Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 31


__ADS_3

"Nggak ada yang boleh gantiin aku. Hanya aku yang pantas jadi suamimu dan nggak akan aku biarkan satu orang pun mengakui dirinya sebagai ayah anakku. Kamu hanya milikku dan begitu pula anakku hanya milikku. Tak ada yang boleh memiliki kalian. Camkan itu!" desis Ghiffary dengan menggebu-gebu.


Mendengar cecaran begitu menggebu itu terang saja membuat Ayesha tersentak kaget, lalu tertawa terbahak-bahak. Dihapusnya air mata yang tadi membanjiri pipi dengan punggung tangannya.


Lalu Ayesha berdiri menjulang di hadapan Ghiffary yang cengo melihat ekspresi Ayesha yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama sebab dalam hitungan menit tawa itu hilang pun ekspresi mengerikan yang sempat Ayesha tunjukkan. Semua ekspresi itu seketika berubah menjadi sebuah isakan. Lagi-lagi, Ghiffary bertanya-tanya, mengapa istrinya bisa berubah dalam hitungan detik saja. Apakah karena pengaruh hormon kehamilannya atau ada sesuatu yang lain? Ghiffary belum bisa menyimpulkan apa-apa. Ia hanya bisa menatap dalam diam.


"Sha," pekik Ghiffary panik saat tubuh Ayesha justru luruh ke lantai dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.


Dengan bersusah payah, Ghiffary pun ikut turun dan berjongkok di hadapan Ayesha. Ghiffary ingin membantu istrinya itu bangun, namun ia justru rikuh karena jarum infus yang masih menancap di pergelangan tangannya. Lalu dengan kasar ia cabut jarum itu. Peduli amat dengan darahnya yang menetes dari bekas jarum di pergelangan tangannya. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah istrinya. Ya, hanyalah istrinya.


"Kamu kenapa, Sha? Tapi nangis, terus tiba-tiba ketawa, melotot juga, terus nangis lagi. Kamu kenapa, Sha? Jangan buat kakak cemas dong!" tanya Ghiffary cemas sambil mengusap-usap punggung istrinya.


"Kak Fary jahat," cicit Ayesha seraya terisak.


"Iya, kakak emang jahat. Jelek juga. Tapi ngangenin, iya kan!" gurau Ghiffary sempat-sempatnya, "Emang kakak kenapa? Kakak buat salah? Maafin kakak kalau kakak ada buat salah sama kamu," ujar Ghiffary sungguh-sungguh.


Lalu Ayesha mengangkat wajahnya, "kakak lupa? Kakak barusan ngerjain aku kan? Kakak tega ya, penyakit dibuat jadi main-main. Apa kakak nggak mikir gimana perasaan Yesha, hah? Yesha bela-belain datang kemari sambil lari-lari karena khawatir dengan kakak tapi kakak malah ngerjain aku, tega kamu kak. Bayangin, gimana kalau terjadi sesuatu sama aku karena terlalu panik tadi? Kakak pasti akan menyesal," ungkap Ayesha mengapa ia begitu kesal, marah, dan kecewa pada suaminya.


Awal kedatangannya tadi, ia memang benar-benar panik. Tangis kekhawatiran saat ia baru datang tadi spontan ia lakukan saja karena ia benar-benar takut, cemas, khawatir. Namun saat ia tengah menangisi Ghiffary yang tak kunjung sadarkan diri, ia justru melihat pergerakan bola mata Ghiffary seakan ingin membuka tapi ragu. Lalu Ayesha terus menangis mengungkapkan kesedihannya. Hingga ia menyadari kalau Ghiffary tengah berpura-pura tak sadarkan diri, oleh sebab itu ia mengoceh yang tak karuan agar Ghiffary membuka matanya dan berhenti bersandiwara.

__ADS_1


Terang saja mendengar penuturan Ayesha membuat Ghiffary sedikit menyesal. Padahal istrinya ini sedang hamil anaknya, tapi ia malah membuat sang istri berlarian karena mencemaskannya. Namun, di satu sisi Ghiffary merasa senang sebab tanpa sadar Ayesha menunjukkan kepeduliannya pada dirinya. Ayesha tanpa sadar menunjukkan betapa ia khawatir dengan keadaannya.


Lantas telapak tangan Ghiffary bergerak membelai pipi Ayesha seraya menyeka bulir-bulir bening yang menganak sungai dari matanya. Ghiffary juga sedikit merapatkan tubuhnya hingga jarak mereka nyaris terkikis. Ghiffary merapikan helaian rambut Ayesha yang terjuntai ke depan dan membawanya ke samping telinga. Mendapatkan perlakuan manis ini lantas Ayesha mendongak. Mata keduanya terpaku satu sama lain. Melihat wajah cantik Ayesha yang begitu dekat dengan wajahnya sontak saja membuatnya begitu gugup. Apalagi saat matanya terpaku ke bibir Ayesha yang makin terlihat merah setelah menangis.


Udara di ruangan itu seakan kian memanas. Dengan perlahan, Ghiffary menyelipkan tangannya ke tengkuk Ayesha dan mendekatkan wajahnya. Mendapatkan perlakuan tersebut, reflek Ayesha memejamkan mata. Seakan mendapatkan lampu hijau, Ghiffary pun makin mengikis jarak kemudian menempelkan bibirnya ke atas bibir Ayesha.


Selama beberapa detik, ia terdiam tanpa melakukan pergerakan. Mendapatkan respon positif dari Ayesha, Ghiffary pun ikut memejamkan matanya dan perlahan mulai menyesap bibir Ayesha dengan lembut. Awalnya Ghiffary hanya mengecupi bibir atas dan bawah secara bergantian hingga lama-kelamaan, kecupan itu berubah menjadi sebuah pagutan. Ghiffary menekan tengkuk Ayesha dan melakukan sedikit lima*tan. Tangan Ayesha perlahan naik ke pundak Ghiffary, mengalungkannya di leher suaminya itu.


Kecupan itu makin lama ternyata makin membuai keduanya hingga nyaris lupa dimana mereka kini sedang berada.


Hingga Ghiffary merasakan oksigen kian menipis, mereka pun perlahan melepaskan pertautan itu dengan nafas terengah. Melihat bibir Ayesha yang justru kian seksi setelah ia *****, membuat Ghiffary ingin kembali menikmati bibir merah itu. Lantas Ghiffary merengkuh tubuh Ayesha dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Ghiffary pun kembali mengulangi apa yang baru saja ia lakukan. Yang kedua ini justru lebih liar dari sebelumnya. Ghiffary bahkan sudah berhasil menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Ayesha. Merasai setiap inci rongga itu dengan lidahnya. Ghiffary seakan baru saja menemukan candunya. Hingga satu buah erangan dari bibir Ayesha menyadarkan keduanya. Ghiffary pun melepaskan tautan bibirnya. Ayesha menunduk dengan wajah merah padam. Bagaimana bisa ia terbuai dengan ciuman Ghiffary. Melihat wajah Ayesha yang bersemu merah justru membuat Ghiffary tersenyum.


"Maaf sudah membuatmu khawatir. Bukan maksudku untuk melakukannya, namun aku terpaksa melakukan ini untuk melihat perasaanmu padaku, Sha. Pernikahan kita memang dilakukan tanpa ada rasa cinta, namun besar harapanku ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah denganmu. Melihatmu menangis seperti tadi, sungguh, aku merasa begitu terharu juga bahagia. Aku merasa seakan begitu berarti untukmu. Aku merasa, kau seakan takut kehilanganku. Walau ocehanmu itu terdengar sedikit menyebalkan, tapi aku senang. Aku bahagia. Aku memang belum tahu apakah aku sudah mulai jatuh cinta padamu, namun satu yang aku tahu, aku sayang kamu, Sha. Jangan pernah tinggalkan aku, ya!" ucap Ghiffary lembut membuat Ayesha yang mendengarnya seperti terhipnotis hingga mengangguk.


Ayesha lantas memejamkan matanya. Mencoba menikmati dekapan itu dengan rileks. Ayesha perlahan membalas dekapan itu membuat Ghiffary tersenyum bahagia.


"Kakak sayang kamu, Sha," bisik Ghiffary membuat Ayesha kian merapatkan pelukannya.


Seakan ikut terbawa suasana, Kiandra melirik Tisya yang menunduk dengan wajah merah merona. Aksi mengintip mereka terpaksa mereka hentikan. Pasangan di dalam yang berciuman, pasangan di luar yang justru kepanasan. Kiandra mencoba mendekati Tisya, namun Tisya justru beringsut menjauh.


"Sya, emangnya kamu nggak pingin kayak mereka?" ucap Kiandra membuat wajah Tisya merah padam. Bukannya mereka tidak pernah melakukannya. Bahkan saat pertama kali mereka menikah, Kiandra sudah duluan berhasil mengambil ciuman pertamanya. Mengingat hal tersebut, wajah Tisya memerah.

__ADS_1


"Sya, kita ke hotel sebelah yuk!" ajak Kiandra tiba-tiba memuat Tisya menoleh dengan alis berkerut.


"Mau kan?" tanya Kiandra lagi.


"Emangnya mau ngapain?" tanyanya polos.


"Ya untuk melakukan sesuatu yang tertunda lah."


"Maksudnya?"


Lalu Kiandra mendekatkan bibirnya dengan telinga Tisya dan membisikkan sesuatu hingga sukses membuat wajah gadis itu memerah hingga ke telinga.


"Make a love, Sya. Yuk!"


"Ekhem ... naseb ... naseb ... yang jomblo nasibnya gini amat," celetuk Raja tiba-tiba membuat keduanya sontak menoleh dan tak lama kemudian tawa mereka pun pecah. Tapi itu tidak lama sebab Kiandra dengan tiba-tiba menarik tangan Tisya agar ikut dengannya.


"Kak, mau kemana lu?" tanya Raka kemudian saat Kiandra hendak beranjak menjauh.


"Menuntaskan misi yang tertunda," sahut Kiandra acuh tak acuh membuat Tisya membulatkan matanya.


"Kak," cicit Tisya saat menyadari arti kata-kata Kiandra.

__ADS_1


"Kenapa? Mau nunda lagi? No, pokoknya hari ini nggak ada kata penolakan lagi, oke!" ucap Kiandra tegas membuat Tisya jadi ketar-ketir.


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2