
Setelah Defri pergi untuk membuat buket bunga mawar itu, Ayesha segera menghubungi Aglian untuk menanyakan apakah pengawal yang biasa ditugaskan ayahnya itu masih sering menjaganya. Kemudian Ayesha menceritakan perihal kemunculan sosok laki-laki yang menjebaknya saat itu. Siapa lagi kalau bukan Ramon. Entah apa tujuan kedatangannya hingga rela melintasi benua sampai ke negara ini, Ayesha belum tahu. Namun ia akan lebih berhati-hati ke depannya.
Sementara itu, di lobi kantor Mega Architecture, tampak seorang perempuan yang celingukan mencari sesosok laki-laki yang dikenalnya. Senyumnya mendadak melebar saat netranya menangkap sosok yang ia tunggu-tunggu.
"Ghiffary, bisa kita bicara sebentar?" ucapnya tiba-tiba seraya berdiri di hadapan Ghiffary membuat laki-laki itu mengerutkan kening. Mengapa perempuan itu ada di sana? Dan bagaimana ia tahu ia bekerja di sana?
"Mau apa kau ke mari? Apa lagi yang perlu kita bicarakan? Tidak ada bukan. Kita berdua sudah tak ada kepentingan apa-apa lagi. Jadi untuk apa kau ke mari? Sebaiknya kau pergi dari sini!" ucap Ghiffary datar membuat perempuan itu langsung bersimpuh di kaki Ghiffary.
"Ghif, aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku. Bukan mau ku melakukan itu, Ghif. Percayalah. Aku terpaksa. Aku ... aku dan keluargaku tak berdaya. Kami dalam ancaman karena itu aku terpaksa menerima tawaran pernikahan itu. Aku mohon, maafkan aku, Ghif," Raung perempuan yang ternyata Restya itu, sang mantan kekasih Ghiffary.
"Kau pikir aku akan luluh dengan ucapanmu itu? Lebih baik kau pergi sana, aku tak ingin bertemu denganmu lagi," ucap Ghiffary dingin.
"Aku mohon, Ghif. Aku mohon bicara sebentar dengan ku. Aku butuh bantuanmu, Ghif. Tolong aku! Tolong selamatkan aku. Aku ... aku ... "
Ghiffary menghela nafas panjang, kemudian menyentak tangan Restya yang menahan kakinya. Lalu dengan langkah panjang, ia masuk ke mobilnya yang telah dibawakan valet parking. Kemudian, Ghiffary pun melajukan mobilnya meninggalkan Restya yang masih meraung di lantai.
...***...
Tok tok tok ...
"Masuk," seru Ayesha dengan jemari masih sibuk menekan tombol di atas papan keyboard laptopnya. Matanya pun tampak begitu fokus ke layar sehingga tidak menyadari siapa yang masuk ke ruangannya.
"Kayaknya istriku sedang sibuk banget sampai nggak nyadar suaminya datang," celoteh Ghiffary sambil menyusun menu makan siang yang ia bawa.
__ADS_1
Sontak saja kalimat yang diucapkan Ghiffary itu membuat Ayesha tersentak. Ia benar-benar tidak menyadari kedatangan Ghiffary ke ruangannya.
"Astaghfirullah," seru Ayesha yang benar-benar terkejut. "Maafkan, nggak nyadar. Emang sibuk banget sih. Sedang dikejar deadline soalnya. Entar ajak sorean ada meeting dengan beberapa pemegang saham," ujar Ayesha sambil meringis.
Ghiffary terkekeh, "udah, nggak papa. Cuci tangan gih, terus kita makan. Kakak udah bawain kamu soto Banjar sama nasi dan lauk-pauknya. Kamu suka kan menunya?"
"Soto Banjar? Wah, kakak tau aja aku pingin makan itu!" serunya dengan mata berbinar. Ayesha tak menyangka, ikatan batin calon anak dan ayahnya ini begitu kuat. Tanpa ia perlu banyak bicara, Ghiffary selalu tahu apa yang ia inginkan.
Ayesha sampai melehoi-lehoi karena perhatian Ghiffary. Entah atas dasar apa ia melakukan semua ini. Apakah atas dasar tanggung jawab ataukah karena cinta?
'Astaga, kak Fary kok perhatian banget sih? Apa itu karena dia udah mulai mencintaiku ya? Ah, mana mungkin! Itu pasti karena sebagai pertanggungjawabannya aja. Bagaimana pun aku sedang mengandung calon anaknya.' Batin Ayesha.
"Sha, ngelamunin apa sih?" panggil Ghiffary membuat Ayesha tersentak dari lamunannya.
"Ah, itu ... maaf kak! Aku cuma lagi kepikiran kerjaanku aja. Yuk kita makan!" ajak Ayesha. Namun baru saja ia hendak mengambil nasi, Ayesha tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Lho, piringku mana kak? Kok cuma satu aja?" tanya Ayesha heran sebab piringnya tiba-tiba tak ada.
"Ck ... makin hari makin gombal aja," cibir Ayesha.
"Lho kok gombal? Aku serius, Sha-Yang."
"Udah ah, ngomel terus dari tadi. Kapan mulai makannya coba? Udah lapar nih!" Rajuk Ayesha membuat Ghiffary gemas dan mengecup sudut bibirnya.
"Cium dulu, baru makan," ujarnya sembari terkekeh kemudian ia mulai menyuapi Ayesha bergantian dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
...***...
Sore hari, Ayesha baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan beberapa pemegang saham. Setelahnya ia berniat pergi ke supermarket. Ayesha sebenarnya tidak bisa memasak, tapi rasanya malu juga kalau Ghiffary terus yang melayani perihal makanannya. Ia ingin sekali membuatkan sesuatu untuk suaminya. Jadilah sore ini ia pergi ke supermarket dan memilah beberapa sayuran yang dikenalnya saja. Ayesha benar-benar buta perihal urusan dapur. Karena sejak kecil ia hanya sibuk berkutat di depan buku, ia sampai lupa kodratnya sebagai perempuan. Apalagi kalau bukan melayani sang suami. Termasuk dengan menghidangkan makanan hasil masakannya sendiri.
Bukankah ia gadis yang cerdas? Ia yakin, ia takkan kesulitan untuk memasak menu yang sempat ia searching di mbak gulgul.
Puas berkeliling memilih aneka sayuran dan buah, Ayesha pun segera mendorong troli menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Setelah selesai melakukan pembayaran, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Ayesha membuat perempuan yang tengah hamil itu menoleh. Matanya terbelalak kaget saat melihat sosok di hadapannya.
"Kau," desis Ayesha dengan tatapan memicing tajam.
"Ya, kenapa?" tanya laki-laki itu dengan memasang wajah tanpa dosa membuat Ayesha kian geram. Andai ia tidak sedang berada di tempat umum, sudah ia tendang kejantanan laki-laki itu sangking ia begitu kesal melihatnya.
"Mau apa kamu? Awas ya kalau kamu macam-macam lagi, aku pastikan kau akan mendapatkan pelajaran yang lebih menyakitkan!" desis Ayesha membuat laki-laki itu menghela nafasnya.
"Bisa kita bicara sebentar! Tidak enak bicara di sini. Kau dengar, mereka sudah pada protes agar kau segera menyingkir dari sini ," ujar laki-laki itu dengan bahasa British nya sambil menunjuk ke arah deretan pembeli yang telah antri untuk melakukan pembayaran.
Dengan berat hati, Ayesha memberikan jalan pada pembeli yang rata-rata ibu-ibu itu.
"Apalagi yang perlu kita bicarakan? Kalau kau hanya ingin kembali berniat buruk padaku, lebih baik kau segera menyingkir karena aku takkan mungkin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali," desis Ayesha membuat laki-laki itu meringis.
...***...
__ADS_1
Ampun deh, gara-gara ngantuk pake banget pas ngetik, jadi semua ketikan othor kedelete. Ibarat kata, sakit tapi nggak berdarah. Jemari ampe pegel, tapi yang diketik zonk. Alhasil, othor telat update deh! πππ Terpaksa ketik ulang. Othor butuh kopi deh kayaknya. βββ
...Happy Reading π₯°ππ₯°...