Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.13 Sakit?


__ADS_3

"Eeeunghh ... " Ayesha menggeliat sambil membuka matanya secara perlahan. Menyesuaikan netranya dengan pendaran cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden.


Melihat pendaran cahaya matahari yang menelusup melalui celah-celah gorden itu, sontak saja membuat Ayesha tersentak. Bila cahaya matahari dapat masuk ke kamarnya, sudah dapat dipastikan hari sebuah cukup siang.


"Astaga, aku kesiangan!" gumam Ayesha. "Aaargh ... "


Karena mencoba bangun dengan terlalu terburu-buru, tiba-tiba Ayesha merasakan sakit di kepalanya.


"Duh, kepalaku kok sakit gini sih! Padahal semalam aku tidur cukup awal," gumam Ayesha seraya memijit pelipisnya. "Mana ada meeting pagi ini. Hufth, semangat Ayesha! Fighting!" gumamnya mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Ayesha menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah rasa pusing di kepalanya sedikit mereda, barulah ia beranjak menuju kamar mandi. Karena ia tinggal sendirian di apartemen, tak ada yang membangunkannya saat ia kesiangan.


"Risiko tinggal sendiri ya gini, bangun, bangun sendiri, masak, masak sendiri, makan, makan sendiri, nyuci baju sendiri, tidur pun sendiri," gumamnya dengan sedikit didendangkan. Kemudian Ayesha tersenyum sendiri, "kok malah dangdutan sih!" kekehnuya.


Selepas mandi dan bersiap, Ayesha berdiri di depan meja riasnya. Matanya menyipit saat melihat bibirnya yang tampak lebih pucat dari biasanya.


"Kok aku pucat gini ya!" desahnya lalu ia segera menyapukan lipstik untuk menyamarkan bibirnya yang pucat. Tak lupa Ayesha memakai skincare khusus siang hari agar kulitnya senantiasa sehat, cerah, dan cantik.


"Duh, semoga aja tiba tepat waktu," gumamnya. Laku Ayesha membuka pintu kulkas dan membuka satu botol air mineral dan meminumnya. Karena waktu telah begitu mepet, Ayesha tidak sempat sarapan sama sekali.


...***...


"Def, orang-orang Cakrawala udah datang?" tanya Ayesha dengan langkah panjang lalu memasuki ruangannya dengan Defri yang berusaha mensejajarkan langkah mereka.


"Udah. Baru 5 menit yang lalu," ujar Defri. Lalu ia memberikan sebuah dokumen pada Ayesha. "Ini proposal kerja sama yang pihak Cakrawala ajukan tempo hari."


Ayesha lantas menerimanya lalu ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang rapat.


Setibanya di sana, Ayesha disambut dengan antusias oleh orang-orang pihak Cakrawala grup. Mereka menatap Ayesha takjub karena CEO Angkasa Grup kini dipegang oleh seorang gadis muda tapi berwawasan tinggi.


Rasa pusing membuat Ayesha kurang fokus mendengarkan presentasi yang dilakukan pihak Cakrawala. Entah mengapa Ayesha merasa perutnya sedikit bergejolak. Pandangannya tampak berkunang-kunang. Tapi ia sebisa mungkin berusaha untuk fokus. Bagaimana pun, ia tidak bisa sembarangan menerima penawaran kerjasama dari pihak orang lain untuk mencegah terjadinya kerugian.


"Anda baik-baik saja, nona?" bisik Defri yang duduk tepat di samping Ayesha.


Ayesha sedikit melirik Defri dan mengangkat alisnya seolah bertanya, kenapa memangnya?


"Anda terlihat pucat. Bila Anda sedang tidak enak badan, kita bisa mereschedule meeting ini," saran Defri tapi Ayesha menggeleng.


"Tidak usah. Lagipula ini sudah hampir selesai," sahut Ayesha seraya berusaha mengulas senyum agar Defri tampak tenang.


Defri seketika terpana melihat senyum manis Ayesha. Semenjak menjabat sebagai CEO, Ayesha jarang sekali tersenyum. Ia hanya tersenyum pada orang-orang terdekatnya saja. Tapi kali ini ia bisa melihat senyum itu secara langsung dan dalam jarak yang sangat dekat membuat jantung Defri tiba-tiba berdebar.


Defri mengangguk kaku.

__ADS_1


'Astaga, senyumnya cantik banget sih! Padahal wajahnya tampak sangat pucat, tapi tetap saja terlihat sangat cantik,' batin Defri yang tanpa sadar tersenyum sendiri.


Presentasi akhirnya berjalan lancar. Ayesha belum memberikan keputusan, tapi ia berjanji akan segera mempelajari proposal itu dan akan mengabari mereka hasilnya sesegera mungkin.


...***...


"Nona, apa Anda sakit? Apa aku perlu memanggilkan dokter untuk memeriksamu?" tanya Defri setelah mereka sudah berada di ruangan Ayesha.


Ayesha yang merasakan perutnya tak nyaman hanya bisa menggeleng lesu.


"Nggak. Nggak perlu. Mungkin maghku kumat soalnya tadi pagi belum sempat sarapan," jawab Ayesha sambil memijit pangkal hidungnya.


"Ah, jadi Anda belum sarapan! Apa Anda ingin makan sesuatu? Biar saya belikan,"tawar Defri penuh perhatian.


Ayesha mendongak sambil menatap Defri yang tampak begitu fokus menatapnya. Ia menimbang sebentar kemudian mengangguk setuju.


"Bisa tolong belikan aku bubur ayam di depan SD Mercubuana?" tanya Ayesha sambil mengerjapkan matanya. Sorot matanya terlihat bersinar polos membuat Defri reflek menganggukkan kepalanya.


"Baiklah," jawabnya mantap tanpa berpikir lagi.


Melihat Defri mengangguk, Ayesha tersenyum girang. Defri sampai terpaku di tempatnya. Jarang-jarang bisa melihat senyuman Ayesha yang sangat manis itu. Alhasil, bukannya segera beranjak, Defri justru mematung di tempatnya.


"Def," panggil Ayesha. "Hei, Defri!" panggilnya lagi tapi Defri masih saja mematung. "Defri, lho kok bengong sih! Kapan mau beli buburnya?" pekik Ayesha dengan raut cemberut membuat Defri tersentak gelagapan.


"Bubur ayam di depan SD Mercubuana?" Alis Defri mengerut kemudian ia menepuk kepalanya saat sadar dimana SD Mercubuana itu.


"Astaga, yang benar aja! Bukannya jarak SD Mercubuana itu sekitar 2 jam perjalanan dari sini? Haish, kenapa ini kepala pake langsung ngangguk aja sih! Ini si bos mau ngerjain atau apa sih? Apa aku balik lagi aja untuk mastiin dia beneran mau bubur ayam di sana atau cuma mau ngerjain? Tapi dari ekspresinya tadi yang super imut-imut dan cute, nggak mungkinlah mau ngerjain aku. Udahlah, beliin aja. Kasihan nona, kayaknya dia emang pingin banget. Dari pada sakitnya tambah jadi," gumamnya seraya melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Ia tak sadar, menjadi perhatian semua orang karena sibuk mengoceh seorang diri.


"Nona Ayesha sakit? Sakit apa?" celetuk seseorang tiba-tiba membuat Defri seketika menghentikan langkahnya.


"Ah, tuan Ghiffary! Selamat pagi," sapa Defri saat menyadari Ghiffary telah berdiri di sampingnya.


"Pagi juga," jawabnya datar. "Yang tadi itu, apa benar nona Yesha sakit? Sakit apa?" cecar Ghiffary membuat dahi Defri berkerut.


"Oh, itu, maghnya kumat karena belum sempat sarapan. Jadi dia meminta saya membelikan bubur ayam di depan SD Mercubuana," jawab Defri membuat Ghiffary membulatkan matanya.


Ia tahu SD itu sebab saat kecil ia pun bersekolah di sana dan jaraknya cukup jauh dari Angkasa Grup.


"Kalau begitu saya permisi dulu, takut kelamaan di jalan. Kasihan nona kalau kelamaan nunggu," ucap Defri seraya menganggukkan kepalanya kemudian segera berlalu dari hadapan Ghiffary.


Ghiffary menggelengkan kepalanya. Kemudian ia membalikkan badannya keluar dari lobi menuju basement lalu masuk ke dalam mobilnya. 30 menit kemudian, mobilnya telah kembali terparkir di basement Angkasa Grup. Keluar dari mobil, ia segera menuju ke ruangan Ayesha.


"Sha, kamu nggak papa?" tanya Ghiffary panik saat melihat Ayesha menyandarkan kepalanya di meja. Ia berjalan setengah berlari lalu meletakkan sebuah kantong putih di atas meja.

__ADS_1


Mendengar suara Ghiffary, Ayesha segera mengangkat kepalanya.


"Ngapain kamu kesini?" ketus Ayesha seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


"Sha, aku itu nanya, kamu nggak papa?" Mata Ghiffary memicing saat melihat wajah pucat Ayesha. "Kamu sakit?" tanyanya.


"Nggak usah sok perhatian. Keluar sana, kepala aku pusing."


Ayesha bersikap acuh tak acuh membuat Ghiffary menghela nafas panjang.


"Sha, bisa nggak kita nggak berdebat dulu? Aku itu khawatirin kamu lho!"


"Emang kamu siapa? Aku nggak butuh perhatian kamu."


Ghiffary mengusap wajahnya. Ayesha ternyata perempuan yang sangat keras dan sukar didekati.


"Kata asisten kamu, magh kamu kumat, benar?" Ghiffary tetap berusaha sabar menghadapi Ayesha yang keras kepala.


"Bukan urusan kamu," ketus Ayesha lalu ia mulai menyibukkan dirinya berharap agar Ghiffary segera keluar.


Tapi tiba-tiba Ayesha mencium aroma yang begitu harum membuat perutnya tiba-tiba bergemuruh dan meronta lebih dahsyat dari sebelumnya.


"Akhhhh ... "


"Kamu kenapa?" panik Ghiffary yang segera berdiri di samping Ayesha dengan telapak tangan ikut memegang perut Ayesha seperti yang perempuan itu lakukan.


Menyadari tangan Ghiffary ada di atas perutnya, Ayesha langsung menepis tangan itu.


"Ah, maaf, aku-aku ... "


Ghiffary kebingungan sendiri dengan dirinya sendiri mengapa bisa bersikap seperti itu.


Di saat Ghiffary kebingungan, Ayesha justru merasa heran, saat tangan Ghiffary berada di perutnya, tiba-tiba gemuruh itu menghilang begitu saja. Namun sesuatu yang memalukan justru terjadi. Suara perut Ayesha bergemuruh membuat wajah Ayesha memerah karena malu. Ghiffary tersenyum melihat hal tersebut.


"Ini, makanlah dahulu! Kalau kau ingin menunggu asistenmu itu bisa-bisa kau mati kelaparan," ujar Ghiffary seraya menyerahkan kantong putih pada Ayesha. Setelah itu, ia pun segera keluar agar Ayesha dapat makan dengan tenang tanpa terganggu olehnya.


Sekeluarnya Ghiffary dari ruangannya, Ayesha segera membuka kantong putih itu yang ternyata isinya adalah bubur ayam plus kerupuk dan sebuah apel.


Ayesha baru saja hendak menjauhkan bubur itu. Merasa enggan memakannya. Tapi tiba-tiba perutnya kembali bergejolak dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Dengan terpaksa, Ayesha menarik kembali kantong itu lalu mengeluarkan isinya. Lalu Ayesha menelpon OB untuk membawakan sebuah mangkok dan sendok. Setelah mangkok dan sendok itu ada, ia segera memasukkan bubur dan kuahnya dalam mangkok dan menikmatinya. Rasa bubur itu begitu enak di lidahnya membuat dirinya tanpa sadar menghabiskan bubur itu hingga tanpa sisa.


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2