Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 32


__ADS_3

"Sya," panggil Kiandra sambil tersenyum-senyum.


"Apa sih, kak?" ketus Tisya sambil menutup wajahnya dengan selimut.


"Masih sakit ya?" Kiandra merapatkan tubuh polosnya pada Tisya yang bersembunyi di balik selimut.


"Udah tau, nanya," ketus Tisya lagi sambil memutar bola matanya.


"Tapi enak kan?" goda Kiandra yang pelan-pelan sudah mengungkung Tisya.


"Kak Kian, ih, masa' mau nambah lagi! Ngelunjak banget sih! Tadi kan udah, istirahat dulu, Tisya cakek tahu!" rengek Tisya yang sudah menurunkan selimutnya sebatas leher.


Melihat sang istri yang merengek manja membuat Kiandra tergelak lantas menyerbunya dengan kecupan demi kecupan di seluruh wajah cantiknya.


"Iya, iya, sayang. Kakak nggak maruk jadi orang. Kakak ngerti kok, makanya kakak tanya masih sakit nggak. Kalau emang masih sakit, kakak beliin salep biar nggak terlalu sakit lagi," ujar Kiandra yang sudah kembali berbaring di samping Tisya dengan sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat menatap wajah Tisya. "Mau?"


Tisya tampak menimbang lalu menggeleng, " nggak usah deh kak. Aku yakin, sakitnya nggak bakalan lama. Asal jangan minta nambah dulu," ucap Tisya yang sudah seperti ultimatum untuk sang suami yang sudah mengerucutkan bibirnya.


"Yah, baru aja buka puasa, udah disuruh puasa lagi. Naseeeeb oh naseeeeb," keluh Kiandra sambil menelungkupkan tubuhnya dengan wajah tenggelam di bantal.


Tisya terkekeh geli melihat tingkah sang suami.


"Cie ngambek," goda Tisya.


Lalu Kiandra menoleh sembari tersenyum manis, "Sya, makasih ya sayang," ujar Kiandra tiba-tiba.


"Untuk?"


Kiandra tersenyum mesem-mesem, "untuk yang tadi. Rasanya ... MUANTAAAAPPP."


"Kak Kiandraaaa ... " pekik Tisya membuat Kiandra terbahak-bahak karenanya.

__ADS_1


Ya, kini kedua insan itu berada di sebuah kamar hotel. Mereka baru saja menyelesaikan ritual malam pertama yang tertunda. Beruntung, kali ini Tisya tidak terlalu menolak. Awalnya memang ia malu-malu, tapi setelahnya justru jadi mau-mau.


Mengingat hal yang barusan mereka lewati, wajah mereka memerah. Sesuai kata orang-orang memang rasanya begitu nikmat. Tisya pun turut mengakui apalagi saat Kiandra memacu tubuhnya dengan hujaman-hujaman yang dalam dan cepat membuatnya menjerit nikmat mengabaikan perih yang awalnya seakan membuat tubuhnya terbelah.


"Kak, kakak kok kayaknya pro banget? Jangan-jangan ... "


"Jangan-jangan apa? Jangan sembarangan bicara kamu, Sya! Kakak bukan lelaki bajingaan yang suka bercocok tanam sembarangan. Justru ini merupakan kali pertama kakak melakukannya. Bukan hanya kamu yang pertama, tapi kakak juga. Kakak sebenarnya bukannya pro, tapi kakak hanya bekerja maksimal agar kita sama-sama merasakan nikmatnya. Kakak nggak mau egois, Sya. Namanya bercinta yang didasari cinta, dan karena kakak cinta jadi kakak ingin melakukannya dengan penuh cinta agar kamu pun bisa membalas cinta kakak," ucap Kiandra panjang kali lebar.


"Lha, emang kakak cinta Tisya ya? Bukannya ... "


"Bukannya apa?" potong Kiandra cepat.


"Bukannya awalnya kakak suka sama Mbak Ryza ya?"


"Kakak emang suka sama dia tapi bukan cinta. Kakak kagum sama ketegarannya. Dia cantik dan baik, dikhianati tapi tidak membuatnya lemah. Ia justru tetap tegar dan kuat. Kakak tempo hari mendekati cuma untuk memantapkan diri sih, tapi setelah tahu Damar mencintainya, perlahan kakak sadar, kakak hanya kagum. Tak lebih. Dan dengan kamu ... kakak cinta. Karena itu kakak saat melihat kamu di club' malam, tiba-tiba aja kakak mikir ide gila jadiin kamu pacar dengan ngancam laporin kamu ke bapak dan ternyata ide kakak hebat kan bisa jadiin kamu milik kakak seutuhnya," ujar Kiandra bangga dengan ide gilanya.


"Ck ... tapi seriusan kakak cinta aku? Sejak kapan?" kejar Tisya menuntut penjelasan.


...***...


"Kakak serius mau pulang sekarang?" tanya Ayesha saat Ghiffary sudah menurunkan kakinya ke lantai.


"Iya, Sha, kakak yakin. Soalnya kakak udah kangen banget sama kamu," ujar Ghiffary membuat dahi Ayesha berkerut.


"Apa hubungannya sama pulang sama kangen sama Yesha? Lha, Yesha aja ada di sini, kok masih kangen sih? Aneh-aneh aja. Jangan-jangan nih gara-gara keracunan makanan otak kakak jadi rada geser," ejek Ayesha sambil membereskan pakaian Ghiffary.


"Kalau keracunan makanan bisa buat kamu lebih dekat dengan kakak sih, kakak rela," ucapnya membuat Ayesha mendengus.


"Sinting!" ejek Ayesha seraya memutar bola matanya malas yang justru ditanggapi Ghiffary dengan kekehan.


Sebenarnya apa yang diucapkan Ghiffary itu serius. Dia merasa keracunan makanan kali ini membawa berkah sebab berkat keracunan ini ia bisa selangkah lebih dekat dengan istrinya. Bahkan ia masih ingat betapa nikmatnya pergulatan bibir yang belum lama mereka lewati.

__ADS_1


"Ah, jadi pingin lagi!" gumam. Ghiffary pelan namun masih bisa didengar Ayesha.


Ayesha lantas mendekat, "pingin lagi? Kakak pingin sesuatu?" tanya Ayesha polos yang dijawab Ghiffary dengan anggukan.


"Kakak emang pingin apa sih?"


'Kamu ... Kakak pingin kamu,' ucap Ghiffary tapi sayang hanya ia ucapkan dalam hati. Ghiffary mengulum senyum mengingat bagaimana lembut dan mesranya ciuman panas yang mereka lakukan tadi. Bolehkah Ghiffary menganggap, Ayesha telah mulai membuka hatinya untuk dirinya?


Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Ayesha sibuk dengan ponselnya, sedangkan Ghiffary sibuk melirik Ayesha yang makin cantik saja menurutnya.


Setibanya di rumah, keduanya disambut oleh Kentaro yang entah sejak kapan telah berada di rumah. Semenjak mengetahui fakta ayah Ghiffary itu, Ayesha jadi lebih menjaga jarak dan perlahan Ghiffary melihat keanehan itu.


"Ayah sejak kapan datang?" tanya Ghiffary saat telah duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah hampir satu jam yang lalu. Ayah pikir kalian sudah pulang karena sudah hampir malam. Tapi kenapa wajahmu sedikit pucat, Ry? Kamu sakit?" cecar Kentaro belum tahu kalau putranya itu sempat masuk rumah sakit.


"Alergi Fary tadi kumat gara-gara salah makan, yah. Oh ya, ngomong-ngomong, ayah sudah makan?"


Kentaro menggeleng, "ayah ingin sekali makan malam dengan kalian berdua, apa kalian keberatan?" tanya Kentaro pada anak dan menantunya.


Ghiffary menggeleng cepat, sedangkan Ayesha menggeleng ragu. Melihat Kentaro, rasanya Ayesha ingin meluapkan rasa amarahnya karena Kentaro pernah mencoba memperdaya ibunya. Tapi Ayesha pikir, ibunya saja sudah memaafkan, mengapa ia masih harus memendam benci. Sepanjang makan malam pun, Ayesha bungkam. Ghiffary sampai bingung, Ayesha bersikap sangat berbeda saat ada ayahnya. Apakah Ayesha tidak nyaman dengan keberadaan ayahnya, pikirnya.


Bahkan sampai Kentaro pulang pun, Ayesha pura-pura mandi agar ia tidak melihat wajah Kentaro lagi. Ayesha sadar, tidak seharusnya ia bersikap seperti ini. Ia aduah berusaha untuk berdamai dengan masa lalu, tapi ternyata itu cukup sulit. Seandainya ia tidak mendengar perihal itu, mungkin ia akan dekat dengan ayah mertuanya itu.


"Kamu kenapa, Sha? Apa ayahku ada kesalahan padamu sampai kau seperti menghindarinya?" tanya Ghiffary tiba-tiba sekeluarnya Ayesha dari dalam kamar mandi.


Deg ...


'Haruskah aku menceritakan apa yang sudah aku dengar itu?'


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2