Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 30 Nggak ada yang boleh gantiin aku


__ADS_3

"Kak ... Kak Fary, bangun! Kak Fary, maafin Yesha! Kak, bangun kak, masa' kakak tega ninggalin Yesha sih! Yesha belum mau jadi janda kak. Belum juga ngerasain bahagia berumah tangga masa' udah mau ditinggal sih. Kak, bangun! Kakak sayang Yesha sama anak kita nggak sih? Kalau sayang ayo buruan bangun. Atau kakak mau aku jadi istri orang lain terus anak kita panggil orang lain ayah, kakak mau gitu ya? Oke kalau itu mau kakak," pekik Ayesha yang terus-terusan menangis.


Namun Ghiffary tetap tak bergeming. Matanya masih terpejam dengan rapat. Melihat pergelangan tangan Ghiffary yang tertancap jarum infus membuat hatinya makin nelangsa. Belum lah ia merasakan kebahagiaan berumah tangga. Bahkan usia pernikahan mereka masih seumur jagung, tapi kenapa suaminya sudah harus mengalami kejadian seperti ini.


Alergi yang berakhir menjadi keracunan makanan. Ia jadi menyesal makan siang dengan Tirta tadi. Seharusnya ia seperti akhir-akhir ini saja, makan siang di kantor bersama suaminya, jadi kejadian seperti ini takkan pernah terjadi.


Ayesha makin tergugu dalam tangisnya. Air matanya sudah menganak sungai hingga menetes ke pakaiannya. Ayesha kembali memeluk Ghiffary yang tampaknya masih betah memejamkan matanya.


Dari luar, tampak Kiandra dan Raka terkekeh kecil sambil mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Lalu kedua orang itu saling ber'high five ria, menyoraki keberhasilan mereka mengerjai Ayesha yang keras kepala.


Sedikit demi sedikit memang kedua saudara sepupu Ghiffary itu tahu kalau Ayesha belum benar-benar menerima pernikahannya dengan Ghiffary. Walaupun ia sudah mulai menerima keberadaan Ghiffary di sekitarnya, namun itu belum sepenuhnya. Oleh karena itu, tadi mereka mengajak Ghiffary bekerja sama untuk melihat bagaimana sifat asli Ayesha sebenarnya. Bagaimana perasaannya pada sepupunya itu? Caranya tentu dengan berpura-pura sekarat.


Semua ide itu tentu tercetus setelah Ghiffary sadar dari masa kritisnya. Ya, tadi memang Ghiffary sempat kritis sebab kombinasi makanan itu membuat Ghiffary keracunan makanan. Entah apa yang salah dengan tubuh Ghiffary, sejak kecil ia memang tidak bisa memakan kedua jenis makanan itu. Karena itu, sejak kecil kedua jenis makanan itu tak pernah ada di dalam keluarganya. Namun tidak dengan rumah sepupunya nyaris selalu ada di setiap minggunya. Sungguh sangat berkebalikan.


"Kak, lagi ngintipin apa sih?" tanya Tisya yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang Raka dan Kiandra membuat kedua laki-laki itu terlonjak kaget.


"Ti-Tisya."


"Mbak Tisya," seru keduanya bersamaan dengan bola mata membulat seperti bola pingpong.


"Kalian lagi apa sih? Kok sampai terkejut gitu?" tanya Tisya lagi tapi dengan gesit Kiandra membekap mulut istrinya itu dengan telapak tangannya membuat Tisya melotot kesal.

__ADS_1


"Ssst ... ngomongnya jangan keras-keras! Entar yang di dalam dengar," bisik Kiandra di dekat telinga Tisya membuat istri perawan Kiandra itu meremang karena terpaan nafas Kiandra yang hangat dan harum.


"E-emangnya kenapa?* tanya Tisya yang kini suaranya begitu pelan mengikuti cara suaminya berbicara.


"Itu, kami lagi nonton drama picisan di dalam," balas Kiandra membuat dahi Tisya mengerut, bingung dengan apa yang barusan disampaikan suami perjakanya itu. "Ya udah, kalau kamu penasaran, yuk ikut kakak nonton!" ajak Kiandra yang membawa tubuh istrinya merapat agar bisa ikut menonton drama picisan secara live dari ruang perawatan rumah sakit.


Mata Tisya sampai membola melihat bagaimana Ayesha yang tak pernah ia lihat menangis kecuali saat ada seorang gadis yang menghardiknya karena ketahuan menyukai laki-laki yang menurut gadis itu merupakan kekasihnya. Padahal Ayesha saat itu tidak melakukan apa-apa. Justru dirinya lah yang melakukan sesuatu, berharap agar laki-laki yang disukai Ayesha itu tahu bagaimana perasaan Ayesha sebenarnya. Namun, niat baiknya bukannya berakhir baik, justru sebaliknya, membuat Ayesha sakit hati dan kecewa. Tisya sampai merasa sangat bersalah pada Ayesha saat itu. Namun beruntung, Ayesha bukanlah gadis pendendam. Bahkan ia tidak marah dan menyalahkannya sama sekali.


"Dia ... "


"Ssst ... "


'Hahahaha ... musibah membawa berkah. Siapa yang dapat musibah, siapa yang ketiban berkah. Jahat nggak sih kalau aku berharap Ghiffary sakitnya lamaan dikit? Ck ... kau ini, Ndra, jahat bener jadi sepupu," omel Kiandra dalam hati.


"Yah, coba aja kakak aja yang keracunan makanan!" gumam Kiandra sengaja agar didengar Tisya.


Tisya yang mendengarnya sontak saja menoleh dengan dahi yang berkerut-kerut, "kok kakak malah ngomong gitu? Aneh, masa" pingin keracunan juga. Kalau sempat diobati mah enak, kalau keduluan wassalam, gimana? Aku sih enakz bisa jadi janda kembang, lha kakak? Langsung ketiban tanah duluan. Pas ditanya malaikat, kamu meninggal karena apa? Nggak keren banget jawabannya karena keracunan makan. Pasti malaikatnya bilang makanya jadi orang jangan rakus, segala makanan dimakan, keracunan kan," seloroh Tisya panjang kali lebar membuat Kiandra melotot tajam, sedangkan Raka yang tak jauh dari posisinya berdiri sudah tergelak kencang sampai terduduk di lantai.


"Astaga, kamu kok ngomong gitu sih, Yang? Tega bener pingin kakak cepat-cepat wassalam," decak Kiandra sambil memutar bola matanya kesal.


"Yang, Yang, Yang, palalu peyang," ketus Tisya sambil mengulum senyum melihat wajah cemberut Kiandra. "Jadi aku harus ngomong apa coba kalau yang aku bilang tadi tega?"

__ADS_1


"Ya, kakak berharap kamu juga kayak Yesha, Yang, nangis gitu sambil peluk. Gini amat jadi suami sabar, punya istri cantik tapi belum bisa diperawanin," cetusnya membuat mata Tisya membulat dengan wajah merah padam.


Tisya pun dengan cepat membekap mulut Kiandra yang menurutnya tidak punya filter itu, "kakak, ngomong ih! Tisya kan udah bilang, butuh waktu. Lagipula, nggak baik tau ngomongin hak beginian di depan bocil, entar dia jadi pingin kan gawat," ucapnya menggebu membuat Raja yang kini ikut disebut melotot tajam.


"Heh, enak aja bilangin gue bocil! Kita aja seumuran. Dasar bocil teriak bocil," ketus Raka tak terima disebut bocil membuat Tisya dan Kiandra tergelak.


"Udah ah bertengkarnya, aku mau nonton live show roman picisan lagi. Ah, nyalain kamera ah! Mayan buat ngerjain Yesha entar," ujar Tisya sambil menyeringai.


Lalu ketiganya pun kembali menonton ke dalam kamar rawat Ghiffary.


"Kak ... hiks ... hiks ... jangan kayak gini! Jangan nakut-nakutin Yesha dong! Kakak tega buat Yesha nangis. Belum juga buat bahagia, udah dibuat nangis," ujar Ayesha yang kini sudah ikut berbaring di sisi kiri Ghiffary. Ia sengaja berbaring di sana sebab lengan hanya lengan kiri lah yang bebas, sedangkan lengan kanannya masih tertancap jarum infus.


"Kakak mau apa aku nikah sama Defri. Kakak tahu nggak, Defri pernah ngomong, kalau aku nggak bahagia sama kakak atau kakak nyakitin aku, dia bersedia jadi pelindung aku. Bahkan dia bersedia menerima anak kita sebagai anaknya sendiri,.emang kakak mau gitu? Bukan hanya Defri lho. Tirta juga udah ngasi tau aku kalai sebenarnya dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan aku. Makanya dia bahagia banget waktu ketemu aku lagi. Kira-kira siapa ya yang cocok buat jadi pengganti kakak kalau kakak ternyata pergi duluan?"


"Nggak ada yang boleh gantiin aku. Hanya aku yang pantas jadi suamimu dan nggak akan aku biarkan satu orang pun mengakui dirinya sebagai ayah anakku. Kamu hanya milikku dan begitu pula anakku hanya milikku. Tak ada yang boleh memiliki kalian. Camkan itu!" desis Ghiffary dengan menggebu-gebu.


Mendengar cecaran begitu menggebu itu terang saja membuat Ayesha tersentak kaget, lalu ....


**Lanjut besok. πŸ˜‚πŸ€£πŸ˜


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°**...

__ADS_1


__ADS_2