Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 36 Salah sebut?


__ADS_3

Diliriknya Ghiffary dengan ekor matanya. Dan ternyata Ghiffary pun rupanya tengah memperhatikannya juga. Ingin rasanya Ayesha bersembunyi karena ketahuan memperhatikan suaminya itu, tapi Ghiffary justru menahan dagunya hingga ia kembali mendongak.


Netra keduanya bertemu. Seakan tahu apa yang diinginkan sang suami, Ayesha pun memejamkan matanya.


Dan melihat mata Ayesha yang terpejam seolah mengisyaratkan dirinya untuk melakukan apa yang tengah bersarang di otaknya. Ghiffary pun mendekatkan wajahnya hingga nafasnya menyapu wajah Ayesha. Ia sedikit memiringkan wajahnya kemudian menyatukan bibirnya di atas bibir merah menggoda sang istri.


Awalnya Ghiffary hanya mengecup sekilas kemudian menarik sedikit wajahnya hingga Ayesha membuka matanya dengan dahi yang mengernyit tanpa menjauhkan sedikit pun wajahnya. Ghiffary lantas meletakkan telapak tangannya di tengkuk Ayesha kemudian keduanya kembali menyatukan bibir dengan mata yang terpejam. Ghiffary mencium bibir itu dengan hangat dan dalam. Lidahnya bahkan ikut menari-nari di bibir Ayesha membuat wanita itu membuka bibirnya dan tanpa menunggu lama Ghiffary segera melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Ayesha. Perlahan Ayesha pun mulai membalas ciuman demi ciuman bahkan luma*tan yang dilakukan suaminya. Walaupun masih kaku, namun keduanya begitu menikmati pergulatan lidah dan bibir mereka. Suara decapan kini terdengar begitu jelas di balkon kamar hotel itu. Beruntung jarak antar balkon cukup jauh dan lampu pun hanya menyala seadaanya sehingga aktivitas mereka takkan mungkin didengar apalagi di lihat oleh tamu hotel yang lain.


Entah bagaimana caranya, kini Ayesha justru sudah berpindah duduk di atas pangkuan Ghiffary. Ayesha dapat merasakan bukti gairah Ghiffary ternyata telah berkobar di bawah sana. Keras, kokoh, dan menyembul terasa begitu mengganjal di bawah sana. Ayesha mengalungkan lengannya di leher Ghiffary membuat lelaki itu kian leluasa memainkan jemarinya. Sementara sebelah tangan menekan tengkuk, tangan lainnya kini telah menyusup masuk ke dalam dress piyama Ayesha melalui bagian bawahnya hingga bagian paha Ayesha tersingkap jelas.


Saat sebelah tangannya menyentuh salah satu puncak aset Ayesha, Ghiffary melepaskan tautan bibir mereka bersamaan itu Ayesha pun membuka matanya sehingga kedua netra mereka saling beradu pandang dengan tangan masih bertahan di atas sana seolah menuggu izin dari sang pemilik.


Tanpa banyak kata, Ayesha justru menarik pundak Ghiffary kemudian melu*mat bibir suaminya. Ghiffary tersenyum dalam cumbuan itu hingga tanpa ragu lagi Ghiffary mulai mere*mas dada indah itu dan sesekali memainkan ujungnya hingga membuat Ayesha meremang dengan tubuh menggelinjang antara geli juga nikmat. Sebuah erangan lolos dari bibir Ayesha di sela-sela cumbuan itu membuat hasrat Ghiffary kian memuncak.


Cuaca di luar dingin, tapi tubuh keduanya justru semakin memanas. Tak ingin istrinya sakit karena terpaan angin malam, Ghiffary pun merengkuh tubuh Ayesha dalam gendongannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Lalu dengan perlahan Ghiffary menurunkan tubuh istrinya itu dan merebahkannya di atas kasur.


Nafas keduanya makin memburu. Saat bibir Ghiffary masih sibuk menjelajahi bibir sang istri, tangan Ghiffary pun perlahan bergerak membuka satu persatu kancing piyama dress Ayesha. Sadar akan hal itu, tiba-tiba tubuh Ayesha menegang. Namun itu tak berlangsung lama, setelah memberikan sedikit usapan di punggung Ayesha, ia pun kembali rileks dan mulai memasrahkan diri pada sang suami. Malam ini, ia pasrahkan diirinya seutuhnya pada Ghiffary yang telah resmi menjadi suaminya. Perkara cinta, ia serahkan pada yang Kuasa. Ia yakin, dengan ketulusan dan niat yang mulia, rasa cinta itu akan perlahan tumbuh menguatkan rumah tangga mereka.


Kini keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun. Ghiffary berdecak kagum menatap tubuh indah sang istri yang baru kali ini bisa ia nikmati secara sadar dan tanpa ada paksaan. Pun Ayesha tak bisa menutupi rasa kagumnya pada tubuh sang suami yang begitu kokoh dan gagah membuat hasratnya kian membuncah. Bahkan inti mereka kini sudah berkedut ingin minta dipuaskan.

__ADS_1


Ghiffary sampai menelan ludahnya susah payah saat melihat aset kembar Ayesha yang sempat ia re*mas tadi. Ternyata bentuknya sungguh indah dan menggoda iman. Tak mau menyia-nyiakan momen spesial itu, Ghiffary membungkukkan badannya dan meraup salah satu aset ke dalam mulutnya, sedangkan tangan yang lain sibuk bermain di aset yang lain.


Malam kian larut, ruangan ber-AC itu justru kian memanas seiring dengan gairah yang kian meletup-letup. Hingga sampailah mereka di puncak pergulatan, dengan lembut Ghiffary membenamkan miliknya di dalam lembah kenikmatan Ayesha kemudian mulai memompanya yang awalnya perlahan makin lama makin cepat dan menuntut hingga sampailah mereka di puncak tertinggi kepuasan. Keduanya pun mengerang bersamaan dengan senyum kepuasan dan kebahagiaan yang tak lepas dari bibir mereka.


"Ayeshaaaa ... "


"Kak Fary ... "


Desah keduanya sambil menyebutkan nama masing-masing tanpa ada kesalahan sebut lagi.


(syukurlah)


...***...


Berpelukan dalam satu selimut yang sama, tak pernah terbesit di pikiran mereka kalau hari ini akan benar-benar terjadi. Meski pernikahan mereka baru seumur jagung, tapi sepertinya rasa cinta itu telah mulai terpupuk secara perlahan.


Siapa sangka, pernikahan yang mereka awali dengan keterpaksaan karena suatu keadaan dapat membawa mereka ke titik ini. Tak ada pernikahan yang sempurna sebab kesempurnaan itu hanya milik yang Kuasa. Pernikahan mereka memang dimulai dengan cara yang tak terduga dan jauh dari kata sempurna, tapi yakinlah kesempurnaan itu akan tercipta seiring adanya keinginan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan.


"Sha, terima kasih ya!" ucap Ghiffary tiba-tiba sambil menatap Ayesha yang justru sibuk menyembunyikan wajahnya di dadanya. Ghiffary geli sendiri melihat wanitanya ini yang ternyata begitu pemalu.

__ADS_1


"Untuk?" cicit Ayesha masih malu untuk mengangkat wajahnya.


"Untuk kesempatan yang kamu kasih. Kakak mungkin takkan merasakan kebahagiaan sebesar ini bila kamu tidak memberikan kesempatan untuk kakak menikahimu kan."


"Halah, mau nolak juga emang bisa? Kakak curang, langsung nemuin papi," delik Ayesha sambil mengerucutkan bibirnya.


Ghiffary terkekeh, "ya soalnya kamu nolak terus sih! Nggak ada cara lain ya langsung temuin papi Lian. Kakak nggak punya pilihan lain. Mau bujuk kamu, entar kelamaan. Bisa-bisa perut kamu gede duluan. Bikin lebih repot kan," ujar Ghiffary menjelaskan.


"Iya juga sih. Kalau begitu, Yesha juga ucapin makasih ya kak karena udah mau memperjuangkan Yesha," ujar Ayesha tulus membuat Ghiffary makin mengeratkan pelukannya.


"Nggak perlu berterima kasih sebab kamu memang layak untuk kakak perjuangkan," balasnya lagi sambil mengecupi seluruh wajah Ayesha membuat perempuan itu terkekeh kegelian.


"Eh, by the way, nggak ada kesalahan sebut lagi kan?" goda Ghiffary.


"Alhamdulillah, soalnya kalau sampai salah sebut lagi auto minta potong jadi 10 bagian untuk dijadiin makanan ikan arwana Gatra," ucap Ayesha membuat Ghiffary terkekeh.


"Nggak lah. Kalau dipotong, gimana kakak bisa buat kamu jejeritan kayak tadi lagi," godanya sambil terkekeh. "Lagian ya, itu kan masa lalu, sekarang kakak kan berpikirnya untuk masa depan dan di masa depan itu udah kakak hak paten nama kamu sebagai pemiliknya. Perempuan satu-satunya yang akan menemani dan jadi pendamping kakak selamanya. Only one and only, Ayesha Salsabila Putri Angkasa," tukas Ghiffary tanpa keraguan membuat Ayesha makin mengeratkan pelukannya dengan senyum lebar dan kebahagiaan yang kian membuncah.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2