak ada rapat pagi ini jadi kita skidipawpaw yuk!" ajak Ghiffary yang telah melepaskan sabuk pengaman Ayesha.


Ayesha terkekeh geli kemudian mengangguk,""ayo, siapa takut!" sahut Ayesha seraya mengerlingkan sebelah matanya menggoda membuat Ghiffary tak sabar lagi dan langsung saja melakukan check in di hotel yang mereka datangi.


...***...


...THE END...


...***...


...**Yeay, akhirnya kita sampai di akhir cerita! Yang get pulsa, othor buat pengumumannya besok ya!...


...See you on the next story'....


...Bye bye** ......


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2