Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 23 Kepergok


__ADS_3

"Heh, kamu, mulai besok kita tinggal di apartemenku saja, bagaimana?" tanya Ayesha tiba-tiba saat Ghiffary masuk ke dalam kamar.


Ghiffary mengerutkan keningnya, "hah heh hah heh, aku punya nama. Lagi pula tidak sopan memanggil suami seperti itu!" ketus Ghiffary segera berlalu dari sana masuk ke kamar mandi.


Ayesha mengerucutkan bibirnya, "jadi kau mau dipanggil apa?" pekik Ayesha tak peduli kalau Ghiffary telah masuk ke kamar mandi.


Lalu Ghiffary muncul lagi dari balik pintu kamar mandi. Ia hanya menyembulkan kepalanya saja untuk menjawab pertanyaan sang istri, "apa ya? Hmmm ... Abang, mas, cinta, sayang juga boleh. Mau pilih yang mana?"


Mendengar hal tersebut sontak saja membuat Ayesha mual dan segera berlari menuju kamar mandi. Ghiffary melongo melihat Ayesha yang masuk ke kamar mandi begitu saja.


Baru saja Ayesha mengangkat wajahnya setelah mencuci mulutnya, tiba-tiba ia menjerit kemudian menutup wajahnya yang sudah merah merona. Ghiffary yang melihat itu, sontak saja tergelak dan menggodanya.


"Nggak usah pake jerit-jerit. Kamu sengaja kan masuk ke sini ingin melihat tubuhku sixth pack atau zero pact?" goda Ghiffary sambil menyeringai. Bahkan ia tanpa rasa malu memamerkan tubuh kekarnya yang hanya dibalut segitiga bermuda ke arah Ayesha membuat Ayesha merasa malu luar biasa.


"Kak Fary me*sum ih!" rengek Ayesha tanpa sadar. Si ketus dan galak itu tidak sengaja mengeluarkan sifat manjanya di depan Ghiffary membuat Ghiffary kian senang menggodanya.


"Uluh uluh, manis banget! Ulangi ... ulangi lagi!" bisik Ghiffary yang sudah berdiri di samping Ayesha.


Ayesha lantas mengintip dari celah jarinya dengan menghadap cermin, "ulangi apa?" tanya Ayesha bingung.


"Itu tadi, panggil aku apa tadi?" balas Ghiffary yang juga menatap Ayesha dari cermin, namun bibirnya begitu dekat dengan telinga Ayesha.


"Nggak mau," ketus Ayesha.


"Nggak mau? Bener?" ancam Ghiffary sambil menyeringai.

__ADS_1


"Iya, nggak mau. Kenapa? Mau ngancam?" tantang Ayesha masih dengan telapak tangan berada di wajah dan satu bola mata mengintip dari celah jemarinya.


"Ayo, ulangi lagi, kalau nggak ... "


"Kalau nggak apa?"


"Kalau nggak, aku cium, hayo, pilih yang mana?"


"Nggak takut! Weeek ... "


Ayesha dengan cepat membalik badannya hendak keluar dari kamar mandi. Namun baru satu langkah ia keluar dari kamar mandi, telapak tangan lebar Ghiffary telah mencekal tangannya dan menyentaknya sehingga membentur dada Ghiffary.


"Ternyata kamu berani juga ya! Atau emang sengaja mau aku cium? Okelah, tuan putri, sesuai permintaanmu!"


Cup ...


"Hati-hati, Sha! Ingat, kamu itu sedang hamil!" peringat Ghiffary membuat jantung Ayesha makin tak karuan dibuatnya.


Ayesha membuang wajahnya agar tidak melihat wajah Ghiffary yang begitu dekat dengannya. Bukan hanya wajah, tapi tubuh mereka pun kini menempel sempurna. Bahkan ia bisa merasakan kulit Ghiffary yang menempel dengan kulitnya. Ayesha merasa desir-desir tak biasa di tubuhnya. Tubuhnya menegang, darahnya berdesir, otaknya tiba-tiba buntu, dan bibirnya kelu. Wajahnya bahkan sudah merah seluruhnya membuat Ghiffary mengulum senyum.


Ghiffary pun tak kalah rikuhnya, namun anehnya ia justru tidak melepaskan rengkuhannya. Entah mengapa, ia pun ikut mematung memandangi wajah Ayesha yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Ghiffary menelan ludahnya, bolehkah ia mengecup bibir itu sekali lagi, pikirnya?


"Lepas!" ketus Ayesha pelan.


Ghiffary pun melepaskan rengkuhan itu dengan perasaan canggung. Ia menggaruk tengkuknya salah tingkah. Ia sampai lupa hanya mengenakan segitiga bermudanya saja.

__ADS_1


"Kak Fary, masuk sana ih! Nggak tahu malu banget pake kolor aja kayak gitu!" pekik Ayesha sembari berjalan cepat kemudian naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut miliknya.


Ghiffary pun menunduk ke bawah dan matanya membulat, ia benar-benar lupa kalau masih mengenakan segitiga bermudanya saja.


"Astaga, apa yang ada dalam otakmu Ghiffary sampai lupa kalau hanya mengenakan si kolor ijo saja!" Ghiffary merutuki dirinya sendiri tak habis pikir dengan tingkahnya sendiri.


Di dalam kamar mandi, Ghiffary tak henti-hentinya tersenyum, mengingat tingkah absurdnya barusan. Juga kecupan kilatnya tadi. Entah sejak kapan, Ghiffary merasa kalau ia sudah mulai tertarik dengan istrinya itu.


"Kak Fary? Enak juga dipanggil Kak Fary. Tapi panggilan itu kok kayak nggak asing ya?" gumam Ghiffary yang memang baru kali ini mendapatkan panggilan seperti itu sebab selama ini orang-orang kerap memanggilnya Ghif saja atau Ghiffary, tapi Ayesha justru memanggilnya Fary, kak Fary. Entah mengapa ia merasa panggilan itu tak asing di telinganya. Entahlah.


...***...


Ghiffary baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah berpakaian, ia pun segera menghampiri Ayesha yang ternyata telah larut dalam tidurnya. Dengan perlahan, Ghiffary pun segera menyusul dengan berbaring di sampingnya. Dipandanginya wajah cantik Ayesha, Ghiffary mengulas senyum. Melihat bibir Ayesha yang tampak sedikit pucat, justru membuatnya kembali penasaran ingin merasakan kecupan itu lagi. Dia lelaki normal. Melihat perempuan yang halal untuknya tentu saja membuatnya tergoda. Bila dahulu ia kerap menghindari sentuhan fisik berlebih dengan kekasihnya karena status yang belum mengizinkan, maka kini bolehkah dia merasakan sentuhan fisik itu? Bukankah Ayesha istrinya sendiri.


"Sha, aku boleh kan menciummu sekali lagi?" gumam Ghiffary pelan seraya berbisik.


Lalu Ghiffary pun mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir Ayesha, namun belum sempat bibir itu menyentuh bibir Ayesha, mata Ayesha tiba-tiba terbuka.


Ghiffary yang terkejut pun segera menarik wajahnya dan membalik tubuhnya menyamping. Dipejamkannya matanya rapat-rapat, malu. Ia benar-benar malu. Bisa-bisanya ia terpergok ingin mencium perempuan itu. Meskipun Ayesha adalah istrinya, tapi mereka belum sedekat itu untuk melakukan hal itu. Tidak mendapatkan tamparan dari Ayesha tadi saja ia harusnya sudah bersyukur, tapi dasar dirinya yang mendadak serakah, ingin kembali merasakan kecupan itu walaupun hanya singkat tapi efeknya ternyata luar biasa.


'Astaga Ghiffary, kamu malu-maluin banget sih jadi orang! Bisa-bisanya kamu kepergok kayak gitu! Entah apa yang ada di pikiran Yesha sekarang. Bisa-bisa ia mengira aku ini lelaki me*sum karena berusaha menciumnya saat ia sedang tertidur. Aaargh ... bagaimana ini?' Ghiffary mengerang frustasi dengan apa yang barusan terjadi.


Sementara itu, Ayesha masih mematung dan tak bergeming. Ia masih mencerna apa yang hendak dilakukan Ghiffary tadi padanya?


'Apa dia sedang mencoba mencari keuntungan saat aku sedang tertidur? Astaga, bisa-bisanya! Jangan-jangan dia beneran cowok me*sum!' batin Ayesha yang sudah sibuk dengan asumsinya sendiri.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2