Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 29 Sakratul maut


__ADS_3

"Kita langsung kembali ke kantor atau ada yang ingin Anda mampiri dulu, Bu?" tanya Defri setelah masuk ke dalam mobil.


"Ke kantor aja langsung. Banyak dokumen yang perlu kita periksa," ujar Ayesha.


"Baik, Bu," sahut Defri yang kemudian segera menjalankan mobilnya.


Tampak Ayesha sedang menatap jalanan yang masih sedikit padat. Berbagai macam kendaraan berlalu lalang membuat hiruk pikuk kota tiada henti.


Saat sedang sibuk menyetir, tiba-tiba ponsel Defri berbunyi nyaring. Dengan sebelah tangannya, Defri mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya dan melirik nama si pemanggil. Melihatnya tampak penting, Defri pun segera mengangkat panggilan itu dengan segera.


"Ya, halo!" ucap Defri saat panggilan itu telah ia angkat.


"..... "


"Baiklah. Terima kasih atas infonya. "


"Ada apa, Def?" tanya Ayesha penasaran.


"Begini Bu, seperti perintah ibu, saya telah mengirim Sapta untuk mengecek bahan material pembangunan gedung Maxxon dari Enterkinz secara diam-diam dan ternyata ada sebagian material yang diganti kualitasnya dengan kelas 3," ujar Defri menerangkan.


Terang saja, wajah Ayesha memerah. Ini namanya penipuan. Mereka dalam hal ini pihak Enterkinz sudah menandatangani kontrak kerja sama untuk menyediakan bahan material berkualitas nomor 1 . Tapi mereka diam-diam justru mencampurnya dengan material berkualitas rendah. Pembangunan suatu gedung tentu harus menimbang bahan material yang berkualitas. Bukan hanya untuk kekokohan sebuah bangunan, tapi juga keamanan. Sebab bahan yang kurang bagus rentan rusak apalagi saat terjadi guncang besar seperti gempa bumi. Gedung yang bahannya berkualitas rendah akan mudah roboh dan hancur dan itu bukan hanya akan merugikan pihak perusahaan tapi juga nyawa banyak orang.


"Segera ke sana! Kita akan memberikan kejutan pada pengkhianat-pengkhianat itu. Dasar, manusia licik. Hanya keuntungan pribadi saja yang dipikirkan tanpa berpikir resiko perbuatan mereka bagi orang lain," desis Ayesha.


Defri pun segera memutar persneling dan mencari celah untuk memutar mobilnya ke jalur lainnya sebab lokasi yang dituju berlainan arah dan cukup jauh dari sana. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya Ayesha tiba di lokasi. Tak ingin buang waktu, Ayesha pun langsung datang ke tempat penyimpanan bahan material. Lalu ia meminta Sapta mengumpulkan bukti untuk menuntut pihak Enterkinz yang sudah menyalahi aturan pernjanjian kerja sama. Ia takkan melepaskan orang-orang yang berniat buruk dan merugikan Angkasa Grup. Mereka harus bersiap menerima tuntutan pidana karena telah melanggar kontrak kerja sama.


...***...


Dengan langkah gontai, Ayesha akhirnya bisa tiba di kantornya. Sungguh hari yang melelahkan. Bahkan sakin sibuknya, ia baru bisa masuk ke kantor lagi saat sudah menjelang sore. Itupun karena ponselnya tertinggal di sana. Seandainya ponselnya tidak tertinggal, ia akan lebih memilih segera pulang ke apartemen. Apalagi kondisi fisiknya benar-benar melelahkan.


"Huh, ternyata benar, ponselku tertinggal di sini," gumamnya sambil meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Ayesha pun segera menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Sambil duduk bersandar, ia pun membuka layar kuncinya dan memeriksa beberapa panggilan juga pesan masuknya.


Dahinya berkerut saat melihat ada hampir seratus panggilan dari 1 orang yang sama, yaitu suaminya sendiri dan beberapa panggilan dari orang lain. Ayesha juga memeriksa pesan yang berasal dari suaminya.


Masih meeting?

__ADS_1


Udah makan belum?


Kamu bisa makan?


Mau aku pesankan sesuatu?


Kamu dimana?


Kenapa belum kembali?


Apa kamu masih makan sama orang itu?


Kenapa kau tidak membaca pesanku?


Yesha, angkat panggilanku!


Sha, kenapa telepon kakak tidak kau angkat juga?


Yesha ...


Ayesha ...


Angkat panggilanku, istriku!


Ayesha mengulum senyum saat membaca begitu banyak pesan yang dikirimkan oleh suaminya itu. Ia akui, Ghiffary memang sangat perhatian padanya. Membuatnya perlahan mulai menerima pernikahan dadakan itu meskipun tanpa cinta.


Lalu perhatian Ayesha beralih kepada panggilan dari maminya, papinya, juga Kiandra membuat Ayesha bingung bercampur penasaran. Lalu ia mencoba menghubungi ibunya untuk bertanya mengapa ibunya mencoba menghubungi hingga beberapa kali.


"Halo, mi! Mami kenapa sampai hubungi Yesha beberapa kali?" tanya Ayesha penasaran.


"Kamu ini dari mana saja, hah? Dihubungi tapi tidak diangkat-angkat."


"Maaf, mami kenapa? Apa ada sesuatu yang penting yang telah terjadi?"


"Yesha, kau sudah tahu kabar tentang suamimu?"


"Kabar? Kabar apa?"

__ADS_1


"Astaga, kamu ini istri macam apa, Yesha? Suamimu masuk rumah sakit tapi kau tidak tahu. Dasar anak nakal kamu ya!" desis Luna menggeram kesal.


Seakan ada batu besar yang menimpanya, Ayesha benar-benar terkejut. Ia membulatkan matanya dengan mulut ternganga tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Apa, Mi? Apa kata kami tadi? Coba ... coba mami ulangi lagi?" pinta Ayesha dengan wajah yang sudah seputih kapas.


"Segera datang ke rumah sakit dan cari tahu sendiri. Mami ada urusan," decak Luna yang kemudian langsung menutup panggilannya.


Luna menghela nafas panjang, "mas Fary masuk rumah sakit? Kenapa? Apa yang sudah terjadi?"


Kaki Ayesha mendadak lemas. Kepalanya pun mendadak berdenyut sakit. Namun ia tetap berusaha melangkahkan kakinya menuju keluar lalu ia meminta Defri untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.


"Kak Kiandra, apa yang terjadi dengan kak Fary? Kak Fary nggak apa-apa kan?" tanya Ayesha setibanya di rumah sakit. Saat di perjalanan tadi ia menyempatkan menelpon Kiandra untuk menanyakan di mana Ghiffary dirawat.


Kiandra menunduk dengan wajah lesu, membuat nafas Ayesha tercekat. Terselip khawatir yang luar biasa dalam benaknya.


"Maaf," bisik Kiandra lirih membuat Ayesha mendadak lemas seketika. Kakinya bahkan sudah tidak mampu menumpu tubuhnya lagi.


"Sebenarnya ... apa yang terjadi?" tanya Ayesha penasaran.


"Tadi Ghiffary terlalu sibuk dengan ponselnya sehingga tak sadar ia malam memakan tumis udang, brokoli, jamur punyaku. Aku lupa, kalau Ghiffary punya alergi udang dan jamur. Tak lama setelah memakan itu, kulit Ghiffary mendadak memerah, bibirnya memucat, tubuh berkeringat dingin, nafasnya pun putus-putus seperti orang yang sudah ... "


"Sudah ... apa?"


"Sakratul maut," ujar Kiandra membuat nafas Ayesha tercekat. "Memakan salah satu antara udang atau jamur saja bisa membuat Ghiffary alergi, bila digabungkan bisa menjadi racun karena itu tubuh Ghiffary langsung shock karena keracunan makanan," jelas Ghiffary menjelaskan membuat Ayesha langsung tergugu di tempatnya.


'Pasti itu karena kak Fary terlalu fokus menghubungi ku. Ya Allah, bagaimana ini? Aku nggak mau jadi janda muda. Belum juga lama nikah masa' udah harus menjanda sih?'


"Jadi, bagaimana keadaan kak Fary sekarang?"


"Dia ... " Kiandra tidak meneruskan kalimatnya. Ia justru menunduk membuat Ayesha kian ketakutan.


Air mata Ayesha sontak turun begitu deras. Lalu ia pun segera menuju ke kamar perawatan Ghiffary. Melihat wajah pucat Ghiffary dengan mata terpejam jelas saja membuat Ayesha terpukul.


Ayesha pun bergegas menuju tempat Ghiffary terbaring. Lalu ia memeluk tubuh Ghiffary sambil mengguncang-guncangnya.


"Kak ... Kak Fary, bangun! Kak Fary, maafin Yesha! Kak, bangun kak, masa' kakak tega ninggalin Yesha sih! Yesha belum mau jadi janda kak. Belum juga ngerasain bahagia berumah tangga masa' udah mau ditinggal sih. Kak, bangun! Kakak sayang Yesha sama anak kita nggak sih? Kalau sayang ayo buruan bangun. Atau kakak mau aku jadi istri orang lain terus anak kita panggil orang lain ayah, kakak mau gitu ya? Oke kalau itu mau kakak," pekik Ayesha yang terus-terusan menangis.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2