Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 39


__ADS_3

Kini Ayesha dan Ghiffary telah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang ke ibu kota asal mereka tinggal. Sepanjang perjalanan, memang Ghiffary masih begitu perhatian dengan Ayesha, namun kali ini ada sedikit yang berbeda. Ghiffary tidak lagi terlihat usil, bahkan ia cenderung diam. Ayesha jadi penasaran, siapa sebenarnya perempuan yang menabraknya tadi?


'Mungkinkah dia?'


"Kak," panggil Ayesha menyentak lamunan Ghiffary. Ia pun segera menoleh ke samping, dimana Ayesha sedang duduk dengan wajah cemberut.


"I-iya, Sha-Yang. Kenapa?" tanyanya sedikit gelagapan.


Mendengar Ghiffary memanggilnya Sha-Yang, sontak saja Ayesha menaikkan sebelah alisnya.


"Sha-Yang?" beo Ayesha dengan wajah geli.


"Iya, Sha-Yang, singkatan dari Ayesha-Sayang, kenapa?"


"Ck ... padahal Yesha tadi mau ngambek lho tapi nggak jadi," ujarnya sambil mengulum senyum yang.


"Kenapa nggak jadi? Terus emang kakak buat salah apa sampai kamu mau ngambek?"


"Nggak jadi karena panggilan kakak ke Yesha, terus kenapa ngambek? Kakak nggak sadar kakak tu sejak tadi melamun. Cuekin aku. Sebel banget tau. Pasti ini ada hubungannya sama cewek tadi. Emang siapa dia sih? Kayaknya bukan kenalan biasa deh," ketus Ayesha. Ia yang tadi berkata tidak jadi ngambek, malah kembali ngambek. Wajahnya langsung berubah masam saat mengingat perempuan yang tadi menabraknya.


"Sha-Yang nya kakak ngambek nih ye! Uluh-uluh, makin gemesin kalau ngambek gini," rayu Ghiffary sambil menoel pipi Ayesha yang semakin bulat akibat kehamilannya.


"Apaan sih? Sebel deh!" ketus Ayesha sambil menepis tangan Ghiffary.


"Maaf, jangan marah ya Sha-Yang nya kakak yang cantik. Kakak cuma shock aja bisa ketemu dia tadi."


"Emangnya siapa dia? Apa dia ... "


Ghiffary mengangguk pasti, seolah tahu apa yang akan diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Ya, dia Restya," ucapnya sambil tersenyum tipis. "Jangan salah paham, kakak bukannya masih memikirkan dia. Hanya terkejut aja. Nggak lebih. Maafin kakak ya!" melas Ghiffary dijawab Ayesha dengan anggukan. "Makasih istrinya kakak yang cantik. Kamu memang yang terbaik. Tapi beneran kan, kamu nggak papa? Perutnya juga, nggak papa kan?"


"Nggak. Yesha nggak papa kok," sahutnya datar sambil mengedikkan bahunya.


Ghiffary hanya bisa menghela nafasnya. Mood swing pada perempuan hamil itu memang ngeri-ngeri sedaaap. Bikin kita suka kebingungan sendiri.


Setibanya di bandara, sebuah mobil jemputan yang disediakan Aglian telah menunggu di depan bandara. Kedua mertua Ghiffary itu memang meminta mereka berdua menginap di sana. Tentu bukan tanpa alasan, keduanya begitu menyayangi Ayesha, tentu mereka juga sangat merindukan anak perempuan satu-satunya di istana megah milik Aglian itu.


"Assalamu'alaikum Mi, Pi," seru Ghiffary dan Ayesha bersamaan. Lalu keduanya bersalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tua mereka.


"Wa'alaikum salam, sayang. Syukurlah, kalian sudah sampai," seru Luna merasa bahagia melihat kedatangan putri dan juga menantunya. "Apa kabar kalian? Calon cucu mami, baik kan?"


"Kabar kami Alhamdulillah baik, Mi. Calon cucu mami dan papi juga," jawab Ayesha sambil duduk memeluk erat lengan Aglian. Aglian pun mengusap kepala Ayesha dengan sayang. Ia tak menyangka putri kecilnya telah menikah bahkan tak lama lagi akan menjadi seorang ibu.


"Bagaimana proses pembangunan Savior Hotel di Lombok? Apa berjalan lancar?" tanya Aglian.


"Insya Allah, Pi. Sejauh ini, semua berjalan lancar. Nggak ada kendala sama sekali," sahut Ayesha.


Di kamar,


Kini Ayesha sedang setengah berbaring di atas ranjang miliknya sambil memeriksa beberapa laporan yang dikirimkan Defri via email. Sedangkan Ghiffary, ia masih mandi di kamar mandi. Saat sedang fokus memeriksa email, tiba-tiba ponselnya berdering. Saat diperiksa ternyata itu panggilan dari nomor tak dikenal. Ayesha pun memilih mengabaikannya. Ia memang enggan mengangkat panggilan yang tidak ia kenal.


Namun ternyata si penelpon tak juga bosan untuk menghubungi. Ayesha lihat, sudah ada 10 panggilan dari nomor yang sama. Setelah menimbang sesaat, ia pun mengangkatnya. Mungkin itu nomor baru dari kenalannya, pikirnya.


"Halo," ucap Ayesha saat panggilan itu ia angkat. Tapi ternyata tak ada suara sama sekali dari seberang sana. Ayesha pikir mungkinkah orang itu telah menutup panggilannya, namun ternyata tidak. Panggilan itu masih terhubung.


"Halo, siapa di sana? Jangan main-main dengan saya!" tegas Ayesha tapi tetap saja orang itu tak mengeluarkan suara sama sekali.


"Kalau kau tidak ingin bicara sama sekali, baiklah panggilan ini akan segera saya tutup."

__ADS_1


Tapi belum sempat Ayesha menekan icon merah di layar ponselnya, tiba-tiba orang yang menelpon Ayesha itu bersuara.


"Senang mendengar suaramu lagi cantik."


Deg ...


Ayesha terkejut setengah mati. Ia lantas melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur.


"Kamu kenapa, Sha-Yang? Kok muka kamu mendadak pucat gitu? Kamu sakit?" cecar Ghiffary sekeluarnya dari kamar mandi. Ghiffary bahkan langsung duduk di tepi tempat tidur untuk memeriksa keadaan istrinya.


"Ng-nggak, kak. Perut Yesha cuma tiba-tiba aja kayak keram gitu," ucapnya. Bukannya berkilah, tapi itu memang benar. Setelah mendengar suara tadi mendadak perut Ayesha terasa keram. Ghiffary pun segera mengambil minyak kayu putih dan membalurinya di perut Ayesha sambil mengusap-usapnya dengan pelan. Tak lama kemudian, rasa keram itu mendadak hilang berganti menjadi rasa nyaman. Bahkan Ayesha sampai menguap kemudian tertidur dengan posisi setengah duduk.


Melihat sang istri sudah tertidur, Ghiffary pun membantu Ayesha berbaring dengan nyaman. Kemudian ia mengusap pelan pipi Ayesha dan mengecup dahinya. Perlakuan Ghiffary memang sangat manis. Hal inilah yang membuat Ayesha heytu cepat luluh.


Ghiffary yang melihat ponsel Gea terkapar di tengah-tengah kasur lantas mengambilnya dan memeriksanya. Tidak ada yang aneh kecuali beberapa panggilan terjawab beberapa menit yang lalu ada satu buah panggilan yang dijawab Ayesha. Ghiffary menerka-nerka, siapa orang yang menghubungi istrinya itu sampai membuatnya begitu tegang hingga perutnya mendadak keram. Ghiffary pun segera menyimpan nomor itu di ponselnya untuk ia cari tahu nanti.


Setelahnya Ghiffary segera menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian yang sempat ia simpan saat pertama kali menginap di sana. Kemudian Ghiffary pun segera ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri sambil memainkan ponselnya. Karena mengantuk, Ghiffary pun hendak meletakkan ponselnya di atas nakas. Namun tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk dari nomor tak dikenalnya.


[Ghif, aku mohon tolong aku!]


Ghiffary mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang tidak ia ketahui dari siapa itu. Tapi dari cara ia memanggilnya, sepertinya ia merupakan orang yang mengenalnya cukup baik, tapi siapa sebab itu merupakan nomor yang tak dikenalnya. Lantas ia pun segera membalas pesan itu.


[Siapa?]


[Ini aku, Tya-Mu. Aku mohon Ghif, tolong aku! Selamatkan aku!]


Balas orang itu lagi. Ghiffary sempat mengerutkan keningnya. Enggan meresponnya lagi, Ghiffary justru memilih mematikan ponsel dan memeluk Ayesha, ikut menyusul ke alam mimpi sang istri.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2