
"Cie, akhirnya nikah juga nih ye! Ketulah juga kan. Mana nih yang koar-koar nggak mau sama cowok ganteng?" ledek Ayesha pada Tisya yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Kiandra.
"Puas loe!" hardik Tisya kesal karena harus menikah dengan laki-laki yang menurutnya super nyebelin.
Oryza terkekeh geli melihat perseteruan kedua perempuan itu.
"Puas banget! Sekarang kita adil, udah punya laki semua," sahut Ayesha yang sudah tergelak kencang sambil memegang perutnya. Ia tak menyangka, acara resepsi pernikahan Oryza harus ditutup dengan pernikahan sahabat oroknya, Tisya dengan Kiandra, teman Abang Damar-nya.
"Udah, udah, Sha, nggak kasihan apa itu muka Tisya udah merah gitu," sergah Oryza sambil menahan tawanya.
"Iya nih, mbak. Awas lho, entar dedeknya mirip gue tahu rasa!" gerutu Tisya sambil memicing tajam.
"Ih, ogah mirip sama kamu!" sahut Ayesha kembali tergelak.
"Sha, jangan berlebihan gitu ketawanya! Sampai pegang perut gitu. Sakit kan!" tiba-tiba Ghiffary datang dan berjongkok di samping Ayesha lalu mengusap-usap perutnya yang masih terlihat rata. Namun sudah menunjukkan sedikit tonjolan tanda adanya kehidupan baru di dalam sana. Dapat Ghiffary rasakan perut Ayesha sedikit menegang akibat terlalu banyak tertawa.
Sontak saja Ayesha membulatkan matanya, bagaimana tiba-tiba Ghiffary telah berada di sampingnya.
"Kak Fary, apaan sih! Malu tahu!" desis Ayesha kesal melihat tingkah Ghiffary yang sok perhatian menurutnya.
"Wow, so sweet banget sih laki loe, Sha! By the way, gue baru ingat, bukannya kak Fary itu your cru ... hmmppp ... "
"Shut up your mouth!" desis Ayesha seraya menutup mulut Tisya yang hampir saja membuka aibnya.
"Hhmmmpppp ... " Tisya memberontak agar Ayesha segera melepaskan bekapan tangan di mulutnya membuat Ghiffary dan Oryza yang melihatnya melongo.
"Oke, gue lepas! Tapi awas ya loe sampai ngomong macam-macam, atau Chanel loe, cancel!" bisik Ayesha seraya mendesis membuat Tisya membelalakkan matanya. Lalu dengan cepat, Tisya mengangguk. Mana mau dia mengorbankan hadiah ulang tahun spesial dari sang sahabat orok. Setiap dia akan ulang tahun, Ayesha memang memintanya menentukan sendiri apa yang ia mau sebagai hadiah dan untuk tahun ini ia telah menyampaikan ingin tas Chanel terbaru dan Ayesha pun menyetujuinya. Kapan lagi punya tas harga selangit tanpa perlu mengeluarkan uang sendiri.
__ADS_1
Setelah melihat Tisya mengangguk, Ayesha pun segera melepaskan bekapan tangannya di mulut Tisya.
"Asem! Tega banget loe, Sha. Udah dandan cantik-cantik jadi belepotan gini lipstik gue!" Imel Tisya saat melihat pantulan wajahnya di depan cermin.
"Kamu tadi mau bilang apa, Sya? Aku apa?" tanya Ghiffary yang jadi penasaran dengan kata-kata Tisya yang belum sempat ia ucapkan.
Tisya yang mendapatkan pertanyaan itu lantas melirik Ayesha yang sudah melotot tajam, membuat nyalinya ciut seketika.
"Eng-nggak papa kok, kak! Hehehe ... " Tisya tertawa garing untuk menutupi kebohongannya.
Ghiffary pun hanya mengangguk, tak mempermasalahkannya lagi.
"Aduh," desis Ayesha membuat Ghiffary panik seketika.
"Kenapa?"
"Kamu istirahat aja dulu, Sha. Kamu sedang hamil muda, emang agak rentan. Jangan terlalu kecapean juga!" nasihat Oryza yang diangguki Ayesha.
Dibantu Ghiffary, Ayesha pun segera pergi dari sana. Ghiffary membawa Ayesha ke dalam kamar mereka dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Makasih," ucap Ayesha setibanya di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk mereka. Lal
"Tak perlu berterima kasih, bagaimanapun, kau adalah istriku dan wajib bagiku untuk membantumu terlebih saat ini kau sedang hamil anakku," ujar Ghiffary lembut membuat jantung Ayesha rasanya ingin jumpalitan.
Ghiffary masih belum beranjak dari samping Ayesha. Ayesha yang sedang terpukau dengan kata-kata Ghiffary lantas mematung. Tatapan mata keduanya bertemu, seolah terhipnotis satu sama lain. Pelan-pelan, Ghiffary mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Ayesha yang kian chubby dan menggemaskan membuat wanita itu seolah disengat listrik ribuan volt membuat tubuh perempuan itu kaku seperti manekin hidup.
Melihat wajah cantik Ayesha dengan make tipisnya membuat jiwa kelelakian Ghiffary memberontak. Apalagi saat tatapannya terpaku pada benda merah kenyal merekah di sana membuat Ghiffary ingin rasanya menikmatinya dalam lima*tan hangat dan panas. Memberanikan diri, Ghiffary mencondongkan wajahnya ke wajah Ayesha. Ia bahkan sedikit memiringkan kepalanya agar bibir mereka dapat bersatu. Namun, tiba-tiba Ayesha justru memalingkan wajahnya sehingga bibir Ghiffary justru singgah di pipi Ayesha.
__ADS_1
Ghiffary segera menarik wajahnya sambil memandangi wajah Ayesha dari samping. Terlihat jelas pipi itu bersemu merah. Ghiffary pun tersenyum lalu segera menghempaskan tubuhnya berbaring telentang di tengah ranjang sambil memandangi wajah Ayesha yang kini memandang Ghiffary dengan bingung.
"Sha, kita bulan madu yuk? Bulan madu tipis-tipis," ujar Ghiffary sambil mengulum senyum.
"Hah! Apa kak? Bulan madu? Bukan madu tipis-tipis? Maksud bulan madu tipis-tipis itu kayak gimana? Emang ada?" tanya Ayesha bingung.
"Adalah. Contohnya buat kita ini. Kalau yang menikah dengan cinta kan bulan madunya pasti beneran. Berharap pulang-pulang bawa kabar bahagia karena akan dapat momongan, kalau kita kan nggak kayak gitu. Toh aku udah DP duluan, ya kan dek?" ujar Ghiffary seraya cengengesan sambil mengusap perut Ayesha membuat perempuan itu lagi-lagi menegang karena kontak fisik yang dilakukan Ghiffary secara tiba-tiba. "Aku berharap dengan kita melakukan bulan madu, kita bisa saling mengenal lebih dekat, saling memahami, siapa tahu malah bisa saling jatuh cinta. Siapa tahu kan? Siapa tahu juga kamu pingin mengulang malam itu secara sadar," imbuhnya yang berakhir cubitan keras di perut Ghiffary membuat laki-laki itu tergelak.
"Siapa yang pingin? Bilang aja itu kakak yang mau. Dasar otak mesyum," ejek Ayesha sambil mendelik tajam.
Ghiffary tergelak lalu membalik badannya menjadi tengkurap sambil terus memandangi sang istri.
"Kalau kakak emang mau kenapa? Dibolehin kah? Dosa lho nolak suami," goda Ghiffary sambil mencolek dagu Ayesha.
"Udah ih, malah bahas itu mulu. Aku nggak mau ya! Kakak nggak tahu aja, rasanya tuh sakit banget. Aku nggak mau kayak gitu lagi," tolaknya dengan bibir mengerucut.
"Oh, ya! Jangan takut, Sha! Itu untuk pertama kalinya aja, kalau udah sering justru nikmat. Bikin bagus tahu!"
"Kata siapa bikin nagih? Oh, kakak sering ngelakuin hal itu ya sama cewek-cewek nggak jelas kakak? Iya? Jangan-jangan ada perempuan lain lagi yang kakak hamili?" cecar Ayesha dengan mata melotot.
"Astaghfirullah, sembarangan aja. Gini-gini, kakak tahu mana yang dosa mana yang nggak, Sha. Yang ambil keperjakaan kakak aja kamu kok dan itu juga yang pertama dan terakhir. Belum pernah lagi ngelakuinnya setelah itu. Kecuali kamu mau, baru deh kakak mau coba lagi. Kita coba yuk! Secara sadar pasti lebih asik. Kakak juga mau ngunjungin si dedek. Kasian dedeknya, entar dia ngerasa ayahnya nggak sayang karena nggak pernah ngunjungin dia di dalam."
"KAK FARY ... " teriak Ayesha kesal dengan kata-kata Ghiffary yang malah membuat Ghiffary terbahak karena melihat ekspresi Ayesha yang sedang kesal bercampur malu.
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1