Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 28 Panik


__ADS_3

Tak terasa waktu terus bergulir dan hubungan pasangan suami istri itu sudah jauh lebih baik. Apalagi dengan sifat dan sikap Ghiffary yang begitu perhatian pada Ayesha, membuat calon ibu itu mulai membuka hatinya walaupun belum sepenuhnya karena rasa ragu yang terkadang masih bergelayut di dada.


"Kak, siang ini nggak usah anterin makan siang ke kantor. Aku ada meeting di luar sekalian makan siang," ujar Ayesha sembari memoleskan moisturizer ke kulit wajahnya.


Ghiffary yang sedang memasang kancing bajunya lantas mengerutkan kening, "dengan siapa?" tanyanya.


"Dengan owner WR Construction, ditemani Defri juga. Kenapa?" tanya Ayesha sambil memandang Ghiffary dari cermin di depannya.


"Ck ... apa nggak bisa suruh orang lain aja?"


"Kak Fary kenapa sih? Aku juga kan bukan pergi sendiri, tapi sama Defri juga. Kak Fary cemburu?"


"Cemburu? Mana ada. Cuma aku nggak suka aja kamu ketemuan sama laki-laki kayak gitu. Bagaimana pun status kamu itu sekarang istriku. Nggak baik bertemu lawan jenis kayak gitu," omel Ghiffary masih saja berkilah kalau ia merasa cemburu.


"Halah, nggak mau ngaku," cibir Ayesha sambil menarik satu sudut bibirnya. "Lagian ya kak, aku itu kerja, bukannya kencan. Kayak kamu tuh, nggak mungkin kan setiap hari cuma ketemu klien atau rekan kerja cowok aja. Pasti ada yang ceweknya juga dan aku nggak pernah mempermasalahkannya kan?" ucap Ayesha santai.


Yang dikatakan Ayesha memang ada benarnya, namun entah kenapa Ghiffary tetap saja kesal. Apalagi bayangan Ayesha yang terlihat begitu bahagia dan ceria tempo hari saat mengobrol dengan pemilik WR Construction cukup membuat darahnya seakan mendidih.


Dan di sinilah Ayesha sekarang, di sebuah restoran mewah di ibu kota, sedang duduk berseberangan dengan Tirta Wiratama dan sekretarisnya, sedangkan dirinya bersama Defri. Mereka baru saja selesai melakukan meeting dan kini dilanjutkan dengan santap siang.


"Kamu kenapa, Sha?" tanya Tirta saat melihat Ayesha seperti sibuk mencari sesuatu tapi tak menemukannya.


"Ada sesuatu yang hilang?" tanya Defri yang ikut penasaran saat melihat Ayesha sibuk merogoh saku blazer hingga memeriksa ke dalam tasnya tapi tidak menemukan apa yang dicari.


"Itu, apa kamu melihat ponselku, Def. Kok nggak ada ya? Apa tadi ketinggalan di ruanganku ya?" gumam Ayesha sambil menerawang kapan terakhir memegang ponselnya.

__ADS_1


"Saya dari tadi tidak melihat ponsel nona. Mungkin saja memang tertinggal," ucap Defri yang membuat Ayesha menghela nafas panjang.


'Gimana kalau kak Fary telepon ya? Entar dia marah-marah aku nggak angkat teleponnya."


Seperti sudah kebiasaan, Ayesha selalu menunggu Ghiffary menghubunginya. Ia juga merasa was-was bagaimana kalau Ghiffary marah bila dia menelpon tapi tak kunjung dijawab, tapi mau bagaimana lagi. Ia benar-benar tak sengaja meninggalkan ponselnya.


Dan sesuai dugaan Ayesha, sejak beberapa menit yang lalu, Ghiffary telah berusaha menghubungi Ayesha. Entah sudah berapa banyak panggilan tak terjawab juga pesan-pesan yang belum juga dibaca.


Ghiffary resah, ia galau, kesal juga iya, mengapa istrinya itu tak kunjung mengangkat panggilannya bahkan membaca dan membalas pesan pun tak sempat. Semenarik apa sih obrolannya dengan si Tirta-Tirta itu, pikirnya. Ghiffary merasa kesal bukan main.


"Kenapa sih, Ghif, kayak bete terus dari tadi? Muka kusut kayak cucian nggak disetrika? Atau nggak dapat jatah semalam jadi bawaannya uring-uringan mulu?" ledek Kiandra dengan tawanya yang menurut Ghiffary sangat menyebalkan.


"Kepo aja urusan orang!" sewot Ghiffary membuat Kiandra dan Raka tergelak.


"Yaelah Kak, sewot bener! Kayaknya beneran nih, nggak dapat sajen maljum jadinya gini, si Otong gegana," timpal Raka ikut mengejek kenelangsaan Ghiffary. Memang nggak sahabat nggak saudara demen banget liat temen susah. Tapi bukan senang mereka susah dalam arti sebenarnya. Suka aja gitu usilin yang lagi gegana seperti orang macam Ghiffary gitu. Padahal Ghiffary itu saudara mereka sendiri lho, tapi mereka malah makin bersuka cita melihat wajah Ghiffary kian masam setelah diledek.


"Makanya kalau ditanya itu jawab yang bener jadi tau permasalahannya apa. Orang banyak baik-baik juga nggak dijawab, ditanya lagi dibilang kepo padahal kami udah baik lho mau jadi pendengar setia curhatan kamu. Gratis lagi, kurang apa lagi coba?" sambung Kiandra yang kemudian lanjut memakan hidangan yang telah mereka pesan.


Tak peduli, Ghiffary justru kembali sibuk mengetikkan sederet pesan agar Ayesha segera mengangkat panggilannya atau minimal membalas pesannya, bukannya mengabaikannya. Ia akui, memang mereka belum sedekat itu untuk selalu saling mengabari layaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Tapi Ghiffary benar-benar tak nyaman kalau belum bisa menghubungi Ayesha walau sebentar saja. Apalagi selama Ayesha hamil, ia sudah terbiasa makan berdua dengan Ayesha sebab istrinya itu susah untuk makan yang bukan disiapkan olehnya. Hal itu memberikan kebahagiaan tersendiri pada diri Ghiffary. Ia merasa sangat dibutuhkan dan ia merasa anaknya begitu menyayangi dan membutuhkan kehadirannya. Ia pun sangat menyayangi calon anaknya itu. Terlepas benih itu disemai tanpa rasa cinta, tapi setelah tahu keberadaannya, Ghiffary begitu bahagia. Rasa cinta itu tumbuh begitu saja untuk sang buah hati.


Lalu yang jadi pertanyaan, apakah rasa serupa juga sudah ada untuk Ayesha?


Apakah perhatian Ghiffary itu hanya ditujukan karena adanya calon anaknya yang sedang Ayesha kandung?


Apakah perhatian itu akan ada selamanya atau hanya sementara?

__ADS_1


Apakah Ghiffary akan tetap perhatian padanya setelah bayi itu lahir?


Apakah Ghiffary akan tetap mempertahankan rumah tangga mereka meskipun cinta itu belum kunjung tumbuh?


Adakah Ayesha memiliki kesempatan mendapatkan cinta dari suaminya?


Apakah Ghiffary masih mencintai mantan kekasihnya?


Hal inilah yang terkadang mengganggu pikiran Ayesha. Terlalu banyak dugaan dan asumsi yang dibuat sendiri.


Sudah paham bukan kalau perempuan itu tipe pemikir. Dia kadang terlalu takut akan hal yang belum ia dapati kepastiannya. Ia terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan ia mudah meragu pada sesuatu yang belum diungkapkan secara gamblang.


Kepastian.


Ya, Ayesha butuh kepastian untuk memutuskan langkah apa yang selanjutnya harus ia tempuh.


Karena terlalu asik dengan ponselnya, Ghiffary sampai tanpa sadar menarik tumis udang jamur brokoli milik Kiandra dan langsung memakannya tanpa melihat lagi apa yang ada di dalam piring itu. Ia terlalu fokus pada layar persegi di depan matanya hingga tak sadar apa yang ia makan merupakan kombinasi yang tak boleh ia sentuh. Satu saja bisa membuatnya tiba-tiba sesak, apalagi dua-duanya. Ya, Ghiffary memiliki alergi dengan udang dan jamur. Hingga dalam hitungan detik, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh Ghiffary. Wajah dan sekujur tubuhnya memerah. Nafasnya tiba-tiba sesak membuat Kiandra dan Raka seketika panik. Mereka pun bergegas membawa Ghiffary ke rumah sakit khawatir apa yang Ghiffary alami makin parah dan berisiko.


"Gimana?" tanya Kiandra panik sambil berusaha fokus di balik kemudi. Kiandra menyodorkan ponselnya pada Raka untuk segera menghubungi Ayesha.


"Nggak diangkat, bang," ucap Raka ikut khawatir apalagi saat melihat keadaan Ghiffary yang tak baik-baik saja. Tubuh putihnya kini sudah memerah seluruhnya. Bibirnya pucat dengan nafas putus-putus.


"Ghif, loe bertahan ya! Jangan buat gue panik, dong! Ck ... sialan, pake macet pula!" racau Kiandra dengan jantung yang sudah jumpalitan. "Ayolah Ghif, jangan gini dong! Bisa-bisa gue habis di tangan papi mertua loe karena secara nggak langsung udah buat menantunya jadi kayak gini. Aaargh ... bisa-bisa bapak mertua gue ikutan mukul. Om Lian kan anti ngotorin tangannya dan selalu bapak mertua gue yang jadi perpanjangan tangan om Lian. Tapi kalau beneran terjadi sesuatu sama loe, bisa dipastikan gue yang akan jadi orang pertama nyicipin bogem mentah papi mertua loe yang katanya jago Thai boxing. Aaargh ... "


...***...

__ADS_1


Dek Yesha, buruan, Kak Fary membutuhkanmu! 🀭


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2