Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.7 Be CEO


__ADS_3

Sesuai rencana, hari ini Ayesha diangkat menjadi CEO Angkasa Grup. Tentu hal tersebut langsung menjadi trending topik karena bukan hanya tampuk kekuasaan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia itu dipimpin oleh seorang perempuan, tapi juga karena Ayesha merupakan seorang gadis yang baru menginjak usia 21 tahun. Usia yang masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin. Apalagi ia juga baru bergabung tetapi sudah diangkat menjadi CEO, membuat orang-orang menganggapnya belumlah pantas. Namun fakta mengejutkan akhirnya tersibak, sebenarnya Ayesha justru telah sejak lama turut berpartisipasi dalam kepemimpinan Angkasa Grup, namun ia hanya bekerja di balik layar. Ia membantu Aglian mengontrol anak-anak cabang Angkasa Grup melalui tangan kanannya sehingga hingga sekarang wajahnya pun tak pernah terekspos. Bahkan saat berita pengangkatan Ayesha sebagai CEO menjadi tajuk berita dan trending topik dimana-mana, para awak media tidak bisa menampilkan wajahnya karena ia belum mau menunjukkan wajahnya di depan media secara langsung.


Kini Ayesha tengah berdiri di hadapan ratusan karyawan Angkasa Grup pusat. Ayesha memasang wajah tegas, datar, dan dingin membuat semua karyawan tak berani menatapnya lebih dari 5 detik. Aura kepemimpinan Ayesha terlihat begitu dominan membuat para karyawan senior seperti direktur dari setiap divisi maupun dewan direksi menatapnya kagum.


"Selamat bekerja, princess. Kalau butuh bantuan, bilang aja ke Papi. Papi kembali ke ruangan papi dulu ya!" ujar Aglian seraya mengusap puncak kepala Ayesha dengan sayang.


"Baik, Pi," sahut Ayesha memasang wajah sumringah.


Setelah mengatakan itu, Aglian pun segera kembali ke ruangannya. Biarpun Ayesha telah menjabat sebagai seorang CEO Angkasa Grup, tapi kekuasaan tertinggi masih dipegang Aglian sebagai chairman. Biarpun ia sudah bisa mempercayakan Angkasa Grup sepenuhnya pada putrinya, tapi Aglian belum mau melepaskan perusahaan itu 100% pada sang putri. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia tak ingin putrinya terlalu kelelahan karena mengurus perusahaan sebesar Angkasa Grup dengan banyak anak cabang yang tersebar hampir di setiap provinsi.


Setelah Aglian keluar, masuk seorang pria dengan pakaian super rapi dan tampan. Dia adalah Defri Sanjaya, asisten pribadi yang ditugaskan Aglian untuk membantu pekerjaan Ayesha.


"Selamat pagi nona. Jadwal Anda hari ini, ada meeting dengan para direktur dari setiap anak cabang Angkasa Grup pada pukul 11 siang sekaligus makan siang bersama. Dan ini dokumen tentang data para direktur cabang yang dipimpin. Dan ini laporan ke keuangan dari setiap divisi yang ada di kantor pusat," tukas Defri seraya menyerahkan satu persatu dokumen pada Ayesha.


Ayesha menerima dokumen tersebut dengan wajah datar dan mempersilahkan Defri keluar setelahnya.

__ADS_1


Setelah Defri keluar, Ayesha pun mulai berkutat dengan tumpukan berkas yang sudah tergeletak di hadapannya dengan teliti. Ia tak ingin membuat satu kesalahan pun. Cukup satu kali ia mengecewakan kedua orang tuanya tanpa mereka ketahui dan ia tak ingin mengecewakan mereka lagi dengan bekerja tidak becus.


Di luar ruangan, Defri tampak melamun sendiri dahi berkerut. Ia merasa heran dengan sikap Ayesha yang tidak seperti dahulu saat ia pertama kali mengenalnya. Diam, dingin, datar, dan tak acuh.


Tak ingin banyak berpikir, Defri segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan segera melakukan tugas-tugasnya.


...***...


"Selamat siang semuanya. Perkenalkan, saya Ayesha Salsabila Putri Angkasa. Saya yakin tuan-tuan yang ada di sini sudah tahu kalau mulai hari ini saya yang menjabat sebagai CEO Angkasa Grup. Saya mohon kerja samanya," ucap Ayesha membuka sesi meeting siang itu.


Melihat Ayesha yang masih tampak begitu muda, membuat para peserta rapat merasa sangsi dengan kemampuan Ayesha memimpin perusahaan sebesar Angkasa Grup. Mereka bisik-bisik di hadapan Ayesha. Ayesha hanya tersenyum tipis menanggapi bisik-bisik tersebut. Jangan harap dia akan menjadi gentar dan insecure dengan praduga orang-orang itu padanya.


Ayesha benci diragukan. Apa yang ia yakini pasti mampu ia genggam. Apakah karena usianya masih terlalu muda jadi ia tak pantas menduduki jabatan sebagai seorang CEO?


Semua orang yang ada di ruangan itu saling memandang satu sama lain. Mereka memang turut bersuka cita saat kabar dimenangkannya tender pembangunan hotel di Seattle. Sebab untuk pertama kalinya Angkasa Grup mengepakkan sayapnya sampai ke benua Amerika dengan kemenangan yang ada di dalam tangan.

__ADS_1


Mereka tidak tahu sama sekali siapa yang turun tangan untuk mengikuti tender. Mereka pikir, pasti pemimpin tertinggi mereka lah yang turun tangan secara langsung, siapa lagi kalau bukan Aglian. Tapi sepertinya mereka salah. Lalu siapa Apa mungkin putri pemilik Angkasa Grup itu? Mereka menggelengkan kepalanya, tak percaya. Mana mungkin pikir mereka.


Ayesha lagi-lagi tersenyum sinis. Lalu ia meminta Defri membuka layar proyektor. Mata semua orang di dalam ruangan itu membelalak sempurna saat melihat foto dimana Ayesha duduk dengan tenang di antara ratusan pihak perwakilan perusahaan yang menaruh minat pada pembangunan hotel di Seattle, Amerika tersebut. Dari foto tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang mewakili Angkasa Grup adalah Ayesha, bukannya Aglian.


"Saya memang masih muda tapi bukan berarti saya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Tidak mungkin ayah saya menyerahkan jabatan ini tanpa memikirkan konsekuensinya. Jadi saya harap, jangan menilai seseorang hanya karena usia. Zaman sekarang, usia tidak bisa menjamin kemampuan seseorang dalam memimpin. Jadi, mulai hari ini, saya mohon kerja samanya agar kita bisa membuat Angkasa Grup semakin berjaya," ucap Ayesha dengan tegas membuat semua orang di dalam ruangan itu berubah pikiran untuk tidak meremehkan seorang Ayesha Salsabila Putri Angkasa.


Selepas meeting, Ayesha lanjut makan siang bersama. Melihat Ayesha yang bujan hanya cantik tapi juga cerdas dan berwibawa, tentu menarik perhatian kaum Adam yang ada di dalam ruangan itu. Yang muda menjadi tertarik ingin mendapatkan Ayesha sebagai pendamping, sedangkan ya tua berharap bisa menjodohkan putra mereka dengan Ayesha. Namun Ayesha hanya menanggapinya dengan tersenyum. Membuat kadar kekaguman semua orang makin meningkat padanya.


Selesai makan siang, Ayesha kembali melanjutkan pekerjaannya di kantor. Saat jarum jam menunjukkan hampir pukul 5 sore, pintu ruangannya diketuk lalu muncullah Aglian di hadapan Ayesha.


"Udah, cukup kerjanya. Masih bisa dilanjut besok. Sekarang waktunya pulang. Papi nggak mau mami marah karena buat anak gadis kesayangannya kecapekan karena kerjaan yang bertumpuk," ucap Aglian yang telah berdiri di hadapan Ayesha.


Ayesha tersenyum lebar lalu segera membereskan berkas-berkas di hadapannya dan bersiap untuk pulang.


Sementara itu, di belahan bumi lain, tampak seorang lelaki sedang duduk di dekat meja resepsionis. Diawasinya setiap orang yang lalu lalang keluar masuk apartemen itu. Tapi setelah 3 hari ia menunggu baik pagi, siang, maupun sore, yang ia cari justru tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Diliriknya rolex yang melingkari lengannya, ia pun menghela nafas panjang. Tak bisa menunggu lagi, ia pun berdiri dan berlalu dari apartemen itu seraya menggeret kopernya.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2