
Pagi ini baik Ayesha maupun Ghiffary telah bersiap untuk pergi ke bandara. Mereka akan terbang ke Lombok guna meninjau lokasi proyek di sana yang akan segera dibangun Savior Hotel.
Ghiffary membantu Ayesha menarik kopernya menuruni tangga. Semenjak menikah, Ghiffary memang menunjukkan itikad baiknya untuk benar-benar membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah dengan Ayesha. Walaupun Ayesha belum membuka hati untuknya namun Ghiffary selalu bersabar. Batu karang yang keras dan kokoh pun bisa berlubang bila sering terkena tetesan air hujan, apalagi itu hati seorang perempuan, ia yakin dengan segenap perhatian dan kasih sayang yang ia curahkan pada Ayesha dapat membuat perempuan keras hati itu luluh juga.
"Sha, beneran kamu nggak makan dulu? Nanti perut kamu laper lho!" ucap Ghiffary sembari menyodorkan segelas susu ibu hamil rasa stroberi pada Ayesha. Ayesha menerimanya dengan senang hati. Ya senang hati sebab Ghiffary memang selalu dan tak pernah lupa membuatkannya segelas susu setiap pagi dan malam hari.
"Terima kasih," ujarnya seraya menerima segelas susu itu. "Bukannya nggak mau makan kak, tapi perut aku kayak begah gitu. Nggak nyaman banget jadi makan pun jadi males." Ayesha mengungkapkan keluhannya pada Ghiffary.
"Gini aja, aku bawain nasi goreng sama sandwich aja ya kalau-kalau kamu di jalan atau di pesawat entar," tawar Ghiffary yang diangguki Ayesha.
"Kayaknya nggak masalah. Boleh deh!"
...***...
Dan sesuai dugaan Ghiffary tadi, saat sudah di pertengahan jalan, suara perut Ayesha terdengar nyaring membuat Ghiffary terkekeh, sedangkan Ayesha malu bukan main. Pake nolak sarapan tahunya nggak sampai setengah jam udah kelaparan.
"Aaa .. " ucap Ghiffary sebagai isyarat agar Ayesha buka mulut.
Dengan malu-malu, Ayesha membuka mulutnya Dan melahap apa yang Ghiffary suapkan padanya.
Diam-diam, Ayesha tersenyum sambil membuang muka ke samping. Tak ingin Ghiffary melihatnya tersenyum yang akan membuatnya besar kepala.
"Sha, kalau makan menghadap ke sini! Gimana aku bisa suapin kamu kalau wajah kamu menghadap ke sana?" sergah Ghiffary membuat Ayesha segera menghadap ke Ghiffary lagi.
Sebenarnya Ayesha telah tersentuh dengan segala sikap dan perhatian Ghiffary. Namun, wajarkan jika ia masih memiliki kekhawatiran kalau Ghiffary masih memiliki rasa dengan mantan kekasihnya. Ia tak mau menjatuhkan hatinya pada lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya.
Setibanya di bandara internasional Soekarno-Hatta, Ghiffary segera menuntun Ayesha untuk keluar dari mobil dan menuntunnya mesra menuju pesawat terbang yang merupakan fasilitas pribadi milik Angkasa Grup. Ayesha pun mengikuti setiap langkah Ghiffary dengan perasaan sedikit galau. Teringat dengan ucapan Ghiffary satu Minggu yang kamu, terus terang saja membuat Ayesha sedikit tak tenang. Jantungnya berdebar tidak menentu membayangkan apa yang akan mereka lewati nanti di setibanya di sana.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Ghiffary saat melihat wajah Ayesha yang tampak tegang.
"Eng ... aku nggak papa kok kak. Hehehe ... " Ayesha mencoba untuk tertawa lebar namun justru terlihat aneh membuat Ghiffary geleng-geleng kepala.
"Kamu gugup? Tenang aja, aku pasti akan melakukannya dengan pelan-pelan kan ini merupakan pertama kalinya kita akan melakukannya secara sadar."
Plakkk ...
"Kak Fary apa-apa sih? Otaknya kayaknya perlu disiram air kembang 7 warna deh."
"Wah, ide bagus tuh! Biar kita nanti bisa mandi bareng berdua, benar kan!"
"Kak Fary," pekik Ayesha tertahan. "Kok makin ke sini makin mesyum sih!" desis Ayesha yang sukses membuat Ghiffary tergelak kencang.
"Habisnya liat muka kamu kayak gitu, gemesin banget. Bikin kakak pingin nerkam kamu sekarang tau nggak."
'Ya ampun Sha kok pikiran kamu jadi kotor gini sih? Segitu pinginnya kamu dibelai kak Fary. Gila .... aaargh ...."
"Sha, kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ghiffary panik saat terdengar pekikan kecil dari bibir tipis istrinya itu.
"Eh, itu ... aku nggak papa kok kak," kilah Ayesha. Mana mungkin ia mengaku kalau ia sempat membayangkan ia bercumbu dengan Ghiffary bahkan melakukan hal lebih.
"Kamu udah nggak sabar ya? Tunggu aja, nggak lama kok. Paling lama juga cuma 2 jam kok penerbangannya," sahut Ghiffary sambil menyeringai membuat Ayesha melotot tajam.
"Kak Fary bisa stop mikirin itu nggak sih? Atau Yesha balik aja nih! Nggak ada bulan madu tipis-tipis. Sebel banget tau nggak sih?" ketus Ayesha dengan sorot mata mendelik tajam.
"Eh eh eh, astaga, nggak bisa diajak bercanda ni anak. Iya, iya, istriku sayang. Kakak nggak bakal bicara kayak gitu lagi. Cuma setiba di sana kakak akan langsung nyerang. Dah, gitu aja."
__ADS_1
Ghiffary terkekeh dalam hati, melihat raut wajah cengo sang istri. Pipinya bahkan sudah memerah. Ia yakin, Ayesha pun ikut kepikiran dengan apa yang akan mereka lakukan nanti.
Setelah 2 jam menempuh perjalanan udara, akhirnya pesawat pribadi Angkasa Grup telah mendarat sempurna di landasannya. Dengan sigap, Ghiffary membantu Ayesha turun dari dalam pesawat kemudian merengkuh pinggangnya menyusuri koridor menuju mobil jemputan mereka. Tak butuh waktu lama, mereka pun telah tiba di hotel yang telah Defri reservasi sebelumnya.
"Sha, kamu istirahat aja dulu! Ke lokasi proyeknya bisa kita lakukan setelah makan siang. Oh ya, ada yang kamu butuhkan atau pingin kamu makan?" tanya Ghiffary penuh perhatian. Bahkan ia telah berjongkok di depan perut Ayesha sambil mengusap-usap perutnya. "Anak ayah mau sesuatu mungkin?" bisiknya di depan perut membuat Ayesha terkikik geli. Bagaimana Ayesha tidak luluh coba, sedangkan sikap Ghiffary saja begitu lembut dan perhatian.
"Aku jadi penasaran sama mantan kekasih kakak itu kok bisa-bisanya menyia-nyiakan lelaki sebaik kak Fary dengan berselingkuh dan menikahi pria lain?" celetuk Ayesha tiba-tiba saat ingat Ghiffary pernah menceritakan sekilas tentang mantan kekasihnya yang menikah dengan lelaki lain di saat ia sedang berjuang untuk memperpantas dirinya agar layak sesuai harapan orang tua mantan kekasihnya tersebut.
Ghiffary berdiri lalu duduk di samping Ayesha yang juga sedang duduk di tepi ranjang. Ghiffary melingkarkan tangannya ke pinggang Ayesha membuat Ayesha menegang seketika.
"Rileks, Sha," bisik Ghiffary di telinga Ayesha membuatnya meremang hingga memejamkan matanya.
"Emmm ... soal pertanyaan kamu tadi mungkin karena laki-laki itu lebih baik dan kaya dari aku. Entahlah, nggak usah bahas masa lalu lagi. Yang terpenting mari kita melangkah menuju masa depan. Dan kakak sangat berharap kamu dan anak kita menjadi bagian dari masa depan kakak," ucap Ghiffary lugas.
"Emangnya kak Fary cinta aku?" celetuk Ayesha tiba-tiba.
"Cinta? Entahlah, tapi yang kakak tahu pasti ... kakak sayang kalian dan kakak ingin menjaga dan membahagiakan kalian dengan segenap jiwa dan raga kakak, kamu mau kan berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita?"
Ayesha mengangguk mantap lalu tersenyum lebar, "asal kakak bisa jaga kepercayaan Yesha, Yesha akan terus bertahan dan mempertahankan rumah tangga kita," ucap Ayesha pasti membuat Ghiffary tersenyum lebar dan dengan gerakan cepat ia menarik tengkuk Ayesha dan memagut mesra bibir yang sudah menjadi candunya itu.
"Kakak," pekik Ayesha sambil mengerucutkan bibirnya dengan dada naik turun saat pagutan itu usai.
Ghiffary tersenyum lebar, "gemesin banget sih istri kakak. Jadi nggak sabar nunggu malam," desis Ghiffary sambil menyeringai.
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1