
"Bu, jadwal siang ini Anda ada makan siang dengan pihak WR Construction sekaligus penandatanganan kerjasama untuk pengadaan bahan konstruksi Savior Hotel," tukas Defri mengingatkan jadwal atasannya.
Mengabaikan perasaannya yang baru saja bermekaran namun harus segera berguguran, Defri tetap berusaha bersikap profesional. Bahkan kini Defri memanggil Ayesha ibu sebab perempuan yang ia kagumi itu telah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak. Sebenarnya masih banyak rasa penasaran di benak Defri mengenai bagaimana hubungan antara atasannya itu dan arsitek rekan kerja mereka. Tapi ia tak mungkin melewati batasan antara atasan dan bawahan dengan bersikap kepo.
Setelah mendapatkan anggukan dari Ayesha, Defri pun segera meninggalkan ruangan Ayesha dan kembali ke ruangannya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Ayesha pun segera bersiap untuk bertemu dengan pimpinan WR Construction di sebuah restoran yang memang telah ditetapkan sebelumnya.
Ayesha dan Defri berjalan bersisian menuju lift yang akan langsung mengantarkan mereka ke lobby kantor. Setibanya di depan lobby, sebuah mobil SUV keluaran terbaru telah terparkir dan seorang sopir yang telah berdiri siaga di sampingnya untuk membukakan pintu bagi Ayesha, sedangkan Defri duduk di sebelah kursi pengemudi.
Setelah ketiganya telah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman, mobil pun segera melaju meninggalkan area Perusahaan Angkasa Grup.
Setibanya di restoran yang dituju, Defri langsung menuntun Ayesha ke sebuah meja yang telah direservasi pihak WR Construction.
"Selamat siang. Maafkan kami yang sedikit terlambat," ujar Ayesha setelah berdiri di samping meja rekan bisnisnya.
"Ayesha," seru laki-laki yang tadi tengah duduk sambil menyibukkan dirinya dengan layar tabletnya.
Ayesha tampak mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat apakah ia mengenal rekan bisnisnya ini, "kamu?"
"Tirta, aku Tirta Wiratama. Kita pernah bertemu di Bali pasca insiden pengendara mobil ugal-ugalan," ujar Tirta mengingatkan Ayesha membuat Ayesha membulatkan matanya.
"Astaga, kamu Tirta yang itu! Duh, maaf, aku benar-benar lupa sama penolong aku ini!" ujar Ayesha sambil nyengir.
"Ck ... penolong apaan! Kebetulan aja aku ada di lokasi yang sama waktu itu!"
"Tapi beneran deh, kalau kamu nggak ada entah gimana nasib aku sekarang!"
"Yang nggak gimana-gimana, kamu bakal tetap jadi Ayesha yang cantik, smart, dan punya banyak penggemar," ujar Tirta yang sudah tersenyum lebar. "Oh ya, sampai lupa! Silahkan duduk!" ujar Tirta mempersilahkan Ayesha duduk, lalu Defri. "Kita sambil makan ya, mau makan apa?" tawar Tirta.
Karena masih sering mual saat makan, Ayesha jadi bingung sendiri harus makan apa. Hanya buah-buahan yang bisa masuk de dalam perutnya tanpa kompromi. Selain itu, apalagi masakan berbumbu, ia tak sanggup menelannya atau ia akan berakhir muntah-muntah.
"Bu, mau makan apa? Biar saya pesankan!" ucap Defri sambil menyodorkan daftar menu.
"Emmm ... aku mau salad buah aja. Minumnya air putih hangat, udah itu aja," ujar Ayesha membuat yang dipatuhi Defri, sedangkan Tirta ia justru mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu nggak makan nasi? Oh ya, gadis-gadis zaman sekarang rata-rata memang gitu ya! Mereka mengatur pola makan untuk menjaga kesehatan," ujar Tirta dengan asumsinya yang hanya ditanggapi Ayesha dengan senyuman.
"Jadi kamu itu pimpinan WR Construction?" tanya Ayesha. "Setahu aku pimpinannya itu Pak Arfan?" tanya Ayesha.
"Iya, mulai seminggu yang lalu aku udah menjabat pimpinan WR Construction menggantikan papa. Papa jantungnya kumat jadi mesti banyak istirahat. Seharusnya kakak aku yang pegang WR Construction, tapi kakak aku nggak mau. Bukan passionnya katanya. Kakak aku lebih suka jadi broker. Katanya lebih menantang dan memuaskan bila target tercapai. Terus kamu? Kamu mewakili Angkasa Grup kan? Apa kamu?"
Ayesha tersenyum lebar, "ya, aku CEO Angkasa Grup yang baru," sahut Ayesha santai.
"Wow! Amazing! Gadis semuda kamu udah jadi CEO perusahaan sebesar itu? Ck ck ck ... aku benar-benar nggak nyangka. Aku pikir kamu itu masih anak SMA lho, atau anak kuliahan gitu, taunya ... " Tirta tak henti-hentinya berdecak kagum pada Ayesha.
"Udah ah yuk, kita makan aja dulu. Setelah itu, baru kita lakukan penandatanganan kerjasama kita," tukas Ayesha setelah makanan mereka telah terhidang.
"Oke!" ucap Tirta.
Lalu mereka pun makan siang sambil berbincang. Sesekali Ayesha tertawa membuat wajah cantiknya kian bersinar. Apalagi Tirta ternyata cukup humoris membuatnya cukup terhibur.
Pintu masuk restoran terbuka, beberapa orang masuk ke dalam sana. Kemudian salah satu dari mereka berhenti saat mendengar tawa dari seseorang yang dikenalnya. Mata orang itupun mengedar mencari siapa pemilik tawa indah itu. Matanya menyipit saat melihat seseorang yang belum lama dikenalnya tengah makan dengan 3 orang pria sambil tertawa renyah. Ada rasa tak suka dalam diri Ghiffary. Namun, ia tak mungkin mempermalukan diri sendiri dengan menyambangi keempat orang itu secara tiba-tiba. Jadi ia pun melangkah mencari meja yang tak jauh dari meja Ayesha.
Saat berjalan melewati meja Ayesha, ia menyempatkan melirik apa yang Ayesha makan siang ini. Ia menghela nafasnya saat melihat Ayesha hanya menyantap salad buah dan sayur. Kemudian ia pun duduk di salah satu meja tak jauh dari posisi Ayesha. Ia datang ke sana untuk melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya. Siapa sangka, ia justru melihat keberadaan Ayesha. Hatinya makin tak tenang melihat bagaimana Ayesha bisa tertawa begitu ceria dengan orang lain, sedangan dengan dirinya Ayesha lebih sering bersikap ketus.
...***...
Pintu ruangan kerja Ayesha terbuka, lalu Ghiffary masuk ke sana dengan santainya membuat Ayesha yang tengah berkutat dengan pekerjaan lantas mendongak.
"Kau ... ngapain datang kemari? Masuk seenaknya. Kau pikir ini ruangan nenek moyangmu!" ketus Ayesha membuat Ghiffary mendelik tajam.
"Memangnya kenapa? Apa salah aku masuk ke ruang kerja istriku sendiri? Atau kamu takut kalau kepergok sedang hahahihi sama teman-teman lelakimu?" celetuk Ghiffary dengan wajah masam. Ia masih kesal dengan ekspresi Ayesha yang begitu ceria saat berbincang dengan seorang pria yang entah itu teman atau rekan kerjanya di restoran tadi.
Dahi Ayesha berkerut-kerut karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan lelaki yang telah berganti status sebagai suaminya itu.
"Maksudnya?" tanya Ayesha bingung.
"Sudahlah. Lebih baik kau makan dulu. Kenapa tadi hanya makan salad saja? Kau tahu kan, ibu hamil itu memerlukan nutrisi yang 2 kali lipat lebih banyak dari perempuan biasa," tukas Ghiffary seraya menyiapkan makan siang Ayesha di meja yang ada di sana.
Mata Ayesha mengerjap polos, dalam hitungan detik ia pun membelalakkan matanya, "jadi kak Fary tadi ada di restoran itu juga? Kok aku nggak lihat?" tanya Ayesha yang sudah berpindah ke sofa di mana makan siangnya telah terhidang.
__ADS_1
Ghiffary tidak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya acuh. Enggan bicara.
"Dia itu rekan kerja aku, kak. Dia juga penolong aku. Tempo hari saat di Bali, aku hampir ketabrak mobil yang sopirnya mabuk jadi bawa mobil ugal-ugalan. Untung aja ada dia, kalau nggak mana mungkin aku masih di sini jadi istri kamu," tukas Ayesha menjelaskan. Namun, Ghiffary hanya bungkam sambil mendengarkan.
Ayesha menghela nafas, didiamkan ternyata nggak enak juga. Mending mereka adu mulut pikirnya.
"Btw, thanks makanannya. Tau aja aku lapar," ucap Ayesha sambil menyantap makanan yang ternyata dipesan dari restoran yang sama dengan tempatnya tadi.
"Kenapa kau tidak memesan makanan lain di sana tadi? Itu kan aku beli di resto itu juga?" tanya Ghiffary yang masih tampak bingung.
"Nggak tahu deh kalau aku pesan makanan sendiri atau dipesankan orang lain, pasti aku jadi mual. Tapi kalau kakak yang beliin anehnya aku nggak mual," ujar Ayesha tanpa sadar membuat Ghiffary tersenyum. Setelah selesai, Ayesha segera membereskan peralatan makannya kemudian mencuci tangan.
'Anak ayah pintar. Ternyata kamu mau mendekatkan ayah dan bunda ya? Anak pintar.'
"Kak Fary kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Ayesha sekeluarnya dari kamar mandi.
"Nggak," jawabnya acuh lalu Ghiffary berdiri dan mendekat ke arah Ayesha.
"Kak Fary mau ngapain?" tanyanya takut-takut.
"Aku cuma mau bicara dengan anak kita," tukasnya membuat Ayesha cengo. Kemudian Ghiffary sedikit membungkukkan badannya dengan wajah mendekat ke perut Ayesha,. "anak ayah baik-baik ya di dalam. Jagain Bunda! Bilangin nggak boleh nakal! Cup ... "
"Kak Fary," pekik Ayesha terkejut karena Ghiffary baru saja mencium perutnya.
"Kenapa? Mau juga? Dek, ternyata Bunda kamu irian juga ya! Nggak terima kamu dicium, bundanya nggak. Ya udah, karena ayahmu ini baik hati dan adil, jadi ayah akan cium bunda juga. Cup ... "
Ghiffary mengecup sudut bibir Ayesha dengan cepat lalu ia pun segera melangkah menjauh meninggalkan Ayesha yang tengah mematung.
"Kak Fary," teriaknya saat sudah sadar apa yang baru saja Ghiffary lakukan. Ghiffary tertawa hingga terbahak-bahak karena berhasil mencuri ciuman sekaligus menjahili istrinya itu. Entah mengapa ia sekarang jadi jahil. Ia merasa begitu menyenangkan bisa menjahili wanita yang tengah mengandung anaknya itu.
Sekeluarnya Ghiffary dari ruangannya, Ayesha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya merah padam. Ia tak menyangka Ghiffary orang yang cukup usil. Tanpa sadar, Ayesha mengulum senyum. Entahlah, ia merasa perasaannya seakan sedang berbunga-bunga.
...***...
Duh, maafin kemarin othor nggak up soalnya semalam ngantuk berat! Makasih yang masih setia nungguin update cerita othor. Semoga Minggu nya menyenangkan. π₯°
__ADS_1
...Happy Reading π₯°ππ₯°...