
Kalut, itu yang kini dirasakan Ghiffary. Aglian yang duduk di kursi depan pun sama kalutnya. Namun, sebisa mungkin Aglian bersikap tenang. Bagaimana pun ia seorang ayah. Ia sudah sering mengalami hal tak terduga seperti ini. Bahkan ia pernah merasakan seperti ditimpa beton saat Luna mengalami kecelakaan karena dicelakai pamannya sendiri. Aglian belum mengabari istrinya perihal peristiwa yang menimpa sulungnya itu. Tapi ia sudah menghubungi Dama?r agar menjemput bibinya itu ke rumah sakit. Ia tak ingin mengabarkan secara tiba-tiba karena hal itu tentu akan membuat Luna panik seketika.
Setibanya di rumah sakit, tampak Karin telah menunggu di depan dengan ditemani rekan-rekannya sesama petugas medis. Dengan hati-hati, Ghiffary menggendong Ayesha dan membaringkannya di atas brankar. Setelahnya, para petugas medis pun segera mendorong brankar itu menuju ruang UGD untuk segera mendapatkan penanganan.
"Kakak sama Om tunggu di sini ya! Biar Karin yang ikut memantau di dalam," ujar Karin pada Ghiffary dan Aglian.
Tak lama kemudian, Luna, Damar, Anggi, Diwangga, Kevin, dan si kembar Algatra dan Algara pun tiba-tiba dengan tergesa. Mendapatkan kabar buruk seperti ini, terang saja membuat mereka semua khawatir. Oryza tidak ikut kesana sebab keadaannya yang tengah berbadan dua tentu membuat Damar tak mengizinkannya ikut. Karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan tentunya. Berselang beberapa menit kemudian, Tisya dan Kiandra pun menyusul. Mereka pun mengkhawatirkan keadaan Ayesha. Apalagi Ayesha merupakan sahabat orok Tisya. Barang tentu ia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya tersebut.
"Bagaimana keadaan Yesha, Pi? Kenapa Yesha bisa sampai masuk rumah sakit? Sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Luna dengan berderai air mata.
"Pi, kak Yesha kenapa?" tanya Algatra dan Algara tak kalah khawatir.
"Iya Om, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Yesha sampai masuk rumah sakit?" timpal yang lainnya.
"Udah, udah, nanyanya satu-satu! Om Lian kamu juga pasti khawatir," sergah Anggi yang sebenarnya ia pun sangat mengkhawatirkan keadaan keponakannya tersebut. Namun ia berusaha tetap tenang.
Tak sabar menuntut jawaban, Algara dan Algatra pun mengalihkan pandangannya pada Ghiffary.
"Kak, kakak bisa bantu jelasin ke kita-kita? Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanya Algatra.
Baru saja Ghiffary hendak membuka mulutnya, Pintu ruangan UGD terbuka dan Karin beserta dokter yang bertugas menangani Ayesha pun keluar. Semua pun sontak berdiri dengan raut wajah tegang.
"Suami pasien?" tanya dokter itu. Ghiffary pun gegas maju ke hadapan dokter.
__ADS_1
"Saya suaminya, dok. Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ghiffary benar-benar khawatir.
"Pasien mengalami pendarahan yang hebat. Untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan istri Anda, sebaliknya melakukan tindakan operasi Caesar. Untuk itu, kami meminta persetujuan Anda sebagai suami," tukas dokter itu memberitahukan.
"Lakukan saja yang terbaik, dok! Aku akan segera mengisi formulir persetujuannya," tukas Ghiffary tak mau membuang waktu lagi.
"Selain itu, adakah anggota keluarga yang memiliki golongan darah B Rhesus negatif? Sebab stok di rumah sakit maupun palang merah sedang kosong. Bagaimana, ada? Kita hanya bisa melakukan operasi bila sudah didapatkan pendonor. Sebab terlambat sedikit saja, keselamatan calon ibu itu akan makin terancam."
Deg ...
Rasa khawatir kian menyergap benak dan juwa Ghiffary. Ia pun segera memutar badan ingin bertanya. Tapi syukurnya, belum sempat ia bertanya, Kevin sudah lebih dahulu maju untuk mendonorkan darahnya.
"Saya dok."
"Baiklah, ayo segera ikut perawat untuk melakukan proses selanjutnya," pungkas dokter itu yang disambut seruan Alhamdulillah oleh para keluarga di sana.
Setelah selesai, Ghiffary segera menuju ke depan ruang operasi. Saat menyelesaikan proses administrasi, Ayesha memang segera dipindahkan ke ruangan OK untuk menjalani operasi Caesar.
Tak ada yang berbicara. Semua menutup mulut rapat namun dalam hati tak henti-henti melangitkan doa memohon keselamatan baik itu untuk Ayesha maupun kedua buah hatinya.
Bahkan yang tadi sibuk bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, membungkam. Seolah paham kalau baik Ghiffary maupun Aglian sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Aglian pun sebenarnya penasaran. Ia belum tahu kronologis sebenarnya. Ia hanya tahu secara singkat saja kalau ada perempuan yang hendak mencelakai putrinya. Namun asal mula bagaimana peristiwa tersebut terjadi, Aglian belum tahu. Tapi tetap saja, apa yang perempuan itu lakukan, salah. Ia telah berusaha mencelakai putrinya. Aglian tentu takkan melepaskan perempuan itu begitu saja.
"Robi, bantu Aspri Yesha untuk menjebloskan perempuan gila itu ke penjara! Minta dia diberi hukuman seberat-beratnya! Jangan sampai ia bisa melenggang bebas sesuka hatinya. Dia pun harus merasakan penderitaan lebih dari yang Yesha rasakan saat ini!" Tegas Aglian dengan sorot mata penuh amarah.
__ADS_1
"Baik, tuan," sahut Robi yang tetap setia berdiri di sampingnya.
"Papi tak perlu khawatir. Tadi aku sudah menghubungi Om Azam dan Tante Erika untuk menindaklanjuti perbuatan Restya. Aku pun takkan membiarkan dia bebas begitu saja setelah apa yang ia lakukan pada Ayesha," sela Ghiffary dengan mimik wajah menahan emosi yang membuncah.
Sudah 2 jam berlalu, namun lampu tanda operasi masih berlangsung belum juga padam. Rasa takut, cemas, was-was bercampur aduk menjadi satu di benak semua orang yang menunggu di sana.
Doa-doa tak henti-hentinya mereka panjatkan pada sang maha pencipta. Memohon agar baik ibu maupun calon bayinya dapat selamat tanpa satu kurang apapun.
Tak lama kemudian, terdengar jerit tangis bayi dari dalam ruang operasi membuat semua orang terlebih Ghiffary meneteskan air matanya. Mendengar suara buah hatinya, tentu saja Ghiffary merasakan amat sangat bahagia. Selang beberapa menit kemudian, terdengar tangis bayi yang kedua. Rasa haru menyeruak di koridor rumah sakit itu.
Namun, rasa was-was itu belum hilang begitu saja. Ghiffary masih dibayangi rasa ketakutan akan keselamatan Ayesha. Teringat kembali cerita bagaimana ibunya koma setelah melahirkan kemudian selang satu bulan kemudian meninggal dunia. Meninggalkan jejak luka dan penyesalan pada sang ayah. Pun dirinya yang sering menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi penyebab sang ibu meninggal dunia.
Jantung Ghiffary berdetak begitu cepat. Meskipun bayi telah lahir, tapi dokter belum juga keluar. Tak lama kemudian pintu ruangan operasi terbuka. Para perawat dan dokter anak tampak membawa bayi-bayi itu. Kata mereka bayi-bayi itu akan dibawa ke ruang NICU. Faktor pemicunya antara lain lahir karena pendarahan, kurang bulan, dan berat bayi kurang dari 2.500 gram.
"Selamat pak, bayi Anda kedua-duanya perempuan. Bapak bisa ikut kami untuk mengadzani bayi sebelum bayi dimasukkan ke dalam inkubator," tukas salah salah seorang dokter yang membantu persalinan Ayesha.
Ghiffary pun mengangguk. Sebelum pergi, ia menitipkan Ayesha pada sang ayah mertua.
Sebelum masuk ke ruang NICU, Ghiffary mencuci kedua tangannya terlebih dahulu. Kemudian ia memakai pakaian khusus yang diberikan perawat. Setelahnya ia masuk dan mulai mengadzani bayi-bayinya secara bergantian.
Air mata Ghiffary menetes tatkala ia mengadzani kedua bayinya.
"Doakan Mommy ya sayang supaya mommy baik-baik saja dan bisa segera menggendong kalian," lirih Ghiffary di telinga kedua bayinya secara bergantian.
__ADS_1
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...