
"Good morning istri," ucap Ghiffary saat Ayesha baru saja membuka matanya. Ayesha yang tiba-tiba saja mengingat apa yang mereka alami semalam, lantas segera menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.
Belum sempat selimut itu Ayesha rapatkan ke area wajah, tangan Ghiffary ternyata telah bergerak lebih dahulu dengan menahan selimut itu dan menurunnya.
"Masih malu, hm?" goda Ghiffary membuat Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Kak Fary, ih, jahil banget sih!" gerutu Ayesha dengan nada manja. Ghiffary sampai terkesima mendengar kata-kata bernada manja itu. Bila biasanya Ayesha kerap ketus atau acuh tak acuh, maka semenjak penyatuan pertama mereka dalam keadaan sadar dan telah sah baik secara hukum maupun agama, Ayesha sudah sedikit luluh dan mau menunjukkan sifat aslinya yang sedikit manja. Namun sikap manja itu masih pada taraf wajar. Ia selalu bisa menempatkan dirinya dengan baik, bisa menjadi perempuan tegas, tegar, dan mandiri, bisa juga manja, tapi hanya pada orang tertentu saja. Dan Ghiffary merasa bahagia, Ayesha barusan bersikap manja padanya, bukankah artinya ia telah menjadi salah seorang yang dekat bahkan berharga baginya?
Bukannya menanggapi rengekan manja Ayesha, Ghiffary justru menarik Ayesha ke dalam dekapannya lalu menghadiahi wajah cantik Ayesha dengan ciumannya.
"Kak, ih, jangan cium mulu, ih jorok, kakak kan belum sikat gigi," protes Ayesha saat Ghiffary tampak begitu bersemangat mengecupi seluruh bagian wajahnya.
"Nggak bau kok, nggak percaya? Nih cium!"
Emmuach ...
Ghiffary justru mengecup keras bibir Ayesha kemudian menyengir lebar membuat Ayesha langsung saja melemparnya dengan bantal.
"Kak Fary, nyebelin!"
"Lho, kok nyebelin? Kakak kan cuma mau buktiin aja nafas kakak nggak bau. Nih cium, hah ... " Ghiffary menghembuskan nafasnya tepat di depan wajah Ayesha membuat perempuan itu mendelik tajam. "Nggak bau kan? Ya wajar sih nggak bau, kakak aja udah mandi, udah gosok gigi, dan semprot mulut kakak biar nafas kakak selalu harum dan menyegarkan, jadi kamu bisa puas mencium kakak kapan aja. Emangnya kamu, jam segini baru bangun!" ejek Ghiffary dengan senyum meremehkan membuat Ayesha melotot tajam.
Ayesha pun jadi penasaran, memangnya sekarang sudah jam berapa sih?
Mata Ayesha seketika melotot, bahkan nyaris melompat dari rongganya saat melihat jarum jam di dinding kamar itu.
"Kak, jam itu nggak salah? Kayaknya jamnya rusak deh. Masa' sekarang udah hampir jam 11 siang sih!" ujar Ayesha tidak mempercayai jam dinding yang dilihatnya.
Ghiffary sampai geleng-geleng kepala lalu menyodorkan ponselnya ke arah Ayesha.
"Tuh lihat! Yang salah jamnya atau orangnya. Kalau kurang yakin, liat juga jam di ponsel kamu atau jam tangan kamu tuh, lihat!"
__ADS_1
Ayesha pun segera menerima ponsel itu dan ...
Belum sempat melirik jam yang tertera di bagian layar ponsel Ghiffary, ia perhatiannya justru terfokus pada wallpaper di layar ponsel suaminya itu.
"Kak," cicit Ayesha dengan wajah merona.
Ghiffary yang sadar kemana arah pandangan istrinya lantas bergeser dan memeluk tubuh Ayesha dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak Ayesha. Ghiffary tersenyum, sedangkan Ayesha tersipu.
"Kenapa? Kamu kagum sama foto perempuan cantik di ponsel kakak?" bisiknya tepat di depan telinga Ayesha.
"Kak, kok pasang foto Yesha sedang tidur di ponsel kakak sih?" gerutu Ayesha dengan bibir menahan senyum.
Bagaimana ia tidak tersipu, bukan hanya perihal fotonya yang dijadikan wallpaper, tapi juga posisi perempuan itu yang tengah berbaring di dada bidang Ghiffary yang tanpa dilapisi apa-apa. Belum lagi rambut Ayesha terlihat begitu berantakan dengan sebagian leher yang tersingkap memamerkan jejak-jejak merah kebiruan, jelas sekali bukan kalau foto itu diambil setelah mereka melakukan apa?
"Soalnya kamu kalau lagi tidur itu cantik banget. Benar-benar cantik. Kakak suka banget lihatnya," ucap Ghiffary jujur membuat Ayesha melongo.
"Jadi kalau lagi nggak tidur nggak cantik gitu?"
"Sebentar, kakak lihat dulu!"
Lalu satu tangannya memegang dagu, seakan sedang menimbang ingin berkata jujur atau ... jujur banget.
"Emmm ... mau jujur atau ... "
"Atau apa? Bohong? Jujurlah kak, nggak boleh bohong, dosa tahu!" ketus Ayesha membuat Ghiffary terkekeh geli.
"Bukan bohong, sayang, ucap Ghiffary santai namun sukses membuat istrinya itu berbunga-bunga. "Tapi ... jujur banget. Kalau mau jujur kamu saat nggak tidur ini cantik sih. Nah kalau jujur banget itu kamu benar-benar cantik. Tapi kan kakak nggak ada foto kamu yang sedang nggak tidur kayak gitu. Tapi biarin deh! Soalnya itu menjadi pengingat momen terpenting dan terindah kakak. Selain itu, foto itu merupakan foto pertama kita setelah bersama sekian waktu lamanya. Foto pertama kita benar-benar tidur bersama. Foto pertama kita saling memeluk. Foto bersama kita saling berbagi kehangatan. Dan foto bersama setelah kita bercinta dalam keadaan sama-sama sadar, benar kan!"
"Kak ... " Ayesha benar-benar merasa malu kali ini. Mengingat momen spesial mereka semalam, Ayesha tersenyum lebar sambil berusaha menutupi rona merah di pipinya.
Cup ...
__ADS_1
Ghiffary lagi-lagi menciumnya, namun kecupan itu berakhir di pipi membuat Ayesha makin berdebar dibuatnya.
"Kak, entar dilihat orang kan malu!" cicit Ayesha. Tak etis saja bila foto seperti itu dilihat orang. Bukan tidak mungkin, orang yang melihatnya akan berpikir aneh-aneh setelahnya.
"Nggak perlu khawatir istriku sayang, nggak akan ada yang lihat. Kakak itu orangnya paling hati-hati, nggak akan biarkan ada yang menyentuh barang pribadi kakak termasuk ponsel ini. Jadi mustahil kalau ada yang bisa lihat. Tapi kalau kamu khawatir, nanti kakak ubah deh. Tapi harus ada gantinya dulu," ujarnya ambigu.
"Kan tinggal ganti aja, kenapa harus nunggu ada gantinya dulu?" Dahi Ayesha mengerut sebab bingung dengan pemikiran Ghiffary.
"Ya harus ada gantinya lah. Sekarang kakak belum ada gantinya. Orangnya aja baru bangun, belum mandi, belum sikat gigi, sama aja bo'ong," ejek Ghiffary membuat mata Ayesha melotot sambil menahan tawa.
"Kak Fary nyebelin," decak Ayesha sambil menahan senyumnya. Ghiffary lantas terkekeh dan mengacak pelan rambut Ayesha.
"Kamu makan dulu aja sayang ya! Kakak udah siapin sarapan kamu tadi, tapi karena kami nggak bangun-bangun, jadi kakak balikin lagi sarapannya. Tapi kakak usah pesan lagi kok. Mungkin sebentar lagi datang," ujar Ghiffary seraya turun dari tempat tidur lalu dengan santainya menggendong Ayesha ke kamar mandi membuat Ayesha memekik kaget. "Cuci muka, gosok gigi. Tuh, layanan kamar udah datang. Setelah ini makan dulu. Kasihan anak kita pasti udah kelaparan sekarang. Benar kan anak ayah!" ucap Ghiffary sambil mengecup perut Ayesha yang sudah membukit.
...***...
Setelah menyelesaikan sarapan yang tertunda di jam makan siang, Ghiffary mengajak Ayesha berjalan-jalan. Ghiffary berniat mengajak Ayesha berjalan-jalan di pantai Malimbu dan berkeliling di laut dengan menaiki kano atau perahu kecil yang banyak disewakan di sana.
Pantai Malimbu ini terletak di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara.
Pantai Malimbu masih sangat bersih, jarang dikunjungi, dan menawarkan keindahan yang menawan serta memanjakan mata.
Salah satu yang jadi daya tarik pantai ini adalah karang indah yang disebut ‘Karang Bolong Malimbu’, di mana sering dijadikan spot foto menarik.
Menjelang sore, Ayesha dan Ghiffary menaiki kano mengelilingi laut di pantai Malimbu. Ayesha tercengang melihat hamparan laut indah dibalut langit yang begitu memesona. Raut bahagia tercetak jelas di wajah maupun mata Ayesha yang tak henti-hentinya berbinar. Bahkan Ayesha tak henti-hentinya tersenyum sepanjang mereka berlayar. Walaupun hanya menaiki kano, tapi suasana itu terasa begitu romantis.
"Kak, makasih ya! Ini indah banget," ucap Ayesha tulus.
"Untuk istri tersayang, apa sih yang nggak!" bala Ghiffary membuat pipi Ayesha lagi-lagi merona.
Apalagi entah sudah berapa kali hari ini Ghiffary menyebutnya sayang membuat perasaan Ayesha membuncah bahagia.
__ADS_1
...***...
...Happy Reading 🥰😘🥰...