
Dua jam telah berlalu dan Ayesha pun telah dipindahkan ke ruang pemulihan. Namun hingga kini, Ayesha belum sadarkan diri pasca operasi Caesar yang dijalaninya. Dan sejak itu pula Ghiffary tak beranjak sedikit pun. Ia hanya bergerak saat merasakan kandung kemihnya terasa penuh dan harus segera dibuang, setelahnya ia pun kembali duduk sambil menggenggam tangan sang istri.
Rasa cemas terus memenuhi rongga dadanya. Ghiffary belum bisa tenang sebelum Ayesha membuka matanya. Meskipun para dokter dan Karin pun sudah meyakinkan tak ada masalah pada Ayesha, tapi tetap saja, seakan trauma, Ghiffary tak mampu bersikap tenang. Ia tetap saja cemas dan khawatir. Ia sampai mengabaikan pakaiannya yang masih kotor berkumur darah dan belum diganti. Pun semenjak tadi juga belum ada setetes air minum pun masuk ke tenggorokannya.
"Nak, sebaiknya berganti pakaian dahulu lalu lekas berwudhu dan kerjakan shalat ashar. Berdoalah, memohonlah pada yang Kuasa, insya Allah, Yesha tidak akan apa-apa. Ia akan segera sadarkan diri dan kembali berkumpul bersama kita semua." Diwangga memberikan nasihat pada menantu saudara iparnya itu sembari menyodorkan pakaian ganti yang ia minta Damar bawakan.
Ghiffary tertegun di tempatnya. Ia lantas menerima pakaian ganti tersebut sambil mengucapkan terima kasih pada sang paman dari istrinya tersebut. Ia merasa bahagia, di saat-saat terpuruknya seperti ini ia dikelilingi orang-orang yang sangat baik dan begitu perhatian. Nasihat paman istrinya pun ada benarnya. Sebaik-baiknya tempat meminta adalah Allah SWT. Pada-Nya lah sebaik-baiknya tempat mengadu dan sudah seharusnya ia mengadukan kesedihannya ini pada sang pencipta dan meminta kesembuhan dan kesehatan pada sang Pencipta baik untuk istrinya maupun anak-anaknya.
"Terima kasih Om," ujar Ghiffary tulus.
"Om?" Dahi Diwangga mengerut mendengar itu.
"Ck ... Yesha itu kan panggil kami mama dan papa, masa' kamu malah panggil kami Om sih? Ayo panggil kami mama dan papa!" ujar Anggi ikut menimbrung pembicaraan kedua laki-laki beda generasi tersebut.
Ghiffary terkekeh sambil mengusap tengkuknya, ia benar-benar lupa. Namun berkat paman dan bibi Ayesha ini lah, ketegangannya dan kegelisahannya sedikit berkurang.
"Terima kasih, pa, ma ... "
Ghiffary terhenyak saat mengucapkan kata "Ma". Bagaimana pun, sejak kecil ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia hanya memiliki seorang ayah. Setelah memiliki mami mertua yang sangat baik, kini ia pun memiliki seorang mama. Rasa hangat memenuhi rongga dadanya. Keluarganya kini kian sempurna. Mata Ghiffary sampai berkaca-kaca. Ia bahagia. Sangat bahagia.
'Sha-yang, aku mohon bangunlah! Aku mohon sempurnakan kebahagiaanku! Aku mohon jangan biarkan aku merasakan kehilangan kembali!' batin Ghiffary.
"Lho, kok kamu malah mau nangis lagi sih, nak? Apa mama ada salah ngomong?" tegur Anggi lagi merasa bingung.
Ghiffary lantas tersenyum, "nggak ma. Mama nggak ada salah. Aku ... aku cuma merasa bahagia. Mama pasti tau kalau ibu aku meninggal satu bulan pasca koma setelah melahirkanku. Sejak itu, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Hanya ada Oma dan ayah. Tapi sejak Oma pergi, aku hanya tinggal bersama ayah. Meskipun ada om Azam dan Tante Erika, tapi mereka kan sangat sibuk jadi kami jarang bertemu. Namun kali ini, aku merasakan sesuatu yang tak pernah aku rasakan dan selalu aku impikan, yaitu kasih sayang seorang ibu. Makasih ya ma, mi sudah menerima aku padahal aku sudah merusak putri keluarga ini."
Ghiffary tergugu sambil menumpahkan isi hatinya. Luna yang duduk di sofa dengan mata memerah pun nampak tertegun. Ia tak menyangka, perasaan putra dari mantan sahabatnya itu yang kini telah menjadi menantunya ternyata begitu rapuh. Ia pun segera berdiri dan memeluk tubuh menantunya dengan sayang. Sedangkan Anggi mengusap punggung Ghiffary yang bergetar.
"Sudah, jangan ungkit masa lalu. Satu yang mesti kamu ingat, kamu itu sudah menjadi putra mami jadi jangan sungkan pada mami. Anggap mami seperti ibumu sendiri. Jeje pasti bangga memiliki putra sebaik dan setampan kamu," ucap Luna dengan tersenyum lembut.
"Mami kenal ibu aku?" tanya Ghiffary penasaran.
"Kenal. Kenal banget. Mami dulu tukang make up dia kalau mau melenggang di catwalk," ujar Luna seraya tersenyum lebar.
"Hah, mami dulu tukang make up?" beo Ghiffary tak menyangka akan hal tersebut. Sebab setahunya, Luna pun memiliki perusahaan tapi di bidang pertambangan.
"Yaps, nggak percaya? Malah mami dulu tinggal di panti asuhan dan berkat mama kamu inilah mami bisa bertemu papi pun tahu latar belakang keluarga mami sebenarnya. Karena itu, mami sayaaaang banget sama mama kamu ini. Mama kamu ini malaikat tak bersayap bagi mami," ujar Luna yang kini sudah beralih memeluk Anggi membuat Anggi terkekeh dan balas memeluk Luna.
__ADS_1
Ghiffary membulatkan matanya. Ia ternyata belum mengetahui apapun tentang keluarga istrinya ini. Ia jadi penasaran tentang kisah pentolan Angkasa ini. Karena itu, setelah Ayesha pulih ia berniat membaca novel Pesona Mantan Istri yang Disakiti untuk mengetahui bagaimana lika-liku dan kisah cinta Anggi-Diwangga dan Aglian -Luna. Pun tentang kisah cinta ayah dan ibunya, Kentaro dan Jelita. (Astaga othor ... jadi ketawa sendiri pas ngetik paragraf ini. Promosi terselubung ceritanya.ππ€£)
Selesai mengerjakan sholat Ashar, Ghiffary pun kembali lagi ke kamar pemulihan Ayesha. Saat masuk, ternyata di sana sudah duduk sang ayah yang sedang berbincang dengan ayah mertua dan paman Ayesha.
"Ayah, " sapa Ghiffary yang langsung menghampiri dan mencium punggung tangannya dengan takdzim. Kemudian Kentaro berdiri dan memeluk putra kesayangannya itu. Satu-satunya harta peninggalan mendiang istrinya.
"Kamu sabar ya, nak. Ayah yakin, sebentar lagi istrimu akan pulih," tukas Kentaro seraya menepuk pundak Ghiffary untuk menguatkan putranya itu.
"Iya ayah, terima kasih. Ayah sendirian?" tanya Ghiffary.
Kentaro pun mengangguk sembari kembali duduk di tempatnya, "hmm ... paman kamu masih sibuk mengurus Tya. Ayah benar-benar tidak menyangka dia bisa berbuat senekat itu sampai hampir mencelakakan menantu dan cucu-cucu ayah." Kentaro menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun, bukan sebentar ia mengenal Restya. Sebelum menjadi pasangan kekasih pun, Restya sering bertandang ke rumahnya dengan berbagai alasan. Padahal usianya lebih dewasa tapi karena Ghiffary bukan hanya cerdas tapi juga tampan dan tubuhnya lebih besar dari anak seusianya membuat Restya tergila-gila. Seandainya ia tidak materialistis, mungkin yang saat ini menjadi pasangan Ghiffary bukanlah Ayesha, melainkan Restya, pikir Kentaro.
"Jangankan ayah, aku saja yang mengenalnya bertahun-tahun tak menduga. Ia seperti terobsesi denganku."
"Mungkin itu karena dia menyesal meninggalkanmu. Bagaimana pun kalian dulu pasangan kekasih dan kau cinta pertamanya, pun dirimu juga kan! Dia pacar sekaligus wanita pertama yang kau ajak ke rumah bertemu ayah," tukas Kentaro seraya terkekeh.
Ghiffary berdeham karena salah tingkah sebab ayahnya membahas ini justru di hadapan mertuanya. Bagaimana ia tidak salah tingkah coba!
"Ayah salah," tukasnya membuat alias Kentaro naik ke atas. "Dia memang kekasih pertamaku, tapi ... dia itu bukan cinta pertamaku," imbuhnya lagi membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengalihkan atensinya ke arah Ghiffary pun Tisya yang baru saja duduk di samping Ayesha.
Ghiffary mengangguk mantap, "sebenarnya cinta pertama Fary sesungguhnya adalah ... " Ghiffary lantas menoleh ke arah Ayesha yang masih setia memejamkan matanya, "Yesha. Sejak aku melihatnya saat pertama kali masuk kelas akselerasi di SMA dulu, Fary udah suka sama Yesha, Yah."
Sontak saja, semua orang membulatkan matanya. tak menyangka, cinta pertama Ghiffary justru istrinya sendiri. Semua orang berdecak kagum, jodoh emang tak kemana, pikir mereka.
"What! Artinya sejak dulu sebenarnya kalian emang saling cinta toh! Wow, nggak sia-sia kakak jadi crush nya sahabat orok Tisya ini, ternyata ... kakak pun punya perasaan yang sama," sambung Tisya sambil geleng-geleng yang membuat semua orang makin membulatkan matanya.
"Wow ... kisah kalian emang ... Tapi kalian hebat masih bisa mempertahankan perasaan kalian meski sudah terpisah bertahun-tahun lamanya," puji Kiandra.
"Ck ... itu mah biasa!" sanggah Damar. "Kalian saat itu sudah lumayan gede, lah aku ... aku suka sama Ryza kalian pikir dari umur berapa, coba? Saat itu aja Ryza masih unyu-unyu dengan seragam warna mentereng dan aku putih-merah, jadi lebih hebatan mana coba?" imbuh Damar sambil memainkan alisnya membuat semua tergelak pelan. Tak berani tertawa lepas sebab Ayesha masih beristirahat.
"Yayaya, kau memang lebih hebat! Kami kalah. Standing applaus untuk tuan Damar Prayoga," cibir Kiandra sambil menahan tawanya.
Saat adik berbincang, tiba-tiba jemari Ayesha bergerak pun kelopak matanya. Melihat hal itu, Tisya pun segera memanggil Ghiffary agar segera mendekat.
"Sha-Yang," panggi Ghiffary dengan mata berbinar.
Perlahan, mata Ayesha mengerjap. Netranya masih merasa silau. Aroma desinfektan mulai memenuhi rongga hidungnya membuat Ayesha seketika tersentak dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Kak," serunya panik.
"Iya, Sha-Yang, ada yang kamu butuhkan?"
Ayesha menggeleng cepat. Ia bahkan tak menyadari ruangannya itu dipenuhi oleh keluarga besarnya. Fokusnya kini justru hanya pada satu hal, yaitu anak-anaknya.
"Dimana? Dimana anak-anak kita, kak? Mereka ... "
"Mereka baik-baik aja, Sha-Yang. Kamu tenang ya! Kamu nggak usah khawatir. Yang penting sekarang fokus dulu pada masa pemulihanmu. Untuk anak-anak kita, semuanya baik-baik saja. Jadi jangan cemas lagi ya!" ucap Ghiffary mencoba menenangkan.
"Kak Fary nggak sedang bohongin Ayesha kan?" tuding Ayesha belum sepenuhnya percaya. Walaupun tidak sepenuhnya benar, tapi tak mungkin juga ia langsung mengatakan saat ini anak-anaknya masih dalam masa observasi. Mungkin setelah keadaan Ayesha jauh lebih baik, barulah mereka menceritakan kalau anaknya terpaksa di bawa ke ruangan NICU karena kelahiran prematur, berat badan di bawah standar, lahir karena pendarahan, dan organ pernapasan yang belum terbentuk dengan benar-benar sempurna. Lagi pula, menurut dokter, dengan perawatan terbaik, insya Allah bayi-bayi mereka akan tumbuh sehat kembali. Jadi ia tidak perlu terlalu khawatir.
"Buat apa juga bohong, Sha-Yang. Kalau nggak percaya, tuh tanya mami sama papi," tukas Ghiffary membuat mata Ayesha membeliak saat baru menyadari kalau kamarnya ternyata dipenuhi keluarga besarnya.
"Hai mommy, selamat ya atas kelahiran twins baby girl'nya!" seru Tisya heboh membuat semua orang terkekeh.
"Makasih, Sya," sahut Ayesha.
Lalu semua orang satu persatu mengucapkan selamat. Setelah ruangan itu sepi karena semuanya telah pulang ke rumah masing-masing meninggalkan, Ayesha dan Ghiffary berdua saja.
"Sha-Yang," panggil Ghiffary sambil mengelus pipi Ayesha yang sedikit membulat karena efek kehamilannya.
"Hmmm ... kenapa?" sahut Ayesha seraya menikmati elusan di pipinya.
"Makasih ya, Sha-Yang."
"Untuk?"
"Semuanya. I love you."
Ayesha terkekeh pelan,"I love you more than you know."
Cup ...
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1