Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.9 Nyaris Ketahuan


__ADS_3

Saat ini Aglian, Luna, Ayesha, Algatra, dan Algara sedang menikmati makan malam mereka. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, tepatnya semenjak kembalinya Ayesha dari London, suasana meja makan tidak lagi ceria. Biasanya Ayesha selalu bisa membuat suasana makan malam itu terasa lebih ceria dan menyenangkan. Ia akan menceritakan banyak hal dan bersenda gurau membuat suasana makan malam jadi lebih hidup. Tapi sekarang hal tersebut sudah tidak ada lagi. Ayesha lebih sering diam dan murung. Ia hanya sesekali berbicara atau menimpali pembicaraan yang lainnya dengan sangat singkat dan senyum yang tidak selebar biasanya. Tentu saja semua yang ada di meja makan itu menyadari perubahan sikapnya itu. Meskipun kadang kala Ayesha berusaha kembali menunjukkan sikap cerianya, tapi jelas sekali semua ia lakukan sedikit terpaksa. Seperti ada beban besar yang sedang menghimpit dadanya saat itu. Hal itu terang saja membuat Aglian dan Luna khawatir. Luna hingga sekarang belum mengetahui kejadian buruk yang hampir anak sulungnya itu. Aglian masih menyimpan rapat peristiwa itu. Ia khawatir, hal tersebut membangkitkan masa lalu Luna yang nyaris hampir diperkosa. Ia tak mau Luna kembali merasa tertekan seperti di masa lalu. Bahkan anak-anak mereka pun tak pernah tahu masa lalu sang ibu. Mereka hanya tahu perjuangan sang ayah yang mencoba mendekati Luna, tak lebih.


"Princess, setelah makan temui papi di ruang kerja ya! Ada hal penting yang harus papi bahas sama kamu," tukas Aglian memecah keheningan. Ayesha yang menyantap makan malamnya dengan kurang bersemangat lantas mengangkat wajahnya dan membalas tatapan ayahnya dengan dahi yang berkerut.


"Hal penting apa, Pi? Apa ini masalah pekerjaan?" tanya Ayesha yang hanya dibalas sang ayah senyuman seraya mengangguk pelan.


Ayesha pun mengangguk setelahnya Aglian segera beranjak dari tempat duduknya menuju ruang kerjanya.


"Huh, udah di rumah pun yang dibahas tentang kerjaan. Bisa nggak sih kalau di rumah itu diisi dengan quality time keluarga," gerutu Luna seraya memasukkan suapan terakhir ke mulutnya membuat Ayesha tersenyum kecil. "Mau bahas apaan sih?" tanya Luna pada Ayesha. Ayesha yang merasa kalau ibunya itu bertanya padanya lantas mendongak.


"Yesha juga nggak tahu, Mi," sahut Ayesha seraya mengedikkan bahunya. Ia pun tidak tahu apa yang ingin dibahas sebab seingatnya tak ada yang perlu di bahas lagi. Semuanya telah ia kerjakan di kantor.


"Mi, besok Gara pulang ngampus langsung main basket ya!" sela Algara supaya ibunya tidak lagi menggerutu.


"Kamu pulang jam 2, emang nggak capek langsung mau main basket?" tanya Luna.


"Nggak lah, Mi," jawab Algara setelah mengelap mulutnya dengan lap mulut yang selalu tersedia di atas meja.


"Sama siapa? Teman kuliah?" tanya Luna lagi.


Algara menggeleng lalu meminum air putih yang ada di dekatnya, " bukan teman kuliah, tapi temen SMA. Ada sih yang satu kampus, tapi cuma beberapa. Sisanya beda kampus, Mi," ujar Algara.

__ADS_1


"Oh, ya udah! Tapi jangan lupa makan siang terus pulangnya jangan kesorean. Mami nggak suka anak mami sering kelayapan. Kayak nggak ada rumah aja," tukas Luna kemudian segera berdiri dan mengumpulkan piring-piring kotor.


"Mi, Gatra besok juga pulang telat, nggak papa kan, Mi!" tukas Algatra meminta izin juga.


"Emang kamu mau ke pergi juga? Kemana?" cecar Luna. Ya, dia memang mengajarkan anak-anaknya untuk meminta izin sebelum bepergian dan menjelaskan tujuannya juga bersama siapa. Bukan tanpa alasan, dan bukan juga bermaksud over protective, Luna hanya tidak ingin anak-anaknya terlibat pergaulan yang kurang jelas bahkan tidak baik apalagi melakukan sesuatu yang kurang baik atau berbahaya.


Algatra nyengir sambil menggelengkan kepalanya, "jalan sama temen-temen, Mi. Sekalian cari buku buat tugas kuliah juga," sahut Algatra.


"Temen-temen? Artinya lebih dari satu kan? Cewek atau cowok?" cecar Luna yang sudah dalam mode detektif Conan.


Algatra menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Cewek cowok, Mi. 2 cewek dan 2 cowok," sahutnya malu-malu membuat Ayesha tersenyum geli melihat sang adik yang salah tingkah karena ulah maminya.


"Iya, Mi. Kami ngerti. Kami akan selalu menjaga kepercayaan mami," ujar Algatra yang diangguki Algara, sedangkan Ayesha bungkam. Beruntung Luna tidak melihat ekspresi putri sulungnya itu. Setelah mengatakan itu, Luna pun segera membereskan piring kotor dibantu asisten rumah tangga mereka. Sementara itu Ayesha segera beranjak menuju ruang kerja Aglian, sedangkan Algara dan Algatra kembali ke kamar masing-masing.


...***...


"Papi mau bahas apa?" tanya Ayesha setelah mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruang kerja ayahnya.


Aglian yang tadinya sedang sibuk dengan layar laptopnya, segera menutup laptop dan beranjak dari tempat duduknya menuju sofa dimana Ayesha sedang duduk. Lalu Aglian menatap lekat netra sang putri yang binarnya tak secerah biasanya. Bagaimana pun, Aglian begitu dekat dengan putri semata wayangnya itu. Ia adalah cinta pertama sang putri jadi ia bisa merasakan kegelisahan sang putri meskipun putrinya itu belum menceritakan hal apapun padanya.

__ADS_1


"Ada yang mau Yesha ceritain ke Papi?" tanya Aglian sambil menatap lekat netra Ayesha.


Ayesha yang ditatap seperti itu pun berusaha memalingkan wajahnya dengan memasang senyum salah tingkah


"Eh, itu, eee cerita apa sih, Pi? Yesha nggak ngerti," jawab Ayesha salah tingkah.


"Saat di London telah terjadi sesuatu kan? Apa karena itu senyum putri kesayangan Papi ini tampak redup?" tanya Aglian seraya mengusap pipi sang putri dan menatapnya sendu. Sontak saja Ayesha membulatkan matanya, bagaimana papinya bisa tahu pikirnya? Ah, ia paham, pasti kedua orang suruhan papinya lah yang cerita. Tapi apakah papinya sebenarnya telah tahu apa yang menimpanya malam itu?


"Pa-papi tahu?" tanya Ayesha terbata.


Aglian mengangguk seraya menarik pundak sang putri palu mendekapnya. Mata Ayesha memerah menahan tangis. Ia yakin, papinya kecewa mengetahui apa yang telah menimpanya. Apalagi sang ibu, pasti akan lebih kecewa lagi. Padahal selama ini ibunya begitu menjaganya. Luna juga kerap menasihatinya agar tidak salah pergaulan dan melakukan sesuatu yang dilarang, tapi kini ...


"Papi sebenarnya sempat shock saat Raga mengabarkan kamu hampir masuk jebakan teman kamu itu. Tapi syukurnya, putri papi pintar dan mampu lolos dari jebakan si breng-sek itu. Kalau sampai dia berhasil, papi pastikan akan membuatnya menyesal seumur hidup," tukas Aglian seraya membelai rambut Ayesha.


Ayesha mendongak menatap netra Aglian. Apakah ayahnya hanya tahu sebatas itu pikirnya? Kalau iya, artinya ia masih bisa selamat. Ia tak tahu bagaimana reaksi papinya bila tahu, sebenarnya malam itu ia memang bebas dari jebakan Ramon, tapi ia justru terjebak dan menghabiskan malam dengan laki-laki lain.


"Jadi sayang, jangan pikirkan lagi hal tersebut, oke! Kamu tahu, mami kamu khawatir melihat sikapmu yang tiba-tiba berubah. Papi nggak akan nyalahin kamu. Dan kamu jangan salahin diri kamu sendiri terus-menerus. Papi ingin, putri papi kembali ceria. Papi sama mami rindu melihat senyum kamu yang secerah sinar mentari," tukas Aglian yang diangguki Ayesha dengan mata berkaca-kaca.


'Maafin Yesha, Pi. Yesha belum bisa jujur. Yesha masih belum mampu mengungkapkan semuanya. Maafin, Yesha. Yesha hanya takut mami dan papi kecewa setelah mengetahui apa yang telah menimpa Yesha. Kalau kalian tahu pasti kalian akan menuntut pertanggungjawaban laki-laki itu dan Yesha nggak mau itu. Yesha nggak mau menikah hanya karena rasa tanggung jawab apalagi paksaan untuk bertanggung jawab sebab pernikahan semacam itu hanya akan menjadikan pernikahan kami berakhir bencana,' batin Ayesha bermonolog.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2