Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 18 Emosi Ayesha


__ADS_3

Patah hati terdalam kini tengah Aglian rasakan. Bagaimana tidak, mengetahui fakta putrinya tersayang tengah mengandung tanpa suami, membuat perasaanya luluh lantak. Hamil di luar nikah? Bahkan dirinya dulu saja begitu menjaga diri agar tidak terjerumus pada perbuatan seperti itu. Bilamana banyak orang-orang kaya yang gemar bersikap semau mereka, bahkan tampak biasa saja melakukan hubungan s*eks di luar nikah dengan kekasih maupun wanita lain secara random demi kesenangan, maka dirinya enggan melakukan hal tersebut. Bahkan dulu saat ia dan Luna pernah menginap dalam satu kamar hotel yang sama karena kegilaannya menyusul Luna di Bali yang tengah didekati Kentaro, semua itu tak lantas menggoyahkan keimanannya untuk menjaga kesucian gadis yang ia cintai hingga ke jenjang pernikahan. Dirinya bukanlah laki-laki suci. Ia pun pernah berciuman panas dengan Luna, tapi tak lebih. Mencintai artinya siap menjaga, itulah prinsipnya. Meskipun pernah terbesit di benaknya ingin mencicipi hal tersebut, tapi logika dan akal sehatnya ternyata masih lebih dominan dari napsu birahinya.


Namun kini, saat mendengar ada laporan dari orang-orangnya yang mengatakan Ayesha pingsan di lokasi proyek lalu dibawa ke rumah sakit dan dari sana ia pula mendapatkan laporan pingsannya Ayesha karena ia tengah mengandung, Aglian sontak saja terperanjat. Ia tahu, gadis kecilnya bukanlah gadis yang nakal. Tapi bagaimana bisa gadis kecil kesayangannya bisa tiba-tiba hamil? Bak petir menyambar di siang bolong. Tak ada angin, tak ada hujan, berita tersebut cukup membuatnya terpukul.


Dan saat mendengar penuturan Ayesha mengenai kronologisnya, Aglian tak bisa berhenti mengumpati diri sendiri. Ia menyesali kegagalannya menjaga putri semata wayangnya. Bila di masa lalu ia berhasil mencegah Kentaro merudapaksa Luna, namun kini ia gagal. Ia memang berhasil memberi pelajaran pada orang yang hendak menjebak Ayesha, tapi ternyata itu tak serta merta menyelamatkannya. Putrinya justru masuk ke mulut buaya lain.


Namun satu hal yang patut ia syukuri, laki-laki yang telah merenggut kehormatan putrinya mau bertanggung jawab tanpa perlu ia bertindak. Dengan kesadaran diri penuh, mengabaikan konsekuensi yang pasti akan ia dapatkan, Ghiffary datang dan mengakui kesalahannya dan yang terpenting bersedia bertanggung jawab.


Apa jadinya bila yang merenggut kehormatan putrinya dan menghamilinya merupakan pria random di London yang tak dikenalnya. Entahlah, Aglian tak dapat membayangkannya. Betapa hancur masa depan putrinya kelak. Setidaknya dengan kehadiran Ghiffary, ia bukan hanya bisa menyelamatkan harga diri sang putri, tapi juga identitas calon cucunya itu.


"Kalian harus segera menikah," tegas Aglian berusaha untuk bersikap tenang di tengah kecamuk dalam dadanya.


"Tapi Pi, aku nggak mau nikah sama dia," sergah Ayesha menolak rencana ayahnya.


"Kenapa? Jelaskan dengan papi alasannya?" tuntut Aglian gemas dengan putrinya itu. Tidak sadarkah ia konsekuensinya bila tidak segera menikah.


"Karena ... karena Yesha ... Yesha nggak cinta dia, Pi. Dia juga nggak cinta Yesha. Kami nggak saling mencintai, bagaimana kami bisa menikah?" kilah Ayesha beralasan walaupun memang apa yang ia katakan itu benar, tapi itu juga tidak sepenuhnya benar.


"Cinta bisa datang karena biasa, Yesha."

__ADS_1


"Kalau tidak? Yesha nggak mau tiba-tiba jadi janda hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. " Ayesha dengan keras kepala kekeh menolak perintah ayahnya untuk segera menikah.


Tapi Aglian tetap dengan keputusannya.


"Kalian tetap akan menikah, titik," tegas Aglian tak mau dibantah.


"Kenapa papi kekeh banget mau nikahin aku sama dia sih?" geram Ayesha tidak terima Aglian memaksanya menikah dengan Ghiffary.


"Karena laki-laki itu dianugerahi kejantanan untuk bisa bersikap jantan, bukan hanya untuk enak-enakan saja dan papi sangat mengapresiasi sikap jantan Ghiffary yang mau bersikap jujur meskipun sebenarnya papi sangat kecewa dengan apa yang telah kalian lakukan. Apalagi padamu, Yesha. Kamu anak perempuan kebanggaan papi dan papi selalu mendidik mu agar bersikap terbuka pada papi tapi kamu malah menutupi kejadian yang menimpamu, papi benar-benar kecewa padamu. Maka itu, kali ini papi tidak akan menerima penolakanmu. Kamu harus menikah dengan Ghiffary, tak ada penolakan atau ... " Aglian diam dengan sorot mata tajam menatap lekat netra Ayesha.


Ayesha sampai menelan ludahnya sendiri sambil mengerjapkan matanya. Ia gugup bercampur takut melihat sorot mata itu.


"Atau papi nggak akan pernah maafin kamu," ucap Aglian tegas membuat Ayesha lemas seketika.


"Dan kamu Ghiffary, malam nanti datang ke rumah saya dengan orang tuamu. Kita harus segera membicarakan perihal pernikahan kalian sesegera mungkin. Kamu siap?"


"Saya siap, tuan," jawab Ghiffary tak kalah tegas.


Aglian menghembuskan nafasnya panjang. Padahal ia baru saja pulang dari luar kota, tapi ia sudah harus dihadapkan pada masalah pelik seperti ini. Dan kini yang tengah dipikirkannya adalah bagaimana cara menjelaskan masalah ini pada istrinya. Ia tak ingin membuat istrinya sedih dan kecewa pada putrinya. Ia tak mau istrinya menyalahkan diri sendiri karena gagal menjaga putri kesayangan mereka.

__ADS_1


"Baguslah. Kalau begitu, kalian berdua bicarakan lagi masalah ini. Cobalah berdamai. Papi pulang dulu. Papi harus membicarakan masalah ini dengan mami kamu. Mami pasti akan sangat shock mengetahui hal ini," ucap Aglian seraya berdiri dan merapikan jasnya. Setelah itu, ia pun segera keluar dari ruangan itu diikuti Robi di belakangnya meninggalkan dua manusia berbeda jenis kelamin itu yang saling membungkam mulut masing-masing.


"Tidak bisakah kita tidak perlu menikah?" tanya Ayesha tiba-tiba membuat alias Ghiffary naik sebelah.


"Lalu kau ingin membuat anak itu dicap anak haram, begitu?" dengus Ghiffary masih tak habis pikir dengan pola pikir wanita yang tengah mengandung anaknya tersebut.


"Tapi aku tak ingin menjadi perempuan perusak hubungan orang lain?" tukas Ayesha setengah menggeram. Tatapan matanya nyalang. Ghiffary sampai menelan ludahnya saat mata mereka saling bersirobok.


"Maksudnya?"


"Oh atau kau masih akan berhubungan dengan kekasihmu setelah kita menikah? Kau hanya ingin memberikan anak ini status kan? Setelahnya kau akan menikahi kekasihmu?" cecar Ayesha beringas.


Dahi Ghiffary makin berkerut-kerut, ia benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud Ayesha.


"Tak usah pura-pura bodoh tuan Ghiffary, bukankah kau sudah memilki kekasih? Bahkan kau menyebut namanya saat kau berhasil mencapai puncak di malam pergulatan panas itu? Kau pikir aku akan melupakannya, hah! Tidak. Kini aku telah mengingat semuanya. SEMUANYA!" teriak Ayesha yang tak lagi bisa mengontrol emosinya. Dadanya naik turun, nafasnya memburu, wajahnya merah padam, matanya melotot tajam, emosinya benar-benar membuncah kali ini. Ia tak pernah semarah dan seemosi ini sebelumnya dan ini merupakan kali pertama. Ghiffary sampai menegang kaku di tempatnya. Ia tak pernah menyangka, Ayesha telah mengingat segala yang terjadi pada malam itu. Ia pikir, hanya dirinya saja yang ingat, ternyata Ayesha pun juga.


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2